Connect with us

KOLOM

Manado Cerdas dan Politik Senyap Melenyap

Maka jelas, Manado Cerdas bukan satu-satunya yang telah hilang dari kerja pemerintahan kota kita saat ini. Dan, kemungkinan besar, bukan pula satu-satunya yang akan hilang. Lalu, pertanyaannya, kenapa begitu?

Published

on

Jembatan Soekarno / Ronny A. Buol

Oleh Amato Assagaf

­

Yang cerdas dari Manado Cerdas adalah ia terlalu cerdas untuk mencerdaskan. Bagaimana bisa? Pertama, kecuali pada saat kampanye pemilihan walikota Manado yang baru lalu, program ini tidak pernah jelas ada dan tidaknya. Cerdasnya, ia bisa menyelinap pergi begitu saja tanpa terasa sebagai sebuah janji politik yang “sedang” tidak ditepati.

Kedua, jika program ini memang ada maka ia terlalu cerdas untuk bisa terdengar telinga warga kecil di Manado atau sekilas tampak bagi mata mereka. Kemungkinannya, sebagai sebuah program, ia diproses dan dilaksanakan di atas angin. Artinya, ia terlalu jauh dari tanah tempat berpijak orang banyak. Semacam mengingat kembali cerita mengenai intelektual yang disebut sebagai kelompok orang cerdas yang berumah di atas angin.

Persoalannya, pemerintahan Vicky Lumentut babak kedua terlalu senyap bagi minat kita akan kecerdasan pemerintah kota dan selalu lenyap dari hadapan harapan kita akan pembangunan. Dalam hal ini, kebijakan pemerintah kota Manado selalu bergerak dari ribut-ribut menuju kepelenyapan yang mencengangkan. Ambil sebagai contoh, persoalan dana banjir.

Setelah orang berkampung-kampung dibikin senewen dengan pengurusan data kerusakan akibat banjir yang selalu harus dilaporkan ulang setiap ada pergantian kepala lingkungan, kita tiba-tiba mendengar nyanyi bisu program itu. Tak ada lagi yang membicarakannya. Dan ketika pala’ ke rumah saya, alih-alih memberitahukan soal berapa duit yang akan saya terima, dia justru datang menanyakan faktur pajak.

Maka jelas, Manado Cerdas bukan satu-satunya yang telah hilang dari kerja pemerintahan kota kita saat ini. Dan, kemungkinan besar, bukan pula satu-satunya yang akan hilang. Lalu, pertanyaannya, kenapa begitu? Ada yang bilang bahwa walikota kita, pemerintahannya dan, dengan begitu, seluruh kebijakannnya telah dibisukan oleh gubernur kita.

Ini persoalan di tingkat nasional yang berimbas ke daerah, katanya. Pertarungan antara dua tokoh nasional yang terusung oleh dua partai yang kebetulan tergemakan dalam struktur pemerintahan daerah ini. Gubernur orang PDIP, refleksi pemerintah nasional saat ini yang diwakili Jokowi sebagai presiden. Adapun walikota orang Demokrat, pantulan wajah oposisional yang diwakili SBY sang mantan yang selalu merasa dijadikan korban oleh pemerintah hari ini.

Tapi kecurigaan ini sepertinya terlalu fantastik jika dianggap sebagai keterangan atas terlalu senyap dan selalu lenyapnya kebijakan pemerintahan Vicky babak kedua. Setidaknya, ia bisa difalsifikasi oleh kenyataan bahwa sikap senyap melenyap ini sudah menjadi semacam kebiasaan dalam pemerintahan ahli tata kota ini sejak pada babak pertama. Dan pada babak itu, kita tahu, tidak ada gubernur dari partai berbeda dan tidak ada perseteruan di tingkat nasional.

Kedua, kita tidak bisa menjawab persoalan nyata dengan imajinasi. Tapi nanti dulu, bahkan ilmu fisika yang jauh lebih eksak dibanding politik dikembangkan dengan imajinasi. Kuanta Planck, prinsip ketidakpastian Heisenberg, teori atom Bohr dan kucing Schrodinger adalah bukti kekuatan imajinasi dalam fisika kuantum. Belum lagi jika bicara soal imajinasi puitis Einstein yang merombak sejarah fisika.

Apalagi politik, tempat segala sesuatu berlangsung dalam paradoks kepastian akan ketidakpastian. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana pemahaman atas apa yang terjadi di ladang politik dengan imajinasi yang kering. Maka katakan saja, “kita membutuhkan imajinasi dalam menjawab berbagai persoalan politik.”

Baiklah kita boleh dan bahkan harus berimajinasi jika ingin menembus masuk awan gelap politik. Tapi imajinasi tentang pembisuan walikota Manado oleh gubernur Sulut tetap saja terlalu fantastik bagi kenyataan dari persoalan yang tengah kita diskusikan. Lalu imajinasi politik apa yang mestinya kita mainkan dalam hal ini?

Marilah kita lebih dulu berfantasi tentang ketidakpedulian warga Manado yang telah terkenal itu. Ketidakpedulian mereka yang begitu “liberal” ini juga berlaku bagi apapun yang telah, sedang, dan akan dilakukan pemerintah. Marilah kita bayangkan bahwa apa yang membuat Vicky Lumentut ada di kursinya saat ini sebagai walikota Manado merupakan hasil dari pengetahuannya yang sempurna akan sikap dan sifat warganya dalam hal ini.

Warga Manado tidak akan terlalu peduli jika ada program yang dijanjikan saat kampanye hilang ketika pemerintahan telah berjalan. Mereka juga tidak akan terlalu peduli dengan, misalnya, persoalan dana banjir. Kecuali, tentu saja, yang terdampak dengan kebijakan itu. Itupun nantinya akan menjadi tak lagi peduli saat pelenyapan mencapai titik nadirnya.

Lalu imajinasikan bahwa walikota, wakilnya, dan semua perangkat pemerintahan kota lainnya, yang sangat memahami suasana hati warga mereka, akan bergeser pada kebijakan senyap berikutnya. Dan meski itu bukan cara bagi kita untuk mengenali diri sendiri tapi, dalam kedua babak pemerintahan Vicky Lumentut, hal itu sepertinya telah menjadi bagian dari cara pemerintahan mengidentifikasi relasinya dengan warga.

Meski demikian ada yang sesungguhnya menarik dalam arti positif dari ketidakpedulian itu dan pada akhirnya politik senyap melenyap itu. Pertama, warga sipil yang baik, secara psiko-kultural memang adalah warga yang tidak bergantung pada pemerintah mereka. Jadi, jika ketidakpedulian itu adalah sebuah pernyataan independensi maka saya lebih ingin mensyukurinya daripada menguatirkannya.

Kedua, pemerintah yang baik, selalu dan akan selalu, pemerintah yang tidak terlalu banyak campur tangan dalam urusan warganya. Jika politik senyap melenyap Vicky Lumentut datang dari kesadaran ideo-politis seperti ini, maka saya akan memuji pemerintahan ini sebagai pemerintahan terbaik yang pernah saya miliki dalam sejarah kehidupan saya sebagai warga Manado.

Tapi jika keadaan ini hanyalah semacam konsekuensi sistemik dari suatu model berwarga dan berpemerintahan yang memang telah menjadi seperti apa adanya, itu berarti kita harus menghentikan pembicaraan soal Manado Cerdas dan menggantinya dengan pembicaraan soal Manado Cemas.

 

Manado, Juni 2017

 

Amato Assagaf secara rutin memberikan kontribusi tulisan-tulisannya dalam berbagai prespektif  untuk ZonaUtara.com. Dia juga menulis artikel susastra.

Baca pula tulisan-tulisan lain dari Amato. Dia dapat dihubungi melalui account Facebooknya.

Comments

comments

Click to comment

Komentar

KOLOM

Cara Jokowi Mencintai Indonesia

Jokowi tahu cara mensyukuri rahmat Tuhan atas tanah air Indonesia. Dia punya cara unik Jokowi dalam mencintai Ibu Pertiwi.

Published

on

By

zonautara.com
Warga beswafoto dengan Presiden Jokowi di Manado. (Foto : Zonautara.com/Tonny Rarung )

Oleh: Jolly Horonis

Tanah pusaka Indonesia  masyur dan besar. Kekayaan alam dan keramahan penduduknya menjadi pesona yang tak usai dirangkai dalam lagu dan syair pujangga. Mengungkap cinta terhadap negeri ini memang terasa sulit untuk menemukan ungkapan yang pas. Kekayaan dan keindahan alam mengundang bangsa lain untuk datang ke negeri ini. Beragam budaya tak bisa diwakilkan dengan kata dan gambar apa pun.

Melukis Indonesia, melukis Nusantara, kau harus menumpahkan semua tinta pada kanvas. Memainkan kuas seapik mungkin dan kau akan temukan masih ada sudut Nusantara yang tak terwakilkan. Mendendangkan Indonesia, mendendangkan Nusantara, kau harus mengeja abjad demi abjad, merangkai kata demi kata sepanjang jemari masih bisa merajut. Pada akhirnya kau akan temukan pada syairmu, masih ada sepenggal Indonesia tak kau ungkapkan. Coba keluar, tatap langit pagi atau senja atau lihat alam sekelilingmu, kau kan bangga ada, bahkan lahir dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Tanah pusaka. Tanah air Indonesia.

Sejarah mengukir dengan indah sepak terjang bangsa ini dalam kanca dunia. Dunia mencatat dengan baik pemimpin-pemimpin hebat pendahulu bangsa ini. Mereka bisa dengan lantang meneriakan kehebatan Nusantara, mulai dari kekayaan alam hingga filosofi-filosofi yang terkandung dalam keragaman budayanya.

Dalam perjalanan panjang bangsa ini banyak pula  rintangan yang  dihadapi, dari bencana alam hingga krisis ekonomi yang memporak-porandakan tatanan sosial. Isu rasis, radikalisme hingga separatis muncul ibarat jamur di musim hujan. Ketimpangan sosial, ketidakpastian hukum, dan korupsi, kolusi serta nepotisme merupakan penyakit paling akut yang menyerang Indonesia hingga berimbas pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin bangsa beberapa tahun terakhir ini.

Saat ini, sebagian besar dari 262 juta warga Indonesia menaruh harap yang tinggi pada Joko Widodo. Pemimpin fenomenal ini selalu tampil dengan sesuatu yang mengejutkan. Presiden pilihan rakyat ini memang selalu mampu membuat masyarakat tertarik dan penasaran menanti kejutan-kejutan terbaru darinya. Gaya blusukan sebagai ciri khasnya menjadikan seluruh masarakat Indonesia rindu untuk bertemu dengannya. Nawa Cita sebagai 9 program utama Jokowi menjadikan semangat bernegara bangsa ini kini berkobar lagi.

Namun demikian, ditengah-tengah semangat kerja kerja kerja yang dikobarkannya untuk memacu semangat segenap anak bangsa ini, ia tak luput dari berbagai hantaman isu yang memojokkannya. Sebut saja di antaranya; dituduh anti Islam, dituduh PKI,  dituduh antek cina, dituduh mengkriminalisasi ulama, hingga dituduh bukan seorang muslim. Tak gusar, Jokowi kian menunjukan kinerjanya. Ia menunjukan prestasi kerjanya sebagai balasan atas tuduhan miring ini. Bahkan beberapa politisi yang menyerang dirinya, ia balas dengan simbol-simbol yang lembut. Demikian sosok fenomenal ini, gaya berpikirnya agak sulit ditebak. Penuh kejutan.

Dalam hal mencintai Indonesia, Jokowi memiliki cara tersendiri. Ia lain daripada pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ia tahu bagaimana menyulam kembali kesatuan dan persatuan Indonesia. Ia tahu bagaimana menancapkan tiang dan mengibarkan kembali Merah Putih di hati segenap anak negeri. Ia tak berpidato tentang bagaimana mencintai Indonesia, ia menunjukan dengan kinerjanya. Ia tak pernah mengajak bagaimana kita menyayangi Ibu Pertiwi yang hatinya terluka oleh serakahnya mereka yang haus kekuasaan. Dari ujung hingga ujung Indonesia ini ia datangi.

Dari setiap sudut nusantara ia rasakan bagaimana rasanya kehidupan rakyatnya itu. Bisa saja kita sebut itu blusukan biasa ketika ia ngetrail di Papua atau berfoto ria di Kilometer 0 di Sabang ujung Sumatera. Tapi bagiku, inilah cara unik Jokowi mencintai Indonesia. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan mereka yang terpinggirkan. Bisa saja kita sebut ini hal biasa saat Jokowi berjalan ke bibir laut pulau Miangas paling Utara Indonesia dan pulau Rote paling Selatan Indonesia lalu membasuh mukanya dengan air laut.

Namun bagiku, inilah cara Jokowi mensyukuri rahmat Tuhan atas tanah air Indonesia. Di sinilah letak dan cara unik Jokowi dalam mencintai Ibu Pertiwi. Dengan keterbatasannya ia berusaha merengkuh lalu mendekap NKRI. Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading

KOLOM

Tahun Baru Negeri Nan Dungu

Menyeruput sianida adalah lebih baik jika saya memang sedungu itu.

Published

on

By

Ilustrasi dari http://realitysandwich.com

Oleh: Yuanita Maya

 

Syahdan, tersebutlah sebuah negeri. Ia elok, gemah ripah loh jinawi. Segala rupa ada, tersedia secara cuma-cuma. Tongkat kayu dilempar jadi tanaman, sehingga mengundang pertanyaan, mengapa dari seperempat milyar penduduknya masih banyak yang terbelit kemiskinan? Orang bilang ini karena pemerintahan korup, yang lestari sejak negeri itu masih dijajah orang-orang berambut kuning dengan raut sedikit banyak seperti manusia Neanderthal. Sebagian lainnya bilang memang ini lebih banyak karena mental manusia negeri itu yang memang gemar kemelaratan dan kebodohan; tak terselamatkan oleh program-program pengentasan kemiskinan dan wajib belajar sekian tahun.

Negeri ini adalah simbol perlawanan dari sebuah thesa yang mengatakan, bahwa kemiskinan dan ketololan adalah seiring sejalan. Ya, sebab di negeri ini orang bisa dengan mudah menemukan bahwa mereka yang tak miskin pun ternyata dungu luar biasa. Bukan hanya tak miskin, nyatanya mereka sekolah hingga tuntas strata satu, dua, bahkan seterusnya. Fenomena ini dulu sifatnya laten. Namun sejak hape pintar (dengan pengguna bodoh) banyak diobral, terkuaklah bahwa laku tenang bijak bestari itu ternyata hanya semu. Dengan bantuan dua buah ibu jari –dan waktu yang terbuang sia-sia seperti yang dimiliki oleh para pengangguran terbuka- pameran ketumpulan isi kepala itu mencapai titik didihnya pada gelar pemilihan kepala ibukota negeri tersebut beberapa waktu lalu.

Lewat media sosial, para pendukung para calon gubernur ibukota Negeri Dungu berperang. Mereka saling hujat, maki, caci, menghamburkan sumpah serapah. Di luar itu, roti, air minum yang dikemas dalam botol, bahkan jenazah, didemo dan dimusuhi. Orang-orang dari daerah lain berduyun-duyun menggelar demo untuk memakzulkan gubernur tersebut (jika mungkin, termasuk roti, air kemasan, jenazah, dan segala sesuatu yang mendukungnya). Dan seakan itu belum cukup, mereka menuntut dasar negara diubah sesuai dengan kitab yang mereka yakini. Seakan-akan negara adalah alamat surat elektronik, yang bisa diganti-ganti kata sandinya mana suka. Dan untuk menyempurnakan segalanya, mereka mengutip ayat-ayat dalam kitab suci yang mereka percaya, lalu mengafir-ngafirkan siapapun yang tak sepaham dengan mereka. Pemerintahan yang sah, bagi mereka, tak lebih dari binatang haram semata.

Lawan mereka, yang menganggap diri pintar dan demokratis, ternyata sama derajatnya. Ketika jagoan mereka (yang ketika itu masih menjabat gubernur) digiring ke pengadilan dan diputus atas sebuah kesalahan yang dipercaya tak dilakukannya, mereka berdemo berjilid-jilid di tengah malam. Seakan mengotori jalanan dengan lelehan lilin kering yang sulit dibersihkan oleh petugas kebersihan –orang-orang kecil itu- belum cukup tolol, mereka menuntut hakim untuk mengubah putusan. Ya, di Negeri Dungu, hukum memang kabarnya mudah diinterfensi. Dungunya lagi, mereka menganggap interfensi terhadap putusan hukum sebagai bagian dari cinta negeri. Ya, sambil mengobrak-abrik tatanan demokrasi, mereka memang serempak mengumandangkan lagu-lagu cinta negeri bahkan lagu nasional negeri tersebut.

Ketika akhirnya pejabat gubernur dipenjara dan gubernur baru dilantik, sebagian dari rakyat yang tak dungu, yang susah-payah memelihara diri dari cemaran kedunguan, bernapas lega. Negeri ini tentu akan segera damai, pikir mereka lugu. Mereka yang dungu tak kan berteriak-teriak lagi membuat kericuhan. Mereka yang bodoh akan segera bergandeng tangan, sehingga setidaknya, dalam kebodohan mereka bisa berbuat sesuatu bagi kemajuan negeri. Ya, siapa bilang orang bodoh tak bisa berkarya? Asal ada kemauan, siapa saja bisa berbuat baik bagi bangsa dan negara. Indahnya kerja, kerja, kerja.

Malangnya rakyat yang tak dungu! Ternyata dua kelompok massa dungu yang saling bertentangan, dengan jumlah mereka yang besar itu, memang sama sekali tak punya niat untuk melakukan apapun demi perbaikan negeri. Dulu, bekas gubernur ibukota yang kini mendekam di penjara tersebut dicaci-maki dari terbit matahari sampai pada masuknya. Untuk membuat absurditas ini kian nyata, gubernur tersebut banyak dibenci lebih karena agama dan darah negeri asing yang mengalir dalam tubuhnya. Para pembenci tersebut menutup mata terhadap kerja keras pejabat yang banyak digemari karena profesionalitas dan pilihannya, untuk tetap bersih dari segala suap dan makan uang anggaran belanja wilayah tersebut.

Kini, ketika pejabat baru dilantik, keadaan tak menjadi lebih baik. Apapun yang dilakukan oleh gubernur baru dan wakilnya, mereka cemooh dari ujung barat hingga ujung timur. Ketidakfasihan wakil gubernur dalam bertutur kata mereka hina, seakan mereka belum pernah mendengar betapa Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai kondisi. Seakan disleksia, buta, tuli, bisu, dan seterusnya, termasuk ketidakmampuan untuk menata kalimat secara terstruktur, adalah bagian dari karya Tuhan yang pantas ditertawakan. Seakan mereka adalah Tuhan itu sendiri, yang justru tak pernah menertawakan mahluk ciptaan-Nya.

Ketimbang memberikan kritik yang konstruktif, mereka lebih suka mencericit dan mencerucut bagai tikus-tikus got yang berisik, bau, dan menyebar kuman penyakit. Dalam upaya untuk nampak sebagai kelompok yang elegan, mereka berusaha menyelusup dalam komunikasi politik antara gubernur baru dan wakilnya dengan seorang menteri perempuan penguasa lautan negeri tersebut, yang gemar menenggelamkan kapal-kapal maling negara asing. Perempuan cerdas pula tegas tersebut melempar bola, menantang tuan gubernur agar menata satu danau di ibukota menjadi elok bagai danau di negeri berkelimpahan nun di benua jauh sana. Tuan gubernur gembira, membalas tantangan tersebut sekaligus melempar balik bola, agar perempuan gagah tersebut turut serta membersihkan laut dan pantai seputaran ibukota.

Bagi sewajarnya orang, ini adalah komunikasi politik yang menarik, limpad, dan trengginas. Dua pejabat publik yang punya wewenang, kuasa, perangkat, serta dana untuk mengejawantahkan program-program mereka, saling tantang dalam kerangka konstruktif demi kemajuan bangsa dan negara. Ini, tak bisa disangkal lagi, adalah preseden baik yang bisa dijadikan patokan bagi pejabat-pejabat di lain daerah: masing-masing menaruh perhatian terhadap kinerja yang lain, saling memberikan kritik dan masukan, dan membuat jalur ‘kompetisi’ dalam perspektif kemajuan.

Tetapi patutlah kita semua mahfum, bahwa manusia dungu adalah setidak-tidak wajarnya manusia dewasa. Gelagat positif tersebut mereka baca sebagai mesiu baru untuk menghujat tuan gubernur yang baru dan wakilnya. Berharap mereka mengeluarkan pendapat semacam, ”Ini bagus, jadi antar pejabat publik ada semacam spirit untuk saling memberi masukan, koreksi, dan kritikan.” Atau, ”Tapi wakil gubernur itu kan pengusaha kelas kakap. Ada kemungkinan dia membuka celah bagi oligarki. Kalau begitu harus kita kawal.” Demikian pula, ”Tuan gubernur itu dulu bergerak di ranah akademik. Mana bisa dia mengurus manajemen pengelolaan danau secara profesional? Bila demikian harus disinergikan dengan wakilnya yang profesional di bidang usaha. Dan sekali lagi, tugas kita sebagai rakyat mengawal mereka agar tidak terjerembab dalam pusaran oligarki.”

Oh, oh…. Terlalu jauh mengharapkan orang-orang dungu tersebut berkata demikian! Mereka justru sibuk menertawakan wakil gubernur yang menanggapi tantangan politis tersebut usai mencoba wahana olahraga air di stadium kebanggaan negeri itu. “Membuat statemen politik kok sehabis berenang. Otaknya memang di dengkul, @3****!!!” Mereka bukan hanya dungu, tapi juga malas, sehingga tak bisa paham bahwa menjaga kebugaran tubuh dengan rajin berolahraga bagi manusia paruh baya adalah usaha yang butuh kedisiplinan luar biasa.

Rasa iba memang patut dihunjukkan bagi negeri tersebut. Bangsa-bangsa lain bergerak maju, hari demi hari, waktu demi waktu, namun bagi mereka waktu terhenti. Segalanya berpusat pada sumpah-serapah dan caci-maki untuk dihamburkan pada orang-orang yang mereka benci. Dan sementara di tempat-tempat lain kebanyakan orang memusatkan pikiran untuk membuat resolusi menyambut tahun yang baru, mereka justru berpikir keras agar nampak kian dungu.

Malangnya negeri dengan rakyat seperti itu! Ia hanya terayun ke kiri dan kanan, menjadi sasaran kekerdilan sebagian rakyatnya yang telah sepenuhnya kehilangan logika. Di negeri itu, tahun baru hanya ilusi semu. Segala tekad untuk menjadikan tahun berikut jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya, tidaklah mungkin terbersit di benak mereka.

Untungnya saya, orang Indonesia, yang tak dungu pula. Saya banyak berharap dan berdoa, semoga tahun depan saya bisa lebih obyektif dalam menilai kinerja para pejabat publik, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Sebab sebagai seorang penulis, adalah tanggung jawab moral saya untuk menuliskan kritisi sekaligus apresiasi terhadap kekurangan dan kelebihan yang ada di Indonesia, dan bukan membuat rusuh dengan tulisan culas yang berat sebelah. Adalah dungu jika saya membuat tulisan yang hanya melihat kekurangan orang lain saja, mencemooh di sana, membuat panas di sini, lalu mengajak para pembaca yang telah disesatkan itu menyeruput kopi. Menyeruput sianida adalah lebih baik jika saya memang sedungu itu.

Dan bagi Anda, selamat tahun baru. Saya yakin anda tidak dungu….

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: