Connect with us

KOLOM

Mengugat Gagasan tentang Pahlawan

Apa yang sesungguhnya mengenai para pahlawan adalah gagasan tentang semata pengorbanan bagi orang lain. Cerita dari naskah sebuah keluarga, misalnya, adalah cerita yang sesungguhnya tentang para pahlawan.

Published

on

Oleh Amato Assagaf

Manusia hidup untuk menghidupkan manusia.
GSSJ Ratulangi

Pahlawan tidak bisa dibicarakan di luar harapan. Ia bahkan tidak untuk diucapkan tanpa bayangan akan masa depan. Yakni gagasan yang kita butuhkan agar selalu ada kemungkinan untuk menjadi lebih baik. Dalam hal ini, pahlawan memberi kita semacam keyakinan akan manusia.

Tapi pahlawan juga bisa menjadi tak lebih dari gambaran ketakutan kita. Dalam kasus ini, kebutuhan kita akan pahlawan sesungguhnya merupakan cerminan dari ketaklukkan kita. Perasaan telah kalah akan membutuhkan datangnya pahlawan sebagai penyelamat keadaan. Pada satu sisi ini membuat pahlawan menjadi gambaran akan harapan tapi sekaligus menjadi semata kepasrahan. Dengan begitu, ia bisa jadi telah menghina manusia.

Maksudnya sungguh sederhana. Menjadi pahlawan akan menyelamatkan harapan dan, karenanya, juga manusia. Tapi membutuhkan pahlawan, sebetapapun itu adalah juga suatu harapan, lebih menggambarkan kelemahan. Kita tidak membutuhkan pahlawan karena kita sendirilah yang harus siap menjadi pahlawan. Di sekolah, kita tidak seharusnya diajarkan untuk mengharapkan munculnya para pahlawan tapi mestinya dididik untuk selalu bersedia menjadi pahlawan.

Demikian pula, pahlawan bukan hanya gagasan dalam besaran-besaran sejarah. Bukan hanya cerita tentang seseorang bagi suatu bangsa atau kelompok-kelompok besar lainnya. Itu adalah cerita tentang para pahlawan dari naskah yang lain. Naskah bagi realitas-realitas terbayang akan negara, bangsa, bahkan kemanusiaan. Naskah yang ditulis untuk memberi ruh bagi tubuh kolektif yang selalu bisa dinegosiasikan. Penting, memang, tapi bukan satu-satunya.

Apa yang sesungguhnya mengenai para pahlawan adalah gagasan tentang semata pengorbanan bagi orang lain. Cerita dari naskah sebuah keluarga, misalnya, adalah cerita yang sesungguhnya tentang para pahlawan. Seorang ibu yang membesarkan anaknya tanpa mengharapkan balasan atau seorang bapak yang berjuang menghidupi keluarga tanpa pernah mengeluh. Demikian cerita yang sama bisa kita temukan dalam naskah-naskah kecil hubungan antar manusia dalam suatu situasi.

Dalam naskah-naskah ini, kepahlawanan tidak diniatkan pada dirinya sendiri melainkan dilakoni karena keyakinan akan adanya harapan. Seorang pahlawan tidak menyusun naskahnya sendiri tapi memainkan peran dari naskah hidupnya bersama orang lain. Dalam naskah itu, dia bisa jadi hanyalah seorang ibu, bapak, kawan, guru, juru parkir, bahkan semata seseorang begitu saja.

Tapi dalam perannya yang “bukan apa-apa” itu, dia kemudian menyuburkan kehidupan, menumbuhkan harapan, membuahkan kemanusiaan. Dalam naskah yang sama, pahlawan adalah mereka yang datang dan pergi dalam kehidupan kita dengan menyelamatkan satu-satunya kemungkinan bagi kita untuk tetap menjadi manusia, yaitu harapan. Mereka juga adalah kita yang hidup bersama orang lain dan berbuat sesuatu bagi hidup atas nama hari esok dan kebahagiaan-kebahagiaan kecil sebagai seseorang.

Meski begitu, dalam tilikan balik, pahlawan tak pernah bisa menjadi terlalu sederhana. Ketika naskah tentang kepahlawanan telah selesai ditulis, kita akan menemukan gagasan yang cukup besar dan, terutama, rumit mengenai hal itu. Kepahlawanan ibu saya tidak pernah bisa kecil dan sederhana. Ia adalah jalinan rumit dari seluruh kemungkinan saya untuk menjadi seperti apa adanya saya.

Karena itulah tidak setiap orang bisa menjadi pahlawan, sebagaimana tidak setiap orang bisa melihat adanya para pahlawan di dalam lingkungannya sendiri. Kita bahkan tidak tahu bahwa orang itu adalah pahlawan karena dia tidak berjubah pahlawan. Namun tepat pada titik inilah kita sadar bahwa kepahlawanan tidak dapat dipisahkan dari narasi besar tentang pengabdian pada hidup.

Sitou timou tumou tou.” Sebuah ungkapan dalam bahasa Minahasa yang artinya, manusia hidup untuk menghidupkan manusia. Itu adalah ungkapan GSSJ Ratulangi yang merupakan seruan bagi kepahlawanan dalam maknanya yang paling filosofis. Pahlawan bukan hanya dia yang menyelamatkan aku pada suatu saat yang begitu genting dalam hidup kita. Pahlawan adalah juga dia yang membuat kita hidup dan terus hidup sebagai manusia.

Ketika dia hidup, pahlawan akan menghidupkan kita. Ketika dia telah tiada, kita bisa terus hidup karena jasanya. Dan pahlawan melakukan semua itu sebagai semata bagian dari upayanya untuk hidup sebagai manusia. Bukan sebagai tuntutan dari suatu naskah sejarah tentang dirinya sebagai seorang pahlawan. Tanpa jubah dan upacara.

Dalam pembacaan saya, Ratulangi sesungguhnya tidak sedang menyerukan semacam altruisme buta dari tindakan kepahlawanan. Dia juga tidak sedang menyerukan kepahlawanan dari suatu perspektif kolektivistis. Dengan cara yang begitu cerdas sekaligus puitis, Ratulangi mendahului seruannya dengan menetapkan manusia sebagai eksistensi yang bersifat pribadi: “Manusia hidup…,” katanya. Artinya, manusia harus lebih dulu hidup sebagai seseorang sebelum dia menjadi pahlawan yang tak lain “…untuk menghidupkan manusia.”

Intelektual besar Indonesia yang berasal dari tanah Minahasa ini juga tidak membicarakan “hidup” dan “menghidupkan” hanya dari satu sisi pemahaman akan “kehidupan” sebagai sebuah peristiwa prosesual pada umumnya. Karena itulah kita bisa menjelaskan seruannya dalam kerangka pembicaraan kita tentang pahlawan dan kepahlawanan.

Dalam kerangka ini, hidup bukan predikat bagi manusia sebagai subjek tapi ada sebagai bagian dari definisi manusia itu sendiri. Artinya, “manusia” yang sedang dibicarakan Ratulangi ini adalah “manusia” dalam kualitasnya sebagai subjek aktif (untuk dibandingkan dengan orang mati sebagai korpus pasif).

Dan dalam keberadaannya sebagai subjek aktif itulah dia memiliki potensi untuk melepaskan diri dari kungkungan subjektivitasnya dan menjadi pahlawan. Menjadi “manusia hidup” yang “menghidupkan manusia” lainnya. Dari individu terbatas menjadi individu tak terbatas. Dan transisi ini membutuhkan pengorbanan, yaitu pembalikan takdir eksistensialnya dari yang sekedar “hidup” menjadi yang “menghidupkan.” Dan itulah makna esensial menjadi pahlawan menurut Sam Ratulangi.

Dibutuhkan argumentasi lebih lanjut untuk menjelaskan kerumitan pembacaan atas seruan tersebut. Tapi tidak dibutuhkan argumentasi yang terlalu ketat untuk menyatakan bahwa ibu saya dan ibu dari banyak orang lainnya adalah pahlawan hanya dengan menjelaskan posisi mereka dalam kerangka seruan Sam Ratulangi tersebut. Pembacaan saya mungkin terkesan rumit karena, pertama, seruan tersebut datang dari renungan seorang intelektual besar dan, kedua, konsep pahlawan dan kepahlawanan itu sendiri, sebagaimana yang telah saya tegaskan, tidak pernah bisa tinggal hanya sebagai sebuah konsep yang kecil dan sederhana.

Bagi sebuah Indonesia pada masa kini dan segala harapan kita akan masa depannya. Bagi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu kita dan tugas kita untuk mempertahankannya. Bagi hidup, manusia, dan segala kemungkinan untuk terus menjadi lebih baik, mulailah belajar menjadi pahlawan tanpa harus mengenakan jubah kepahlawanan tapi cukup dengan menjadi “manusia hidup” yang bersedia “untuk menghidupkan manusia” lain dalam lingkungan kita sehari-hari.

Merdeka!

 

Manado, 17 Agustus 2017

Amato Assagaf secara rutin memberikan kontribusi tulisan-tulisannya dalam berbagai prespektif  untuk ZonaUtara.com. Dia juga menulis artikel susastra.

Baca pula tulisan-tulisan lain dari Amato. Dia dapat dihubungi melalui account Facebooknya.

 

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Click to comment

Komentar

KOLOM

Cara Jokowi Mencintai Indonesia

Jokowi tahu cara mensyukuri rahmat Tuhan atas tanah air Indonesia. Dia punya cara unik Jokowi dalam mencintai Ibu Pertiwi.

Published

on

By

zonautara.com
Warga beswafoto dengan Presiden Jokowi di Manado. (Foto : Zonautara.com/Tonny Rarung )

Oleh: Jolly Horonis

Tanah pusaka Indonesia  masyur dan besar. Kekayaan alam dan keramahan penduduknya menjadi pesona yang tak usai dirangkai dalam lagu dan syair pujangga. Mengungkap cinta terhadap negeri ini memang terasa sulit untuk menemukan ungkapan yang pas. Kekayaan dan keindahan alam mengundang bangsa lain untuk datang ke negeri ini. Beragam budaya tak bisa diwakilkan dengan kata dan gambar apa pun.

Melukis Indonesia, melukis Nusantara, kau harus menumpahkan semua tinta pada kanvas. Memainkan kuas seapik mungkin dan kau akan temukan masih ada sudut Nusantara yang tak terwakilkan. Mendendangkan Indonesia, mendendangkan Nusantara, kau harus mengeja abjad demi abjad, merangkai kata demi kata sepanjang jemari masih bisa merajut. Pada akhirnya kau akan temukan pada syairmu, masih ada sepenggal Indonesia tak kau ungkapkan. Coba keluar, tatap langit pagi atau senja atau lihat alam sekelilingmu, kau kan bangga ada, bahkan lahir dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Tanah pusaka. Tanah air Indonesia.

Sejarah mengukir dengan indah sepak terjang bangsa ini dalam kanca dunia. Dunia mencatat dengan baik pemimpin-pemimpin hebat pendahulu bangsa ini. Mereka bisa dengan lantang meneriakan kehebatan Nusantara, mulai dari kekayaan alam hingga filosofi-filosofi yang terkandung dalam keragaman budayanya.

Dalam perjalanan panjang bangsa ini banyak pula  rintangan yang  dihadapi, dari bencana alam hingga krisis ekonomi yang memporak-porandakan tatanan sosial. Isu rasis, radikalisme hingga separatis muncul ibarat jamur di musim hujan. Ketimpangan sosial, ketidakpastian hukum, dan korupsi, kolusi serta nepotisme merupakan penyakit paling akut yang menyerang Indonesia hingga berimbas pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin bangsa beberapa tahun terakhir ini.

Saat ini, sebagian besar dari 262 juta warga Indonesia menaruh harap yang tinggi pada Joko Widodo. Pemimpin fenomenal ini selalu tampil dengan sesuatu yang mengejutkan. Presiden pilihan rakyat ini memang selalu mampu membuat masyarakat tertarik dan penasaran menanti kejutan-kejutan terbaru darinya. Gaya blusukan sebagai ciri khasnya menjadikan seluruh masarakat Indonesia rindu untuk bertemu dengannya. Nawa Cita sebagai 9 program utama Jokowi menjadikan semangat bernegara bangsa ini kini berkobar lagi.

Namun demikian, ditengah-tengah semangat kerja kerja kerja yang dikobarkannya untuk memacu semangat segenap anak bangsa ini, ia tak luput dari berbagai hantaman isu yang memojokkannya. Sebut saja di antaranya; dituduh anti Islam, dituduh PKI,  dituduh antek cina, dituduh mengkriminalisasi ulama, hingga dituduh bukan seorang muslim. Tak gusar, Jokowi kian menunjukan kinerjanya. Ia menunjukan prestasi kerjanya sebagai balasan atas tuduhan miring ini. Bahkan beberapa politisi yang menyerang dirinya, ia balas dengan simbol-simbol yang lembut. Demikian sosok fenomenal ini, gaya berpikirnya agak sulit ditebak. Penuh kejutan.

Dalam hal mencintai Indonesia, Jokowi memiliki cara tersendiri. Ia lain daripada pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ia tahu bagaimana menyulam kembali kesatuan dan persatuan Indonesia. Ia tahu bagaimana menancapkan tiang dan mengibarkan kembali Merah Putih di hati segenap anak negeri. Ia tak berpidato tentang bagaimana mencintai Indonesia, ia menunjukan dengan kinerjanya. Ia tak pernah mengajak bagaimana kita menyayangi Ibu Pertiwi yang hatinya terluka oleh serakahnya mereka yang haus kekuasaan. Dari ujung hingga ujung Indonesia ini ia datangi.

Dari setiap sudut nusantara ia rasakan bagaimana rasanya kehidupan rakyatnya itu. Bisa saja kita sebut itu blusukan biasa ketika ia ngetrail di Papua atau berfoto ria di Kilometer 0 di Sabang ujung Sumatera. Tapi bagiku, inilah cara unik Jokowi mencintai Indonesia. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan mereka yang terpinggirkan. Bisa saja kita sebut ini hal biasa saat Jokowi berjalan ke bibir laut pulau Miangas paling Utara Indonesia dan pulau Rote paling Selatan Indonesia lalu membasuh mukanya dengan air laut.

Namun bagiku, inilah cara Jokowi mensyukuri rahmat Tuhan atas tanah air Indonesia. Di sinilah letak dan cara unik Jokowi dalam mencintai Ibu Pertiwi. Dengan keterbatasannya ia berusaha merengkuh lalu mendekap NKRI. Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading

KOLOM

Tahun Baru Negeri Nan Dungu

Menyeruput sianida adalah lebih baik jika saya memang sedungu itu.

Published

on

By

Ilustrasi dari http://realitysandwich.com

Oleh: Yuanita Maya

 

Syahdan, tersebutlah sebuah negeri. Ia elok, gemah ripah loh jinawi. Segala rupa ada, tersedia secara cuma-cuma. Tongkat kayu dilempar jadi tanaman, sehingga mengundang pertanyaan, mengapa dari seperempat milyar penduduknya masih banyak yang terbelit kemiskinan? Orang bilang ini karena pemerintahan korup, yang lestari sejak negeri itu masih dijajah orang-orang berambut kuning dengan raut sedikit banyak seperti manusia Neanderthal. Sebagian lainnya bilang memang ini lebih banyak karena mental manusia negeri itu yang memang gemar kemelaratan dan kebodohan; tak terselamatkan oleh program-program pengentasan kemiskinan dan wajib belajar sekian tahun.

Negeri ini adalah simbol perlawanan dari sebuah thesa yang mengatakan, bahwa kemiskinan dan ketololan adalah seiring sejalan. Ya, sebab di negeri ini orang bisa dengan mudah menemukan bahwa mereka yang tak miskin pun ternyata dungu luar biasa. Bukan hanya tak miskin, nyatanya mereka sekolah hingga tuntas strata satu, dua, bahkan seterusnya. Fenomena ini dulu sifatnya laten. Namun sejak hape pintar (dengan pengguna bodoh) banyak diobral, terkuaklah bahwa laku tenang bijak bestari itu ternyata hanya semu. Dengan bantuan dua buah ibu jari –dan waktu yang terbuang sia-sia seperti yang dimiliki oleh para pengangguran terbuka- pameran ketumpulan isi kepala itu mencapai titik didihnya pada gelar pemilihan kepala ibukota negeri tersebut beberapa waktu lalu.

Lewat media sosial, para pendukung para calon gubernur ibukota Negeri Dungu berperang. Mereka saling hujat, maki, caci, menghamburkan sumpah serapah. Di luar itu, roti, air minum yang dikemas dalam botol, bahkan jenazah, didemo dan dimusuhi. Orang-orang dari daerah lain berduyun-duyun menggelar demo untuk memakzulkan gubernur tersebut (jika mungkin, termasuk roti, air kemasan, jenazah, dan segala sesuatu yang mendukungnya). Dan seakan itu belum cukup, mereka menuntut dasar negara diubah sesuai dengan kitab yang mereka yakini. Seakan-akan negara adalah alamat surat elektronik, yang bisa diganti-ganti kata sandinya mana suka. Dan untuk menyempurnakan segalanya, mereka mengutip ayat-ayat dalam kitab suci yang mereka percaya, lalu mengafir-ngafirkan siapapun yang tak sepaham dengan mereka. Pemerintahan yang sah, bagi mereka, tak lebih dari binatang haram semata.

Lawan mereka, yang menganggap diri pintar dan demokratis, ternyata sama derajatnya. Ketika jagoan mereka (yang ketika itu masih menjabat gubernur) digiring ke pengadilan dan diputus atas sebuah kesalahan yang dipercaya tak dilakukannya, mereka berdemo berjilid-jilid di tengah malam. Seakan mengotori jalanan dengan lelehan lilin kering yang sulit dibersihkan oleh petugas kebersihan –orang-orang kecil itu- belum cukup tolol, mereka menuntut hakim untuk mengubah putusan. Ya, di Negeri Dungu, hukum memang kabarnya mudah diinterfensi. Dungunya lagi, mereka menganggap interfensi terhadap putusan hukum sebagai bagian dari cinta negeri. Ya, sambil mengobrak-abrik tatanan demokrasi, mereka memang serempak mengumandangkan lagu-lagu cinta negeri bahkan lagu nasional negeri tersebut.

Ketika akhirnya pejabat gubernur dipenjara dan gubernur baru dilantik, sebagian dari rakyat yang tak dungu, yang susah-payah memelihara diri dari cemaran kedunguan, bernapas lega. Negeri ini tentu akan segera damai, pikir mereka lugu. Mereka yang dungu tak kan berteriak-teriak lagi membuat kericuhan. Mereka yang bodoh akan segera bergandeng tangan, sehingga setidaknya, dalam kebodohan mereka bisa berbuat sesuatu bagi kemajuan negeri. Ya, siapa bilang orang bodoh tak bisa berkarya? Asal ada kemauan, siapa saja bisa berbuat baik bagi bangsa dan negara. Indahnya kerja, kerja, kerja.

Malangnya rakyat yang tak dungu! Ternyata dua kelompok massa dungu yang saling bertentangan, dengan jumlah mereka yang besar itu, memang sama sekali tak punya niat untuk melakukan apapun demi perbaikan negeri. Dulu, bekas gubernur ibukota yang kini mendekam di penjara tersebut dicaci-maki dari terbit matahari sampai pada masuknya. Untuk membuat absurditas ini kian nyata, gubernur tersebut banyak dibenci lebih karena agama dan darah negeri asing yang mengalir dalam tubuhnya. Para pembenci tersebut menutup mata terhadap kerja keras pejabat yang banyak digemari karena profesionalitas dan pilihannya, untuk tetap bersih dari segala suap dan makan uang anggaran belanja wilayah tersebut.

Kini, ketika pejabat baru dilantik, keadaan tak menjadi lebih baik. Apapun yang dilakukan oleh gubernur baru dan wakilnya, mereka cemooh dari ujung barat hingga ujung timur. Ketidakfasihan wakil gubernur dalam bertutur kata mereka hina, seakan mereka belum pernah mendengar betapa Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai kondisi. Seakan disleksia, buta, tuli, bisu, dan seterusnya, termasuk ketidakmampuan untuk menata kalimat secara terstruktur, adalah bagian dari karya Tuhan yang pantas ditertawakan. Seakan mereka adalah Tuhan itu sendiri, yang justru tak pernah menertawakan mahluk ciptaan-Nya.

Ketimbang memberikan kritik yang konstruktif, mereka lebih suka mencericit dan mencerucut bagai tikus-tikus got yang berisik, bau, dan menyebar kuman penyakit. Dalam upaya untuk nampak sebagai kelompok yang elegan, mereka berusaha menyelusup dalam komunikasi politik antara gubernur baru dan wakilnya dengan seorang menteri perempuan penguasa lautan negeri tersebut, yang gemar menenggelamkan kapal-kapal maling negara asing. Perempuan cerdas pula tegas tersebut melempar bola, menantang tuan gubernur agar menata satu danau di ibukota menjadi elok bagai danau di negeri berkelimpahan nun di benua jauh sana. Tuan gubernur gembira, membalas tantangan tersebut sekaligus melempar balik bola, agar perempuan gagah tersebut turut serta membersihkan laut dan pantai seputaran ibukota.

Bagi sewajarnya orang, ini adalah komunikasi politik yang menarik, limpad, dan trengginas. Dua pejabat publik yang punya wewenang, kuasa, perangkat, serta dana untuk mengejawantahkan program-program mereka, saling tantang dalam kerangka konstruktif demi kemajuan bangsa dan negara. Ini, tak bisa disangkal lagi, adalah preseden baik yang bisa dijadikan patokan bagi pejabat-pejabat di lain daerah: masing-masing menaruh perhatian terhadap kinerja yang lain, saling memberikan kritik dan masukan, dan membuat jalur ‘kompetisi’ dalam perspektif kemajuan.

Tetapi patutlah kita semua mahfum, bahwa manusia dungu adalah setidak-tidak wajarnya manusia dewasa. Gelagat positif tersebut mereka baca sebagai mesiu baru untuk menghujat tuan gubernur yang baru dan wakilnya. Berharap mereka mengeluarkan pendapat semacam, ”Ini bagus, jadi antar pejabat publik ada semacam spirit untuk saling memberi masukan, koreksi, dan kritikan.” Atau, ”Tapi wakil gubernur itu kan pengusaha kelas kakap. Ada kemungkinan dia membuka celah bagi oligarki. Kalau begitu harus kita kawal.” Demikian pula, ”Tuan gubernur itu dulu bergerak di ranah akademik. Mana bisa dia mengurus manajemen pengelolaan danau secara profesional? Bila demikian harus disinergikan dengan wakilnya yang profesional di bidang usaha. Dan sekali lagi, tugas kita sebagai rakyat mengawal mereka agar tidak terjerembab dalam pusaran oligarki.”

Oh, oh…. Terlalu jauh mengharapkan orang-orang dungu tersebut berkata demikian! Mereka justru sibuk menertawakan wakil gubernur yang menanggapi tantangan politis tersebut usai mencoba wahana olahraga air di stadium kebanggaan negeri itu. “Membuat statemen politik kok sehabis berenang. Otaknya memang di dengkul, @3****!!!” Mereka bukan hanya dungu, tapi juga malas, sehingga tak bisa paham bahwa menjaga kebugaran tubuh dengan rajin berolahraga bagi manusia paruh baya adalah usaha yang butuh kedisiplinan luar biasa.

Rasa iba memang patut dihunjukkan bagi negeri tersebut. Bangsa-bangsa lain bergerak maju, hari demi hari, waktu demi waktu, namun bagi mereka waktu terhenti. Segalanya berpusat pada sumpah-serapah dan caci-maki untuk dihamburkan pada orang-orang yang mereka benci. Dan sementara di tempat-tempat lain kebanyakan orang memusatkan pikiran untuk membuat resolusi menyambut tahun yang baru, mereka justru berpikir keras agar nampak kian dungu.

Malangnya negeri dengan rakyat seperti itu! Ia hanya terayun ke kiri dan kanan, menjadi sasaran kekerdilan sebagian rakyatnya yang telah sepenuhnya kehilangan logika. Di negeri itu, tahun baru hanya ilusi semu. Segala tekad untuk menjadikan tahun berikut jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya, tidaklah mungkin terbersit di benak mereka.

Untungnya saya, orang Indonesia, yang tak dungu pula. Saya banyak berharap dan berdoa, semoga tahun depan saya bisa lebih obyektif dalam menilai kinerja para pejabat publik, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Sebab sebagai seorang penulis, adalah tanggung jawab moral saya untuk menuliskan kritisi sekaligus apresiasi terhadap kekurangan dan kelebihan yang ada di Indonesia, dan bukan membuat rusuh dengan tulisan culas yang berat sebelah. Adalah dungu jika saya membuat tulisan yang hanya melihat kekurangan orang lain saja, mencemooh di sana, membuat panas di sini, lalu mengajak para pembaca yang telah disesatkan itu menyeruput kopi. Menyeruput sianida adalah lebih baik jika saya memang sedungu itu.

Dan bagi Anda, selamat tahun baru. Saya yakin anda tidak dungu….

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: