Connect with us

WAWANCARA

WAWANCARA dengan Remy Sylado

Yang muda-muda itu memang punya semangat bagus. Pesan saya, siapkan secara matang gambaran ideal film yang mau dibuat. Lalu carilah produser yang mau membiayai film tersebut.

Published

on

Kami menghubungi Remy Sylado untuk meminta beberapa pandangannya soal liputan tematik minggu ini tentang Semateir dan Perfilman di Sulawesi Utara. Yapi Panda Abdiel Tambayong atau Japi Tambajong merupakan nama asli Remy. Dia lahir di Makassar pada 12 Juni 1945. Remy merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang disegani.

Ia memulai karier sebagai seorang wartawan majalah Tempo pada 1965 dan menjadi dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), Dia juga merupakan ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.

Remy menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu banyak akan film. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Kusala Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Remy dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Itulah sebabnya tulisannya tidak diragukan lagi soal kualitasnya. Dalam menulis novel, Remy selalu melakukan riset yang mendalam. Dia bangka sering membongkar arsip Perpustakaan Nasional dan mendatangi pasar buku tua demi mencari sumber referensi.

Berikut petikan wawancara melalui telepon yang dilakukan pada Selasa (29/8/2017)

 

Anda melihat masa depan perfilman di Sulut seperti apa?

Tentu harus ada produser dulu, sebab dia adalah penyandang dana. Sebab walau ada SDM-nya tapi kalau tidak ada dananya kan tidak bisa jalan. Lantas, masyarakat penontonnya mau nggak diajak nonton film dengan membayar tiket.

Apakah Anda melihat ada apresiasi masyarakat penonton di Sulut, terutama film-film daerah?

Di mana-masa sama, bukan hanya di Sulut. Masalahnya sekarang bagaimana merangsang torang di Sulut untuk datang ke bioskop dan membeli tiket (menonton film daerah –red). Di Jawa juga begitu, mau nonton film, dia lihat dulu bagus atau ndak. Tahun 70an itu, ada film misalnya di Bandung judulnya Bandung Lautan Api, itu cerita tentang perjuangan perang di Bandung dalam melawan penjajah Belanda. Film itu dibikin oleh Alam Surawidjaja dan itu main di Bandung saja cuma tiga hari. Begitu main di Sukabumi, orang Sukabumi bilang, ah ini persoalan orang Bandung, ndak usah dibawah ke sini, hehehe.

Ada sentimentalitas seperti itu yang harus diperhitungkan. Misalnya juga Cut Nya Dien yang pada tahun 80an itu biayanya mencapai Rp 4 milyar, itu karam juga di pasar karena masalahnya di Aceh.

Sekarang ini, sedang ada film hitam putih yang sudah dua kali ini main di Jakarta, dan itu pakai bahasa Jawa, penontonnya penuh. Padahal film itu indie banget, tapi diputarnya di Bisokop 21. Dan itu secara pasar dia berhasil. Ada lagi satu, Turah sedang di putar di Jakarta, pakai bahasa Tegal, bahasa Jawa yang dianggap aneh bagi kuping orang berbahasa Jawa tertib.  Tapi film itu laku sekarang. Nah yang saya lihat pertanyaan tadi itu, masalahnya ada di emosional. Penonton merasa terikat untuk mau menonton karena ada bagian yang menurut dia menyenangkan atau tidak. Itu masalah dagang ya. Jadi seperti yang kita mulai tadi, ada tidak produser yang mau bikin film. Produksi film sekarang ini paling sedikit Rp 3 milyar kan?.

Bagaimana Anda melihat masa depan perfilman di daerah?

Jika dilihat dari aspek film sebagai dagangan, belum ada forma paten bagaimana bikin film yang laku. Belum ada resep seperti itu, itu untung-untungan semua. Tetapi masalahnya dalam untung-untungan itu harus berpikir benar atau tidak. Sekarang ada film yang di putar di Jakarta dan Bogor, sebuah film Thailand, Bad Genius. Baru diputar semalam. Ini film agak unik, pakai bahasa Thailand dan semua pemerannya orang Thailand. Uniknya, tidak ada satupun pemainnya yang dimake up. Sementara di Indonesia, orang sakit yang terbaring di rumah sakit pun make upnya sangat tebal, pake eye shadow biru keras, lisptik merah menyala. Tidak ada film Indonesia yang tidak di make up tebal. Seperti topeng saja. Yang film Thailand itu, tidak pakai make up tapi disukai. Jadi memang tidak ada forma yang bisa bikin sebuah film menjadi laku. Semua untung-untungan. Film Amerika juga seperti itu koq, banyak yang karam cuma dua tiga hari setelah diputar.

Maaf saya flash back ke belakang soal film Benteng Moraya, itu bagaimana sampai tidak lanjut produksinya?

Itu terlalu banyak korupsi waktu itu. Terus soal penelitian yang katanya ke Belanda, saya tidak tahu ke Belanda yang mana, ngawur semuanya. Skenario filmya nggak karu-karuan. Ngawur. Cerita tahun 1809 di pakai setting tahun 1910. Hahahaha.

Kalau sekarang misal, Anda diberi kesempatan untuk meneruskan film Benteng Moraya itu…

Siapa produsernya dulu, ada uangnya ndak? Hahahah.  Paling sedikit itu Rp 5 Milyar untuk film sejarah seperti itu.

Anak-anak muda di Sulut sekarang di berbagai komunitas lagi semangat bikin film indie. Ada pesan khusus buat mereka?

Yang muda-muda itu memang punya semangat bagus. Pesan saya, siapkan secara matang gambaran ideal film yang mau dibuat. Lalu carilah produser yang mau membiayai film tersebut.

 

Pewawancara Ronny A. Buol

Comments

comments

Editor in Chief di Zonautara.com, Kontributor di Kompas.com, Fotografer, penikmat buku dan pemulung informasi.

Click to comment

Komentar

WAWANCARA

Kisah Suz Konda Yang Pilih Tak Hidup Mewah Dan Melayani Di Pusat Kanker Anak Estella

Published

on

zonautara.com
Seorang anak penderita kanker di Pusat Kanker Anak Estella.(Foto: zonautara.com/Suhandri Lariwu)

MANADO, ZONAUTARA.com Lima tahun sudah Pusat Kanker Anak Estella berdiri. Sejak tahun 2012 itu, setidaknya sudah 311 anak-anak penderita kanker yang dirawat di tempat tersebut. Mulai dari penderita kanker darah, tumor ginjal, dan tumor mata.

Sebanyak 66 orang di antaranya dinyatakan sembuh total. Dari jumlah tersebut berarti sudah ada sebanyak 21 persen dari total penderita yang selamat. Ini merupakan presentasi angka keberhasilan yang tinggi untuk ukuran sebuah penyakit yang mematikan seperti kanker dan tumor.

Adalah Konda Tawalujan, salah satu pengasuh dan sekaligus merangkap Kepala Ruangan di Pusat Kanker Anak Estella. Jabatan ini diemban pengasuh yang akrab disapa Suz Konda ini sejak pertama kali Estella berdiri. Di luar dari tugas mereka sebagai seorang perawat, Suz Konda dan 15 perawat lainnya memberikan diri sepenuhnya untuk dapat melayani anak-anak yang menderita kanker.

Di sela-sela kesibukannya, wartawan Zona Utara sempat mewawancarai Suz Konda. Berikut petikan wawancaranya:

Berapa total anak–anak yang pernah dirawat di Pusat Kanker Anak Estella ini?

Total anak yang pernah dirawat di sini sampai sekarang berjumlah 311 orang, dengan penyakit yang dialami antara lain kanker darah, tumor ginjal, dan tumor mata. Namun 66 orang di antaranya sudah sembuh total.

Untuk yang dinyatakan sembuh total, metode perawatan seperti apa yang dilakukan oleh Suz dan rekan-rekan?

Tentunya perawatan medis, seperti kemoterapi, pengambilan darah sumsum tulang, serta penanganan medis lainnya rutin kami lakukan secara berkala, sesuai dengan hasil diagnosa terhadap penderita. Tapi di luar perawatan medis, perawatan psikologis juga sangat membantu proses penyembuhan dari anak anak ini.

Sebisa mungkin kami melakukan pendampingan terhadap anak-anak ini, kadang kami mengambil alih peran dari orang tua dalam memberikan kasih sayang. Ada saat kami mengajak mereka bermain di mall, makan bersama, atau membelikan mereka mainan dan cokelat, sehingga psikologis mereka tidak tertekan.

Bagaimana perasaan Suz dan rekan–rekan ketika berhadapan dengan anak-anak penderita yang diketahui mereka tidak akan bertahan lama?

Kehidupan dan kematian adalah rahasia Tuhan, namun kami selalu berusaha semampu kami untuk menyembuhkan anak itu. Tidak boleh ada yang meninggal. Berdasarkan semua hasil pemeriksaan yang kami lakukan, kami biasanya bisa memprediksi kalau seorang anak dalam keadaan kritis dan berpotensi meninggal dunia dengan penyakit yang dialami. Namun, untuk kehidupan dan kematian tetaplah rahasia Tuhan.

Di luar dari itu semua, saya seringkali dua atau tiga hari sebelum ada salah satu anak akan meninggal dunia, saya selalu mendapatkan sebuah mimpi dalam tidur saya. Seperti ada peti atau kain kafan yang lewat dalam mimpi saya.

Jika sudah seperti itu saya dan rekan-rekan akan memberikan perhatian lebih kepada anak tersebut, seperti mengajak mereka jalan-jalan untuk refreshing. Kemudian kami akan menanyakan apa yang menjadi keinginan dari mereka. Sebisa mungkin kami akan sanggupi semua permintaan dari anak ini.

Bagaimana Suz dan rekan-rekan menerapkan pelayanan kepada anak-anak berdasarkan kasih yang Yesus ajarkan sesuai profesi yang dijalani di Pusat Kanker Anak Estella ini?

Yang utama adalah mulai dari diri sendiri, saya dan rekan rekan memutuskan untuk tidak hidup bermewah-mewahan, sehingga kami bisa berbagi kasih dengan anak–anak di sini.

Di sisi lain, kami mengajarkan pada mereka untuk tetap kuat dan terus berjuang dengan apa yang mereka derita. Seperti perjuangan para orang Majus untuk mencari tempat kelahiran Yesus, walaupun hanya dengan bantuan dari sebuah bintang yang bercahaya terang.

Apa hikmat dan pembelajaran yang bisa Suz dan rekan-rekan dapatkan terhadap perjuangan dari anak-anak yang dirawat di sini?

Perjuangan. Dari mereka kami banyak belajar mengenai arti sebuah perjuangan untuk hidup. Kami belajar bagaimana pribadi seseorang, bagaimana kami menangani anak dengan sifat dan karakter mereka yang berbeda-beda.

Bahkan dari mereka kami belajar bagaimana cara tidak memendam kebencian dalam diri. Ada saat mereka akan bertengkar hanya karena berebutan mainan, namun beberapa jam kemudian mereka akan bermain bersama lagi.

Ketika Suz dan rekan-rekan mengajak anak-anak ini untuk refreshing ke tempat–tempat umum, biasanya bagaimana reaksi masyarakat?

Kami sangat menyayangkan ada beberapa kalangan masyarakat yang mengasumsikan bahwa kanker itu penyakit menular. Pada saat mereka kami ajak ke tempat–tempat umum untuk refreshing, ada beberapa kalangan masyarakat seakan melihat mereka dengan tatapan yang aneh dan terkesan menjauhi mereka karena takut tertular dengan penyakit yang mereka derita.

Sebenarnya ketika mereka menggunakan masker saat jalan-jalan, bukan karena mereka bisa menjangkitkan kanker kepada orang lain. Itu semata-mata agar daya tahan tubuh dari anak-anak  ini terjaga. Agar tidak terkontaminasi dengan orang lain dan memperparah kondisi mereka.

Pernah kami mengalami hal yang sangat memilukan hati. Saat kami jalan-jalan di salah satu pusat pembelanjaan, kami naik lift agar anak–anak ini tidak terlalu capek. Ketika kami di lift tersebut, tidak ada satupun masyarakat yang mau naik bersama kami. Mereka bahkan dengan tatapan yang aneh memandang kami.

Untuk menjaga psikologis anak-anak, kami menghibur mereka dengan berbagai candaan selama dalam lift.

Biasanya apa yang sering menjadi keinginan terakhir dari anak-anak yang akan meninggal. Dan perilaku apa saja yang sering didapati ketika mereka menyadari bahwa mereka akan meninggal?

Permintaan terakhir dari anak–anak ini bervariasi. Ada yang meminta cokelat, meminta boneka, baju, gaun, dan lain-lain. Selain dari mimpi yang sering kali saya atau rekan-rekan alami, perilaku yang sering kami temui ketika anak ini akan meninggal dunia terlihat dari gerak–gerik mereka. Mereka akan terlihat lebih murung, berdiam diri, bahkan menangis.

Selain itu, anak-anak usia remaja adalah yang paling sulit untuk menerima kenyataan bahwa mereka sedang di ambang hidup dan mati dengan penyakit yang mereka derita.

Dalam keadaan seperti itu, ada yang mengunci diri di kamar mandi, berteriak minta tolong untuk disembuhkan.  Bahkan ada yang sampai mau bunuh diri. Dalam kondisi seperti ini, biasanya kami bersama keluarga akan terus mendampingi anak ini, memegang tangannya, memberikan belaian kasih sayang, doa, agar anak ini merasa tenang, nyaman, sehingga anak ini bisa pergi dengan damai.

 

Reporter: Suhandri Lariwu

Editor: Christo Senduk/Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

WAWANCARA

Meski Hidup Sebatang Kara Di Lahan Pekuburan, Agus Ingin Rasakan Natal Seperti Dulu

Agus Moningka tercatat sebagai warga Lingkungan V, Kelurahan Singkil I, Kecamatan Singkil. Tiga tahun terakhir ia mendiami sebuah gubuk reyot di lahan Pekuburan Adat Bantik di Kelurahan Simgkil I.

Published

on

zonautara.com
Agus Moningka hanya tinggal di gubuk di lahan Pekuburan Bantik, Kelurahan Singkil I, Kecamatan Singkil. Kota Manado.(Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Agus Moningka memperlihatkan ekspresi terkejut dan gembira ketika menerima bingkisan Natal dari redaksi Zona Utara, 21 Desember 2017. Ekspresinya itu nyaris sama ketika dikunjungi sejumlah wartawan pada 16 Desember 2017 lalu.

Agus Moningka tercatat sebagai warga Lingkungan V, Kelurahan Singkil I, Kecamatan Singkil. Tiga tahun terakhir ia mendiami sebuah gubuk reyot di lahan Pekuburan Adat Bantik di Kelurahan Singkil I.

Gubuk lelaki renta berusia 69 tahun itu berdindingkan kombinasi tripleks dan plastik. Ada dipan kayu yang jadi tempat tidurnya dan sebuah rak kayu tempat meletakkan makanan. Dinding kiri gubuknya persis di bibir sungai kecil yang melintasi area pekuburan tersebut.

Kala malam datang, sesekali Agus memasang lampu botol untuk penerangan. Tak ada listrik di gubuknya itu.

Ada kisah mengharukan yang diceritakan Agus saat Tim Redaksi Zona Utara datang berkunjung di gubuknya, empat hari sebelum Hari Natal tahun 2017. Zona Utara menyajikan wawancara dengan Agus Moningka dalam tanya-jawab berikut ini:

 

Sudah berapa lama menghuni tempat ini?

Saya tinggal di sini sudah tiga tahun. Namun gubuk ini baru satu tahun saya bikin.

 

Sebelum gubuk ini ada, selama dua tahun anda tidur di mana ?

Selama dua tahun saya hanya tidur di atas kuburan. Memasak di samping kuburan. Setelah bisa kumpulkan uang dari hasil kerja serabutan, saya membeli beberapa lembar tripleks dan papan untuk bangun tempat tinggal saya ini. Sebagian bahan dari gubuk ini saya pungut dari tempat sampah yang masih cukup bagus untuk dijadikan dinding. Bahan tripleks yang dibeli tidak cukup.

 

Sebelumnya tinggal di mana?

Sewaktu istri dan kedua anak saya masih bersama-sama, kami mengontrak rumah. Namun sejak istri saya meninggal 22 tahun lalu atau pada 1995, saya hidup bersama kedua anak saya. Tapi kemudian ketika kedua anak saya sudah berkeluarga, mereka pun pergi dan meninggalkan saya. Anak yang satu tinggal di Maluku Tenggara. Mereka tidak mau lagi hidup bersama saya. Semenjak saat itu, saya pun hidup berpindah-pindah. Baru tiga tahun terakhir menetap di lahan kuburan ini. Meskipun situasi dan tempat tinggal saya seperti ini, namun saya senang.

 

Menghadapi Natal, apa yang anda inginkan?

Saya ingin ikut ibadah Pohon Terang dan merasakan kembali suasana Natal seperti dulu, saat keluarga saya masih lengkap. Kalau umur panjang, saya pasti akan masuk Gereja untuk rayakan Natal. Apalagi selama ini saya jarang lagi ke Gereja.

 

Apa yang anda harapkan saat Natal?

Yang saya harapkan banyak. Di antaranya, saya tetap diberikan kesehatan agar tetap punya kekuatan untuk bekerja meski serabutan, demi menyambung hidup. Meski tinggal di kompleks kuburan, saya akan merayakan Natal dengan keadaan apa adanya. Kalaupun ada yang berkunjung, akan saya layani dengan sukacita. Apalagi saya sekarang mendapat bingkisan Natal kue dan minuman ringan, yang akan saya sajikan saat Natal nanti. Siapapun yang akan berkunjung di gubuk ini akan saya layani dengan senang hati. Saya juga akan mengunjungi kerabat dan sanak keluarga, meski agak jauh dari tempat ini.

 

Terima kasih sudah berbagi. Selamat menyambut Natal.

Terima kasih juga sudah mau datang ke sini. Selamat Natal juga.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: