Connect with us

POLITIK & PEMERINTAHAN

Hindari Al Qaedah, Syarief Justru Mengajar Di Manado

Syarief tertarik ke Indonesia karena rekan-rekannya sudah lebih dulu berada di negara ini. Ia nekat meninggalkan keluarganya yang ada di Pakistan, demi mendapatkan kebebasan dan terhindar dari ancaman pembunuhan.

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Syarief (24) duduk termenung. Sementara rekan-rekan lainnya berkeringat di lapangan volly ball. Sesekali dia ikut girang, kala permainan volly yang disaksikannya terlihat seru. Tapi ekspresi wajahnya tak bisa menyembunyikan kegalauan.

Syarief adalah penghuni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado. Dia adalah warga negara Afghanistan. Tapi itu dulu. Kini dia tak yakin jika dia masih seorang Afghanistan. Sebabnya dia adalah seorang imigran yang lari dari negara Pakistan tempatnya bermukim, dan mencari suaka di Indonesia.

“Saya meninggalkan Pakistan pada tahun 2014, lari dari ancaman pembunuhan anggota Al Qaedah. Mereka adalah kaum Sunni, dan sangat memusuhi kami kami Syiah. Jika mereka temukan, pasti kepala kami langsung dipenggal,” cerita Syarief kepada Zona Utara saat mengunjunginya di Rudenim Manado, Selasa (5/12/2017).

Syarief tertarik ke Indonesia karena rekan-rekannya sudah lebih dulu berada di negara ini. Ia nekat meninggalkan keluarganya yang ada di Pakistan, demi mendapatkan kebebasan dan terhindar dari ancaman pembunuhan.

“Kami orang Afghanistan, tapi tinggal di Pakistan,” kata Syarief.

Usaha pelarian Syarief tak gampang. Dia harus menyerahkan uang sebesar 700 Dolar Amerika Serikat kepada calo. Para calo itulah yang akan menguruskan dokumen perjalanannya serta mengatur rencana pelariannya.

Pekanbaru adalah daerah pertama kali Syarief menginjakkan kaki di Indonesia. Selanjutnya dia diantar ke Jakarta untuk keperluan registrasi. Saat di Bogor dia bertemu dengan beberapa rekan senegaranya. Lewat proses registrasi, dia kemudian sampai di Manado.

Pada awal kedatangannya di Manado, dia sempat diinapkan di wilayah Kecamatan Mapanget di komplek Bandara Sam Ratulangi.

“Saya sekitar 10 bulan di sana. Saya bergaul dengan warga sekitar, sambil belajar bahasa Indonesia,” ujar Syarief.

Setelahnya dia dipindahkan di Rudenim Manado hingga saat ini. Di Rudenim Manado seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh negara. Di Rudenim dia hidup bersama lebih dari seratus imigran lainnya. Mereka diawasi dengan ketat.

“Tapi walau semua fasilitas di sini lengkap, saya merasa depresi,” keluh Syarief.

Untuk mengatasi depresi itu, Syarief lalu menawarkan diri untuk mengajar Bahasa Inggris. Pihak Rudenim menyanggupinya dengan berbagai syarat. Jadilah Syarief mengajar di Panti Asuhan Assalam dan Panti Asuhan Al Idwan.

“Saya mengajar tanpa memungut bayaran, yang penting ada kesibukkan,” kata Syarief.

Namun kini aktifitas mengajarnya harus terhenti. Kerinduan terhadap keluarganya pun memuncah. Apalagi sudah tiga tahun dia berada di Rudenim Manado. Terkurung dalam kawasan yang diawasi terus menerus.

“Beruntunglah kerinduan itu bisa teratasi dengan komunikasi lewat media sosial. Saya punya account Facebook, hingga bisa melepas rindu dengan keluarga di Kota Kasni,” jelas Syarief.

Sebenarnya Indonesia hanyalah negara singgahan Syarief, sebab tujuan utamanya adalah Australia maupun Amerika Serikat. Tapi persoalan imigran dan pencari suaka, adalah hal pelik yang hingga kini masih menjadi agenda penting Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sejak Donald Trump menjadi Presiden, Amerika malah menutup pintu bagi pencari suaka Muslim seperti Syarief. Australia juga menutup pintu negara mereka bagi pencari suaka yang masuk dari Indonesia.

Indonesia sendiri tidak menandatangani konvensi pengungsi international. Rudenim hanyalah fasilitas yang diberikan oleh Indonesia bagi penampungan imigran yang semakin hari semakin banyak. Gejolak politik di negara-negara Afrika, Amerika Selatan serta sebagian Asia memaksa warga negara mereka lebih memilih mempertaruhkan hidup mencari suaka ke negara lain ketimbang bertahan dari situasi tak menentu.

 

Ikut pula cerita lainnya dari para Imigran dalam Liputan Tematik Zona Utara tentang Deteni Di Rudenim Manado.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Click to comment

Komentar

POLITIK & PEMERINTAHAN

PKPI Tak Lolos, Bart Senduk Pindah Partai?

Published

on

zonautara.com
Anggota DPRD Sulut Bart Senduk. (Foto: zonautara.com/K-02)

MANADO, ZONAUTARA.com Pasca Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) tak diloloskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi peserta Pemilu 2019, membuat Bart Senduk dikabarkan pindah partai politik.

Legislator PKPI itu terpaksa harus mencari kendaraan politik baru agar bisa kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Sulawesi Utara (Sulut). PDIP kabarnya menjadi labuan Bart.

Bukan tanpa alasan, selain Bart dikenal dekat dengan PDIP karena kakak kandungnya Carol Senduk adalah Ketua DPC PDIP Kota Tomohon, Bart juga kerap terlihat mendampingi Ketua DPD PDIP Sulut Olly Dondokambey dalam berbagai kesempatan.

Informasi yang beredar, Bart diajak langsung oleh Olly bergabung dengan PDIP. Apalagi, pada Pemilu Calon Anggota Legislatif (Caleg) 2019 nanti, andalan PDIP Steven Kandouw tak akan mencalonkan diri lagi karena sekarang menjabat Wakil Gubernur Sulut.

Dan legislator Gedung Cengkih dua periode tersebut bakal menjadi andalan PDIP mendulang suara, agara bisa memertahankan tiga kursi di daerah pemilihan Minahasa-Tomohon.

Terkait hal ini, Bart yang dikonfirmasi wartawan tidak memberikan bantahan. Bart hanya mengatakan, akan memublikasikan kepindahan dirinya dari PKPI nanti.

Nanti kita kase tahu (nanti akan saya beritahu),” ujar Bart.

Seperti diketahui, pada Pilcaleg 2009 dan 2014, Bart Senduk duduk di DPRD Sulut daerah pemilihan Minahasa-Tomohon dari PKPI. Sayangnya, partai tersebut tidak lolos verifikasi KPU bersama PBB untuk menjadi peserta Pemilu 2019. (K-02)

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Continue Reading

POLITIK & PEMERINTAHAN

Kedatangan KPK Warning Bagi Kepala Daerah Hingga Kumtua

Published

on

K-02
Sekretaris Komisi I Bidang Pemerintahan dan Hukum Jeanny Mumek. (Foto: Istimewa)

MANADO, ZONAUTARA.com – Kedatangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Sulawesi Utara (Sulut) menjadi tanda awas bagi para kepala daerah di kabupaten/kota bahkan kepala desa/hukum tua.

Mereka pun diingatkan untuk menjalankan program dan kerja pemerintahan secara transparan, akuntabel sesuai aturan dan pedoman yang ada.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Komisi I Bidang Pemerintahan dan Hukum Jeanny Mumek kepada wartawan, Selasa (20/2/2018).  Dia mengingatkan agar kedatangan KPK tidak akan berujung seperti kasus-kasus OTT tujuh kepala daerah yang dilakukan KPK baru-baru ini.

Menurut dia, Komisi I terundang dalam rakor bersama dengan KPK dan Pemerintah Sulut, Rabu (21/2/2018).

“Ini jadi tanda awas bagi siapapun untuk melaksanakan tugas sesuai aturan yang ada,” ucap dia.

Informasi yang dirangkum, rakor tersebut bertujuan untuk menyerap informasi terkait kondisi yang ada di daerah. Dengan begitu, diharapkan ada pemahaman serupa terkait dengan program pencegahan dan penindakan korupsi terintegrasi. Termasuk area mana saja yang akan menjadi fokus pembenahan.

Beberapa fokus area pembenahan itu, antara lain pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dengan cara mendorong pemerintah daerah untuk membangun e-planning yang terintegrasi dengan e-budgeting, pengadaan barang dan jasa dengan penerapan e-procurement.

Selanjutnya, pembenahan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), penguatan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) dan penerapan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).

“Kami berharap agar rakor ini benar-benar bisa menjadi sarana komitmen bersama semua stakeholder terkait yang ada di Sulut untuk upaya pencegahan korupsi dan tidak melakukan korupsi. (K-02)

 

Editor: Eva Aruperes

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: