Connect with us

TRAVEL

RUANG dan PASIGE: Hidup Berdamai Dengan Gunung Api dan Benteng Alam Mangrove

Pulau Ruang adalah gunung api aktif di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Pasige adalah pulau kecil yang nyaris rata dengan permukaan air laut. Keduanya adalah destinasi wisata utama di Sitaro.

Published

on

ZONAUTARA.com — Posisi keenam dalam daftar The 7 Wonderfull of Sitaro adalah dua pulau yang berada di Tagulandang. Pulau Ruang dan Pulau Pasige.

Ruang sendiri adalah sebuah gunung api bertipe strato dengan ketinggian 725 meter di atas permukaan laut.

Walau ini merupakan sebuah gunung berapi aktif, namun banyak penduduk yang bermukim di sekitar Ruang. Bahkan kebun-kebun mereka berjarak sangat dekat dengan kawah Ruang.

Gunung api yang terlihat sangat memesona ini, meletus terakhir kali pada 25 September 2002. Hingga kini masyarakat di sana seolah hidup berdamai dengan Ruang.

Anda yang tidak bisa mendaki gunung yang tinggi, bisa menjadikan Ruang sebagai salah satu alternatif pendakian yang mudah.

Mengelilingi pulau Ruang juga merupakan keasyikan sendiri, sebab di beberapa bagian pulau ini ada bebatuan hasil muntahan kawah yang sudah mengeras. Namun di sisi lain, ada juga pantai yang bisa menjadi pelepas penat.

Keberadaan Ruang yang tepat berada di depan dermaga Pelabuhan Tagulandang, seolah menjadi benteng bagi dermaga itu kala gelombang meninggi. Kapal-kapal selalu berlindung di antara Ruang dan Tagulandang jika kondisi laut tidak memungkinkan untuk berlayar.

Bagi anda yang berlayar dengan kapal cepat ke Siau maupun ke Tahuna, pasti tidak akan melewatkan moment saat melintas di depan Ruang. Memotret pulau ini akan memberikan kepuasan tersendiri.

Di dekat Ruang ada juga sebuah pulau yang nyaris rata dengan permukaan laut. Bahkan dalam kondisi tertentu, saat pasang laut sangat tinggi, pulau ini seolah tenggelam. Pasige, namanya.

Pulau yang ditumbuhi mangrove sekelilingnya menjadi semacam benteng bagi pantai di Tagulandang. Karang yang mengelilinginya juga menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan.

Itulah sebabnya di sekitar Pasige terdapat beberapa spot dive yang cukup indah. Demikian pula di sekitar pulau Ruang.

Pulau kecil ini juga menjadi tempat hidup berbagai jenis burung. Berpetualang dengan sampan mengelilingi Pasige sambil menyaksikan keanekaragaman hayati adalah petualangan yang mengasyikkan.

Jika anda ingin bepergian ke Ruang dan Pasige, menginaplah di Tagulandang. Di sekitar pelabuhan Tagulandang, terdapat beberapa penginapan dengan harga yang sangat terjangkau.

Jangan segan untuk mengajak nelayan di sekitar untuk pergi memancing. Ini bisa menjadi bonus perjalanan anda menelusuri keindahan wisata Sitaro.

Ikuti Liputan Khusus kami tentang 7 Wonderfull of Sitaro.

Comments

comments

TRAVEL

Misteri Terbentuknya Mata Air Rokosa Di Desa Pinaling

Published

on

zonautara.com
Mata air Rokosa di Desa Pinaling, Kecamatan Amurang Timur.(Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MINSEL, ZONAUTARA.com – Berjarak sekitar satu kilometer dari Desa Pinaling, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, tepatnya di perkebunan warga, terletak sumber mata air yang dikenal dengan sebutan mata air Rokosa. Ternyata ada kisah yang menarik di balik keberadaannya.

Kepala Desa atau Hukum Tua (Kumtua) Pinaling Joins F Rorimpandey kepada wartawan Zona Utara bercerita tentang asal-muasal terciptanya mata air tersebut. Menurutnya, sekitar tahun 1800-an, desa ini masih berupa hutan belantara.

Para penduduk yang berasal dari Negeri Kawangkoan dan sekitarnya, saat hendak menuju ke pasar Amurang senantiasa menjadikan lokasi yang sekarang dikenal sebagai Desa Pinaling jadi tempat persinggahan atau dalam bahasa Tountemboan disebut Pinalin.

“Dari semula hanya sekadar tempat persinggahan hingga akhirnya sebagian wilayah mulai jadi tempat bermukim,” jelas Joins.

Dikatakannya, sesuai informasi dari para tetua kampung, ada mata air yang hanya mengalirkan sedikit air. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, apalagi untuk menghilangkan dahaga atau rokosa, mereka butuh air yang banyak. Lalu lewat ritual adat Minahasa, mereka memohon kepada Amang Kasuruan, Tuhan Pencipta Khalik dan Bumi, untuk mendapatkan air yang banyak.

“Menurut informasi, di tempat sumber mata air tersebut sudah ada airnya, namun masih sedikit,” tutur Joins.

Permohonan mereka pun dikabulkan Tuhan, sehingga keluarlah air yang sangat banyak. Dinamakanlah mata air itu dengan sebutan Rokosa karena rasa dahaga mereka sudah hilang.

Tim Zona Utara berkesempatan mengunjungi lokasi yang berjarak sekitar 100 meter tersebut. Mata air Rokosa tersebut dibendung dengan beton sepanjang 15 meter sehingga membentuk seperti sebuah kolam yang jernih dengan kedalaman setinggi pinggang orang dewasa. Di sekitar kolam tumbuh pohon rindang yang menaungi beberapa titik gelembung air yang terlihat keluar dari dalam tanah.

“Mata air ini tidak pernah kering meski musim kemarau panjang. Airnya selalu jernih. Namun sempat kabur waktu ada gempa bumi yang besar,” jelas Steven Tuwondila, warga Pinaling yang menemani perjalanan Tim Zona Utara.

 

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

TRAVEL

Menikmati Pesona Arung Jeram Di Desa Timbukar

Published

on

zonautara.com
Peserta arung jeram tengah mendengarkan arahan dari instruktur.(Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Arung Jeram Timbukar yang berlokasi di Desa Timbukar, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa adalah objek wisata alam yang menarik dikunjungi saat sedang berada di Sulawesi Utara (Sulut).

Hanya berjarak sekitar satu jam 40 menit dari Bandara Sam Ratulangi Manado untuk bisa sampai ke Desa Timbukar. Sepanjang perjalanan akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang sejuk. Apalagi ketika memasuki Kota Tomohon.

Setibanya di lokasi arung jeram, kita langsung disambut dengan suara gemuruh air Sungai Nimanga yang mampu menghilangkan rasa penat karena jauhnya perjalanan. Arung Jeram Timbukar sangat cocok bagi yang suka dengan adventure dan tantangan. Bisa memakan waktu sekitar dua jam untuk finish di Desa Tangkuney.

Kesejukan alam Timbukar inilah yang menjadi alasan Angkasa Pura 1 menggelar media gathering di lokasi wisata Karapi Rafting, Sabtu (10/2/2018), yang melibatkan perwakilan media-media yang ada di Sulut. Meskipun tidak sempat sampai finish karena kondisi alam yang kurang bersahabat, namun General Manager Angkasa Pura 1 Minggus ET Ganeguei mengatakan mereka sangat menikmati keseruan berarung jeram.

Menurutnya, sangat seru ketika percikan air menyapu tubuh, seakan mengingatkan kita akan indahnya ciptaan Tuhan. Arung jeram bisa dimaknai sebagai latihan rintangan dan tantangan yang harus dihindari.

“Di tahun 2018 ini ada tantangan atau rintangan. Sama halnya kita berarung jeram. Kita tidak boleh lari dari rintangan tersebut. Tetapi dengan bekerja sama, kita bisa sampai di tujuan dengan baik,” ujar Minggus.

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: