zonautara.com
Aksi solidaritas berbagai elemen masyarakat menolak terorisme yang digelar di Mapolresta Manado. (Foto: zonautara.com/Tonny Rarung)

PRESS REVIEW

JAD Menebar Teror Demi Balas Dendam

Ratusan orang berkumpul di dua titik di Kota Manado, halaman Gereja GMIM Sentrum dan di ruas jalan Piere Tendean depan Mako Polresta Manado. Mereka datang dari berbagai elemen masyarakat pada Senin (14/5/2018) malam itu.

Ajakan untuk berkumpul telah beredar sehari sebelumnya melalui postingan di media sosial yang dibagikan. Tujuannya satu, melafalkan doa bagi korban bom bunuh diri di Surabaya yang terjadi sehari sebelumnya. Penyalaan lilin kemudian menjadi simbol aksi damai menolak gerakan terorisme di tanah air, sembari menyampaikan simpati yang mendalam bagi para korban.

Surabaya diguncang sejumlah aksi teroris. Tuduhan dialamatkan ke Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Tudingan itu semakin sahih karena beberapa hari sebelumnya kerusuhan terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua yang dipicu oleh para napi terorisme yang menuntut pertemuan dengan Aman Abdurahman, sosok pimpinan JAD yang ditangkap polisi.

Jaringan JAD marah lalu menebar teror hingga ke Riau. Publik pun terhenyak. Teror tak pernah habis, intelijen dituding kebobolan dan sejumlah pihak menyalahkan lambatnya pembahasan rancangan undang-undang terorisme di DPRD. Presiden Jokowi pun mengambil sikap, mengancam akan mengeluarkan Perppu jika dewan masih belum bisa menyelesaikan RUU Terorisme itu. Bahkan TNI pun meradang dan kebelet mengaktifkan kembali komando operasi khusus gabungan.

Berikut laporan press review kami tentang aksi teror yang dilakukan JAD sepanjang awal Mei ini.

zonautara.com
Susana di Markas Polrestabes Surabaya pasca pengeboman. (Foto: zonautara.com/Kontributor Surabaya)

Balas Dendam Demi Aman Abdurahman

Rentetan aksi teror telah mengguncang Indonesia pada setengah bulan Mei 2018. Berawal kerusuhan kompleks Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, tepatnya di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Salemba dan teranyar di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Riau.

Berikut ini rentetan peristiwa teror yang memantik rasa keprihatinan berbagai pihak itu:

  • Selasa 8 Mei 2018

Terjadi kerusuhan di dalam Rutan Cabang Salemba di kompleks Mako Brimob, Kelapa Dua Depok. Sejumlah polisi disandera oleh para napi menguasai Rutan.

  • Rabu 9 Mei 2018

Lima petugas kepolisian yang disandera gugur dan satu anggota polisi lainnya masih disandera para napi yang bersenjata. Satu orang napi juga tewas ditembak.

  • Kamis 10 Mei 2018

Dengan dipimpin langsung Wakapolri Komjen Pol Syafruddin, ‘pemberontakan’ para napi berakhir. Para napi teroris langsung dikeluarkan dari Rutan dan dipidahkan ke Lapas Nusakambangan.

  • Jumat 11 Mei 2018

Aksi teror berlanjut, seorang anggota polisi di Mako Brimob ditusuk oleh terduga teroris. Anggota Polisi tersebut gugur karena mengalami luka serius. Begitu juga dengan pelaku yang tewas ditembak karena berusaha melawan petugas.

  • Sabtu 12 Mei 2018

Upaya penyerangan terhadap petugas kepolisian di Mako Brimob berhasil digagalkan, setelah petugas berhasil mengamankan dua perempuan, yakni Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah.

  • Minggu 13 Mei 2018

Terduga teroris yang merupakan satu keluarga menyerang tiga gereja di Surabaya dengan bom bunuh diri, masing-masing Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Jalan Arjuna dan GKI di Jalan Diponegoro, sekitar pukul 07.30 WIB.

Sebanyak enam orang terduga teroris tersebut tewas, masing-masing suami-istri bersama keempat anak mereka.

Tak sampai di situ, bom kembali meledak di rumah susun Wonocolo di Sidoarjo. Teroris yang sudah terdesak diduga menjadi penyebab sehingga mereka meledakkan bom yang telah mereka sediakan.

  • Senin 14 Mei 2018

Terduga teroris yang juga satu keluarga menyerang Mapolrestabes Surabaya sekitar pukul 08.50 WIB. Pelaku menggunakan dua unit motor yang meledakkan diri saat berada di pintu masuk Mapolrestabes. Di lokasi ini, empat terduga teroris tewas dan sejumlah polisi dan warga luka-luka.

Polisi memastikan, pelaku adalah orang yang mengendarai dua sepeda motor.

  • Rabu 16 Mei 2018

Terduga teroris kembali menyerang markas kepolisian. Kali ini, Mapolda Riau yang diserang para terduga teroris dengan menggunakan senjata tajam. Satu petugas kepolisian pun gugur dalam serangan tersebut. Sementara, empat terduga teroris dilumpuhkan dan tewas di tempat.

Dua orang Jurnalis pun turut menjadi korban karena ditabrak oleh kendaraan yang dikendarai oleh para pelaku saat meringsek masuk ke halaman Mapolda Riau.

Diduga Dipicu Oleh Sosok Aman Abdurahman

Rentetan aksi teror tersebut diduga dipicu oleh sosok Aman Abdurahman, terdakwa kasus bom Thamrin ini disebut merupakan orang yang sangat berpengaruh di jaringan yang berafiliasi dengan ISIS, yakni Jamaah Ansharud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Pengamat terorisme, Harist Abu Ulya mengatakan, sosok Aman Abdurahman masih menjadi panutan bagi semua sel-sel teroris di Indonesia. Baik itu jaringan yang sama-sama berafiliasi terhadap ISIS.

“Itu adalah di antaranya, sesuatu yang menambah mereka marah karena pimpinan mereka (Aman Abdurahman) dianggap dizalimi,” kata Harist.

(Baca Juga: Terkait Serangan Teror, Siapa Aman Abdurahman dan Apa Itu JAD?)

Saat kerusuhan di Mao Brimob, Aman Abdurahman pun digunakan oleh polisi untuk menjadi ‘negosiator’ dengan para napi teroris yang ‘mengamuk’. Alhasil, sebanyak 155 narapidana menyerahkan diri setelah mereka bertemu dengan pendiri dan pimpinan JAD tersebut.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan, motif pelaku pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo adalah balas dendam atas penangkapan pimpinan-pimpinan JAD. Selain itu, aksi yang dilakukan teroris ini juga tidak terlepas dari perintah organisasi yang berafiliasi dengan JAD, yaitu Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Motifnya karena adanya instruksi dari ISIS, sentral. Mereka terdesak dan mereka memerintahkan sel-sel di seluruh dunia untuk bergerak. Di tingkat lokal itu pembalasan dari kelompok JAD karena pimpinannya Aman Abdurrahman ditangkap,” ujar Tito dalam keterangan pers di Surabaya pada Senin (14/5/2018).

Hingga saat ini, kepolisian pun terus melacak dan menangkap ‘sel-sel tidur’ jaringan teroris yang kini telah bangun dan merencanakan aksi teror di Indonesia. [CHRISTO SENDUK]

zonautara.com
Suasana di lokasi teror bom Gereja di Surabaya. (Foto: zonautara.com/Kontributor Surabaya)

JAD dan Tudingan Teror Gaya Baru

Jamaah Ansarut Daulah (JAD) dituding sebagai dalang dari dari semua aksi teror yang baru saja terjadi. Bom yang meledak di 3 gereja di Surabaya, menyusul di Sidoarjo, lalu Mapolrestabes Surabaya dan terakhir penyerangan brutal di Markas Polresta Riau diyakini adalah ulah kelompok JAD. Pun, runutan kejadian hura hara di Mako Brimob pada 8 Mei sebelumnya.

JAD menyerang karena marah dan ingin balas dendam. Sejumlah petinggi mereka ditangkap aparat Kepolisian Republik Indonesia (Polri), termasuk Aman Abdurahman pada Agustus 2017 lalu.

Aksi mereka memaksa Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengeluarkan intruksi siaga satu bagi seluruh jajarannya. Pasalnya pola serangan JAD terbilang sporadis, tanpa rantai komando.

Dan yang menyimpang dari pola serangan terorisme di Indonesia selama ini, setidaknya dari pola Jamaah Islamiyah (JI), JAD melibatkan perempuan dan anak-anak, salah satu yang diharamkan dalam JI. Pelibatan perempuan dan anak-anak ini menuai kecaman dari berbagai pihak, selain kutukan terhadap aksi teror yang mereka lakukan.

“Aksi teror tidak dibenarkan, lantaran bertentangan dengan ajaran agama dan Pancasila. Apalagi, pelaku bom bunuh diri adalah satu keluarga dan melibatkan anak-anak,” kecam Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi.

Senada dengan itu, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo menegaskan pelibatan satu keluarga itu mengerikan dan menggoyak kemanusiaan.

Pengamat terorisme, jebolan JI yang telah bertobat, Nassir Abbas mengungkapkan bahwa saat dirinya masih bergabung dengan JI, bunuh diri itu dianggap dosa besar. Namun menurutnya, kini doktrin yang ada telah berubah.

“Belakangan doktrin bunuh diri menyebar, bahkan sampai tega mengajak anak-anaknya ikut bunuh diri. (Menurut keyakinan mereka) masak bapak sendiri masuk surga, anak-anak tidak diajak masuk surga?,” ucap Nassir.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto juga menyoroti pola baru tersebut. KPAI mengecam dilibatkannya anak-anak dalam aksi terorisme.

“Kami mengecam keras penyerangan bom yang tidak berperikemanusiaan. Apalagi anak dilibatkan,” kata Susanto.

Berafiliasi dengan ISIS

Keberadaan JAD setidaknya telah disampaikan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2015. Dalam sebuah pernyataan, Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali menyebut sejumlah pendukung ISIS telah mendeklarasikan kelompok baru di tanah air. Di tahun yang sama, pada bulan November kelompok itu menggelar acara di Kota Batu, Jawa Timur.

Namun sesudah itu, informasi tentang keberadaan JAD dan aktifitas mereka yang mengancam keamanan negara tidak terdengar bahkan nyaris nihil.

JAD kemudian nanti diperbincangkan pada 2016, saat Aman Abdurahman mengeluarkan fatwa menyerukan jihad di dalam negeri bagi mereka yang tidak sanggup pergi ke Suriah yang sedang bergejolak. Beberapa waktu setelah seruan itu, pada Januari 2016, pusat perbelanjaan Sarinah di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat diserang. Delapan orang tewas termasuk empat pelaku dan 24 lainnya luka-luka.

Teror JAD terus berlangsung dengan melempar bom molotov di Gereja Oikumene di Samarainda, Kalimantan Timur pada November 2016. Lalu pada Februari 2017, bom panci meledak di sebuah lapangan di Cicendo, Bandung, Jawa Barat.

Sejak itu sepanjang 2017, Detasemen Khusus Anti Teror (Densus) 88 Polri menangkapi sejumlah anggota JAD di berbagai lokasi, termasuk menangkap Muhammad Ibnur Dar yang menyerang Mapolres Banyumas, Jawa Tengah. Serangan terakhir sebelum peristiwa Mako Brimob yang melibatkan JAD adalah bom bunuh diri di Terminal Bus Kampung Melayu pada MEi 2017.

Dari rentetan teror yang dilakukan oleh JAD, serangan mereka tak terpola pada satu pakem. Mereka menyerang secara sporadis.

“JAD tidak bisa dilihat sebelah mata lagi. Jaringan mereka sangat luas sudah sampai ke Filipina untuk pembelian senjata. Anggotanya mencapai ribuan, tersebar di 18 provinsi,” kata pengamat terorisme Al Chaidar.

Namun The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), lembaga pengamat terorisme Asia Tenggara menganggap, JAD bukanlah organisasi yang rapi dengan kekuatan militer dan sumber donasi dari dalam maupun luar negeri, seperti dikesankan pemberitaan media massa.

Melalui laporan bertajuk Disunity Among Indonesian ISIS Supporters and the Risk of More Violence IPAC menyebutkan, tidak ada bukti struktur organisasi dalam JAD.

“Nama itu hanyalah istilah generik untuk menyebut para pendukung ISIS di Indonesia,” ungkap laporan tersebut.

Hingga kini JAD belum diyakini sebagai organisasi kelompok radikal yang rapih. Nanang Ainur Rafiq, pengurus Jemaah Ansharut Tauhid (JAT), organisasi yang dibentuk oleh Abu bakar Ba’asyir sesudah tenggelamnya JI mengakui, pernah ada pertemuan simpatisan ISIS dari berbagai kota di Indonesia beberapa tahun lalu. Namun, seingatnya, tak ada upaya deklarasi sebuah organisasi teror baru.

“Istilah Anshar Daulah itukan dari bahasa Arab, artinya pendukung daulah (negara Islam), tapi tidak ada pembentukan tanzhim terstruktur bernama Jamaah Anshar Daulah. Itu adalah istilah media dan aparat,” ujar Nanang.

Eksistensi JAD yang bisa dibilang menggantikan keberadaan JI mau tidak mau harus diakui telah membawa babak baru dalam isu terorisme di Indonesia. Tanpa harus ada kamp paramiliter, kini para militan bergerak secara mandiri dan sporadis tanpa ada sentralisasi rantai komando.

Para militan dalam jaringan JAD, tidak lagi butuh senapan serbu dan bom berdaya ledak tinggi gaya JI. Mereka cukup mengandalkan senjata tajam, senapan rakitan dan bom yang dirakit secara amatir serta berdaya ledak rendah. Mereka mempelajari cara merakit bom cukup dari internet dengan bahan-bahan yang sederhana.

Kemudahan berbagai aplikasi pengiriman pesan juga membantu jaringan anggota teror ini berkomunikasi. Beberapa kali aparat harus memblokir dan membekukan berbagai group chating dan account media sosial yang digunakan kelompok radikal untuk berkomunikasi dan merekrut anggotanya.

Adakah hubungan antara JAD dan JAT?

Meski mempunyai pemahaman teologi yang sama, namun JAD tidak bisa disamakan dengan JAT pimpinan Abubakar Ba’asyir. Banyak perbedaan antara keduanya, mulai dari perekrutan, aksi, hingga hulu ledak bom yang dirakit, JAD tidak sama dengan JI.

Peneliti terorisme Al Chaidar menjelaskan teror di Surabaya masih jauh dibanding dengan serangan Bom Bali I dan II jika dilihat dari daya ledak yang digunakan pelaku. Bom Bali I, misalnya, dengan berat 6 ton berhasil menewaskan 202 orang, sementara di Suarabaya hanya menggunakan bom pipa.

“Itu jauh sekali “levelnya dengan bom JI,” kata Chaidar kepada Tirto.id, Selasa 15 Mei 2018.

JAD juga cenderung menyerang secara acak dan dalam skala kecil. Dampaknya kurang terukur dan cenderung menyasar publikasi ketimbang menyasar besaran korban.

Dari sisi kaderisasi, JI sangat ketat menyeleksi calon anggotanya. Saat pimpinan salah satu sel JI tertangkap, maka sel organisasi langsung dihapus. Dan anggota JI yang tertangkap polisi, sangat sulit untuk kembali bergabung dengan JI.

“JI tidak bisa sembarang masuk. Ini kalau JAD langsung main rekrut saja. Siapa saja bisa jadi JAD asal mau jihad,” ujar Chaidar.

Senada dengan Al Chaidar, Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menyebut keanggotaan JAD lebih longgar sehingga bisa keluar masuk dengan relatif mudah. Bahkan banyak di antara mereka yang bertindak sendiri atau dalam kelompok-kelompok kecil.

“Mereka (JI) memang rapi, kalau JAD sangat cair, siapa saja bisa masuk,” tuturnya.

Perbedaan lainnya adalah target penyerangan. Bila JI menyasar orang asing, JAD lebih menyasar sipil dan polisi. Selain itu JI tidak melibatkan perempuan dalam aksinya. Maka ketika teror di Surabaya ternyata melibatkan perempuan dan anak-anak, mudah ditengarai digerakkan kelompok yang terafiliasi dengan ISIS.

Dalam teologi yang dibangun ISIS, posisi laki-laki dan perempuan itu sama derajatnya. Maka halal bagi mereka untuk melibatkan semua pihak.

Mantan anggota Polri yang pernah menjadi narapidana teroris, Sofyan Tsauri, menilai JAD jelas kalah besar dengan JI. Namun bukan berarti dampak serangan JAD bisa ditangani dengan enteng. Meski serangan-serangannya kecil, JAD memperpanjang umur keresahan.

“Jangan salah, kecil-kecil cabe rawit,” kata mantan anggota JI kelompok Dulmatin itu.

Dalam aksinya, JAD tidak ragu untuk melakukan serangan fisik. Serangan bom, menurut Sofyan, hanyalah alternatif karena serangan fisik sudah mudah ditangkal oleh polisi.

“Enggak ada bom, dia pakai pistol, pistol nggak ada dia pakai racun, racun nggak ada dia pakai garpu, garpu nggak bisa dia pakai belati. Ini makanya apa aja bisa, pakai panah, bakar-bakaran juga mereka bisa, apa saja mereka gunakan,” jelasnya. [RIZALY POSUMAH]

Sepak Terjang JAD
16 Maret 2014
20 November 2015
14 Januari 2016
13 November 2016
10 Januari 2017
27 Februari 2017
23 Maret 2017
7 April 2017
8 April 2017
11 April 2017
24 Mei 2017
8 Mei 2018
13 Mei 2018
14 Mei 2018
16 Mei 2018

16 Maret 2014

Ribuan orang menyatakan dukungan terhadap ISIS di Bundaran HI. Pendeklarasian tersebut diprakarsai oleh ustadz Syamsudin Uba setelah mendapat izin dari Polres Jakarta Pusat. Aksi tersebut diikuti pula oleh Bachrumsyah – yang tewas di Suriah – dan M. Fachry, pendiri situs radikal pro-ISIS al-mustaqbal.net yang kini tengah menjalani hukuman di penjara.

16 Maret 2014

20 November 2015

Para pendukung ISIS mengadakan pertemuan di sebuah hotel di Batu. Ada dua versi soal isi pertemuan. Pertama pendeklarasian organisasi (JAD). Kedua, pertemuan tersebut hanyalah untuk menyamakan persepsi soal kekhalifahan Islam.

14 Januari 2016

Beberapa hari setelah Aman Abdurahman mengeluarkan fatwa menyerukan jihad di dalam negeri bagi mereka yang tidak sanggup pergi ke Suriah, empat orang yang diidentifikasi sebagai Ahmad Muhazan, Dian Juni Kurniadi, Afif alias Sunakim, dan Muhamad Ali, menyerang pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Delapan orang tewas (termasuk keempat pelaku) dan 24 lainnya luka-luka. Keempat pelaku diketahui mengunjungi Aman di Nusakambangan antar Mei dan Oktober 2015 untuk meminta nasehat.

13 November 2016

Seorang yang diduga anggota JAD di Samarinda, Kalimantan Timur melempar bom molotov ke Gereja Oikumene. Pelaku yang bernama Juhanda alias Jo, adalah mantan napi terorisme bom buku yang mengguncang Jakarta pada 2011.

10 Januari 2017

Kementerian Luar Negeri AS (US Department of State) menyatakan JAD sebagai Specially Designated Global Terrorist (SDGT).

27 Februari 2017

Sebuah bom panci berdaya ledak rendah meledak di sebuah lapangan di Cicendo, Bandung. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden tersebut. Namun pelaku, Yayat Cahdiyat, tewas dalam baku tembak dengan aparat kepolisian saat bersembunyi di kantor kelurahan.

23 Maret 2017

Densus 88 menangkap tujuh orang diduga anggota JAD dan menembak mati satu orang – yang teridentifikasi sebagai Nanang Kosim – di wilayah berbeda di Banten dan Jawa Barat. Menurut pihak kepolisian, Nanang diketahui ikut dalam pertemuan di Batu dan berperan sebagai pemasok senjata dari Filipina Selatan, termasuk senjata yang digunakan oleh para pelaku serangan bom Thamrin.

7 April 2017

Tiga terduga teroris Zainal Anshori, Hendis Efendi, dan Hasan ditangkap di dua lokasi terpisah di Lamongan, Jawa Timur. Zainal memiliki koneksi dengan Nanang dan juga berperan sebagai pemasok senjata.

8 April 2017

Densus 88 menembak mati enam terduga anggota JAD di Kecamatan Jenu, Tuban, Jawa Timur. Sebelumnya, keenam terduga teroris tersebut berupaya menembak sebuah pos polisi sebagai aksi balas dendam atas penangkapan rekan mereka di Lamongan.

11 April 2017

Polisi menangkap Muhammad Ibnu Dar yang menyerang Mapolres Banyumas, Jawa Tengah. Pelaku yang menggunakan sepeda motor tiba-tiba masuk ke halaman Mapolres dan menabrakkan sepeda motornya ke arah personel kepolisian sebelum menyerang menggunakan pisau. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Polisi menemukan rangkaian bahan peledak saat menggeledah rumah Ibnu dan menduga serangan tersebut merupakan buntut penangkapan anggota JAD sebelumnya.

24 Mei 2017

Dua serangan diduga bom bunuh diri terjadi di Terminal Bus Kampung Melayu. Serangan pertama terjadi di sebuah toilet dan tidak menimbulkan korban. Tak berselang lama serangan kedua terjadi kala para personil polisi mendatangi lokasi untuk mengamankan. Serangan tersebut terjadi setelah serangan bom di konser Ariana Grande di Manchester, Inggris dan Marawi, Mindanao, Filipina. Kedua pelaku diduga anggota JAD. Lima orang tewas yakni polisi dan pelaku, sementara 11 orang lainnya luka-luka.

8 Mei 2018

Kerusuhan di Rutan Cabang Salemba di Kelapa Dua. Melibatkan ratusan tahanan dan Napi Terorisme. Sebanyak 5 Orang anggota Polri gugur dalam kerusuhan tersebut, mereka semua dibunuh dengan senjata tajam.

13 Mei 2018

Sekitar pukul 07.30 WIB, tiga gereja di Surabaya diguncang serangan bom bunuh diri. Ketiga gereja tersebut adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, GKI Diponegoro dan GPPS di Jalan Arjuno. Puluhan orang meninggal dunia dalam peristiwa ini, puluhan lainnya luka-luka. Malamnya, serangan berlanjut di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur.

14 Mei 2018

Para pelaku teror yang mengendarai sepeda motor, meledakkan diri di depan pintu gerbang Markas Poltabes Surabaya.

16 Mei 2018

Sekitar pukul 09.00 WIB, serangan kembali terjadi di Markas Polda Riau. Dua orang polisi meninggal, satu dibacok pelaku teror, satunya lagi meninggal ditabrak. Para pelaku yang terdiri dari empat orang berhasil ditumpas, tiga orang ditembak mati, satu orang dilumpuhkan.

zonautara.com
Susana di Markas Polrestabes Surabaya pasca pengeboman. (Foto: zonautara.com/Kontributor Surabaya)

Intelejen Bobol, Terbitlah Komando Operasi Khusus

Hanya butuh dua hari, teroris berhasil merenggut nyawa 28 warga sipil dan 57 orang menderita luka-luka di Kota Surabaya. Bahkan penyerangan pun berlanjut di Mapolda Riau, satu anggota Polri ikut gugur.

Keamanan Indonesia kini diuji. Berbagai tudingan menyebut, kejadian ini dapat terjadi karena fungsi intelejen negara lemah dan tak berdaya. Dikutip dari sebuah tulisan Sidabutar Hebron pada seword.com, Negara Indonesia sebenarnya memiliki banyak institusi intelijen.

Menurutnya, serangkaian kejahatan yang muncul saat ini disebabkan karena kurangnya koordinasi antar sesama lembaga intelijen.

“Yang paling saya takutkan adalah jangan sampai lembaga intelijen berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi, Jelas bila hal ini sampai terjadi maka bukan tidak mungkin besok atau lusa makin banyak bom,” jelas Sidabutar dalam tulisannya.

Sementara itu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpendapat bahwa Pemerintah perlu memperkuat jajaran TNI, Polri, dan lembaga intelijen. Menurutnya persoalan terorisme saat ini tidak dapat diselesaikan secara parsial atau hanya oleh salah satu unsur pemerintah saja, dibutuhkan kontribusi dari seluruh pemangku kepentingan dalam menanggulangi terorisme.

“Kita butuh Polri yang sangat kuat dan sangat profesional. Kita juga butuh TNI yang sangat kuat dan profesional. Kita butuh intelijen yang sangat hebat,” ujar pensiunan Bintang tiga TNI ini, dikutip dari kompas.com

Sementara itu menurut pandangan Mantan Kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS) Soleman B Ponto, bahwa untuk memberangus teroris, harus dioptimalisasi operasi militer intelijen.

“Cuma satu jalannya, laksanakan operasi intelijen terpadu. Mulai BAIS, BIN, TNI AD, AL, AU, terus polisi laksanakan itu. Kalau ini dijalankan pasti tertidur semua itu (teroris),” jelas Soleman dikutip dari metrotvnews.com

Ia meyakini, langkah optimalisasi intelijen militer bakal berhasil memberangus terorisme hingga ke akar. Pasalnya, TNI memegang peranan hingga ke Babinsa sehingga gerak terorisme bakal mudah diketahui.

“Kalau tidak dimanfaatkan, tidur semua mereka. Sekarang saatnya dimanfaatkan kembali, desk counter terrorist dihidupkan kembali,” tegasnya.

Soleman menyebut UU terorisme dan UU TNI memang penting, tapi itu hanya sebagai landasan. Penindakannya ialah melalui optimalisasi operasi intelejen.

“Kalau hanya bertumpu pada UU ini dalam pemberantasan teroris tidak mungkin. Tanpa ada operasi intelijen, nothing,” kata Soleman.

Polri Punya Densus 88

Kesatuan dari pasukan pengamanan wilayah Negara Indonesia kini dibutuhkan untuk menjaga gempuran dari serangan terorisme.
Tim-Tim Khusus dari Garda depan pengamanan, yaitu TNI-Polri perlu diturunkan untuk mendeteksi dan menggagalkan lebih awal serangan yang dilakukan teroris. Polri sendiri memiliki Detasemen Khusus (Densus) 88 yang bertugas untuk penanggulangan terorisme.

Pasukan khusus ini dilatih untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana.

Terkait soal kejadian bom bunuh diri di tiga gereja dan Polrestabes Surabaya, Densus 88 sendiri terlihat lambat mengantisipasi kejadian itu, hingga bom pun bisa meledak.

Namun, dikutip dari tempo.com, sebelum peristiwa bom terjadi, Densus 88 telah berhasil lebih dahulu menangkap dan menembak mati teroris di tiga tempat berbeda. Empat terduga teroris tertembak mati di Terminal Pasirhayam, Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (13/5) dini hari.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan empat teroris ini diduga akan menyerang kantor polisi di wilayah Jakarta, Bandung dan Mako Brimob Kelapa Dua. Mereka telah menyiapkan diri dengan senjata api dan busur panah yang dipasangkan alat peledak.

Dalam kejadian penyerangan di Mapolda Riau, Densus 88 juga berhasil meringkus delapan orang di Dumai, Riau. Dalam penangkapan tersebut, sejumlah barang bukti disita, seperti 1 pucuk senapan angin, 2 bilah pisau, 1 busur panah, 1 gulungan tembaga, dan beberapa buku bertema jihad dan ISIS beserta dokumen data diri.

Penggalangan serangan teroris lainnya juga berhasil dilumpuhkan Densus 88 pasca kejadian bom, diantaranya menangkap dua terduga teroris di Kota Palembang. Seorang pria terduga teroris warga Perum Pucang Indah Lestari IV, Gang Srikaya A17, Kecamatan Purworejo Kota Pasuruan, dan satu pria, di wilayah Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang juga ditangkap.

Hingga saat ini, Densus 88 sendiri masih memburu para teroris di seluruh wilayah tanah air, dengan membongkar rumah-rumah kediamaan yang diduga menjadi base mereka.

KOOPSSUSGAB Bantu Polri

Paskah serangan-serangan beruntun itu, TNI kini ingin menghidupkan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab). Ini merupakan gabungan personel TNI dari seluruh satuan elite yang ada di TNI, baik matra darat, laut, maupun udara. Satuan elite yang dimaksud yakni Satuan Penanggulangan Teror 181, Koprs Pasukan Khas, Bataliyon Intai Amfibi dan Detasemen Jala Mengkara.

Menurut Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto seperti yang dikutip dari mediaindonesia.com, tidak ada yang salah dengan langkah Pemerintah ingin mengaktifkan lagi Koopssusgab TNI yang akan menopang Polri dalam memberantas aksi terorisme. Dalam revisi UU Antiterorisme yang akan segera disahkan pun, menurutnya, sudah termuat soal kerja sama TNI dan Polri.

“Artinya, di UU baru nantinya juga sudah punya semangat sama dengan Pemerintah yang ingin melibatkan kedua kesatuan itu. Artinya keterlibatan TNI-Polri dalam menangani terorisme sangat dianjurkan dan dimungkinkan,”jelas Hermanto.

Lanjutnya kedua kesatuan itu sama-sama memiliki kemampuan dalam menangani kejahatan, sehingga apabila digabungkan untuk bekerja sama, maka akan memiliki manfaat tinggi bagi negara.

Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) juga meyakini kehadiran Koopsusgab dapat menambah kekuatan Polri dalam memberantas teroris di Indonesia.

“Kami percaya Polri dan TNI akan selalu melindungi masyarakat. Kehadiran Koopssusgab tentu akan membuat kekuatan luar biasa,” kata Direktur Eksekutif Lemkapi Edi Hasibuan dikutip dari detik.com

Dia berkeyakinan, dengan adanya Koopsusgab ini, pemberantasan terorisme akan semakin mudah. Apalagi, polisi punya keterbatasan wewenang dalam memberantas tindak pidana terorisme yang diatur dalam UU No 15 Tahun 2003,

“Kita yakin dengan sinergitas TNI-Polri ini teroris akan bisa dilumpuhkan. Polisi sulit bergerak karena tidak bisa menindak kelompok yang mengarah ke radikalisme. Misalnya latihan militer dan memiliki kaitan dengan ormas terlarang tidak bisa dilakukan penegakan hukum. Polisi cuma hanya bisa menonton dan mantau, karena tidak ada bukti untuk ditangkap,” jelasnya.

Dikutip dari pikiranrakyat.com, Koopssusgab pertama kali dibentuk pada tahun 2015, ketika Moeldoko masih menjadi Panglima TNI. Namun pasukan elit TNI yang bertujuan kontra terorisme dibekukan pada masa Gatot Nurmantyo menjadi Panglima.

Bagaimana tugas dari Koopsusgab?

Moeldoko yang saat ini telah menjadi Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) menjelaskan, secara umum, tugas Koopsusgab TNI adalah membantu Polri melaksanakan tugas pemberantasan terorisme.

Namun, lantaran revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme belum disahkan oleh DPR, perbantuan Koopsusgab terhadap Polri saat ini belum maksimal.

“Intinya, sekarang ini perannya tetap membantu kepolisian. Nanti kalau revisi undang- undangnya sudah turun, kami akan sesuaikan,” ujar Moeldoko dikutip dari laman kompas.com

Menurutnya setelah revisi UU Antiterorisme disahkan, perbantuan Koopsusgab terhadap Polri dipastikan dapat berupa pengerahan intelijen, maupun pengerahan personel TNI ke titik operasi.

“Teknis pekerjaannya nanti tergantung, apakah pengerahan kekuatan intelijen atau bisa kekuatan regulernya. Tergantung kebutuhan di lapangan saja. Mereka setiap saat bisa digerakkan ke penjuru manapun dalam tempo yang secepat-cepatnya,” ujarnya.

Moeldoko menambahkan, dalam pelaksanaan tugasnya, Koppsusgab akan dipimpin oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang berkoordinasi dengan Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian. [RHENDU UMAR]

zonautara.com
Polisi mengevakuasi barang yang dicurigai berisi bom yang ditinggalkan orang tak dikenal di sekitar Patung Wolter Mongisidi, Bahu, Manado, Rabu (16/5/2018) malam. (Foto: zonautara.com/Bios Lariwu)

Presiden Marah, Polri Dan TNI Bereaksi

Serangan terror yang dilancarkan kelompok JAD memaksa Presiden Joko Widodo bereaksi. Presiden menyebut tindakan teroris tersebut sebagai aksi biadab.

“Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan,” kata Jokowi dalam jumpa pers di RS Bhayangkara, Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (13/5/2018), dikutip dari detik.com.

Berikut pernyataan lengkap Presiden Jokowi:

Hari ini telah terjadi aksi teror di 3 lokasi di Surabaya. Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan yang menimbulkan korban anggota masyarakat, anggota kepolisian dan juga anak-anak yang tidak berdosa.

Termasuk pelaku yang menggunakan dua anak berumur kurang lebih 10 tahun yang digunakan juga untuk pelaku bom bunuh diri.

Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. Semua ajaran agama menolak terorisme apa pun alasannya.

Tak ada kata yang dapat menggambarkan betapa dalam rasa duka cita kita semuanya atas jatuhnya korban akibat serangan bom bunuh diri di Surabaya ini.

Pagi tadi saya sudah memerintahkan kepada Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan saya perintahkan untuk membongkar jaringan itu sampai akar-akarnya.

Seluruh aparat tak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini dan mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, memerangi radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan.

Saya juga mengimbau seluruh rakyat di seluruh pelosok tanah air agar semua tetap tenang, menjaga persatuan dan waspada. Hanya dengan upaya bersama seluruh bangsa, terorisme dapat kita berantas. Kita harus bersatu melawan terorisme.

Terakhir marilah kita berdoa kepada para korban yang meninggal dunia semoga mereka mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.

Korban-korban yang luka-luka mari kita doakan agar diberi kesembuhan dan negara, pemerintah menjamin semua biaya pengobatan dan perawatan para korban.

Selain Jokowi, aksi terorisme ini mendapat respon bahkan kecaman dari sejumlah pihak. Salah satunya reaksi kecaman dan kutukan datang dari Ketua Bidang Organisasi DPP Hanura Benny Rhamdani. Menurutnya, terorisme adalah kejahatan luar biasa atau ekstra ordinary crime.

“Peristriwa Surabaya maupun Sidoarjo harus dijadikan alarm, peringatan, tanda awas semua pihak bahwa teroris benar-benar nyata, benar ada, dan tidak jauh dari kita. Bahkan bisa saja dia ada di tengah-tengah lingkungan kita hidup. Jadi tidak ada alasan untuk kita lengah. Termasuk di Sulut. Itu hanya tinggal menunggu momentum dan waktu kapan kejahatan itu mereka lakukan,” ujar Benny.

Anggota Komisi I DPR-RI Roy Suryo ikut berkomentar. Melalui akun twitternya (@KRMTRoySuryo2), menuliskan “saya mendesak para intelijen agar lebih aktif lagi, sehingga kejadian seperti ini bisa dihindari”.

Selain itu, Roy juga menuliskan bahwa intelejen di Indonesia itu mampu, maka seharusnya deteksi dini bisa dilakukan agar tidak semakin banyak korban lagi.

Meskipun sudah mendapat kecaman dimana-mana, namun paginya, Senin (14/5/ 2018) serangan  teror kembali terjadi. Dengan mengendarai sepeda motor, para pelaku meledakkan diri di depan pintu gerbang Markas Poltabes Surabaya.

Aksi teror yang berlangsung selama dua hari di Jawa Timur ini mengakibatkan korban meninggal 28 orang, termasuk masyarakat sipil, pelaku teror dan aparat. Sebanyak 57 orang lainnya alami luka-luka.

Selang kejadian tersebut, pihak Polri menginstruksikan Indonesia siaga satu. Pernyataan Siaga Satu tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto saat memberikan keterangan di Mabes Polri, Jakarta, Senin (14/5).

“Seluruh Indonesia diperintahkan khusus Polri dalam rangka peningkatan pengamanan,” kata Setyo seperti dilansir CNN Indonesia TV.

Siaga Satu yang dimaksud Setyo adalah dengan melakukan peningkatan personel keamanan. Sementara masyarakat ditegaskan Setyo masih bisa beraktivitas seperti biasa.

“(Ini berlaku) tapi untuk giat Polri internal. Untuk masyarakat silahkan beraktivitas kami akan menjaga masyarakat,” jelas Setyo.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menginstruksikan para Kapolda di seluruh Indonesia untuk meningkatkan keamanan dan kewaspadaan.

Meskipun begitu, aksi teror belum juga berhenti, Rabu (16/5/2018) sekitar pukul 9.00 WIB kembali terjadi serangan di Markas Polda Riau. Mengakibatkan dua orang polisi meninggal dibacok pelaku teror. Para pelaku yang terdiri dari empat orang berhasil ditangkap, tiga orang ditembak mati, satu orang dilumpuhkan.

JAD merupakan kelompok teroris di Indonesia yang menjadi dalang dalam sejumlah aksi ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo. Kelompok teroris itu diketahui bersekutu dengan Islamic State in Irak and Syria (ISIS).

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut penyerangan yang dilakukan organisasi teroris JAD ini dipicu penangkapan terhadap beberapa pimpinan JAD, termasuk Aman Abdurahman.

“Selain ditangkap karena pelatiham militer di Aceh, dia (Aman Abdurahman) juga adalah otak bom Thamrin pada 2016 lalu,” jelas Tito, sebagaimana yang diberitakan Kompas.com.

Rekasi juga dating dari TNI, yang mengklaim Presiden Jokowi memberikan restu terhadap pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI untuk memberantas teroris di Indonesia.

“Sudah direstui Presiden dan diresmikan kembali oleh Panglima TNI,” ujar Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di komplek Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Menurut Moeldoko, Koopssusgab saat ini sudah berjalan‎ dan di dalamnya terdiri dari pasukan khusus terbaik dari prajurit TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut.

“‎Mereka setiap saat bisa digerakkan ke penjuru, kemanapun dalam tempo yang secapat-cepatnya, tugasnya seperti apa, akan dikomunikasikan antara Kapolri dan Panglima TNI,” ujar Moeldoko. [TESSA FILIA SENDUK]

zonautara.com
Suasana di lokasi teror bom Gereja di Surabaya. (Foto: zonautara.com/Kontributor Surabaya)

Sapu Bersih Pelaku Teror

Teror bom yang terjadi belakangan ini di beberapa daerah di Indonesia menimbulkan luka yang mendalam. Tidak genap seminggu dari kerusuhan di Rutan Mako Brimob Depok yang menewaskan lima anggota polisi pada Selasa (8/5/2018), bom kembali meledak di tiga Gereja di Surabaya pada Minggu (13/5).

Pada insiden di Rutan Mako Brimob, Depok, 145 narapidana terorisme yang terlibat kerusuhan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Usai insideng Mako Brimob, Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88) bergerak dan pada Sabtu (12/5) dua perempuan, Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah ditangkap polisi karena diduga akan melakukan penusukan terhadap anggota polisi di Mako Brimob.

Keesokan harinya, Minggu (13/5) pukul 07.30 WIB, rakyat Indonesia dikejutkan dengan meledaknya bom di tiga gereja di Surabaya: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Jalan Arjuna, GKI di Jalan Diponegoro.

Polisi kemudian mengindentifikasi para pelaku yang merupakan satu keluarga, enam tewas. Mereka adalah pemimpin Jamaah Ansarut Daulah (JAD) Surabaya, Dita, istri dan keempat anaknya.

Warga yang tewas mencapai puluhan orang dalam tiga kejadian dan puluhan lainnya luka-luka. Tak hanya itu, ledakan susulan terjadi di rumah susun Wonocolo di Sidoarjo, diduga para teroris tak sengaja meledakkan bomnya sendiri.

Anton Febrianto (47) tewas dalam keadaan memegang saklar bom bersama istrinya, Puspita Sari (47) dan anak pertamanya, LAR (17). Tiga anak lainnya, LAR (15), FP (11), GHA (11) luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.

Kapolri Tito Karnavian mengatakan jenis bom yang digunakan dalam serangan di Surabaya ialah bom pipa dengan bahan peledak Triaseton Triperoksida (TATP). Bahan peledak yang sering digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah.

Sementara itu, serangan bom bunuh diri ke Polrestabes Surabaya dilakukan oleh empat orang dengan menggunakan dua sepeda motor.

Total, ada 28 orang tewas dalam bom yang diledakkan tiga keluarga, sebanyak 13 orang adalah pelaku itu sendiri (termasuk 7 anak-anak) dan 12 orang lainnya merupakan warga sipil, 57 korban lainnya luka-luka.

Pada Senin (14/5) polisi menangkap sembilan orang di Surabaya, antara lain di Graha Pena dan di kawasan Jembatan Merah Surabaya.
Empat orang ditembak mati karena, menurut juru bicara Polda Jatim, mereka melakukan perlawanan dan membahayakan petugas.

Rentetan aksi teror ini membuat Polri dituding kebobolan. Namun Polri mengklaim kelompok jaringan ini sudah terdeteksi bergerak setelah kericuhan di Mako Brimob. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal Setyo Wasisto memberi alasan Polri terkendala dengan ketentuan soal Undang-Undang terorisme saat akan mengambil langkah tegas.

“UU (Undang -Undang) kita sifatnya responsif,” ujar Setyo dalam jumpa pers di Markas Besar Polri hari ini pada Minggu (13/5).

Dia berharap, rancangan revisi UU Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme bisa memberikan keleluasaan bagi Polri untuk melakukan tindakan preventif, salah satunya ialah menangkap langsung orang-orang yang berafiliasi dengan kelompok teroris.

Sementara itu, Kompas.com menyebutkan, ada sebanyak 23 terduga teroris ditangkap polisi di sekitar wilayah Jawa Timur sejak meledaknya bom gereja di Surabaya.

Dari 23 orang itu, 4 di antaranya ditembak mati, dan seorang menyerahkan diri. Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin menjelaskan, penangkapan tidak hanya di Surabaya, tetapi meluas hingga ke Malang, Sidoarjo, Pasuruan, dan Probolinggo.

“Sampai hari ini sudah 23 orang ditindak. Sampai saat ini anggota masih bergerak di lapangan,” katanya, Kamis (17/5).

Para terduga pelaku yang ditangkap hidup-hidup berasal dari beragam profesi, seperti pegawai swasta, pelukis, pedagang, pembuat roti, hingga tukang servis jam. [EVA ARUPERES]

zonautara.com
Aksi solidaritas berbagai elemen masyarakat menolak terorisme yang digelar di halaman Gereja Sentrum Manado. (Foto: zonautara.com/Bios Lariwu)

Mengampuni, Tegas dan Waspada

Teror bom yang melanda negeri ini, baik yang baru saja terjadi maupun teror-teror sebelum-sebelumnya telah menjadi luka dan menimbulkan ketakutan bagi masyarakat. Pun dengan warga Sulawesi Utara.

Pernyataan dan penegasan lawan terorisme digaungkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari ramai memposting tagar kamitidakut, torangnyandatakut, prayforsurabaya, prayforindonesia dan lain sebagainya, hingga aksi turun ke jalan berunjuk rasa menolak terorisme dan radikalisme.  Demikian pula dengan aksi damai merangkul seluruh warga Sulut dengan latar belakang agama dan golongan sebagai wujud betapa daerah ini cinta hidup rukun dan damai.

Ketua Umum Pucuk Pimpinan Kerapatan Gereja-gereja Protestan di Minahasa (KGPM) Gbl Fetrisia Alling STh MTh mengatakan tragedi bom di tiga gereja di Surabaya, serta rentetan teror lainnya merupakan luka dan kesedihan seluruh bangsa Indonesia.

“Banyak doa terpanjat dari Sulawesi Utara untuk para korban dan keluarga kiranya diberi kekuatan dan penghiburan dari Tuhan,” ucap dia, Kamis (17/5/2018).

Ia pun mengungkapkan kepedihan kala menyaksikan korban akibat bom bunuh diri tersebut.

“Tapi menyaksikan orangtua dan keluarga korban menerima dan merelakan apa yang terjadi terhadap anggota keluarga mereka adalah wujud iman yang patut kita saluti. Pengampunan yang mereka lepaskan adalah wujud iman Kristen,” tambah Alling.

Untuk itu, ia meminta kepada seluruh masyarakat menyerahkan penanganan masalah ini kepada pemerintah dan terus memberi dorongan sehingga bisa melakukan pengusutan dengan cepat dan tuntas.

Ia berharap semua elemen masyarakat menyikapi persoalan bangsa dengan arif dan bijaksana. Bijak memanfaatkan media sosial untuk menebar pesan yang berisi himbauan, menghadirkan ketenangan dan keberanian memerangi terorisme dan radikalisme bersama.

“Ingat, ketakutan dan perpecahan hanya akan memberi energi bagi teroris. Jangan takut dan tetap menjaga kebersamaan dengan hikmat dari Tuhan,” tukas dia.

Tokoh pemuda, Hesky Naray juga menyampaikan pendapatnya. Ia berharap pemerintah segera melaksanakan sweeping Kartu Tanda Pengenal (KTP) sebagai upaya mendeteksi oknum-oknum yang akan menyebar teror.

“Jangan dibiarkan. Harus segera dilakukan sweeping. Jangan sampai terlambat dan akhirnya kita menyesal jika terjadi aksi terorisme di daerah kita,” tandas dia.

Wakil Ketua Komisi I bidang Pemerintahan dan Hukum DOPRD Sulut, Kristovorus Decky Palinggi juga mengingatkan warga Sulawesi Utara untuk waspada.

Menurut dia, masyarakat harus ikut menjaga keamanan dan stabilitas daerah dengan hidup rukun serta toleran terhadap perbedaan suku, agama, ras maupun golongan.

Namun ia meminta agar masyarakat tetap waspada dengan aktifitas-aktifitas terorisme yang mungkin tanpa disadari berada di lingkungan tempat tinggal warga.

“Harus waspada. Segera laporkan kepada pihak berwajib jika ada kegiatan-kegiatan mencurigakan, atau kepada pemerintah setempat,” tegas politisi Partai Golkar itu.

Sedangkan Ketua Umum Jaringan Bela Negara Sulut, Rocky Wowor menegaskan beberapa hal yang dilakukan dipihaknya terkait teror bom.

“Kami akan mendesak DPR RI segera mengesahkan UU Anti Terorisme. UU ini diperlukan sebagai kekuatan hukum bagi Pemerintah dan Presiden melawan terorisme dan membasminya sampai ke akar-akarnya,” kata Wowor.

Menurut politisi PDIP itu, revisi Undang-Undang Antiterorisme nomor 15 Tahun 2003 yang tak kunjung selesai dibahas oleh DPR RI ini menjadi penyebab lemahnya penanganan terorisme.

“Kami mendukung presiden mengeluarkan Perppu Anti Terorisme jika revisi UU yang telah diajukan pemerintah kepada DPR sejak bulan Februari 2016 yang lalu tak kunjung keluar dan dituntaskan,” tegas Sekretaris Komisi II DPRD Sulut itu.

Jaringan Bela Negara Sulut, menurut dia memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan dan langkah tegas dalam menumpas terorisme.

“Polri tidak perlu berkompromi dalam melakukan tindakan-tindakan di lapangan untuk membereskan aksi terorisme ini,” tukas dia.

Ditambahkan Wowor, khusus untuk Sulut, pihaknya akan segera mengusulkan Bela Negara masuk dalam kurikulum di tingkatan SMA/SMK sederajatnya.

“Juni dijadwalkan akan segera dimasukan ke Diknas untuk dilanjutkan ke sekolah. Pemahaman tentang upaya pembelaan negara kepada setiap warga negara, sangat penting untuk terus dilakukan agar keahlian dan kewaspadaannya meningkat melalui pendidikan kewarganegaraan dan pengabdian sesuai dengan profesi,” kunci Wowor. [YSL GUNDE]

zonautara.com

Koordinator Liputan: Ronny A. Buol
Editor
: Rizaly Posuah; Ronny
Penulis
:Christo Senduk; Evangeline Aruperes; Tessa Filia Senduk
GYL Gunde; Rhendy Umar; Rizaly Posumah
Fotografer:Tonny Rarung; Bios Lariwu; Andrew (Surabaya)

 

Mei 2018