Connect with us

WAH

Lari Dari Kekejaman Taliban Hingga Mengaburnya Cita-cita Zahra Di Indonesia

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Zahra tak menduga sebelumnya kalau keluarganya terpaksa harus jadi pengungsi dan meninggalkan negaranya Afganistan demi luput dari kekejaman Taliban. Kala itu tahun 2000. Setelah berhasil keluar dari Afganistan dan tiba di Indonesia, dengan menggunakan kapal motor yang tidak terlalu besar, bersama pengungsi-pengungsi lain, Zahra kian merasakan getirnya kehidupan ketika mengarungi ribuan mil lautan dan menghadapi gempuran ombak Laut Jawa untuk mencari suaka di Australia.

Di umur empat tahun, usia yang teramat belia bagi Zahra, bersama ayah-ibunya Muhammad Yaqub-Aqilah, serta kakaknya Zajjad, mengungsilah mereka dari Bamian, sebuah kampung yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Kabul. Sebagai bagian dari suku Hazara, mereka senantiasa jadi target kekejaman Taliban.

Zahra yang lahir di Syria, 20 September 1996, kepada wartawan Zona Utara, bercerita bahwa sekalipun belum mencapai negara tujuan untuk mendapatkan suaka, namun selama di Indonesia dia bisa mengenyam pendidikan. Sekarang dirinya tengah kuliah di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Sudah Semester VII.

Zahra sekeluarga hingga kini masih jadi penghuni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado sejak tahun 2010. Sebelumnya mereka jadi penghuni Rudenim Sumbawa. Di sanalah Zahra dapat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Sumbawa hingga tamat.

“Pertama masuk sekolah, saya hanya mengenakan pakaian biasa. Tidak seperti lazimnya anak SD di Indonesia yang pakai seragam putih merah. Akhirnya saya mendapat bantuan baju seragam bekas dari murid yang sudah tamat, juga dari para guru,” tutur Zahra.

Baca juga: Nama Saya Tahanan PBB

Ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Zahra yang kala itu sedang mengikuti ujian akhir, sempat dikeluarkan pihak International Organization For Migration (IOM) tanpa alasan yang jelas. Kemudian mereka  sekeluarga dipindahkan ke Rudenim Manado.

“Saat ujian akhir, entah dengan alasan apa, IOM menghentikan proses ujian akhir saya. Tak lama kemudian kami sekeluarga lalu dipindahkan ke Manado,” ujar Zahra.

Beruntungnya ia masih bisa ikut ujian susulan berkat bantuan guru-guru SMP di Sumbawa. Modal itu yang membuatnya bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Atas dan kuliah di Unsrat Manado.

“Semua teman dan dosen kuliah tahu saya seorang imigran. Tidak ada masalah dalam pergaulan. Setelah aktivitas kuliah, saya harus balik lagi ke Rudenim Manado. Tidak bisa mengikuti kegiatan ekstrakulikuler,” katanya.

Soal cita-cita, Zahra hingga kini masih saja bingung. Entah akan seperti apa nantinya, baginya masih kabur.

“Tanya saja ke IOM. Maunya cita-cita saya ke depan seperti apa. Apakah akan menghabiskan waktu sepanjang hidup di Rudenim ini dengan status kewarganegaraan yang tak jelas, saya juga belum tahu,” ujarnya dengan suara yang terdengar getir.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Click to comment

Komentar

WAH

Rayakan Valentine, Perawat RSUP Kandou Bagi-bagi Bunga Untuk Pasien

Published

on

zonautara.com
Perawat di RSUP Kandou berbagi bunga.(Foto: zonautara.com/K-02)

MANADO, ZONAUTARA.com – Bagi-bagi bunga bagi para pasien dijadikan wujud kasih dari para perawat di Irina C-1 RSUP Prof RD Kandou pada perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day, Rabu (14/2/2018).

Dipimpin oleh Kepala Ruangan Herlina Mercy Tiwa, para perawat membagikan bunga kepada 34 pasien penyakit dalam yang sedang dirawat.

“Bunga melambangkan keindahan dan rasa cinta, karena itu kami memilih bunga untuk dibagikan kepada pasien-pasien sebagai wujud kasih merayakan Valentine Day,” ucap suster Herlina.

Ia pun berharap bunga-bunga yang diberikan menjadi lambang kasih dan doa bagi para pasien untuk sembuh.

“Di RSUP Kandou, bukan hanya pengobatan medis saja. Tapi juga memberikan rasa cinta dan kasih bagi pasien bisa membantu penyembuhan. Kiranya bunga-bunga yang dibagikan teriring dengan doa bagi para pasien,” tambah suster Herlina.

Ia menyampaikan permohonan maaf kepada para pasien jika dalam menjalan tugas ada kekurangan dari pihaknya.

“Tapi yang pasti kami akan terus memperbaiki pelayanan, karena tujuan kami adalah para pasien terlayani dengan baik,” ujar suster Herlina.

RSUP Kandou sendiri di bawah pimpinan dr Maxi Rondonuwu terus melakukan perbaikan pelayanan kesehatan dan fasilitas yang ada. Mulai dari ruang gawat darurat hingga ke ruangan-ruangan pasien.(K-02)

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

WAH

Sindrom Langka, Michelle Jadi Anak Kecil Selamanya

Karena menderita sindrom tersebut, setiap malam harus dalam perawatan medis, bahkan Michelle memiliki perawat yang harus selalu mendampinginya dalam melakukan aktivitas.

Published

on

zonautara.com
Michelle Kush (20) menderita sindrom Hallermann-Streiff (Foto: barcroft media)

MANADO, ZONAUTARA.com – Michelle Kish adalah seorang wanita berusia 20 tahun yang terjebak dalam tubuh anak kecil.

Dilansir dari the sun, Sejak lahir Michelle sudah menderita kelainan bawaan yang sangat langka yaitu sindrom Hallermann- Streiff. Sindrom ini memiliki 28 gejala dan Michelle telah memiliki 26 gejala diantaranya. Dia memiliki kondisi wajah yang berbeda, mempengaruhi pertumbuhan gigi dan rambut, juga mengalami kelainan seperti dwarfisme, kardiomiopati (sejenis penyakit jantung), penyakit paru paru kronis,  badan pendek, tulang rapuh dan alopecia.

Mary, Ibu Michelle mengaku saat hamil dia tidak merasakan hal aneh sampai melahirkan semuanya tidak ada masalah, namun semuanya berubah saat Michelle lahir.

“Jantungku seperti merosot ketika dokter mendiagnosis sindrom hallermann-Streiff pada Michelle,” kata Maria.

zonautara.com

Michelle yang di diagnosis menderita sindrom langkah, sindrom Hallermann-Streiff (Foto: barcroft media)

Karena menderita sindrom tersebut, setiap malam harus dalam perawatan medis, bahkan Michelle memiliki perawat yang harus selalu mendampinginya dalam melakukan aktivitas.

“Saya harus sering ke rumah sakit, itu sudah seperti rumah kedua untuk saya,” kata Michelle.

Meskipun dengan berbagai kekurangan yang ada, dia selalu percaya diri dan hidup bahagia seperti orang biasanya.

“Hal favorit saya tentang Michelle adalah bahwa dia memiliki harga diri yang tinggi, dia mencintai dirinya sendiri dan dia benar-benar memiliki kepercayaan diri, dan dia bergerak setiap hari dengan senang hati sehingga membuat saya bahagia”, tambah Mary.

Michelle mengakui ada beberapa aspek kondisinya yang menahannya untuk melakukan apa yang diinginkannya.

“Hal yang paling menyebalkan saat kecil adalah ada banyak wahana taman hiburan yang ingin saya rasakan namun tidak bisa karena memiliki batasan ketinggian. Juga tabung trakeostomi saya berarti saya tidak bisa masuk ke bawah air,” Ungkap Michelle.

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: