Connect with us

FOKUS ISU

Jurnalisme Data dan Masa Depan Media

Publik sulit membantah laporan yang didukung dengan data.

Published

on

zonautara.com
Suasana saat Data Driven Journalism Master Class yang digelar di Jakarta, 9-11 Februari 2018. (Foto: zonautara.com/Ronny A. Buol)

JAKARTA, ZONAUTARA.com – Media terus berubah, tidak hanya dalam cara menyampaikan pesan tetapi juga dalam hal sarana penyampaiannya.

Media cetak telah memasuki masa senja kala, sementara media online begitu lentur mengikuti trend teknologi dan kecenderungan pembaca yang dipengaruhi oleh penetrasi media sosial. Perubahan yang tak berhenti itu juga menuntut perumusan baru terhadap kerja-kerja jurnalistik termasuk jurnalisnya.

Gurvan Kristanadjaja, jurnalis Perancis Liberation mengibaratkan jurnalis di era digital ini sebagai unicorn. Mahluk serba bisa, hybrid journalism.

Jurnalis dituntut tak hanya sekedar meliput di lapangan, menyaring informasi, menulis lalu menyiarkan beritanya. Tetapi seorang jurnalis dewasa ini dituntut bisa melakukan apa saja. Sebab jika jurnalis hanya mampu melakukan tugas-tugas dasar jurnalistik, pewarta warga saat ini bahkan mampu lebih cepat menyebarluaskan informasi melalui jejaring media sosial.

Jurnalis harus mengambil peran lebih, terutama menyampaikan fakta sesuai dengan data yang sahih. “Ini memang pekerjaan yang tidak mudah,” kata Gurvan, “tapi menyajikan sesuatu dengan dukungan data yang lengkap adalah metode yang tepat agar fakta yang disajikan tak bisa dibantah,” tambah Gurvan.

Gurvan menjadi pembicara utama dalam Master Class Data Driven Journalism yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan independen.id dan didukung CFI Cooperation Medias. Pelatihan itu diselenggarakan di Jakarta pada 9 hingga 12 Februari 2018. Sebanyak 24 peserta yang merupakan pimpinan atau pengambil kebijakan di berbagai media di Indonesia ikut dalam pelatihan itu.

Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Manan menyatakan pelatihan ini merupakan salah satu pelatihan jurnalisme data yang dilakukan AJI dalam kurun waktu dua tahun ini. Pada tahun 2016 dan 2017 AJI sudah pernah melakukan setidaknya lima pelatihan jurnalisme data.

Pelatihan ini, kata Manan, merupakan kelas lanjutan dari pelatihan sebelumnya. Pesertanya juga sebagian adalah mereka yang sudah pernah mengikuti pelatihan dasar. Dalam pelatihan ini sebagian pesertanya juga berada pada level pengambil kebijakan.

“Penerapan jurnalisme data harus mendapat dukungan dari pengambil kebijakan di media. Kami berharap para peserta bisa semakin mahir dalam memanfaatkan dan memproses data yang berjibun di internet,” ujar Abdul Manan.

Itu pula yang dipaparkan oleh Gurvan. Dia memberikan banyak contoh kepada peserta bagaimana memanfaatkan berbagai tool yang ada dalam mengolah data lalu menyajikannya kepada pembaca.

Gurvan juga menceritakan bagaimana laporan berbasis data di media mereka mampu memegaruhi kebijakan publik dan pemerintah. Laporan-laporan mereka yang diolah dari data, mendapat respon yang sangat luas dari pembaca. Tak jarang ribuan pertanyaan dialamatkan kepada mereka lewat berbagai platform, begitu sebuah laporan berbasis data disiarkan.

Jurnalisme data memang harus dikerjakan oleh tim yang tidak saja hanya diisi oleh jurnalis, tetapi ikut melibatkan analis, bagian IT dan tenaga grafis visual. Tim inilah yang akan bekerja menyajikan reportase yang kaya kepada pembaca.

“Ini memang pekerjaan yang serius dan tentu memerlukan investasi. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Yang penting kita mau dulu, pasti ada jalan,” ujar Adek Media Rosa, pemateri lainnya dari Tim Riset Katadata.co.id.

Adek banyak memberikan contoh bagaimana media mereka menjadikan data sebagai pondasi sebuah liputan. Dan hasilnya mampu memegaruhi kebijakan, termasuk saat Sidang Kabinet. Kini Katadata.id telah meraih kepercayaan dari berbagai pihak dalam mengolah data dan merumuskan cara yang tepat untuk menyampaikannya kepada publik.

“Media punya keahlian dalam merubah bentuk data-data yang membosankan itu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca,” jelas Adek.

Penyebaran hoax yang kini semakin masif dan terlihat sulit dikendalikan, dapat dilawan dengan produk jurnalistik data. Karena itu, Manan mengatakan pelatihan yang diberikan dapat menjadi pemicu media online, termasuk media online lokal menghasilkan karya bermutu.

“Semakin mahir dalam kerja-kerja memanfaatkan data yang berjibun di internet,” ujar Manan.

Adapun media-media yang ikut dalam pelatihan itu adalah KabarPapua.co, Tabloidjubi.com, KabarMedan.com, PurwokertoKita.com, Jawa Pos Radar Bojonegoro, BaleBengong.com, KabarMakassar.com, Zonautara.com, Kieraha.com, JurnalisTravel.co.id, PadangKita.com, Riauonline.co.id, TeraKota.id, Jemberita.com, DeGorontalo.co, Kediripedia.com, Pontianak Post, serta editor dari media di Jakarta di antaranya Kompas.com, Suara.com dan Beritagar.id.

 

 

Editor: Ronny A. Buol

Comments

comments

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Pemimpin Media Online Dalami Jurnalisme Data di Jakarta | KIERAHA.com

Komentar

FOKUS ISU

Momentum Ini Ternyata Lebih Berharga Ketimbang Hari Valentine

Published

on

zonautara.com
Buku Sulawesi Utara Bergolak, Peristiwa Patriotik Merah-Putih 14 Februari 1946 karya Ben Wowor.(Foto: zonautara.com/Rahadih Gedoan)

MANADO, ZONAUTARA.com – Masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut) serta Indonesia pada umumnya, kini hampir melupakan peristiwa perjuangan penting yang terjadi pada 14 Februari 1946. Mengenangnya padahal merupakan hal yang wajib.

Mirisnya, masyarakat kini lebih memilih sibuk rayakan Hari Valentine yang tidak ada hubungan sejarah dan budaya dengan daerah kita ketimbang harus mengenang perisitwa patriotik yang terjadi pada 14 Februari 1946.

Menurut  buku Sulawesi Utara Bergolak, Peristiwa Patriotik Merah-Putih 14 Februari 1946 yang ditulis Ben Wowor, dulu, para pemuda yang tergabung dalam pasukan KNIL Kompi VII di bawah pimpinan Ch Taulu bersama dengan rakyat melakukan perebutan kekuasaan di Manado, Tomohon, dan Minahasa pada tanggal 14 Februari 1946.

Sekitar 600 orang pasukan dan pejabat Belanda berhasil ditawan. Pada tanggal 16 Februari 1946, dikeluarkan selebaran yang menyatakan bahwa kekuasaan di seluruh Manado telah berada di tangan bangsa Indonesia.

Untuk memperkuat kedudukan Republik Indonesia, para pemimpin dan pemuda menyusun pasukan keamanan dengan nama Pasukan Pemuda Indonesia yang dipimpin oleh Mayor Wuisan. Bendera Merah Putih dikibarkan di seluruh pelosok Sulut hampir selama satu bulan, yaitu sejak tanggal 14 Februari 1946.

Di pihak lain, Dr Sam Ratulangi diangkat sebagai Gubemur Sulawesi dan mempunyai tugas untuk memperjuangkan keamanan dan kedaulatan rakyat Sulawesi. Ia memerintahkan pembentukan Badan Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat. Dr Sam Ratulangi membuat petisi yang ditandatangani oleh 540 pemuka masyarakat Sulawesi.

Dalam petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat dipisahkan dari Republik Indonesia. Dengan adanya petisi tersebut, pada tahun 1946 Sam Ratulangi ditangkap dan dibuang ke Serui (Papua).

Peristiwa ini hingga saat ini dikenang dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai Peristiwa Merah Putih di Manado.

Andai saja kita buta sejarah, kita akan kehilangan pijakan identitas diri. Merayakan 14 Februari sebagai momentum Peristiwa Merah Putih barangkali lebih tepat karena memiliki hubungan dengan latar belakang sejarah dan budaya bangsa ketimbang memperingati momentum dipancungnya pendeta dari Roma baik hati yang bernama Valentine, pada 14 Februari 278.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading

FOKUS ISU

Bahaya Racun Boraks Mengintai Masyarakat Sulut

Published

on

zonautara.com
Pedagang mie basah di Pasar Bersehati, Manado.(Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Bahaya racun Boraks kini mengintai masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut). Pasalnya, pangan olahan, yang dijual untuk masyarakat umum, terutama mie, terbongkar mengandung zat kimia tersebut. Sekalipun zat yang dikenal pula dengan nama sodium borate, sodium tetraborate atau disodium tetraborate ini banyak dipakai sebagai bahan pengawet, namun oleh oknum-oknum tertentu digunakan untuk olahan mie.

Berdasarkan hasil pengujian Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Manado pada Januari 2018 melalui mobil keliling, dari 20 sampel pedagang yang menjual Mie Basah, Mie Telur, dan Bakso Sapi di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Karombasan, semuanya dinyatakan positif mengandung Boraks.

Mirisnya lagi, pangan yang dijual pedagang di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Karombasan tersebut banyak dibeli masyarakat untuk dikonsumsi di rumah, dikonsumsi saat ada hajatan atau acara tertentu, dan digunakan sebagai bahan untuk makanan Midal. Oleh karena hal tersebut, diperkirakan ratusan orang yang teracuni Boraks setiap harinya.

Fakta yang turut ditemukan sesuai penelusuran tim redaksi Zona Utara, ada pedagang yang mengetahui jualannya mengandung Boraks, namun tak surut menjualnya ke masyarakat umum.

zonautara.com

Biasanya pangan yang mengandung Boraks memiliki tekstur yang lebih kenyal dan lebih keras serta dapat bertahan sampai lima hari. Dampak setelah mengonsumsi makanan yang mengandung Boraks tersebut adalah mengalami demam, mual, muntah, sakit perut, diare, sakit kepala, mata merah, merusak kesuburan, merusak janin, kulit memerah, tidak sadarkan diri, kesulitan bernapas, gagal ginjal akut, hingga kematian.

Mengantisipasi dampak yang lebih luas, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah (Disperindagda) Provinsi Sulut pada 6 Februari 2018 mengeluarkan warning kepada masyarakat agar untuk sementara tidak membeli bahkan menjual pangan yang menggunakan boraks. Peringatan Disperindagda Provinsi Sulut tersebut sebagai respons terhadap surat Kepala BBPOM Manado yang dikeluarkan tanggal 31 Januari 2018 terkait Temuan Pangan Mengandung Bahan Bahaya Di Kota Manado.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: