Connect with us

KOLOM

Antara Film Dan Filsafat: Sebuah Kehidupan

Apa yang ada di kepala saya waktu itu, dan juga hari ini, adalah apakah benar di kampung halaman saya, Sulawesi Utara, film sudah ada?

Published

on

Oleh: Amato Assagaf

 

Kenyataan bahwa film itu ada jauh lebih penting dari apa yang disajikan film pada kita. Demikian “tesis” yang melatari kemunculan kembali analisa Lacanian dalam dunia filsafat film sebagaimana yang ditulis Todd McGowan dalam pendahuluan buku Lacan and the Contemporary Film.

“Tesis” itu sendiri menyadarkan kita pada kedahsyatan film sebagai sebentuk karya seni. Hubungannya dengan cara kita mengidentifikasi diri, misalnya, menghadirkan film secara sekaligus sebagai interpelasi subjek ke dalam ideologi dan, pada titik yang tak kurang sama, menantang proses interpelasi itu sendiri. Sebagai catatan, interpelasi adalah istilah Althusser untuk menunjukkan wacana ideologis yang memberi identitas bagi individu.

Dalam hal ini, mengutip McGowan, dimensi ideologis dan dimensi radikal film saling bertumpang tindih; keduanya melibatkan hubungan dengan apa yang dalam kosa kata Lacanian disebut sebagai Real traumatik. Yang-Real, kita tahu, adalah salah satu dari tiga register Lacan menyangkut pembentukan subjek.

Apa yang hendak disampaikan dari paparan sederhana di atas adalah apa yang bisa kita sebut sebagai hubungan unik antara film dan filsafat. Kenapa itu penting? Karena di dalam hubungan keduanya itulah kita bisa bicara soal hidup, setidaknya sebagian kecil yang sangat penting dari hidup. Karena, dalam caranya masing-masing, bisa kita lihat bahwa kedua wilayah kultural ini selalu mencoba untuk menghadirkan dirinya pada satu atas yang lain dalam membincangkan hidup. Dengan atau tanpa persoalan.

Film, bagi beberapa pengamat, memiliki “filsafat” dalam dirinya. Cara bagi mereka yang menciptakannya untuk menghadirkan intensitas kehidupan sedalam yang dimungkinkan oleh media itu sendiri. Dari situ, pemahaman kita mengenai hidup mendapatkan tantangannya tersendiri.

Dalam hubungannya dengan film, filsafat muncul kemudian sebagai cara kita untuk menguji hidup dalam rangka pemahaman kita atas apa yang disajikan oleh film sebagai “hidup.” Dalam proses inilah film hadir bagi filsafat dengan caranya sendiri yang berbeda dari semua cara kesenian yang lain.

Artinya, film tidak bisa kita dekati kecuali dengan memperhitungkannya dalam kerangkanya sendiri. Kita tidak bisa begitu saja menyamakan analisa atas film dengan, misalnya, analisa atas novel atau lukisan. Karena novel atau lukisan bisa saja memberi inspirasi bagi seorang sineas untuk menciptakan filmnya tapi, pada akhirnya, sang sineas harus berurusan dengan epistemologi teknologis dari bentuk kesenian yang unik ini untuk menghadirkan epistemologi peristiwa dalam karyanya.

Istilah ‘epistemologi teknologis’ dan ‘epistemologi peristiwa’ adalah rangka konseptual lain bagi hubungan filsafat dan film yang diajukan oleh Felicity Colman saat mencoba menjawab pertanyaan, “Apa itu filsafat-film?” dalam buku Film, Theory and Philosophy: The Key Thinkers.

Rangka-rangka konseptual ini, seperti filsafat film Lacanian, tidak akan berarti banyak bagi kita dalam menikmati, memahami dan melakukan problematisasi atas suatu sajian film kecuali kita, tulis Colman, telah lebih dulu paham bahwa yang paling penting dari hubungan filsafat dan film adalah “dan” itu sendiri.

Itu artinya, sekali lagi, film adalah sebuah dunia tersendiri yang – meskipun seorang sineas bukan filsuf – dapat mereproduksi filsafatnya sendiri. Sementara filsafat yang datang dari luar, dari dalam kepala para filsuf, hanya bisa membicarakan film dalam rangka membicarakan filsafatnya sendiri.

Maka, sekali lagi, film adalah sebuah medium yang radikal bagi kita dalam merasai hidup dan, jika kita mau, juga kebenaran yang diproduksi hidup. Dengan demikian, film sesungguhnya tidak pernah bisa menjadi hanya “sebuah film” dalam arti sebuah tontonan dalam durasi tertentu yang berakhir setelah semua gerak dalam gambar itu berakhir.

Sebuah film, dalam satu sajian yang menampilkan satu rangkaian gambar bergerak dalam suatu durasi tertentu, tidak pernah hanya “sebuah film.” Seperti kebanyakan karya seni, ia selalu bisa menjadi lebih luas dan lebih lama dari dirinya sendiri. Tapi jika kebanyakan muatan karya seni kita temukan dalam referensinya yang berlapis-lapis atas hidup, film memberi kita ilusi akan hidup itu sendiri.

Hal ini dilakukan film dengan menjelaskan dirinya dalam “lalu waktu” lewat “laku gerak” yang keduanya merupakan tampilan ontologis dari hidup yang bisa kita pahami. Kita semua menghayati hidup dalam “lalu waktu” lewat “laku gerak” itu. Tak jarang kita bahkan mengidentikkan hidup dengan keduanya. Setidaknya, tanpa rangkaian kedua hal itu kita akan kesulitan merasai hidup.

Tapi film tidak juga semata “meniru” hidup dalam melakukan hal itu. Kita mestinya memiliki cukup pengalaman menonton untuk setuju bahwa film justru meradikalkan secara ontologis apa yang kita rasai dari hidup dalam “lalu waktu” lewat “laku gerak” itu. Untuk diingat, menyebut film sebagai “gambar bergerak” berarti juga memahaminya sebagai “gambar berwaktu.”

Radikalitas film dalam mereproduksi hidup itu terletak pada kemampuan mediumnya untuk menciptakan ilusi waktu lewat ilusi gerak. Di sini kita menemukan realitas sebagai realisme; kenyataan sebagai apa yang disajikan pada kita dalam ke-nyata-an mediumnya.

Di atas panggung teater, sebagai perbandingan, kenyataan itu hadir sebagai apa yang kita anggap nyata dalam suatu “jarak” yang senantiasa bisa menganulir hubungan kita dengan kenyataan itu. Pada film, kenyataan itu adalah apa yang dibuat nyata bagi kita oleh mediumnya.

Intensitas kemesraan hubungan antara dua tokoh dalam film dapat ditampilkan sebagai “kenyataan” yang diinginkan sineas untuk diterima penonton hanya dengan, misalnya, menyajikan close-up persentuhan bibir keduanya. Dan penonton tidak memiliki cukup ruang untuk mengambil “jarak” dengan kenyataan itu.

Itulah kenapa metode akting Stanislavskian yang begitu menjagokan realisme bagi hubungan empatetis antara aktor dengan penonton lebih menemukan rumahnya dalam media film daripada panggung teater. Guru saya, almarhum Didi Petet, tidak membedakan secara ketat realisme akting di atas panggung dengan di depan kamera. Tapi beliau sepenuhnya sadar bahwa ada frame yang bisa diberikan film untuk kecemasan yang beliau hadirkan lewat jari-jarinya. Sesuatu yang tidak bisa diberikan panggung baginya, setidaknya secara intensif.

Film sebagai rumah bagi realisme akting Stanislavskian adalah satu sisi dari kemampuan teknologis media film untuk menjadi rumah bagi kenyataan dalam realisme hidup. Bagian demi bagian yang kita rangkai dari dalam “lalu waktu” lewat “laku gerak” dari kenyataan yang kita sebut hidup adalah sebentuk realisme yang membuat kita selalu merasa yakin masih berada dalam kenyataan. Film melakukan hal yang sama dalam logika yang nyaris tak berbeda dan, sebagai penonton, kita akan pulang dengan kepala yang dipenuhi oleh “kenyataan” sebetapapun itu hanya tertentu.

Dengan kemampuannya yang seperti itulah film menjadi “filsafat” dan sementara kritisi, bisa dipahami, tergoda untuk meminjam Lacan, juga Althusser, dalam menjelaskan keberadaan film sebagai “senjata ideologis” di mana Hollywood menjadi “pabrik bagi interpelasi subjek ke dalam ideologi.”

Gambaran seperti ini bisa keliru jika dipahami secara totalistis tapi tidak bisa keliru jika kita mau untuk merenungi sendiri bagaimana film mengeja kata demi kata dari hidup bagi kita. Misalnya, menghadirkan tipologi hero dalam penubuhan gagasan “one man army” dari seorang Rambo lengkap dengan Amerika yang selalu sulit untuk mengerti kenapa “mereka membenci kami padahal kami hanya mau peduli?”

Pengalaman saya sebagai penonton film sudah berkali-kali diarahkan oleh para sineas dalam cara yang lebih dahsyat dari yang bisa dilakukan oleh para kiyai dan pendeta. Gagasan saya mengenai hidup juga seringkali tercipta dalam cara yang sama. Kriminalitas sebagai ideologi di dalam kepala saya, misalnya, tercipta oleh tokoh Joker yang diperankan almarhum Heath Ledger. Dan Indonesia yang saya pahami tidak pernah bisa beranjak jauh dari Naga Bonar besutan M.T. Risyaf.

Lalu beberapa hari yang lalu, seorang kawan datang dengan kabar gembira bahwa film lokal Semateir karya Naldy Laoming menjuarai Festival Film Anak Nusantara 2017. Saya tidak memberi respons yang lebih dari ikut senang dengan keberhasilan itu. Apa yang ada di kepala saya waktu itu, dan juga hari ini, adalah apakah benar di kampung halaman saya, Sulawesi Utara, film sudah ada?

Manado, Agustus 2017

Amato Assagaf secara rutin memberikan kontribusi tulisan-tulisannya dalam berbagai prespektif  untuk ZonaUtara.com. Dia juga menulis artikel susastra.

Baca pula tulisan-tulisan lain dari Amato. Dia dapat dihubungi melalui account Facebooknya.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Click to comment

Komentar

KOLOM

Cara Jokowi Mencintai Indonesia

Jokowi tahu cara mensyukuri rahmat Tuhan atas tanah air Indonesia. Dia punya cara unik Jokowi dalam mencintai Ibu Pertiwi.

Published

on

By

zonautara.com
Warga beswafoto dengan Presiden Jokowi di Manado. (Foto : Zonautara.com/Tonny Rarung )

Oleh: Jolly Horonis

Tanah pusaka Indonesia  masyur dan besar. Kekayaan alam dan keramahan penduduknya menjadi pesona yang tak usai dirangkai dalam lagu dan syair pujangga. Mengungkap cinta terhadap negeri ini memang terasa sulit untuk menemukan ungkapan yang pas. Kekayaan dan keindahan alam mengundang bangsa lain untuk datang ke negeri ini. Beragam budaya tak bisa diwakilkan dengan kata dan gambar apa pun.

Melukis Indonesia, melukis Nusantara, kau harus menumpahkan semua tinta pada kanvas. Memainkan kuas seapik mungkin dan kau akan temukan masih ada sudut Nusantara yang tak terwakilkan. Mendendangkan Indonesia, mendendangkan Nusantara, kau harus mengeja abjad demi abjad, merangkai kata demi kata sepanjang jemari masih bisa merajut. Pada akhirnya kau akan temukan pada syairmu, masih ada sepenggal Indonesia tak kau ungkapkan. Coba keluar, tatap langit pagi atau senja atau lihat alam sekelilingmu, kau kan bangga ada, bahkan lahir dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Tanah pusaka. Tanah air Indonesia.

Sejarah mengukir dengan indah sepak terjang bangsa ini dalam kanca dunia. Dunia mencatat dengan baik pemimpin-pemimpin hebat pendahulu bangsa ini. Mereka bisa dengan lantang meneriakan kehebatan Nusantara, mulai dari kekayaan alam hingga filosofi-filosofi yang terkandung dalam keragaman budayanya.

Dalam perjalanan panjang bangsa ini banyak pula  rintangan yang  dihadapi, dari bencana alam hingga krisis ekonomi yang memporak-porandakan tatanan sosial. Isu rasis, radikalisme hingga separatis muncul ibarat jamur di musim hujan. Ketimpangan sosial, ketidakpastian hukum, dan korupsi, kolusi serta nepotisme merupakan penyakit paling akut yang menyerang Indonesia hingga berimbas pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin bangsa beberapa tahun terakhir ini.

Saat ini, sebagian besar dari 262 juta warga Indonesia menaruh harap yang tinggi pada Joko Widodo. Pemimpin fenomenal ini selalu tampil dengan sesuatu yang mengejutkan. Presiden pilihan rakyat ini memang selalu mampu membuat masyarakat tertarik dan penasaran menanti kejutan-kejutan terbaru darinya. Gaya blusukan sebagai ciri khasnya menjadikan seluruh masarakat Indonesia rindu untuk bertemu dengannya. Nawa Cita sebagai 9 program utama Jokowi menjadikan semangat bernegara bangsa ini kini berkobar lagi.

Namun demikian, ditengah-tengah semangat kerja kerja kerja yang dikobarkannya untuk memacu semangat segenap anak bangsa ini, ia tak luput dari berbagai hantaman isu yang memojokkannya. Sebut saja di antaranya; dituduh anti Islam, dituduh PKI,  dituduh antek cina, dituduh mengkriminalisasi ulama, hingga dituduh bukan seorang muslim. Tak gusar, Jokowi kian menunjukan kinerjanya. Ia menunjukan prestasi kerjanya sebagai balasan atas tuduhan miring ini. Bahkan beberapa politisi yang menyerang dirinya, ia balas dengan simbol-simbol yang lembut. Demikian sosok fenomenal ini, gaya berpikirnya agak sulit ditebak. Penuh kejutan.

Dalam hal mencintai Indonesia, Jokowi memiliki cara tersendiri. Ia lain daripada pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ia tahu bagaimana menyulam kembali kesatuan dan persatuan Indonesia. Ia tahu bagaimana menancapkan tiang dan mengibarkan kembali Merah Putih di hati segenap anak negeri. Ia tak berpidato tentang bagaimana mencintai Indonesia, ia menunjukan dengan kinerjanya. Ia tak pernah mengajak bagaimana kita menyayangi Ibu Pertiwi yang hatinya terluka oleh serakahnya mereka yang haus kekuasaan. Dari ujung hingga ujung Indonesia ini ia datangi.

Dari setiap sudut nusantara ia rasakan bagaimana rasanya kehidupan rakyatnya itu. Bisa saja kita sebut itu blusukan biasa ketika ia ngetrail di Papua atau berfoto ria di Kilometer 0 di Sabang ujung Sumatera. Tapi bagiku, inilah cara unik Jokowi mencintai Indonesia. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan mereka yang terpinggirkan. Bisa saja kita sebut ini hal biasa saat Jokowi berjalan ke bibir laut pulau Miangas paling Utara Indonesia dan pulau Rote paling Selatan Indonesia lalu membasuh mukanya dengan air laut.

Namun bagiku, inilah cara Jokowi mensyukuri rahmat Tuhan atas tanah air Indonesia. Di sinilah letak dan cara unik Jokowi dalam mencintai Ibu Pertiwi. Dengan keterbatasannya ia berusaha merengkuh lalu mendekap NKRI. Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading

KOLOM

Tahun Baru Negeri Nan Dungu

Menyeruput sianida adalah lebih baik jika saya memang sedungu itu.

Published

on

By

Ilustrasi dari http://realitysandwich.com

Oleh: Yuanita Maya

 

Syahdan, tersebutlah sebuah negeri. Ia elok, gemah ripah loh jinawi. Segala rupa ada, tersedia secara cuma-cuma. Tongkat kayu dilempar jadi tanaman, sehingga mengundang pertanyaan, mengapa dari seperempat milyar penduduknya masih banyak yang terbelit kemiskinan? Orang bilang ini karena pemerintahan korup, yang lestari sejak negeri itu masih dijajah orang-orang berambut kuning dengan raut sedikit banyak seperti manusia Neanderthal. Sebagian lainnya bilang memang ini lebih banyak karena mental manusia negeri itu yang memang gemar kemelaratan dan kebodohan; tak terselamatkan oleh program-program pengentasan kemiskinan dan wajib belajar sekian tahun.

Negeri ini adalah simbol perlawanan dari sebuah thesa yang mengatakan, bahwa kemiskinan dan ketololan adalah seiring sejalan. Ya, sebab di negeri ini orang bisa dengan mudah menemukan bahwa mereka yang tak miskin pun ternyata dungu luar biasa. Bukan hanya tak miskin, nyatanya mereka sekolah hingga tuntas strata satu, dua, bahkan seterusnya. Fenomena ini dulu sifatnya laten. Namun sejak hape pintar (dengan pengguna bodoh) banyak diobral, terkuaklah bahwa laku tenang bijak bestari itu ternyata hanya semu. Dengan bantuan dua buah ibu jari –dan waktu yang terbuang sia-sia seperti yang dimiliki oleh para pengangguran terbuka- pameran ketumpulan isi kepala itu mencapai titik didihnya pada gelar pemilihan kepala ibukota negeri tersebut beberapa waktu lalu.

Lewat media sosial, para pendukung para calon gubernur ibukota Negeri Dungu berperang. Mereka saling hujat, maki, caci, menghamburkan sumpah serapah. Di luar itu, roti, air minum yang dikemas dalam botol, bahkan jenazah, didemo dan dimusuhi. Orang-orang dari daerah lain berduyun-duyun menggelar demo untuk memakzulkan gubernur tersebut (jika mungkin, termasuk roti, air kemasan, jenazah, dan segala sesuatu yang mendukungnya). Dan seakan itu belum cukup, mereka menuntut dasar negara diubah sesuai dengan kitab yang mereka yakini. Seakan-akan negara adalah alamat surat elektronik, yang bisa diganti-ganti kata sandinya mana suka. Dan untuk menyempurnakan segalanya, mereka mengutip ayat-ayat dalam kitab suci yang mereka percaya, lalu mengafir-ngafirkan siapapun yang tak sepaham dengan mereka. Pemerintahan yang sah, bagi mereka, tak lebih dari binatang haram semata.

Lawan mereka, yang menganggap diri pintar dan demokratis, ternyata sama derajatnya. Ketika jagoan mereka (yang ketika itu masih menjabat gubernur) digiring ke pengadilan dan diputus atas sebuah kesalahan yang dipercaya tak dilakukannya, mereka berdemo berjilid-jilid di tengah malam. Seakan mengotori jalanan dengan lelehan lilin kering yang sulit dibersihkan oleh petugas kebersihan –orang-orang kecil itu- belum cukup tolol, mereka menuntut hakim untuk mengubah putusan. Ya, di Negeri Dungu, hukum memang kabarnya mudah diinterfensi. Dungunya lagi, mereka menganggap interfensi terhadap putusan hukum sebagai bagian dari cinta negeri. Ya, sambil mengobrak-abrik tatanan demokrasi, mereka memang serempak mengumandangkan lagu-lagu cinta negeri bahkan lagu nasional negeri tersebut.

Ketika akhirnya pejabat gubernur dipenjara dan gubernur baru dilantik, sebagian dari rakyat yang tak dungu, yang susah-payah memelihara diri dari cemaran kedunguan, bernapas lega. Negeri ini tentu akan segera damai, pikir mereka lugu. Mereka yang dungu tak kan berteriak-teriak lagi membuat kericuhan. Mereka yang bodoh akan segera bergandeng tangan, sehingga setidaknya, dalam kebodohan mereka bisa berbuat sesuatu bagi kemajuan negeri. Ya, siapa bilang orang bodoh tak bisa berkarya? Asal ada kemauan, siapa saja bisa berbuat baik bagi bangsa dan negara. Indahnya kerja, kerja, kerja.

Malangnya rakyat yang tak dungu! Ternyata dua kelompok massa dungu yang saling bertentangan, dengan jumlah mereka yang besar itu, memang sama sekali tak punya niat untuk melakukan apapun demi perbaikan negeri. Dulu, bekas gubernur ibukota yang kini mendekam di penjara tersebut dicaci-maki dari terbit matahari sampai pada masuknya. Untuk membuat absurditas ini kian nyata, gubernur tersebut banyak dibenci lebih karena agama dan darah negeri asing yang mengalir dalam tubuhnya. Para pembenci tersebut menutup mata terhadap kerja keras pejabat yang banyak digemari karena profesionalitas dan pilihannya, untuk tetap bersih dari segala suap dan makan uang anggaran belanja wilayah tersebut.

Kini, ketika pejabat baru dilantik, keadaan tak menjadi lebih baik. Apapun yang dilakukan oleh gubernur baru dan wakilnya, mereka cemooh dari ujung barat hingga ujung timur. Ketidakfasihan wakil gubernur dalam bertutur kata mereka hina, seakan mereka belum pernah mendengar betapa Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai kondisi. Seakan disleksia, buta, tuli, bisu, dan seterusnya, termasuk ketidakmampuan untuk menata kalimat secara terstruktur, adalah bagian dari karya Tuhan yang pantas ditertawakan. Seakan mereka adalah Tuhan itu sendiri, yang justru tak pernah menertawakan mahluk ciptaan-Nya.

Ketimbang memberikan kritik yang konstruktif, mereka lebih suka mencericit dan mencerucut bagai tikus-tikus got yang berisik, bau, dan menyebar kuman penyakit. Dalam upaya untuk nampak sebagai kelompok yang elegan, mereka berusaha menyelusup dalam komunikasi politik antara gubernur baru dan wakilnya dengan seorang menteri perempuan penguasa lautan negeri tersebut, yang gemar menenggelamkan kapal-kapal maling negara asing. Perempuan cerdas pula tegas tersebut melempar bola, menantang tuan gubernur agar menata satu danau di ibukota menjadi elok bagai danau di negeri berkelimpahan nun di benua jauh sana. Tuan gubernur gembira, membalas tantangan tersebut sekaligus melempar balik bola, agar perempuan gagah tersebut turut serta membersihkan laut dan pantai seputaran ibukota.

Bagi sewajarnya orang, ini adalah komunikasi politik yang menarik, limpad, dan trengginas. Dua pejabat publik yang punya wewenang, kuasa, perangkat, serta dana untuk mengejawantahkan program-program mereka, saling tantang dalam kerangka konstruktif demi kemajuan bangsa dan negara. Ini, tak bisa disangkal lagi, adalah preseden baik yang bisa dijadikan patokan bagi pejabat-pejabat di lain daerah: masing-masing menaruh perhatian terhadap kinerja yang lain, saling memberikan kritik dan masukan, dan membuat jalur ‘kompetisi’ dalam perspektif kemajuan.

Tetapi patutlah kita semua mahfum, bahwa manusia dungu adalah setidak-tidak wajarnya manusia dewasa. Gelagat positif tersebut mereka baca sebagai mesiu baru untuk menghujat tuan gubernur yang baru dan wakilnya. Berharap mereka mengeluarkan pendapat semacam, ”Ini bagus, jadi antar pejabat publik ada semacam spirit untuk saling memberi masukan, koreksi, dan kritikan.” Atau, ”Tapi wakil gubernur itu kan pengusaha kelas kakap. Ada kemungkinan dia membuka celah bagi oligarki. Kalau begitu harus kita kawal.” Demikian pula, ”Tuan gubernur itu dulu bergerak di ranah akademik. Mana bisa dia mengurus manajemen pengelolaan danau secara profesional? Bila demikian harus disinergikan dengan wakilnya yang profesional di bidang usaha. Dan sekali lagi, tugas kita sebagai rakyat mengawal mereka agar tidak terjerembab dalam pusaran oligarki.”

Oh, oh…. Terlalu jauh mengharapkan orang-orang dungu tersebut berkata demikian! Mereka justru sibuk menertawakan wakil gubernur yang menanggapi tantangan politis tersebut usai mencoba wahana olahraga air di stadium kebanggaan negeri itu. “Membuat statemen politik kok sehabis berenang. Otaknya memang di dengkul, @3****!!!” Mereka bukan hanya dungu, tapi juga malas, sehingga tak bisa paham bahwa menjaga kebugaran tubuh dengan rajin berolahraga bagi manusia paruh baya adalah usaha yang butuh kedisiplinan luar biasa.

Rasa iba memang patut dihunjukkan bagi negeri tersebut. Bangsa-bangsa lain bergerak maju, hari demi hari, waktu demi waktu, namun bagi mereka waktu terhenti. Segalanya berpusat pada sumpah-serapah dan caci-maki untuk dihamburkan pada orang-orang yang mereka benci. Dan sementara di tempat-tempat lain kebanyakan orang memusatkan pikiran untuk membuat resolusi menyambut tahun yang baru, mereka justru berpikir keras agar nampak kian dungu.

Malangnya negeri dengan rakyat seperti itu! Ia hanya terayun ke kiri dan kanan, menjadi sasaran kekerdilan sebagian rakyatnya yang telah sepenuhnya kehilangan logika. Di negeri itu, tahun baru hanya ilusi semu. Segala tekad untuk menjadikan tahun berikut jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya, tidaklah mungkin terbersit di benak mereka.

Untungnya saya, orang Indonesia, yang tak dungu pula. Saya banyak berharap dan berdoa, semoga tahun depan saya bisa lebih obyektif dalam menilai kinerja para pejabat publik, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Sebab sebagai seorang penulis, adalah tanggung jawab moral saya untuk menuliskan kritisi sekaligus apresiasi terhadap kekurangan dan kelebihan yang ada di Indonesia, dan bukan membuat rusuh dengan tulisan culas yang berat sebelah. Adalah dungu jika saya membuat tulisan yang hanya melihat kekurangan orang lain saja, mencemooh di sana, membuat panas di sini, lalu mengajak para pembaca yang telah disesatkan itu menyeruput kopi. Menyeruput sianida adalah lebih baik jika saya memang sedungu itu.

Dan bagi Anda, selamat tahun baru. Saya yakin anda tidak dungu….

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: