Connect with us

SANGIHE

Oknum Legislator Sangihe Bantah Aniaya Warga

Published

on

zonautara.com
Ilustrasi penganiayaan. (Foto: zonautara.com)

SANGIHE, ZONAUTARA.comOknum legislator berinisial AT, yang diduga melakukan tindak penganiayaan terhadap Sinta Kainage (23), membantah soal tudingan yang diarahkan kepadanya tersebut.

Ketika ditemui oleh wartawan, Senin (16/4/2018), AT mengatakan, dia memang datang di rumah tempat kejadian di Towo, Minggu (15/4/2018).

“Saya datang tadi malam dengan baik-baik. Dan saya membantah jika melakukan penganiayaan tersebut. Sebenarnya di sini, sayalah yang menjadi korban. Saya tidak pernah memukulnya, kalaupun telepon genggamnya ada pada saya, itu diberikan oleh Opo Lao pada waktu itu,” katanya.

Menurut dia, kedatangannya itu untuk mengonfirmasi soal sms yang masuk kepadanya terkait hubungan Sinta Kainage dengan Jery, seorang pria yang tinggal di rumah AT.

“Kedatangan saya ingin menyakan perihal sms dari seorang anak yang adalah anak dari Opo Lao yang ada di tempat itu, yang mana mengatakan kalau Sinta ada hubungan dengan Jery. Jery itu sudah tunangan dengan adik saya dan dia sudah tinggal 10 tahun di rumah saya, tapi ada yang mempolitisir menuduh saya,” ujarnya.

AT juga menambahkan, sesudah kejadian itu tersebut, dirinya sudah menunggu di Polres Sangihe untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi terkait dengan sms yang masuk kepadanya.

“Saya tadi malam sudah di Polres, yaitu di dalam mobil saya yang diparkir di halaman Polres hendak menunggu pihak Sinta datang. Namun demikian mereka tidak datang. Nanti ketika saya pulang baru mereka datang melaporkan saya,” katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sangihe Iptu Denny Tampenawas, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya laporan tersebut.

“Benar ada laporan dari pelapor Sinta Kainage terkait penganiayaan yang diduga dilakukan oleh inisial AT. Namun, AT ini terindikasi mungkin sebagai anggota dewan di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan sekarang masih dilakukan pendalaman terkait motif dugaan penganiayaan itu,” ujar Tampenawas.

 

Peliput : Rendy Saselah

Editor : Christo Senduk

Comments

comments

Click to comment

Komentar

SANGIHE

Mĕdaseng, Program Rutinitas Kerja Leluhur Sangihe

Published

on

zonautara.com
Bupati dan Wabup, menyerahkan bantun di acara Mĕdaseng di Nusa Tabukan. (Foto: zonautara.com/Rendy Saselah)

SANGIHE, ZONAUTARA.com – Mĕdaseng, sebuah tradisi kultural masyarakat Sangihe dalam menjalankan tugas pekerjaannya sehari-hari. Tradisi ini secara turun-temurun tetap diwariskan secara alamiah, terutama bagi masyarakat di jajaran pulau pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Mĕdaseng, artinya menetap tinggal sementara untuk menyelesaikan pekerjaan di tempat tersebut. Hal inilah kemudian diserap menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Jabes Ezar Gaghana dan Helmud Hontong (Gahagho).

Gerakan budaya masih relevan hingga hari ini dikorelasikan dengan kebijakan politik. Terkait dengan hal itu, Budayawan Sangihe, Micojan Bawuna menerangkan, inti dari Mĕdaseng adalah semangat dan tekad kerja para leluhur yang wajib diserap oleh generasi hari ini.

“Melalui hal itu kita akan menemukan semangat perjuangan leluhur kita, yaitu tekad menyelesaikan pekerjaan dengan mendekatkan diri pada objek pekerjaan dengan rajin dan tekun,” kata dia, Jumat (20/4/2018).

Jika dikorelasikan dengan gerakan Mĕdaseng yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Sangihe, maka hal tersebut bertujuan bagaimana pemerintah memosisikan dirinya, agar kian dicintai  masyarakat dengan menggunakan pendekatan budaya.

“Tentunya program yang hari ini sementara bergulir, merupakan tekad pemerintah daerah untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, terkait dengan integrasi sosial, mengasa kepekaan, moment opname memahami dan mengerti apa yang dirasa dan dibutuhkan secara nyata,” ungkap Bawuna.

Dia menambahkan, orientasi Mĕdaseng pada hakikatnya meliputi darat dan laut. Semua memiliki korelasi yang kuat dalam kondisi kekinian. Ia juga menyarankan agar cakupannya tetaplah bervariatif.

“Jika terus dijalankan, hal itu merupakan nasar pelayanan terbaik bagi masyarakat. Suatu waktu, sekiranya boleh mencoba dengan cara hadir di tengah masyarakat, dan bersama masyarakat di suatu kawasan perkebunan dan pertanian dalam integrasi kerja guna memompa semangat kerja masyarakat. Misalnya mengolah lahan tidur untuk tujuan produktif,” ucap Bawuna.

Sementara itu, dalam setiap kesempatan Bupati Jabes Ezar Gaghana, selalu menekankan bahwa program Mĕdaseng merupakan upaya membangun komitmen, kebersamaan, dan pendekatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat, yang bertujuan menjawab persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat secara nyata.

 

Penulis : Rendy Saselah

Editor: Eva Aruperes

Comments

comments

Continue Reading

SANGIHE

Bupati Gaghana, Komitmen Bangun Asrama Mahasiswa di Tondano

Published

on

Bupati Jabes Ezar Gaghana. (Foto: zonautara.com/Rendy Saselah)

SANGIHE, ZONAUTARA.com – Hampir setahun Gaghana-Hontong (Gahagho) memimpin Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, janji-janji kampanye mulai diwujudkan mereka.

Saat melakukan program Mĕdaseng di Kampung Nanedakele, Kecamatan Nusa Tabukan, Bupati Jabes Ezar Gaghana menyampaikan komitmennya dalam menunjang fasilitas pendidikan anak daerah yang mengenyam pendidikan tinggi di luar Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Menurut dia, komitmen untuk menunjang pendidikan generasi muda akan tetap dilaksanakan. Pemerintah sudah menyiapkan anggaran untuk pembangunan asrama mahasiswa di Tondano.

“Kami sudah menyiapkan dana Rp 2,8 miliar. Untuk pembebasan lahan kurang lebih dianggarkan Rp 400 juta rupiah,” kata Gaghana.

Lanjut dia, bangunan asrama yang akan didirikan itu cukup representatif dalam menunjang aktivitas mahasiswa, yang juga akan dilengkapi dengan sarana tempat olah raga.

“Luas lahan pembangunan asrama sekitar 3.600 meter persegi, yang di dalamnya juga akan dilengkapi dengan sarana olahraga seperti, lapangan futsal, lapangan voli dan lain sebagainya. Jadi kira-kira bangunan asrama itu akan bisa menampung sekitar 400 mahasiswa, dengan total anggaran hingga selesai sekitar Rp 20 miliar,” jelas Gaghana.

 

Peliput: Rendy Saselah

Editor: Eva Aruperes

Comments

comments

Continue Reading
%d bloggers like this: