Connect with us

INSPIRASI

YAYU: Mengabdi Dari Dapur Bagi Pendidikan Anak-Anak

Published

on

Hujan yang turun sepanjang hari tak menyurutkan langkah anak-anak di Desa Tikela, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa mendatangi rumah Niramita Yayu (30).

Sekitar 20 anak berbagai usia ini dengan semangat ingin mengisi waktu mereka di ruangan berukuran 2 x 4 meter yang disediakan Yayu. Ruangan itu begitu sederhana, sama halnya dengan rumah yang ditempati Yayu dan keluarganya.

Ruangan yang hanya berdinding seng bekas dan merupakan bagian dari dapur itu sengaja disediakan Yayu sebagai Pondok Membaca dan Menulis.

“Awalnya mereka sering datang membaca buku koleksi saya yang tak seberapa. Saya lalu berniat menyediakan mereka ruang baca dan belajar. Jadi saya sisihkan sebagian dapur saya,” ujar Yayu, sewaktu didatangi di rumahnya Rabu (15/2/2016).

Yayu dan suaminya, Sami Mannopo menyisihkan sebagian pendapatan mereka yang pas-pasan untuk membenahi sedikit ruangan baca bagi anak-anak itu. Lantainya diplester seadanya, dan belum ada instalasi listrik.

Siang itu, anak-anak diberikan tugas oleh Yayu menggambar. Walau mereka harus melantai beralaskan tikar bekas, namun anak-anak terlihat mengerjakan tugas dengan penuh semangat.

Yayu yang juga anggota komunitas Torang Slanker Manado ini sesekali memberikan arahan sambil bercanda, agar anak-anak yang datang belajar senang. Peralatan menggambar yang mereka gunakan merupakan donasi dari orang yang tertarik dengan apa yang dilakukan Yayu.

Ibu rumah tangga dengan dua anak ini yang juga merupakan guru TK, sehari-hari mengisi waktunya dengan membuat kue pesanan orang. Warga sekitar mengenalnya sebagai pembuat kue.

Namun Yayu, tak segan membantu suaminya ikut mengerjakan pembuatan batu bata yang menjadi pekerjaan utama suaminya. Walau pekerjaan itu membutuhkan tenaga besar, namun Yayu dengan senang hati ikut mengerjakannya.

Dalam satu kali proses pembuatan batu bata, dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan hingga batu bata siap dijual. Dalam sekali produksi dia bersama suaminya bisa menghasilkan sekitar 20 ribu buah batu bata, dengan harga jual Rp 550.

“Untungnya tidak seberapa, karena kami juga mempekerjakan beberapa orang,” tutur Yayu.

Kini keseharian Yayu bersama suaminya bertambah dengan memberi perhatian bagi anak-anak yang datang belajar di rumah mereka.

“Saya prihatin, anak-anak ini kalau pulang sekolah bermain di saluran air yang kotor. Saya ingin mereka mengisinya dengan hal yang lebih bermanfaat. Belajar di sini dengan gembira,”  ungkap Yayu.

Yayu berkeinginan, kelak anak-anak asuhnya bisa melebihi profesi orang tua mereka yang rata-rata sebagai buruh pekerja.

Dia berharap, ruangan belajar yang dibangunnya itu bisa terus berlanjut walau Yayu mengakui harus mencari akal untuk bisa terus mendanai niat tulusnya itu.

“Jika ada yang sudi membantu, jangan bawakan kami uang, bawakan saja dalam bentuk barang. Kami masih butuh bangku, meja, lemari dan buku-buku bekas,” kata Yayu.

Comments

comments

Editor in Chief di Zonautara.com, Kontributor di Kompas.com, Fotografer, penikmat buku dan pemulung informasi.

INSPIRASI

Berjibaku Dengan Arus Sungai Pentu Demi Bantu Ekonomi Keluarga

Published

on

zonautara.com
Michael Buyung saat menambang pasir di sungai Pentu. (Foto: zonautara.com/Gary Kaligis)

MINSEL, ZONAUTARA.com Demi membantu perekonomian keluarganya, terutama membantu biaya pendidikan adiknya, membuat Michael Buyung (29), warga Desa Pinaling, Jaga VIII, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, rela berjibaku dengan derasnya arus sungai Pentu, yang berada sekitar satu kilometer dari desanya.

Kinerjanya yang berhubungan dengan air sungai saban hari, ternyata untuk mengumpulkan pasir yang berada di dasar sungai tersebut.

“Saya setiap hari dari pagi hingga sore harus berendam badan di tengah sungai, untuk mengeruk serta mengangkat pasir dari sungai ini,” kata Buyung, saat diwawancarai Zona Utara, beberapa waktu lalu.

Menurut Buyung, hasil pasir yang dikumpulnya setiap hari bisa mencapai empat hingga lima meter kubik. Untuk menjual hasil pasir yang dikumpulkannya, Buyung pun tidak menemui kesulitan, karena ada mobil yang setiap hari datang membeli pasir yang dia dan rekan-rekannya kumpulkan.

Pasir yang dikumpulkannya itu pun biasa dibeli oleh pelanggan dengan harga Rp300 ribu per mobil truk. Alasannya menggeluti profesi sebagai penambang pasir sungai ini pun semata-mata untuk menopang ekonomi keluarga, serta membantu biaya pendidikan adiknya.

“Saya bersaudara empat orang dan dua kakak saya sudah berkeluarga. Dan saya masih memiliki seorang adik yang masih duduk di bangku SMP,” ungkap Buyung yang mengaku sudah menggeluti profesi tersebut sekitar dua tahun.

Kebutuhan hidup dan biaya sekolah adiknya pun menjadi tanggung jawabnya.

“Saya belum mengalami kesulitan yang berarti dalam menjalankan profesi ini, meski harus menahan dingin,” jelas Buyung.

Kesulitan besar yang sering dihadapinya, kata Buyung, yakni berhubungan dengan cuaca, terutama jika musim hujan tiba, maka arus air sungai begitu deras, sehingga terpaksa harus menunggu aliran air sungai mereda.

Sungai yang menjadi lokasi penambangan pasir Buyung dan rekan-rekannya tersebut pun hanya mempunyai kedalaman sekitar setengah meter, dengan lebar sungai berkisaran sekitar 20 meter.

“Meski sungai ini terbilang dangkal, namun saat menambang pasir saya harus tetap waspada, terutama mengantisipasi aliran air sungai yang bisa berubah setiap saat, terutama untuk menjaga luapan air kiriman yang biasanya membawa batangan kayu yang berukuran besar,” pungkas Buyung.

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Continue Reading

INSPIRASI

Saat Pengamen Suami Istri Muslim Ini Menyanyikan Lagu Rohani Kristen

Dengan lagu-lagu rohani Kristen, Roma dan Claudia ingin terus menyerukan pesan kerukunan dan toleransi di Manado.

Published

on

zonautara.com
Reza Roma Prakarsa bersama istrinya Patrichia Prakarsa Kaunang.(Foto: Zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Wajah optimis dan ceriah terpancar dari wajah Reza Roma Prakarsa dan Patrichia Prakarsa Kaunang sore itu di akhir pekan pertama Februari 2018.

Mereka adalah pasangan suami istri muda. Roma mengenakan kaos hitam sementara istrinya Claudia berkemeja lengan panjang kotak-kotak. Claudia mengenakan jilbab sebagaimana keyakinan iman keduanya.

Video mereka berdua yang direkam oleh seorang pengemudi Go-jek viral beberapa waktu lalu. Dalam rekaman itu, pasangan suami istri yang sudah dikarunia seorang anak ini menyanyikan lagu rohani Kristen.

Saat itu keduanya sedang mengamen di sebuah rumah makan yang menyajikan menu khas Minahasa. Video yang diunggah di Facebook itu menuai beragam pujian, namun juga komentar negatif.

Baca pula: Kala Petikan Gitar Suami, Suara Merdu Sang Istri Lantunkan Toleransi Di Manado

Sore itu keduanya menyambangi kantor Zonautara.com untuk sebuah sesi wawancara. Cahaya hangat menjelang matahari terbenam membuat sesi wawancara yang dilakukan di taman Tugu Lilin mencipta keakraban.

Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat. Bila saatnya nanti Ku tak berdaya lagi,  hidup ini sudah jadi berkat.

Dengan petikan gitar kesayangannya, Roma dan Claudia melantunkan lagu berjudul Hidup Ini Adalah Kesempatan dengan fasih. Itu adalah lagu ciptaan Pdt Wilhelmus Latumahina. Sebuah lagu rohani pop Kristen yang sangat populer.

“Ada yang bilang ini sekedar pencitraan, ini cuma ingin jadi viral di media, ada yang mengolok-olok. Tapi kami anggap itu biasa, saya juga sempat menjelaskan di Facebook, bahwa sebelum video itu viral sebagai pengamen kami sudah selalu bawa lagu rohani. Selain itu karena kami rasa ini memang bermanfaat bukan hanya untuk umat Kristiani sendiri bahkan untuk kita semua. Karena itu kan kata-katanya punya unsur membangun spiritual,” ujar Roma.

Roma mengaku sedari kecil dirinya sudah akrab dan tahu banyak lagu-lagu rohani umat Kristiani. Hal itu karena kebetulan dia dan keluarganya tinggal di Kelurahan Kombos Timur Kecamatan Singkil, Kota Manado, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Ini juga yang membentuk Roma menjadi pribadi yang terbuka, dan tidak menganggap agama sebagai jurang pembatas antar sesama manusia.

“Secara pribadi saya merasa menyanyikan lagu Kristen tidak bertentangan dengan keyakinan atau iman saya. Kalau dilihat dari lirik-liriknya kan itu punya nilai-nilai universal. Untuk menghadapi kritik orang-orang yang menuding macam-macam, ya kami klarifikasi baik-baik,” jelas Roma.

Justru dengan membawakan lagu-lagu rohani, kata Roma, sebagai seorang Muslim dirinya turut menyampaikan pesan-pesan toleransi ke sesama umat beragama. Terlebih Kota Manado dikenal dengan masyarakatnya yang punya rasa toleransi tinggi.

Lagi pula, kata Roma, lagu rohani yang dibawakannya hingga jadi viral di Facebook itu mengandung nasehat-nasehat yang baik. Lagu yang mengajak sesama umat beragama untuk melayani Tuhan, berbuat baik tanpa pamrih.

Sering, kata Roma, saat membawakan lagu rohani Kristen, ia mendapati orang-orang tersentuh. Bahkan tak jarang, ada Pendeta yang memuji dan memberikan komentar positif. Mereka kagum, karena saat membawakan lagu rohani, dia dan istrinya memakai atribut muslim.

“Mereka heran kenapa kami pakai kopiah, pakai jilbab dan menyanyi lagu rohani. Mereka salut, mereka pikir bagus. Dan malah mereka menyuruh request lagu, waktu itu lagu natal, lagu Gloria oke, lagu Jauh di Dusun Yang Kecil oke,” tutur Roma ditimpali senyuman bersama Claudia.

Menurut Roma, toleransi di Sulawesi Utara sanmgat kuat. Buktinya saat perayaan Idul Fitri, orang-orang muslim yang beribadah mendapat penjagaan dari para waraney Minahasa. Begitu pula saat hari raya Natal, pemuda-pemuda muslim ikut menjaga gereja.

Dia yakin, kerukunan di Manado dan Sulawesi Utara akan terus langgeng, karena di Manado semua umat beragama saling menjaga.

“Yang ingin kami sampaikan ke warga Manado, jadikan diri ini bermanfaat bagi orang lain. Karena arti dari iman itu sendiri begitu, mampu memuliakan orang lain, tanpa memandang satu perbedaan.  Terus jangan jadikan perbedaan itu sebagai satu jurang pemisah, karena di sini Manado so baku ta ika, Ungke so kaweng deng Keke, Keke so kaweng deng Uti, jadi ya begitulah. Insya Allah kerukunan di Manado tidak akan pernah rusak,” imbuhnya.

Roma sendiri sudah lama memasuki blantika musik jalanan. Dari tahun 2003, hingga sekarang. Terhitung sudah 15 tahun, pria yang tercatat sebagai Mahasiswa aktif semester dua di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado ini mengitari setiap sudut tongkrongan di Kota Manado dengan gitarnya.

Menghibur orang-orang agar merasakan suka cita di tengah zaman yang terus berpacu maju menggilas siapa saja yang lemah jiwanya. Menyirami hati mereka dengan lagu-lagu dari berbagai genre, rock, pop, folk Song, religi, hingga lagu rohani Kristen.

Tujuan Roma jelas, selain mengais rejeki dan menyalurkan hobi, Roma juga ingin menyampaikan pesan-pesan positif lewat lagu-lagu yang dinyanyikannya.

“Kadang-kadang ada lagu-lagu ciptaan dari saya pribadi, yang menyinggung masalah-masalah sosial sekarang, selain dari lagu-lagu rohani,” ungkap Roma.

Roma mengaku jika Iwan Fals adalah musisi yang paling menginspirasinya. Kenapa Iwan Fals? Karena menurutnya, Iwan Fals adalah tokoh musisi yang menyuarakan tragedi hidup orang-orang pinggiran. Dan juga karena Iwan Fals adalah sosok musisi yang meniti karir dari jalanan.

Semua lagu Iwan Fals jelas disukai Roma, namun yang paling sering dia nyanyikan itu lagu yang berjudul Bongkar. Roma berharap, kelak dirinya bisa mengikuti jejak sang panutan, dan terus menyuarakan kegetiran kaum pinggiran serta semangat toleransi sesama anak bangsa Indonesia.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: