Connect with us

TRAVEL

BALIRANGENG: Memandangi Teluk dan Sambutan Selamat Datang di Patung Yesus

Tapi Balirangeng tak sekedar patung Yesus raksasa itu. Salah satu lokasi wisata andalan Dinas Pariwisata Sitaro ini juga punya pesona lainnya: pantai berpasir yang elok.

Published

on

ZONAUTARA.com — Datangilah pulau Siau dan berkunjunglah ke Balirangeng. Sebuah lokasi terindah memandangi laut dari punggung bukit.

Perjalanan dengan kapal dari Manado yang akan bersandar di dermaga Pelabuhan Ulu akan melewati teluk yang sangat indah ini. Pemandangan di kanan kapal menyajikan pulau-pulau dalam cluster Buhias. Serakan pulaunya seolah menjadi benteng bagi pulau Siau di sisi kiri kapal.

Begitu haluan kapal mengarah masuk teluk yang indah ini, sambutan selamat datang di pulau penghasil pala kualitas terbaik di dunia ini, terwakili oleh patung yang berdiri megah di salah satu punggung bukit Balirangeng.

Patung Yesus dengan dominan warna putih ini menjadi ikon sikap religius yang dianut penduduk Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Patung yang berdiri megah sambil membentangkan tangan ini juga seolah menandakan perjalanan anda diberkati.

Tapi Balirangeng tak sekedar patung Yesus raksasa itu. Salah satu lokasi wisata andalan Dinas Pariwisata Sitaro ini juga punya pesona lainnya: pantai berpasir yang elok.

Berada di pantai berpasir Balirangeng adalah jaminan mendapatkan pemandangan yang indah. Sebab di pantai ini terdapat spot terbaik memotret gunung Api Karangetang yang nampak agung itu.

Bergegaslah ke sana, saat subuh dan nantikan kemunculan matahari terbit dengan cahayanya yang berkilau terpantul dari permukaan laut. Jika anda penyuka travelling outdoor, cobalah menggelar tenda di pantai Balirangeng.

Saat malam, anda bisa mengajak nelayan di situ untuk memancing di teluknya yang kaya ikan. Lalu gelarlah pesta bakar ikan sambil berbagi cerita mite Karangetang dari penduduk lokalnya.

Ambillah jalan pulang memutar bagian Siau Barat Selatan hingga ke pantai Tangangga. Dan cobalah mampir untuk melihat goa tengkorak di pantai itu dan memandangi pulau Tagulandang di kejauhan.

Balirangeng, adalah bagian dari destinasi unggulan Pemkab Sitaro yang akan dikembangkan dalam program The 7 Wonderfull of Sitaro.

Ikuti Liputan Khusus kami tentang 7 Wonderfull of Sitaro.

Comments

comments

TRAVEL

Misteri Terbentuknya Mata Air Rokosa Di Desa Pinaling

Published

on

zonautara.com
Mata air Rokosa di Desa Pinaling, Kecamatan Amurang Timur.(Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MINSEL, ZONAUTARA.com – Berjarak sekitar satu kilometer dari Desa Pinaling, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, tepatnya di perkebunan warga, terletak sumber mata air yang dikenal dengan sebutan mata air Rokosa. Ternyata ada kisah yang menarik di balik keberadaannya.

Kepala Desa atau Hukum Tua (Kumtua) Pinaling Joins F Rorimpandey kepada wartawan Zona Utara bercerita tentang asal-muasal terciptanya mata air tersebut. Menurutnya, sekitar tahun 1800-an, desa ini masih berupa hutan belantara.

Para penduduk yang berasal dari Negeri Kawangkoan dan sekitarnya, saat hendak menuju ke pasar Amurang senantiasa menjadikan lokasi yang sekarang dikenal sebagai Desa Pinaling jadi tempat persinggahan atau dalam bahasa Tountemboan disebut Pinalin.

“Dari semula hanya sekadar tempat persinggahan hingga akhirnya sebagian wilayah mulai jadi tempat bermukim,” jelas Joins.

Dikatakannya, sesuai informasi dari para tetua kampung, ada mata air yang hanya mengalirkan sedikit air. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, apalagi untuk menghilangkan dahaga atau rokosa, mereka butuh air yang banyak. Lalu lewat ritual adat Minahasa, mereka memohon kepada Amang Kasuruan, Tuhan Pencipta Khalik dan Bumi, untuk mendapatkan air yang banyak.

“Menurut informasi, di tempat sumber mata air tersebut sudah ada airnya, namun masih sedikit,” tutur Joins.

Permohonan mereka pun dikabulkan Tuhan, sehingga keluarlah air yang sangat banyak. Dinamakanlah mata air itu dengan sebutan Rokosa karena rasa dahaga mereka sudah hilang.

Tim Zona Utara berkesempatan mengunjungi lokasi yang berjarak sekitar 100 meter tersebut. Mata air Rokosa tersebut dibendung dengan beton sepanjang 15 meter sehingga membentuk seperti sebuah kolam yang jernih dengan kedalaman setinggi pinggang orang dewasa. Di sekitar kolam tumbuh pohon rindang yang menaungi beberapa titik gelembung air yang terlihat keluar dari dalam tanah.

“Mata air ini tidak pernah kering meski musim kemarau panjang. Airnya selalu jernih. Namun sempat kabur waktu ada gempa bumi yang besar,” jelas Steven Tuwondila, warga Pinaling yang menemani perjalanan Tim Zona Utara.

 

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

TRAVEL

Menikmati Pesona Arung Jeram Di Desa Timbukar

Published

on

zonautara.com
Peserta arung jeram tengah mendengarkan arahan dari instruktur.(Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Arung Jeram Timbukar yang berlokasi di Desa Timbukar, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa adalah objek wisata alam yang menarik dikunjungi saat sedang berada di Sulawesi Utara (Sulut).

Hanya berjarak sekitar satu jam 40 menit dari Bandara Sam Ratulangi Manado untuk bisa sampai ke Desa Timbukar. Sepanjang perjalanan akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang sejuk. Apalagi ketika memasuki Kota Tomohon.

Setibanya di lokasi arung jeram, kita langsung disambut dengan suara gemuruh air Sungai Nimanga yang mampu menghilangkan rasa penat karena jauhnya perjalanan. Arung Jeram Timbukar sangat cocok bagi yang suka dengan adventure dan tantangan. Bisa memakan waktu sekitar dua jam untuk finish di Desa Tangkuney.

Kesejukan alam Timbukar inilah yang menjadi alasan Angkasa Pura 1 menggelar media gathering di lokasi wisata Karapi Rafting, Sabtu (10/2/2018), yang melibatkan perwakilan media-media yang ada di Sulut. Meskipun tidak sempat sampai finish karena kondisi alam yang kurang bersahabat, namun General Manager Angkasa Pura 1 Minggus ET Ganeguei mengatakan mereka sangat menikmati keseruan berarung jeram.

Menurutnya, sangat seru ketika percikan air menyapu tubuh, seakan mengingatkan kita akan indahnya ciptaan Tuhan. Arung jeram bisa dimaknai sebagai latihan rintangan dan tantangan yang harus dihindari.

“Di tahun 2018 ini ada tantangan atau rintangan. Sama halnya kita berarung jeram. Kita tidak boleh lari dari rintangan tersebut. Tetapi dengan bekerja sama, kita bisa sampai di tujuan dengan baik,” ujar Minggus.

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: