Connect with us

BAHASA dan BUDAYA

Kadademahe Daluhe, Berburu Bintang Dari Kepercayaan Purba Sangihe

Bagi orang Sagihe dan Talaud setiap pergerakan alam semesta selalu berhubungan langsung dengan perikehidupan manusia.

Published

on

Foto: Stenly Pontolawokang

Bou imarange dasi
simenang Kakademahe daluhe
matulide su wowong pusige
nemuka langi nangetau pebawiahe

Syair di atas berisi symbol purba orang-orang Sangihe-Talaud yang berhubungan dengan rahasia alam semesta dan petunjuk bintang. Bagi mereka, setiap pergerakan alam semesta selalu berhubungan langsung dengan perikehidupan manusia.

Sebagai anak suku bahari atau manusia laut, orang-orang Sangihe Talaud sejak masa lalu memiliki pengetahuan dan terampil membaca bintang baik sebagai penunjuk arah saat menjelajah lautan, juga dalam mengikwali aktivitas hidup mereka dalam berkebun, membangun rumah, membuat perahu atau kapal, dan juga menikah.

Bedasar salah satu petunjuk kepercayaan purba itu, Stenly Pontolawokang, seorang fotografer professional asal Sangihe pada 31 Januari 2018 mencoba berburu foto “Bintang Fajar” yang oleh moyang-moyang  tua Sangihe disebut dengan nama “Kadademahe Daluhe”, atau oleh para pelaut Sangihe disebut dengan nama “Bituing Karamete”.

Aktivitas berburu foto bintang yang dilakukannya ini kata Pontolawokang, karena dahulu kala pelaksanaan Tulude (upacara adat meruwat negeri Sangihe ) disesuaikan dengan munculnya “Bintang Fajar” yang tegak lurus berada tepat di atas pulau Sangihe.

“Saya selalu mendengar kisah ini dari para tetua, katanya langit seperti terbuka dan poisisi bintang fajar  kadademahe yang merupakan planet Venus tepat berada di atas pulau Sangihe. Peristiwa alam ini menandakan upacara adat Tulude akan dimulai,” ujar lelaki yang juga aktif bergiat dalam budaya Sangihe ini.

Dikatakannya, Tulude juga berkenaan dengan penyebutan nama bulan keempat di langit menurut perhitungan orang Sangihe, karena bulan itu secara kebetulan berada tegak lurus saat matahari terbenam dan hari menjelang malam.

“Dalam astronomi juga dikenal dengan peristiwa 5 planet yang sejajar, Jupiter, Mars, Saturnus, Venus, Mercuri. Mungkin karena Mercuri tidak terlalu terlihat, jadi para leluhur hanya memasukkan 4 planet (bulan) dalam penglihatan mereka,” jelasnya.

Pada Tulude 2018 katanya, ia coba mengamati langit pada pukul 00.00 di tanggal 31 Januari 2018, Posisi bulan mendekati purnama, sehingga agak sulit melihat bintang, terlebih melihat milky way.

“Saya coba berdiskusi dengan beberapa orang dewan adat Sangihe dan menyimpulkan langit terbuka yang dimaksud adalah milky way,” kata dia.

Kendati kali ini gagal memburu foto Kadademahe Daluhe, Pontolawokang berharap nanti bisa memotret lagi bintang fajar yang diyakini sebagai penanda ikwal aktivitas kehidupan itu suatu ketika nanti.

 

Caption: Foto ini dibuat Stenly Pontolawokang sekitar bulan Maret 2017 saat memotret milky way di arah barat. Venus bisa terlihat dalam foto ini.

Comments

comments

Click to comment

Komentar

BAHASA dan BUDAYA

Batu Tinanian Di Desa Kotamenara Bukti Aktivitas Semenjak Dahulu Kala

Published

on

zonautara.com
Batu Tinanian di kampung tua Kotamenara.(Foto: zonautara.com/Tonny Rarung)

MANADO, ZONAUTARA.com – Ternyata keberadaan Desa Kotamenara yang saat ini terletak di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), diyakini warga telah hadir semenjak ratusan tahun silam.

Hal ini dibuktikan lewat keberadaan sebuah situs budaya Tinanian yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Letak situs tersebut terdapat di lokasi kampung tua Desa Kotamenara yang berjarak sekitar dua kilometer dari letak Desa kotamenara saat ini.

Hukum Tua (Kepala Desa) Desa Kotamenara Joyke Sondakh menjelaskan bahwa situs budaya yang ada berupa batu-batu tua yang diyakini warga sebagai warisan leluhur mereka. Dahulunya tempat itu dipakai sebagai tempat untuk ritual adat Minahasa kuno.

“Meski saya sendiri kurang paham tentang arti Tinanian, namun dari informasi tua-tua kampung, artinya tempat para pendiri kampung mengadakan ritual adat,” papar Joyke.

Menurutnya, ritual adat dilakukan oleh para perintis kampung untuk melindungi desa tersebut dari mara bahaya, sekaligus untuk menolak bala. Karena dianggap tempat yang sakral, jika sedang berada di lokasi ini orang-orang dilarang berisik.

Penasaran dengan keberadaannya, ditemani dua pemuda desa Kotamenara, Yesaya Sondakh dan Falio Sepang, tim Zona Utara mengunjungi lokasi ini. Di lokasi yang berada di ruang tanah berukuran 2,5 x 3,5 meter ini terdapat empat buah batu.

Masing-masing sebuah batu berbentuk pipih dan menjulang dengan ukuran tinggi sekitar 75 centimeter (cm) dan dua buah batu berbentuk datar di depannya. Ukurannya agak pendek dengan diameter sekitar 20 hingga 25 cm. Dua batu datar tersebut kemungkinan menjadi sarana untuk meletakkan persembahan kepada Sang Khalik Langit dan Bumi.

Sementara di bagian depan dari kedua jenis batu tersebut, terletak sebuah batu yang berukuran kepalan tangan manusia dewasa, yang keluar ke permukaan tanah. Ternyata setelah ditelisik lebih jauh, ternyata batu yang berbentuk kepalan ini hanyalah bagian kecil dari bongkahan batu yang berukuran besar, yang hingga kini masih tertimbun tanah.

Dari keterangan Falio Sepang bahwa jnformasi dari kakeknya, yang didengarnya bahwa Batu Tinanian ini, sudah berada di tempat ini semenjak tahun 1800-an. Namun seiring waktu hilang dan tertutup tanah, tanpa sempat dikenali warga. Dugaan Falio tersebut ada benarnya karena berdasarkan sejarah desa, penghuni pertama yang menjadi cikal-bakal penduduk Desa Kotamenara saat ini telah ada semenjak tahun 1868.

“Beberapa tahun yang lalu, sapi milik warga yang ditambatkan di lokasi ini mati tanpa sebab. Setelah sebagian warga melakukan ritual adat untuk mencari tahu penyebab kematian sapi tersebut, barulah terkuak tentang keberadaan batu Tinanian yang telah lama hilang tertutup tanah. Setelah kami gali, baru sekitar setengah meter, akhirnya muncullah batu-batu ini,” ujarnya.

Akhirnya, lanjut Falio, warga desa mendapat informasi lewat petunjuk ritual adat bahwa jauh sebelum Desa Kotamenara dibentuk lagi pada tahun 1954, di tempat tersebut sudah ada penghuni yang berasal dari negeri Kanonang.

Lepas dari benar-tidaknya legenda kampung tua Kotamenara, imbuh Falio, mereka sebagai generasi muda merasa terpanggil untuk menjaga dan melestarikan situs-situs budaya warisan leluhur.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

BAHASA dan BUDAYA

Misteri Gua Batu Aer Ujang

Published

on

Gua batu Aer Ujang di Kelurahan Danowudu, Kecamatan Ranowulu. (Foto: zonautara.com/Gary Kaligis)
Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

BITUNG, ZONAUTARA.com Di salah satu wilayah di Kota Bitung, terdapat satu daerah yang bagi masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) namanya tergolong unik. Aer Ujang (air hujan), itulah salah satu nama daerah yang tepatnya terletak di Lingkungan IV, Kelurahan Danowudu, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung.

Disebut sebagai Aer Ujang, karena air yang bersumber dari mata air yang terdapat di lokasi tersebut, keluar dari bukit batu kemudian mengucur dengan deras ke tanah bagaikan air hujan.

Tertarik akan fenomena alam yang sangat unik tersebut, wartawan Zona Utara ditemani beberapa warga sebagai penunjuk jalan, menuju ke lokasi tersebut. Dari ruas jalan raya yang terletak di Lingkungan IV, kelurahan tersebut, wartawan Zona Utara harus berjalan mengikuti jalan setapak yang menurun, sambil melewati perkebunan rakyat.

Setelah menempuh jarak sekitar 150 meter, tibalah di lokasi yang disebut Aer Ujang. Riuhnya air yang keluar dan terjun dari bebatuan, bagaikan air terjun kecil langsung terdengar bergemuruh, disertai lentingan air yang keluar bagaikan air hujan, yang memenuhi gua dan dinding batu itu.

Diketahui, bahwa lokasi ini berbentuk bukit batu, di mana airnya keluar di hamparan dinding batu dengan ketinggian hampir mencapai 20 meter, dengan panjang dinding sekitar 40 meter. Menariknya, di bawah bukit batu tersebut terbentuk sebuah gua yang ukuran panjang sekitar 10 meter, dengan ketinggian berkisar sembilan meter.

Uniknya, semua struktur gua tersebut, terdiri atas bebatuan, baik lantai, dinding maupun atapnya. Sebelum memasuki lokasi tersebut, pengunjung harus melangkah melewati tumpukan batu yang berukuran besar dengan diameter antara dua hingga empat meter.

Pemandangan ini, seakan melengkapi misteri terciptanya lokasi yang dikenal dengan sebutan Aer Ujang tersebut.

Salah seorang warga setempat Terry Lomboan menjelaskan, bahwa keberadaan tempat tersebut, sesuai dengan informasi dari kakeknya, sudah terbentuk semenjak dahulu kala.

“Semenjak kampung ini terbentuk pada tahun 1902, tempat ini sudah ada,” jelas Lomboan.

Sementara itu, Kepala Lingkungan I, Kelurahan Danowudu, Meidy Kalangi menjelaskan, bahwa untuk mengunjungi lokasi tersebut, para pengunjung harus mentaati beberapa aturan, di antaranya tidak boleh ribut, juga harus menjaga kebersihan lingkungan tersebut.

“Pengunjung biasanya sudah tahu, bahwa saat berada di tempat tersebut, mereka tidak boleh ribut, karena lokasi ini mengandung nilai sejarah yang tinggi,” jelas Kalangi.

Menurut Kalangi, informasi yang didapatinya dari tua-tua kampung, bahwa jika tidak menaati aturan tersebut, biasanya pengunjung akan menderita sakit yang misterius, yang harus disembuhkan lewat pengaturan ritual adat.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: