Connect with us

KOLOM

Manjo Viral Bersama Papa Setnov!

Gara-gara papa benjol tabrak tiang listrik, nyaris seluruh anak negeri ini jadi riang gembira. Karl Paul Reinhold Niebuhr, teolog dan pakar politik itu musti bangkit dari kuburnya dan mencabut pernyataannya, bahwa tugas politik itu murung dan sedih.

Published

on

Oleh: Syam Terrajana

 

Midas, tadinya mengira dia orang paling beruntung sedunia. Bagaimana tidak, Raja  dalam mitologi Yunani itu diberkahi dewa kekuatan super: sanggup mengubah segalanya jadi emas, hanya dengan sentuhan tangannya.

Maka disentuhnya pagar istana: jadilah emas. Disentuhnya makanan, benda-benda sekelilingnya: jadi emas. Disentuhnya anak dan bininya: eh, emas. Midas simore, bahagia tak terkira.

Namun ketika semuanya menjelma emas, datanglah kutukan itu. Dia tak bisa mengembalikannya seperti keadaan semula. Sentuhan emasnya membuatnya gila. Akhirnya,  mampuslah dia. Di pusaran sepi dan lapar.

Oke. Itu hanya dongeng. Tapi di Indonesia, kesaktian seperti itu benar-benar terjadi. Bahkan jauh melebihi Midas. Siapakah pelakunya? Ah, terlalu kalau ngoni-ngoni sekalian tidak tahu. Yup. Betul. Siapa lagi kalau bukan Papa kita yang menggemaskan: Setya Novanto.

Papa Setnov memang nyanda punya ilmu sentuhan emas. Tapi jangan salah. Berkat ilmu belut yang dipelajari sepanjang karir politiknya, maka sampailah beliau pada  puncak ilmu peradaban zaman now. Namanya ilmu viral.

Betapa tidak, apapun dan siapapun yang berada di sekelilingnya mendadak terkenal. Sanggup jadi bahan perbincangan luas. Bergulir pesat bagai virus ganas dalam hitungan detik.

Bayangkan! Pada  September lalu, ketika Jendral Gatot sibuk meramaikan pemutaran film pengkhianatan G30 S produk Orba secara serentak, Papa sontak bikin segenap rakyat Indonesia gagal fokus. Sebabnya sederhana saja. Foto beliau sedang terbaring sakit di rumah (yang ikut) sakit.

Ya, Papa mendadak sakit pada pertengahan September lalu. Dan secara “kebetulan” tepat saat KPK hendak memeriksanya, sebagai  tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP.

Papa  vertigo, bahkan sempat jatuh pingsan. Dan  September kelam -bulan dimana komunisme/PKI kembali dijadikan momok dan hantu- mendadak ceria kembali, seperti lagu lama Vina Panduwinata.

Itulah kelebihan papa. Saat papa tiba-tiba sakit, orang-orang  sukacita merayakannya. Lihat itu meme-meme  di media sosial. Kocak, jenaka dan sangat menghibur lara rakyat jelata. Papa dijaga batman sampai tokoh-tokoh starwars. Bahkan ketua Kim Jong Un ikut terbahak.  Bukan itu saja,  monitor elektrokardiograf (EKG), perekam jantung yang diperlihatkan dalam kamar tempat papa dirawat, ikut-ikutan viral. Semua berseronok. Gembira ria.

Seperti penggalan puisi “Pahlawan tak dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar, “Beberapa bulan lalu papa terbaring / Tapi tidak tidur sayang..”.  Papa langsung bangun dan sehat, begitu  menang praperadilan melawan KPK.

Soal (ter)tidur. Papa memang jagonya. Momennya selalu pas. Kala Raisa hendak dan telah menikah, segenap pria tuna asmara patah hati bersama. Lagi-lagi  papa datang menghibur. Kaum jomblo nestapa itu bergairah kembali, demi melihat papa tertidur di mana saja. Di gedung DPR, di sela pidato Obama, hingga  di tengah forum parlemen dunia.

Belakangan, Papa tertidur lagi di acara pernikahan ade Kahiyang-Bobby yang konon sederhana dan hanya menelan dana lebih dari dua miliar rupiah itu. Papa yang letih dan lelah. Kalian yang nyinyir-nyinyir bergembira.  Kurang apa coba?

Selaku tokoh politik terkemuka bangsa Indonesia, Papa tidak perlu meniru  seorang Soekarno, dengan pidato-pidatonya yang membakar, tak henti-henti mempersatukan anak semua suku bangsa di tanah air, saat Indonesia hendak dibangun.

Papa juga nyanda harus ikut-ikutan tuan Harry Tanoe bikin lagu mars. Sebab Papa adalah  mars itu sendiri.  Mars yang diteriakkan  kompak dan lantang!

Ingat, ulah Papa serta-merta mampu menyatukan siapapun. Tak peduli dia pendukung Jokowi, Prabowo, Anies, Ahok atau Habib Rizieq. Tak peduli apakah dia peminum jamu, kopi atau cap tikus.

Gara-gara Papa benjol tabrak tiang listrik, nyaris seluruh anak negeri ini jadi riang gembira. Karl Paul Reinhold Niebuhr, teolog dan pakar  politik  itu musti bangkit dari kuburnya dan mencabut pernyataannya, bahwa tugas politik itu murung dan sedih.

Papalah pemersatu sejati. Inilah saham paling berharga yang telah papa berikan bagi bangsa ini. Bahkan jauh lebih bernilai dari pada saham freeport. Wilapyu  Papa!

Tapi papa, yang papa tabrak tiang listrik PLN di Jakarta. Tapi kenapa torang yang terciduk mati lampu? Tolong papa, viralkan ini.  Torang pe ikang kasiang!

 

Editor: Ronny A. Buol

 

Syam Terrajana. Perajin rupa dan kata

 

Comments

comments

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Komentar

KOLOM

Tempe-Lobster, Bukang Singkong-Keju

Jadi mengerti ya, betapa berat dan besar energi yang harus kami keluarkan untuk bekerja sambil memejamkan mata. Belum terhitung dahsyatnya kekuatan yang harus kami keluarkan untuk menjaga hati tetap tulus dan murni.

Published

on

By

Oleh: Yuanita Maya

 

Bayangan mentari masih jauh dari ujung kepala, namun saya sudah merusak hari dengan sengaja. Mustinya sebelum jam 12 saya hanya makan buah-buahan, minum jus, dan yoghurt. Siang baru makan nasi merah dengan lauk-pauk seperti umumnya orang makan, dengan porsi secukupnya. Tapi hari itu lain. Gara-garanya, saya menemukan untaian petai berjajar di gerobak mamang sayur. Mereka elok, menggoda. Apalagi duapuluh ribu rupiah bisa dapat tujuh untai. Sayapun jatuh dalam cobaan; seikat besar petai masuk ke kantong belanjaan.

Apa masalahnya dengan petai? Tidak ada, sih. Cuma jeleknya, kalau sudah ada petai, berarti wajib ada sambal terasi dengan rawit setan huhah, terong bakar buat dipenyet, tempe kukus, dan teri goreng. Dan kalau sudah begini, saya harus mengucapkan selamat jalan pada pola makan sehat dan terukur. Walaupun nasi merah, kalau habis tiga piring apa ya masih bisa disebut terukur?

Itu sebabnya saya terheran-heran, ketika beberapa waktu lalu para anggota dewan yang terhormat itu dengan lantang berkata bahwa mereka semua lapar dan haus. Lha wong petai saja bisa menggiring saya dalam kekenyangan absolut, apa pula pasalnya mereka bisa kelaparan di negeri yang tongkat kayu saja bisa jadi tanaman? Apalagi gaji dan tunjangan mereka cukup buat beli beras satu gudang. Lalu mereka bilang maunya lobster. Lhaaaah…Dari mana sejarahnya lobster bisa bikin kenyang? Lobstser tidak memancing kita untuk mengambil banyak nasi, padahal yang bikin kenyang ya nasi itu. Kalau tidak percaya, coba makan nasi merah tiga piring. Nasi merah ini selain tinggi serat dan rendah gula, juga memberi efek mengenyangkan tiga kali lipat daripada nasi putih, lho. Bayangkan peranakan saya ketika waduk ini saya hajar dengan tiga piring nasi merah.

Di samping tidak ada dampaknya pada porsi nasi, lobster juga saya pastikan tidak memancing rasa haus. Haus bagaimana, wong lobster biasanya diolah dengan pendekatan adiboga. Lain dengan petai, teri, dan sambal terasi. Mereka bisa didekati dengan cara apa saja, oleh siapa saja. Dan siapapun pelakunya bakal menenggak bergelas air, gara-gara tak sanggup menghentikan asupan sambal setan. Sebaliknya, lobster yang diolah oleh chef berbintang ini akan ditata dengan keahlian plating dan garnishing sundhul langit. Hasilnya adalah makanan cantik molek seperti yang muncul di kompetisi masak kelas wahid dan juaranya dapat ratusan juta plus mobil itu. Siapa yang tega memakan hidangan seelok itu dengan lahap? Yang ada ya dipotong, dicuil sedikit-sedikit, dengan anggun penuh kharisma. Saya yang kalau ketemu petai langsung kalap dan ketahuan nggragasnya ini saja, kalau sedang beruntung dapat undangan fine dine mendadak tampil layaknya high class woman, kok. Minumnya juga air mineral botol hijau yang dulu disangka bisa buat mabuk-mabukan oleh pasukan nasi bungkus. Itupun diseruput sedikit-sedikit, karena memang tidak begitu perlu.

Makan lobster haus? Ya dasarnya mereka yang rakus.

Setelah ketahuan rakusnya, lha kok malah menuding-nuding rakyat yang diwakilinya.

“Lima puluh ribu dapat apa? Itu kan jatah makan kamuh. Iyaaa, kamuuuuh…. Kalau akuh? Ya lobster EMPAT RATUS TUJUH PULUH RIBUH. Dunia kita beda….”

Beda di mananya, Pak?

Lhoooo, belum paham juga? Itulah kalau kebanyakan di bawah, jadi rakyat jelata. Susah mengerti ranah spirituil yang hanya bisa dihayati oleh mereka yang telah mengosongkan segala sesuatu. Kalian biasa kerja fisik, keluar keringat saja bangga, merasa yang paling lemah-letih-lesu, dieksploitasi oleh kapitalisme yang tumbuh subur di negeri ini. Kalian mana tahu kalau kerja dalam diam dan sunyi itu justru menguras lebih banyak energi. Kalau dianalogikan dengan kecantikan, kalian itu cantik di luar doang. Kamilah inner beauty-nya.

Dan ketahuilah bahwasanya kecantikan dari dalam itu tidak mudah dilihat. Sama halnya dengan bekerja sambil memejamkan mata. Lho, lho, kalian pikir kami tidur saat sidang? Hahaha, saya sudah menduga, pikiran kalian tak sampai ke sana. Apalagi memahami lika-liku proses, kenapa kolam air yang luasnya tak seberapa, tanpa warna-warni cahaya, air mancurnya nggak bisa joget-joget pula, bisa menelan dana enam ratus sekian juta.

Rakyat jelata manalah bisa memahami bahwa selain menyejukkan hati, kolam itu juga sumber kehidupan. Ini filosofis, dalaaaam…. Kalau tidak, manalah mungkin perkara macam ini sampai dimasukkan dalam Kitab Sucinya orang Kristen? Hati yang terjaga dengan segala kewaspadaan itu memancarkan kehidupan, lho, begitu kata kitab Amsal pasal 4. Dari sini saja ketahuan bahwa hati kami murni, terjaga, karena dari sanalah muncul gagasan untuk membuat kolam sebagai sumber kehidupan. Ini susah kalian mengerti. Butuh manusia kelas wahid untuk bisa mengartikulasikannya, seperti Wakil Gubernur DKI Jakarta, misalnya. Bukan kalian pula Bi Narti, apalagi Jokowi.

Jadi mengerti ya, betapa berat dan besar energi yang harus kami keluarkan untuk bekerja sambil memejamkan mata. Belum terhitung dahsyatnya kekuatan yang harus kami keluarkan untuk menjaga hati tetap tulus dan murni. Itu semua butuh topangan nutrisi, paling tidak lobster yang proteinnya tinggi. Kalau kelas macul atau blue collar yang berdesak-desakan di bus macam kalian, protein nabati saja sudah lebih dari cukup. Tempe misalnya. Lho, WHO saja sudah memberi label ‘super food’ pada tempe, kok. Apa kalian mau pandang rendah tempe yang oleh Ong Hok Ham saja disebut “The most extraordinary gift Indonesia has given to the world”? Katanya “Saya Indonesia, Saya Pancasila!” Lha kok makan tempe saja malu?

Singkong-keju itu kan kata Ari Wibowo. Jaman old dia, mah. Di jaman now ini, kelas bisa dibedakan oleh tempe-lobster. Sejauh tempe dan lobster dipisahkan oleh ruang hidup dan waktu, demikian pula antara kau dan aku. Jadi jelas kan kenapa kami butuh lobster, uang makan hampir setengah juta, dan sebagainya? Dan sebagainya itu banyak, lho. Mesin cuci, laptop, jas, spring bed yang butuh anggaran milyaran rupiah…. Apalagi, ya? Lupa saking banyaknya.”

 

Editor: Ronny A. Buol

 

Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga. Ikut tulisan-tulisan renyah dari Yuanita.

Comments

comments

Continue Reading

English News

Peasants as the First Hunger

Today, many Peasants have more eliminated by land grabbing or agrarian issue that will destroy traditional farming.

Published

on

By

Bolmong / Ronny A. Buol

By: Ica Wulansari

 

The world will face the worst problem of poverty and hunger. The outbreaks of poverty and hunger due to climate change impact. FAO (2016) has estimated that 1.2 billion people will live in extreme poverty, 900 million live in rural areas and 750 million work in agriculture, most of them are peasants. Ironically that people who work as peasant will be the first victims who get hungry and poor. In fact, Indonesia`s National Bureau of Statistic in February 2017 released data of labour which is work in agriculture, plantation, forestry and fisheries reached the highest number of whole labour in Indonesia at 39.678.453 people.

Climate change will be the most dangerous impact for agriculture due to climate extreme, drought, flood and significant decline of rainfall. Then, it will endanger for loss harvest yield. Ironically, peasants should pay more money for pesticide which they believed as ‘remedy’  as a result of green revolution. In fact, using pesticide will make the pests outbreak to be more resistant and it ironically will has minor efficacy in eradicating the pests. In addition, when peasants suffering of loss yield, they will be in a loneliness without compensation.

 

Climate Change Impact

Based on climate regime that agriculture activity is the one of greenhouse effect contributor. However, agricultural sector in developing countries is generally not part of industry. Agricultural sector is related closely with rural society as their main livelihood.

In developing countries, peasant has subsistence with limited farm land less than 2 hectares then they are indicated as poor people. Unfortunately, they do not get benefit properly from their production due to market mechanism and less good policy to make them prosperous. The worse part of it, aside from poverty, peasants have a serious threat from climate change that is harmful for their livelihood.

Saving the peasants from climate change impact should be the most priorities of the development agenda. The idea of adaptation strategy has generally focus on agriculture production, such as agriculture technology, adjustment of cropping period and financial assistance from donor. Meanwhile, adaptation strategy has less attention to support peasants to be resilience.

Adaptation strategy should be prefer bottom-up approach that it will produce and develop new knowledge and learning from the peasants. The most critical issue that they are become marginal due to strengthening of general perception that they are powerless and uneducated.

Then, the compatible agenda for agriculture sector in developing countries is not concentrated to reduce the emission, yet to empowering peasants from absolute poverty trap.

Today, many Peasants have more eliminated by land grabbing or agrarian issue that will destroy traditional farming. Traditional farming stand for simple purpose to feed peasants and their family. Sadly, they have to sell their harvest yield with minimum price without having benefits for their need then they will be the first person to be hunger.

 

Editor: Ronny A. Buol

 

ICA WULANSARI Freelance writer and Doctorate student of Sociology Studies at Padjadjaran University, Bandung, Indonesia.

Comments

comments

Continue Reading

KOLOM

Sana, Minta Duit Jajan Pakdhe Setya

Tekanan sosial yang dipercaya bisa menekan angka korupsi ini lama-lama mirip panggang yang jauh dari api.

Published

on

By

Oleh: Yuanita Maya

 

Orang Indonesia ini tak ada kapoknya. Kejadian seorang perempuan muda diperkarakan oleh Setya Novanto karena meme melecehkan tidak juga jadi pelajaran. Pertumbuhan meme Setnov justru kian masif. Kalah cendawan di musim penghujan. Kreativitas tinggi dalam hal pembuatan meme dan tawa berderai skala nasional sebagai eksesnya ini, dipercaya merupakan pilihan bijak dalam menghadapi silang-sengkarut korupsi Indonesia yang levelnya melebihi dewa. “Daripada emosi, terus setres. Mikir performa saja sudah pusing,” demikian seorang driver ojol ceria, setelah menyimak meme Setnov menggenggam piala Citra.

Setnov dihujat dan ditertawakan orang se-Indonesia, hingga memancing rasa khawatir ini semua akan mengurangi dosa-dosanya. Sungguh tak adil. Namun masyarakat Indonesia tak kuasa menahan cerca dan tawa. Mau bagaimana lagi, sebab kita semua sudah demikian muak terhadap korupsi. Demikian memancing rasa muaknya korupsi ini, sehingga dianggap ancaman terhadap prinsip-prinsip demokrasi yang menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, integritas, serta keamanan dan stabitilitas bangsa Indonesia, seperti ditulis dalam aline pertama Penjelasan Umum UU No 7 tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption tahun 2003. Bahkan jauh sebelum itu, Tap MPR No XI/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi menegaskan bahwa penyelenggara negara harus jurdil, terbuka, dan terpercaya serta mampu membebaskan diri dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Ngefek? Tidak juga, sebab nyatanya angka korupsi era reformasi justru diasumsikan lebih tinggi ketimbang zaman Orba. Anggota DPR, DPRD, dan pejabat tinggi pusat maupun daerah berombongan check in di hotel gratisan: prodeo. Dalam pada itu, beberapa orang pintar berusaha mereka-reka rumusan, kenapa orang Indonesia yang memuja Tuhan yang Maha Esa ini demikian gemar korupsi. Kesalahanpun jatuh pada sifat tamak, rakus, dan iman yang lemah. Tak ketinggalan adalah faktor tekanan (perceived pressure). Si jomblo yang bahagia karena akhirnya bisa menikah, terkejut dengan kenyataan hidup nan pahit, bahwa uangnya kini bukan uangnya lagi. Gaji tak seberapa itu sekarang jadi hak istri. Jadilah mantan jomblo berikhtiar untuk korupsi, yang ternyata sukses karena adanya perceived opportunity (kesempatan). Bodoh saja kalau tidak memanfaatkan pengawasan dan sistem audit yang lemah di lingkungan kerja, demikian newbie dalam dunia korupsi ini melakukan rasionalisasi untuk membenarkan tindak korupsinya.

Tapi ternyata ada faktor penguat lain, yakni sistem kekerabatan Indonesia yang terikat kuat antar-entitas yang punya latar belakang sama, baik itu keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam banyak hal sistem kekerabatan memang bernilai positif. Sederhananya, pasangan suami-istri bekerja bisa tenang meniti karir, karena di rumah ada eyang yang mengawasi cucu. Anak kuliah di luar kota juga tak perlu khawatir, karena bisa dititipkan paman atau pakdhenya. Tapi antropolog senior Koentjoroningrat sebaliknya mencatat nilai-nilai negatif sistem kekerabatan Indonesia. Misalnya, teman baik satu kampung bos BUMN bisalah dapat kerjaan dengan katebelece. KKN tumbuh besar di Indonesia ya karena sistem kekerabatan yang erat itu tadi.

Kalau memang sistem kekerabatan dan lingkar kenalan tidak mendukung, saya berani jamin anak dan istri koruptor se-Indonesia bakal tak punya teman. Anak koruptor jadi korban bully di sekolah. Kalau masuk kantin dilempari gorengan sambil dikata-katai,”Sok kece, lo! Iphone pake duit korupsi Bapak lo aja bangga!” Nyatanya tidak. Sederhananya, putri Setov yang cantik bohay itu hingga kini eksis ngisis. Pasal utamanya ya tentu karena bapaknya tajir melintir. Squadnya militan, bahkan anak-anak sesama horang kayah. Ada gula ada semut. Ada uang ada pengikut. Uangnya dari mana, bodo amat.

Putri Setnov bukan satu-satunya wakil spesies ini. Di luar sana masih banyak, contohnya seorang teman sekolah saya yang tahun-tahun terakhir jadi kepercayaan seorang petinggi di negeri ini. Petinggi tersebut lekat dengan isu pelanggaran Hak Asasi Manusia dan kecurigaan tentang asal hartanya yang ratusan milyar rupiah, belum termasuk aset-asetnya. Apakah teman saya tersebut dijauhi teman-teman yang lain? Tentu tidaaaaak…. Belakangan ini bahkan ia masuk dalam kelompok reuni kecil yang anggotanya khusus anak-anak jaman SMA yang dulu dianggap ‘the haves’, kalau bukan kece. Padahal jangankan the have, urusan gorengan di kantin saja dulu malida, makan lima ngaku dua. Kece? Jauuuuh…. Sebagai pelengkapnya: dekil pula.

Namun kini ia terlihat tampan dan berwibawa. Saat datang di reuni, semua menutup mulut dengan takzim tatkala ia berkisah tentang bagaimana ia main golf dengan si petinggi itu, makan dengan jendral ini, mancing dengan jendral anu. Dan sebagainya. Rangkaian hujatan yang muncul dalam beragam status di akun media sosial soal petinggi tersebut sama sekali tak terdengar, tertutup oleh sekian juta rupiah yang ia donasikan bakal acara makan-makan mendatang dan seterusnya. Hebatnya, ia bahkan jarang datang di acara makan-makan alumni tersebut. Demikian kaya dan murah hati ia, pantas banyak yang suka…… Tapi semua ini hanya saya dengar saja, karena selain nyaris tak pernah ikut reuni, ditawari donasi bakal kaos almamater saja saya sombongnya minta ampun. “Memangnya aku kaum dhuafa, beli kaos aja nggak mampu sampai disumbang segala?” Demikian saya memancing rasa tak suka teman-teman yang lain.

Deretan ini bisa bertambah. Istri pejabat pajak yang mobilnya berderet dan giat umroh, bukannya dicecar pertanyaan tentang bagaimana bisa suaminya setajir itu dan sebagainya, justru dapat undangan reunian silih berganti. Tujuannya apalagi kalau bukan donasi alumni. Polisi pangkat Kombes yang rumahnya mewah senilai ratusan kali lipat dari gaji resminya (belum harta benda lain yang tak ketahuan) justru jadi warga kehormatan di kompleks, kalau bukan didatangi handai taulan yang perlu SIM gratis. Dan seterusnya.

Tekanan sosial yang dipercaya bisa menekan angka korupsi ini lama-lama mirip panggang yang jauh dari api. Jadi kalau hujat, caci, dan segala macam bentuk cemooh baik lucu-lucuan atau serius hanya berkibaran di media sosial dalam bentuk meme, status dan komentar, lebih baik tinggalkan saja selamat jalan pada pemberantasan korupsi Indonesia hingga ke akar-akarnya. Karena ternyata masyarakat hipokrit adalah bagian dari akar korupsi itu sendiri. Saya sendiri, kalau misalnya Setnov adalah kakak kandung atau sepupu saya, belum tentu berani menertawakan meme tentangnya. Bisa jadi kalau pas pertemuan keluarga, malah anak-anak saya kerahkan dengan pesan tegas berwibawa,”Sana, minta uang jajan Pakdhe Setya. Yang banyak, ya, yang warnanya merah semua.”

Lalu ketika anak-anak itu sudah dapat, giliran saya mendekat, lalu ngelendot dan berkata dengan nada manja,”Lhooo, kok cuma anak-anakku, sih, Mas? Aku kok enggaaaak…..Padahal aku kan adikmu. Yang banyak lho yaaaa….Kan aku sudah dewasa, jatahnya harus dobel-dobel.”

Dan dari sanalah korupsi terus berkembang liar, tak peduli sedahsyat apa meme nyinyir Setnov berseliweran di jagad medsos…..

 

Editor: Ronny A. Buol

 

 Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga. Ikut tulisan-tulisan renyah dari Yuanita.

 

 

Comments

comments

Continue Reading

POPULER

%d bloggers like this: