Connect with us

SEJARAH

4 Abad, Klenteng Ban Hin Kiong Jadi Bagian Sejarah Kota Manado

Published

on

zonautara.com
Sejumlah wisatawan berfoto di depan Klenteng Ban Hin Kiong. (Foto: zonautara.com/Rizali Posumah)

MANADO, ZONAUTARA.com Berjalan ke Pecinan Kelurahan Calaca, Kecamatan Wenang, Kota Manado, seperti meneggok kembali kehidupan lampau kota ini. Bangunan-bangunan tua masih berdiri tegak, suasananya seolah-olah membuat kita bertamasya ke tahun 1940-an. Tak ada yang tahu persis sudah berapa lama bangunan-bangunan yang umumnya ditempati etnis Tionghoa-Manado ini ada.

Namun, keberadaan Klenteng Ban Hin Kiong di tempat ini, adalah bukti nyata, bahwa orang-orang Tionghoa-Manado sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Menjadi bagian dari keragaman masyarakat Manado yang dikenal toleran dan terbuka pada sesama.

Menariknya, persis di belakang Klenteng Ban Hin Kiong, sudah masuk kawasan Kampung Arab, Kelurahan Istiqlal. Komunitas Arab-Manado, diyakini sama tuanya juga dengan etnis Cina-Manado. Kedua kampung ini bukti dari sisa-sisa pembagian wilayah zaman Kolonial Belanda.

Meski dalam beberapa catatan sejarah, Klenteng Ban Hin Kiong disebut pertama kali dibangun pada tahun 1819, namun umat Tridharma Manado meyakini, bahwa Klenteng Ban Hin Kiong sudah ada sejak 4 abad silam.

Menurut beberapa Rohaniawan Tridharma, diantaranya Ketua Klenteng Ban Hin Kiong Jufri Sondakh, Klenteng ini sudah dibangun pada awal masa pemerintahan Dinasti Qing di daratan Tiongkok, yakni tahun 1680-an. Jufri meyakini, Ban Hin Kiong bukan hanya tertua di Sulawesi Utara (Sulut), melainkan tertua di Indonesia Timur.

“Menurut data di kami, Klenteng ini tertua se-Indonesia Timur. Sudah berkisar 400 tahun. Dulu masih ada tertulis pembangunan Klenteng ini, disebutkan di situ Klenteng ini dibangun pada tahun pemerintahan Dinasti Qing, tapi sekarang sudah tidak ada, musnah saat kebakaran tahun 1970,” ungkap Jufry.

Ban Hin Kiong juga beberapa kali menjadi saksi dari peristiwa sejarah, di antaranya pada 7 September 1944, kala sekutu menyerang posisi Jepang di Kota Manado, bangunan ini ikut hancur kena hantaman bom.

Dalam buku “Sulawesi Utara Bergolak: Peristiwa Patriotik 14 Februari 1946”, yang ditulis Ben Wowor, serangan udara sekutu, mengakibatkan Kota Manado porak-poranda, dilanda kehancuran di sana sini, termasuk di Kawasan Pecinan, tempat Klenteng Ban Hin Kiong berada.

Kelenteng Ban Hin Kiong pertama kali direnovasi pada tahun 1854-1859 dan kemudian direnovasi lagi pada tahun 1895-1902. Saat kena bom tahun 1944, Klenteng ini kembali diperbaiki. Terakhir, Ban Hin Kiong pernah dibakar oleh oknum tidak bertanggungjawab pada 14 Maret 1970. Menurut penuturan Jufri, sejak terbakar, Klenteng Ban Hin Kiong dibangun kembali dan selesai tahun 1975.

“Sejak kebakaran itu, semua data hilang, tidak ada lagi. Hanya ada satu arca yang tidak ikut terbakar, itu satu-satunya, yakni arca Dewa Umur Panjang,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang Rohaniawan Tridharma sekaligus tokoh Tionghoa-Manado Ferry Sondakh menuturkan, bahwa Ban Hin Kiong itu sendiri memiliki arti Istana Sejuta Bahagia. Menurut Ferry, awalnya Klenteng Ban Hin Kiong didirikan hanya berupa gubuk kecil.

Di gubuk kecil tersebut, kata Ferry, para pedagang Tionghoa yang ada di Manado berkumpul dan beribadah di sana. Seiring berjalannya waktu, etnis Tionghoa mulai bertambah banyak, maka gubuk itu dibangun menjadi lebih besar dan terus mengalami perkembangan hingga sekarang.

“Mereka yang datang ke Manado itu dari berbagai suku di Cina, ada Hokkian, Khek, Kanton, Hainan dan yang terbanyak Hokkian. Dialek dan bahasa bisa berbeda. Kalau khusus Tridharma dominan Hokian,” pungkas Ferry.

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Click to comment

Komentar

SEJARAH

Maliku, Kampung Yang Disayangi

Published

on

zonautara.com
Jalan masuk Desa Maliku, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minsel. (Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MINSEL, ZONAUTARA.com Desa Maliku, merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel). Tim Zona Utara berkesempatan mengunjungi desa yang terletak sekitar 10 Kilometer (Km) dari pusat Kota Amurang ini.

Pemandangan asri nan sejuk bisa kita nikmati selama perjalanan ke desa yang telah dimekarkan menjadi dua desa sejak tahun 2012 tersebut. Hukum Tua Desa Maliku Ferry Pieter Pandey, sedikit mengurai sejarah terbentuknya desa yang dipimpinnya tersebut.

Di mana, sejarah desa yang diketahuinya saat ini hanya berdasarkan penuturan turun temurun dari para tetua kampung. Pasalnya, jejak sejarah asli di Desa Maliku ini hilang dan sampai saat ini belum ditemukan.

Awal mulanya, pada tahun 1600-an, kampung tersebut bernama Lalumpe yang diambil dari nama sebuah kayu. Di mana, kayu itu menjadi tempat berkumpulnya para pendatang yang mengunjungi kampung yang terletak di wilayah pegunungan tersebut.

“Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang datang ke sini. Sehingga, desa ini kemudian berganti nama menjadi Liliku yang artinya tempat kesayangan atau kampung yang disayangi. Dari nama Liliku tersebut kemudian menjadi Maliku, hingga saat ini,” ujar Pandey.

Sejak saat itu, masyarakat yang datang dan tinggal di desa yang berada di wilayah kaki Gunung Soputan ini pun semakin bertambah banyak. Kini tak terhitung lagi tonaas hingga kepala desa yang telah memimpin kampung tersebut.

Di sisi lain, kejadian menarik pun disebut pernah terjadi di desa ini. Kejadian tersebut pun disebut “padi bergoyang”, yang terjadi pada tahun 1952. Di mana, berdasarkan cerita turun temurun dari para tetua, saat itu, padi yang sudah disimpan di rumah petani bergerak seperti mata air, jadi lama-kelamaan menjadi banyak.

Bahkan, padi-padi itu yang kemudian dibawa ke daerah Bolaang Mongondow (Bolmong) yang sekarang sudah menjadi sentra beras. Tak hanya padi, hal serupa juga terjadi pada cabai yang baru saja dipanen oleh petani di desa tersebut.

Kini, Desa Maliku kian berkembang. Kondisi perekonomian masyarakat pun rata-rata berada pada level menengah,serta tidak terdapat masyarakat yang berada di level sangat miskin. Areal perkebunan kelapa dan juga sawah menjadi penyangga kehidupan masyarakat yang 95% berstatus petani.

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Continue Reading

SEJARAH

Ketika Jalan Pedang Permesta Berakhir Di Desa Malenos

Published

on

zonautara.com
Tugu peringatan perdamain Permesta dan Pemerintah Pusat RI di Desa Malenos. (Foto: zonautara.com/Tesa Filia Senduk)

MINSEL, ZONAUTARA.com Malenos Baru, adalah sebuah desa di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Desa ini menyimpan sejarah penting napak tilas dari akhir Jalan Pedang yang ditempuh Permesta melawan Pemerintah Pusat Republik Indonesia (RI).

Di desa inilah, perdamaian antara Pemerintah Pusat RI dan Permesta mencapai kata sepakat. 4 April 1961, dicatat sejarah sebagai puncak perdamain tersebut. Momen itu, ditandai dengan didirikannya monumen perdamaian memperingati berakhirnya perang saudara antarkedua anak bangsa. Monumen peringatan ini dengan mudah bisa ditemukan, yakni di samping gedung Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) Eben Hezer, Desa Malenos.

Menurut Hukum Tua (Kumtua)/Kepala Desa Malenos Senny Tutu, kesepakatan damai antarkedua belah pihak bersamaan dengan peresmian kampung Malenos Baru.

“Kampung Malenos dulunya bukan di sini. Letaknya dulu jauh ke dalam, sekarang sudah jadi perkebunan warga. Perdamaian antara Pusat dan Permesta di lokasi ini bersamaan juga dibukanya perkampungan Malenos Baru,” tutur Senny saat berbincang dengan Tim Redaksi Zona Utara, Jumat (16/2/2018).

Berdasarkan dokumentasi yang dimiliki Desa Malenos, kesepakatan damai antara Pemerintah Pusat dan Permesta di Malenos berawal saat Wakil Gubernur (Wagub) Sulut dan Tenggara (Suluteng) B Tumbelaka, berkunjung ke Malenos pada awal tahun 1961, sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat untuk mengadakan kesepakatan damai dengan pihak Permesta.

Wagub menugaskan Kumtua Malenos saat itu Victor A Tutu, untuk menjadi penghubung antara Pemerintah Pusat dan Pasukan Permesta. Victor Tutu juga ditugaskan mencari tempat aman untuk perundingan kedua pihak. Menindaklanjuti penugasan ini, Victor pun menunjuk Dirk Tuuk sebagai Kepala Jaga Polisi di Malenos dan segera mencari tempat aman yang dimaksud Wagub Suluteng.

Perkebunan Ritey, dekat hulu sungai Malenos dijadikan lokasi pertama perundingan. Dalam perundingan itu, pihak pemerintah diwakili Wagub Suluteng, sementara pihak Permesta diwakili oleh Johan Tambayong. Dari perundingan ini disepakati, akan ada perundingan lanjutan yang akan memertemukan pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) dan pimpinan Pasukan Permesta.

Gedung GMIM Malenos kemudian dijadikan tempat perundingan lanjutan. Di sini, perundingan selain dihadiri oleh Wagub Sulteng dari pihak Pemerintah Pusat, juga dihadiri oleh Kolonel Supangat selaku Perwira Staf Komando Daerah (Kodam) XIII/Merdeka APRI. Dari pihak Permesta, hadir Johan Tambayong dan Letnan Kolonel Wim Tenges selaku Komandan Brigade WK.III (Distrik III) Permesta.

Perundingan yang dijaga ketat oleh Batalyon A/Kompi Buaya Permesta pimpinan Kapten Anthon Tenges tersebut berjalan alot. Kedua pihak saling memahami dan bersepakat mengakhiri perang saudara. Tanggal 4 April 1961 dipilih sebagai hari upacara pembacaan Naskah Perdamaian. Lokasi yang ditentukan bertempat di Desa Malenos Baru.

Untuk memersiapkan upacara, pada tanggal 3 April 1961, Pasukan Zeni Kodam XIII/Merdeka membuat lapangan. Lokasi lapangan tersebut sekarang masuk di tiga pekarangan, yakni halaman Gereja GMIM Malenos, Rumah Keluarga G Kimbal dan Rumah Keluarga Victor A Tutu.

Tepat pada hari H, tanggal 4 April 1961, upacara pun dilaksanakan. Naskah perdamaian ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dari pihak Pemerintah Pusat, naskah  ditandatangani oleh Kolonel Sunandar Prijosudarmo selaku Panglima Kodam (Pangdam) XIII/Merdeka. Dari pihak Permesta ditandatangani oleh Kolonel D.J Somba selaku pimpinan Komando Daerah Pertempuran (KDP) II, sekaligus selaku Panglima Komando Daerah Militer (KDM) Sulawesi Utara dan Tenggara (SUT) Permesta.

Dengan ditandatanganinya kesepakatan damai ini, maka otomatis Permesta secara resmi telah kembali ke pangkuan Negara Kesatuan RI, setelah tiga tahun lebih melakukan perlawanan, terhitung dari tahun 1958 hingga April 1961. Apalagi, D.J Somba adalah salah satu tokoh penting dalam pergolakan Permesta. Dia adalah tokoh yang membacakan pernyataan sikap Permesta putus hubungan dengan Pemerintah Pusat, pada tanggal 17 Februari 1958 di Lapangan Sario Manado.

Perdamaian Permesta melalui D.J Somba, juga membuat puluhan ribu pasukan Permesta yang dipimpinnya menghentikan perlawanan. Selain itu, di  bawah kepemimpinan D.J Somba juga ada salah satu dari dua Brigade terkuat yang dimiliki Permesta, yakni Brigade WK.III. Brigade yang dipimpin Kolonel Wim Tenges ini terkenal disiplin, loyal dan gigih di medan tempur, selain Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng yang sebelumnya telah diduga berkhianat oleh para pemimpin Permesta.

Kolonel Wim, secara militer adalah sosok yang cerdas dan ahli strategi. Kedisiplinan dan kerapihan pasukannya saat bergerak, serta moral prajuritnya menjadi pembeda utama dengan Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng. Meski dikenal ganas di medan tempur, Brigade 999 dinilai tidak menggambarkan satuan militer yang profesional sebagaimana Brigade WK.III.

Sekilas tentang Permesta

Permesta adalah singkatan dari Perjuangan Semesta atau Perjuangan Rakyat Semesta. Adalah sebuah gerakan militer yang ditempuh para tokoh militer di Sulawesi, terutama di Sulut, sebagai wujud protes terhadap arah politik Pemerintah Pusat RI.

Dalam buku berjudul “Permesta Dalam Romantika, Kemelut dan Misteri”, yang ditulis oleh Phill M Sulu disebutkan, bahwa permesta dideklarasikan oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual selaku pemimpin sipil dan militer Indonesia bagian timur pada 2 Maret 1957 di Makassar.

Setahun kemudian, pada 1958, markas besar Permesta dipindahkan ke Manado. Pada tanggal 17 Februari 1958 diumumkan di Lapangan Sario Manado, bahwa Permesta menyatakan putus hubungan dengan pemerintah pusat.

Dalam artikel yang dipublis zonautara.com tanggal 17 Desember 2017 berjudul “Kisah RPKAD Memburu Permesta Di Kampung Langowan”, disebutkan sebulan setelah Permesta memindahkan markasnya ke Manado, pada bulan Maret 1958 Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Nasution, mengeluarkan perintah kepada Letnan Kolonel Bardosono untuk melaksanakan Operasi Militer IV, guna memadamkan pemberontakan Permesta.

Sejak itu, selama tiga tahun lebih Permesta berjuang melawan setiap serangan yang dilancarkan APRI. Hingga pada akhirnya, mereka berhenti menempuh jalan pedang. Puncaknya, melalui kesepakatan damai di Desa Malenos, tanggal 4 April 1961.

 

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: