Foto: Ronny Adolof Buol

Pemerintah Kota Tomohon mengklaim mengalami surplus bunga hingga 36 ribu tangkai. Di sisi lain ratusan petani bunga juga gagal panen. Sementara setiap tahunnya, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, bunga dari luar daerah terus membanjiri kota Tomohon.

Tomohon identik dengan bunga, bahkan kota berhawa sejuk ini disebut sebagai Kota Bunga. Itulah sebabnya Pemkot menggelar pelaksaanaan Festival Bunga sejak 2008, yang kemudian berubah nama menjadi Tomohon International Flower Festival (TIFF).

Kini pelaksanaan TIFF 2017 adalah yang ketujuh kalinya, dengan target ambisius dari Pemkot Tomohon untuk mendatangkan turis asing sebanyak 6 ribu orang dan 125 wisatawan domestik.

Selasa, 8 Agustus 2017 Parade Kenderaan Hias Bunga akan dihelat. Ratusan ribu kuntum bunga akan dijejali sebagai dekoratif pawai yang diminati masyarakat itu.

Tapi apakah benar, bunga-bunga itu memang datang dari petani Tomohon. Dan apakah pelaksanaan TIFF membawa dampak bagi kesejahteraan petani Tomohon serta masyarakatnya?

Zonautara.com mengagas sebuah collaborative reporting untuk mencari tahu hal ini. Ajakan untuk membentuk tim kami sebarkan ke berbagai Jurnalis di Sulawesi Utara. Tiga Jurnalis mengajukan diri untuk bergabung bersama Zonautara.com membentuk satu tim untuk turun meliput.

Agar hasilnya independen, Zonautara.com membiayai secara mandiri seluruh operasional peliputan yang dilakukan oleh Tim, termasuk honor peliput. Kedepan kami akan terus mendorong praktek collaborative reporting seperti ini agar kepentingan publik bisa terpublikasi secara luas.

Sambil menyaksikan Parade Kenderaan Hias Bunga, mari simak hasil liputan mereka.

Butuh 4 jam untuk pawai kendaraan hias.

(Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman)

TIFF 2017: Dari Pasha Ungu, Hingga Rekor MURI

EUFORIA Tomohon International Flower Festival (TIFF) merebak ditengah udara dingin di kota kaki Gunung Lokon sejak awal Agustus tahun ini. Deretan iven akan menghadirkan artis nasional, lomba-lomba kesenian hingga pemecahan rekor MURI.

“Wawali (wakil wali kota) Palu sudah mengabarkan akan hadir dan akan membawakan empat lagu,” seru Ketua Panitia TIFF 2017 Syerly Adelyn Sompotan yang juga Wawali Tomohon pada wartawan di aula Show Window Kakaskasen, Jumat  5 Agustus. 

Pejabat yang dimaksud Syerly tak lain Sigit Purnomo Said alias Pasha, vokalis band Ungu yang menang Pilkada Kota Palu Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. “Tapi jangan panggil dia Pasha ya, harus disapa pak wakil walikota,” seloroh perempuan jelita itu sambil senyum-senyum.

Pasha akan berbagi kemeriahan di podium hiburan yang berada di halaman Rindam Kakaskasen. Di situ juga tampil artis Novita Dewi, jebolan X-Factor Indonesia. Selain penampilan artis nasional dan lokal, berbagai kegiatan telah disiapkan panitia.

Puncak TIFF dimulai dari pengucapan syukur atau Thanksgiving Kota Tomohon pada Minggu 6 Agustus. Di situ akan diadakan iven bakar nasi jaha yang direncanakan memecahkan rekor MURI. Kegiatan bernuansa rohani-budaya tersebut digelar di sepanjang jalanan utama.

Kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tomohon, Pdt Joy Palilingan, Thanksgiving tidak hanya berhubungan dengan ucapan syukur yang lazim dipanjatkan masyarakat agraris. “Di Tomohon kita mensyukuri segala berkat Tuhan di berbagai bidang, bersyukur untuk berkat bagi diri kita dan seluruh masyarakat,” jelas dia.

Selanjutnya hingga 12 Agustus, kemeriahaan TIFF terkemas dalam pameran, marching band, kontes ratu bunga, lomba paduan suara antar-denominasi gereja, lomba cipta menu. Juga penikmat musik jazz bisa larut di iven Jazz Around The Flower yang akan bergulir di Balihouse Resto pada 9 Agustus.

Namun puncak TIFF 2017 sesungguhnya tersaji pada Selasa 8 Agustus yaitu iven Tournament of Flower (TOF) yang rencananya dimulai dari pukul 10.00 Wita. Sebanyak 31 float atau kendaraan berhias kembang akan berparade melintasi jalan-jalan utama Kota Tomohon. Di sela-sela kendaraan hias tampil marching band dari STPDN Tampusu dan beberapa sekolah lokal.

Arak-arakan dimulai dari Stadion Babe Palar Walian dan finis di halaman Rindam Kakaskasen. Pemkot Tomohon selaku pelaksana menghadirkan peserta dari dalam dan luar negeri, yaitu Jepang, Australia, Sekretariat Asean, Bhutan, Nepal, Kazakhstan, Taiwan, Korea Selatan dan Malaysia. Ketigapuluhsatu kendaraan yang ikut akan menggunakan total 155 ribu kuntum bunga Krisan. Ada 1 float besar yang menghabiskan 10 hingga 12 ribu kuntum. Sedangkan 12 float besar dengan kebutuhan 6 ribu kuntum, ditambah 18 float kecil membutuhkan 4 ribu kuntum.

“Kita butuh 4 jam untuk pawai kendaraan hias ini,” ujar Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman.

Kapolres Tomohon AKBP I Ketut Agus Kusmayadi memiliki 34 tim untuk mengawal TIFF 2017 di kawasan hukumnya. Kesiapan pasukan juga sudah dikoordinasikan dengan Kapolda Sulut dan jajaran.

“Bantuan pasukan juga siap, terutama untuk bersiaga di pengucapan syukur dan pemecahan rekor Muri,” kata Kusmayadi.

Grafis: Rahadih Gedoan

KOTA TOMOHON

Menjadi daerah otonom dari Minahasa pada tahun 2003.

Terdapat 5 Kecamatan: Tomohon Utara, Tomohon Tengah, Tomohon Timur, Tomohon Barat dan Tomohon Selatan.

Luas wilayah sebesar 147,21 KM2, berada di ketinggian 900-1100 mdpl. Jumlah penduduk pada 2015 sebanyak 49.797

Diapit dua gunung berapi: Lokon (1689 m) dan Mahawu (1.311 m)

Mayoritas masyarakat Tomohon adalah suku Tombulu, namun ada juga Toutemboan serta suku-suku lain di Sulut dan dari luar Sulut.
Masyarakat mayoritas memeluk Kristen dan Tomohon menjadi pusat penyebaran Kristen Protestan di Sulut.

Tomohon memiliki banyak sekali destinasi wisata, terutama wisata alam.

Gagal Panen, dan Bunga “Impor” di Tomohon

TOMOHON- Pemkot Tomohon mengklaim mengalami surplus bunga hingga 36 ribu tangkai. Di sisi lain ratusan petani bunga juga gagal panen. Sementara setiap tahunnya, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, bunga dari luar daerah terus membanjiri kota Tomohon. Bagaimana kondisi ini terkait pelaksanaan Tomohon International Festival Flowers (TIFF)? Berikut ulasannya.

Alex Mongdong (48) tampak sibuk membersihkan rerumputan di sekitar tanaman bunga di dalam salah satu screen house yang berada di jalan lingkar timur Kota Tomohon.

“Untuk screen house yang ini, sebenarnya panitia sudah memesan 10 ribu tangkai untuk bunga krisen. Tapi kami hanya mampu menyediakan sekitar 7 ribu tangkai,” ujar Alex, Selasa, (1/8/2017).

Di lokasi itu ada dua screen house, yang pertama penuh dengan ribuan kuntum bunga yang sudah mekar, dan ada juga yang belum.

“Banyak kuntum bunga yang sudah lewat masa panennya saat pelaksanaan TIFF nanti. Lihat saja, sudah banyak yang mulai berguguran,” ujar dia.

Hal lainnya adalah masih ada ribuan kuntum bunga yang belum mekar saat dibutuhkan dalam TIFF, sekalipun sudah dirangsang dengan zat tumbuh.

“Belum jadi ini saat pelaksanaan acara. Sehingga perhitungan kami hanya mampu sekitar tujuh ribu tangkai,” ujar Alex.

Jika screen house yang pertama terbentur di ketepatan masa panen dengan pelaksanaan kegiatan, maka yang kedua ini bisa dikata gagal panen.

“Karena pengaruh hujan, makanya memang gagal panen,” tandas Alex sambil menunjuk.

Fredy Liuw, salah satu petani bunga di Kelurahan Kakaskasen III, Kecamatan Tomohon Utara, berpendapat lain.

“Ya..banyak petani yang gagal panen karena mereka tidak paham bagaimana mengurus bunga. Rata-rata petani itu yang dekat dengan pemerintah, lalu diberikan bantuan untuk menanam bunga. Makanya gagal panen,” ujar Fredy.

Kepala Dinas Pertanian Kota Tomohon, Vonny Pontoh mengungkapkan,  menghadapi iven TIFF, Pemkot Tomohon melibatkan sebanyak 34 kelompok tani untuk memasok bunga.

“Namun sampai evaluasi terakhir pada 28 Juli 2017 lalu, ada 10 kelompok tani yang mengalami kegagalan,” ujar Vonny saat diwawancarai di sela-sela simulai pelaksaan Tournament of Flowers, Selasa, (1/8).

Vonny mengungkapkan,  kegagalan yang dialami kelompok tani lebih disebabkan karena pemeliharaan.

“Mereka mengalami kegagalan karena tidak serius memelihara itu, sehingga mengalami gangguan karat daun dan tidak berproduksi,” ujar Vonny.

Padahal menurut dia, ada pendampingan dari Dinas Pertanian. Malah ketika cuaca tidak mendukung, pihaknya juga memberikan zat perangsang tumbuh untuk membantu mempercepat bunga mekar.

“Tetapi dari awal memang ada beberapa (petani) yang tidak serius mengerjakannya.  Mereka memang punya screen house, tapi mungkin karena ketidakseriusan, mereka itu mengalami kegagalan,” ujar Vonny sambil menambahkan, yang gagal itu tidak dalam skala besar.

Dia mengatakan, kekurangan bunga yang disuplai petani itu ditutupi oleh  beberapa pelaku usaha atau flori yang menanam bunga sendiri dengan jumlah yang cukup besar. “Dan mereka ini yang mem-back up kebutuhan bunga ketika gagal di kelompok tani,” ungkap Vonny.

Dalam paparan saat evaluasi akhir pelaksaan TIFF bersama Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman dan Wakil Wali Kota Tomohon, Syerly A Sompotan, Jumat, (4/8) di Show Windows Tomohon, Vonny membeberkan jumlah kebutuhan bunga untuk pelaksanaan TIFF. Angka ini untuk dipakai oleh kendaraan hias atau float.

“Jumlah kebutuhan bunga, khususnya bunga krisan ini untuk 31 float mencapai 154 ribu tangkai,” ungkap Vonny.

Diapun memberikan rinciannya. Untuk satu float super besar membutuhkan 10 – 12 ribu kuntum bunga. Selanjutnya ada 12 float besar dengan kebutuhan bunga 6 ribu kuntum per float-nya, dan 18 float kecil yang masing-masing membutuhkan 4 ribu kuntum. 

“Jadi kalau ditotal, untuk kendaraan super besar butuh 10 ribu kuntum, kendaraan besar dan kecil masing-masing 72 ribu kuntum. Maka totalnya ada 154 ribu kuntum bunga,” papar Vonny.

Vonny menambahkan, awalnya petani menanam 400 ribu bunga, namun dalam perhitungan terakhir ada sekitar 200 ribu kuntum bunga yang bakal dipanen.

“Sehingga kalau dihitung dengan kebutuhan 154 ribu, ada surplus 36 ribu bunga,” tandas Vonny.

Penjelasan Vonny ini jika dihitung ada selisih 10 ribu kuntum. Karena jika ketersediaan sebanyak 200 ribu, dikurangi kebutuhan sebanyak 154 ribu, maka ada kelebihan atau surplus 46 ribu kuntum bunga. Bukan 36 ribu sebagaimana yang disebutkan Vonny.

 

Bunga “Impor” Tetap Masuk Tomohon

TIFF tahun 2017 ini menjadi yang ke-tujuh kali sejak pertama dilaksanakan di tahun 2007 silam. Setiap tahunnya informasi yang beredar bahwa suplai bunga di Kota Tomohon sebenarnya tidak mencukupi untuk iven TIFF. Bahkan untuk kebutuhan sehari-haripun, disuplai dari Jawa Barat.

Netty Karundeng (55), penjual bunga, mengaku setiap tahun memasok bunga ke iven TIFF. Hanya saja, bunga yang dipasok itu tak hanya milik petani bunga Tomohon, tapi banyak dari luar daerah seperti Cipanas, Surabaya, dan Batu Malang.

“Bahkan kalau bisa dihitung 50 persen dari luar. Kami setiap pasok bunga ke TIFF jadi tahu persis,” kata Netty, saat ditemui di Kios Tirza miliknya, Jumat (4/8).

Kenapa bunga ‘terpaksa’ dibeli dari luar? Menurut dia, ketersedian bunga untuk TIFF memang tidak cukup.

“Misalnya bunga krisan, pengalaman selama ini sering tak cukup untuk acara TIFF. Maka saya pun membeli dari luar daerah yang juga harganya murah. Biasanya kalau di luar daerah jenis krisan Rp5 ribu per tangkai, namun kalau sudah di Tomohon dijual Rp10 ribu, karena ongkos kirim yang mahal,” papar dia.   

Ia menceritakan keluarga besarnya Karundeng Angouw adalah penjual bunga mula-mula di Kota Tomohon.

“Ibu saya Nelly Angouw jual bunga sejak zaman Permesta. Kami sepuluh bersaudara, enam diantaranya meneruskan jejak ibu kami sebagai penjual bunga. Jadi keluarga besar kami memang hidup dari bunga,” kata Netty lagi.

Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman membantah ada bunga yang masuk dari luar daerah untuk pelaksanaan TIFF.

“Untuk bunga ini murni disuplai oleh petani. Tidak ada bunga dari luar, karena waktu lalu ada yang bilang bunga dari luar,” ungkap Wali Kota saat diwawancarai di sela-sela simulasi pelaksanaan Tournament of Flowers (ToF) di Stadion Walian, Selasa, (1/8). 

Meski demikian, Wali Kota mengaku, ada satu daerah yang bakal membawa bunga mereka sendiri.

“Dari Manokwari sudah mengkonfirmasi membawa bunga sendiri, mungkin jenis tertentu dari sana,” ujar Wali Kota.

Kepala Dinas Pertanian Kota Tomohon, Vonny Pontoh mengatakan, MoU dengan dekorator hanya khusus untuk bunga jenis krisan yang ditanam oleh kelompok tani.

“Tetapi ada jenis lain seperti aster, gladiol, anturium dan lain-lain tidak dimasukan. Karena itu bisa langsung dibeli dekorator ke petani lain, atau florist,” ungkap Vonny.

Vonny tidak menampik kemungkinan masuknya bunga dari luar daerah ke kota Tomohon. Selain karena ketersediaan jenis atau warna tertentu, juga dipengaruhi oleh harga.

“Karna kalau petani itu minta harga lebih dari harga pasar, nanti pelaku usaha lain minta dari luar daerah,” papar Vonny.

Dia mengatakan, sehingga memang mereka mengatur harga supaya sama yang berlaku di pasaran.

“Kalau harga petani di atas harga pasar, tentu pengusaha akan ambil dari luar daerah. Akhirnya mubasir nanti, karena bunga itu tidak terpakai,” ujar Vonny.

Dia mengakui, penggunaan bunga dari luar daerah itu mungkin saja lewat florist. Mungkin ada permintaan untuk jenis tertentu yang tidak ada di Tomohon.

“Misalnya ada permintaan bunga warna biru, karena tidak ada di Tomohon, mereka pasok dari luar. Mereka kan bebas memasukan bunga. Tapi memang untuk kelompok tani, tidak ada dari luar daerah,” jelas Vonny.

Kekurangan bunga yang disuplai petani itu ditutupi oleh  beberapa pelaku usaha atau flori yang menanam bunga sendiri dengan jumlah yang cukup besar.

TIFF dari tahun ke tahun

2008

Dimulainya Tomohon Flower Festival 2008 event berskala nasional, dengan iconnya adalah Tournament of Flower (Pawai Kendaraan Hias) yang diikuti oleh 46 Kota se Indonesia.

2010

Tomohon International Flower 2010, event berskala internasional berisi 3 kegiatan yakni Kontes Ratu Bunga, Tomohon International Flower Festival dengan puncak acaranya adalah Tournament of Flower (ToF) yang diikuti oleh 82 peserta diantaranya 5 negara sahabat yakni : Malaysia, Vietnam, Korea Utara, India dan Rusia.

Ini merupakan pelaksanaan Parade Bunga di TIFF terbaik dan teramai.

2012

Tomohon International Flower Festival 2012, event berskala internasional dihadiri oleh Kota-Kota anggota APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) dan Kabupaten-Kabupaten anggota APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia), BUMN, BUMD dan Instansi Swasta. Terdiri dari 4 kegiatan utama yaitu : Tournament of Flower (ToF), Kontes Ratu Bunga, Pameran Pariwisata, Perdagangan, Investasi dan Florikultura dan Festival Seni Budaya Nusantara.

2014

Tomohon International Flower Festival 2014 diikuti oleh peserta baik dari dalam maupun luar negeri yaitu sebanyak 37 peserta dengan enam negara sahabat yakni Amerika Serikat, Rusia,Perancis, Philipina, Thailand dan Hongkong.

2015

Ada Tomohon Linow Lake 10K. Rekor MURI Marching Band

Enam negara asing ikut serta yakni:

Selandia Baru yang menampilkan kendaraan hias  Gunung yang terkenal dinegara tersebut.

Amerika Serikat menampilkan kendaraan hias gunung Rosemount yang berlatar belakang pahatan wajah-wajah mantan presiden Amerika.

India menampilkan Monumen Taj mahal dan patung ganesha.

Polandia menampilkan ikon putri duyung yang terkenal dan kesohor di negara tersebut.

Filipina memperkenalkan bunga khas Filipina yaitu bunga melati yang juga merupakan bunga nasional negara ini.
Perancis yang menampilkan menara Eifel dan gerbang kemenangan dengan Sembilan Puteri.

2016

TIFF 2016 mengambil tema Enchanting Tomohon atau Pesona Tomohon. Tomohon Flower Carnival 2016 yakni sebuah parade fashion. Tema yang diusung adalah We Greet the World With Flower artinya dengan bunga kami menyapa dunia.

Ada sebanyak 250.000 kuntum bunga yang digunakan.

Parade kenderaan hias diikuti 30 kenderaan hias
Peserta asing dari Tiongkok, Jepang, Australia, Singapura dan Sekretariat Bersama ASEAN.

Gallery Foto TIFF dari tahun ke tahun

Siapa Meraup Rupiah di Pelaksanaan TIFF?

Iven Tomohon International Festival Flowers (TIFF) terus bergema. Pemkot Tomohon mengklaim sejumlah negara bakal ikut di festival yang membutuhkan ratusan ribu kuntum bunga. Bagaimana dengan nasib petani, terutama mereka yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari menanam bunga?     

Tak banyak yang berubah dari laki-laki yang satu ini. Perawakannya sedang, bicaranya juga irit. Tapi kalau menyinggung soal bunga, dari hulu hingga hilir, dia akan menjelaskannya secara detail. Tak heran memang, karena sudah puluhan tahun keluarganya bergelut dengan usaha tanam-menanam berbagai jenis bunga.

Fredy Liuw, anak tertua dari tiga bersaudara ini sejak puluhan tahun silam sudah akrab dengan tanaman bunga. Bahkan, sejak masih menempuh ilmu di Jurusan Biologi FMIPA Unima, Fredy  sudah serius membantu ayahnya, Yongki Liuw mengurus lahan bunga di sekitar pemukiman mereka.

“Bertanam bunga ini sudah menjadi bagian dari hidup keluarga kami. Sudah puluhan tahun kami jalani,” ujar Fredy saat ditemui di rumahnya, Kelurahan Kakaskasen III, Kecamatan Tomohon Utara, Selasa (1/8/2017).

Rumah Fredy masih satu pekarangan dengan rumah adiknya, Sonny. Kini mereka berdua sudah tidak lagi tinggal di rumah orang tua mereka yang berjarak sekitar 300 meter.

“Setelah menikah dan mengembangkan usaha sendiri, saya tinggal di rumah sini. Di rumah orang tua tersisa adik yang bungsu, yang menjaga orang tua kami,” ungkap Liuw.

Dari usaha mengembangkan tanaman bunga Fredy bahkan bisa membangun rumah sendiri hingga membeli mobil. Selain bunga, Fredy juga menanam sejumlah jenis sayuran untuk dipasok ke sejumlah supermarket.

“Tapi sejak dulu kami sudah dikenal dengan usaha tanaman bunga, jadi sudah untuk meninggalkan usaha ini,” ujar dia.

Memiliki beberapa hektar lahan di sekitar rumahnya yang ditanami bunga dan sayuran, Fredy mengaku di momen tertentu seperti perayaan Paskah dan Natal, permintaan dua komoditi itu meningkat.

“Bahkan ada permintaan bunga dari Malaysia, lewat kenalan kami. Saat Desember misalnya, kami bisa panen dengan jumlah yang cukup besar yakni  lima ribu kuntum bunga berbagai jenis,” ujar dia.

Kota Tomohon terbentuk di tahun 2002, sebelum dimekarkan menjadi daerah otonom sendiri dari kabupaten Minahasa. Pengembangan tanaman bunga sudah jauh sebelum kota itu berdiri otonom, bahkan kemudian julukan sebagai “Kota Bunga” dilekatkan.

Sejak tahun 2007, Pemkot Tomohon menggagas pelaksanaan turnamen bunga internasional yang kemudian dikenal dengan Tomohon International Festival Flower. Tercatat hingga tahun 2017 ini, sudah tujuh kali iven itu dilaksanakan. Lantas bagaimana dalam pelaksanaan TIFF itu bagi petani bunga?

“TIFF untuk masyarakat petani bunga, tidak ada keuntungan. Mungkin dari segi ekonomi yang lain seperti kuliner. Tapi dari petani, hanya petani tertentu yang dekat dengan pemerintah saja. Bagi petani umumnya, tidak ada guna. Mereka tidak mendukung,”ujar Fredy.

Dia menambahkan, hanya orang-orang dekat pemerintah saja yang mendapatkan bantuan seperti bibit bunga. Sementara petani bunga “tradisional” yang berjumlah sekitar 50 orang dan sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari usaha itu tidak terdampak manfaat TIFF.

“Hanya orang dekat dengan pemerintah yang menerima bantuan. Petani berdasi yang dapat keuntungan saat TIFF. Kalau petani-petani lain menaman kemudian tidak dibeli, lebih baik tanam di saat Natal saja,” tegas dia.

Fredy mengaku tidak terpengaruh dengan adanya iven TIFF. Dia tetap menjalankan usahanya menanam bunga dan sayuran sesuai perhitungan waktu panen, dan kebutuhan pasar.

“Menanam bunga itu musiman, perhitungan harus tepat. Jangan sampai terlalu cepat panen,  atau lewat dari momen seperti Natal.

Apa yang dijalani Alex Mongdong sedikit berbeda dengan Freddy. Selasa, (2/8) pagi itu, Alex terlihat sementara berada di screen house yang terletak di kawasan Jalan Lingkar Timur, Kota Tomohon.  Alex bukan pemilik lahan, tapi hanya sebagai pekerja di screen house itu.

“Ini milik salah satu Pegawai Negeri Sipil. Saya hanya bekerja di sini,” ujar dia sambil memperlihatkan dua screen house yang berjejer di situ. 

Meski tak punya perhitungan yang detail karena hanya menjadi pekerja, Alex mengatakan, keuntungan yang diperoleh saat TIFF bisa sekitar Rp18 juta.

“Karena satu tangkai atau kuntum itu dijual dengan harga tiga ribu lima ratus rupiah. Sementara satu screen house ini bisa menghasilkan enam sampai tujuh ribu kuntum,” ungkap dia.

Sementara Youla Tooy, seorang petani bunga mengaku tak mau menerima bantuan pemerintah. Dia juga tidak mau masuk dalam kelompok tani.

“Saya tidak mau terima bantuan pemerintah,” ujar dia.

Dia mengatakan, pemerintah membentuk kelompok-kelompok tani. Satu kelompok mendapatkan Rp 10 juta, untuk dibagi untuk 10 orang.

“Jadi masing-masing dapat satu juta. Harusnya setelah jadi bibit baru dibagi, bukan dalam bentuk uang,” tutur Youla.

Lain lagi cerita Netty Karundeng, pemilik Kios Tirza di Kelurahan Kakaskasen II, Kecamatan Tomohon Utara. Ditemui Jumat, (4/8) lalu, Netty mengungkapkan setiap gelaran TIFF dirinya bersama suami ikut mendekor float. Dekorator memberinya uang Rp1,5 juta per hari.

“Satu float bisa dikerjakan hingga tiga hari saja. Kalau orang lain mungkin seminggu, tapi saya dan suami hanya tiga hari saja mengerjakan satu float. Tahun lalu kami mendekor float milik Pemkot Bitung, tapi tahun ini belum ada orderan,” ujar Netty.  

Tahun lalu, dia juga bersama suami mendekor bunga di GMIM Sion Paslaten yang dikunjungi mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

“Ya bisa dikatakan kami cukup mahir merangkai bunga,” tutur Netty.

Disinggung apakah TIFF memberi keuntungan bagi petani dan penjual bunga dia mengaku memberi dampak. “Setiap gelaran TIFF kami untung meski sedikit, jika dibandingkan dari penjualan biasanya. Bahkan jualan bunga saat perayaan hari raya seperti Natal dan Tahun Baru yang kadang lebih besar untungnya. Namun tanpa TIFF pun kami bisa hidup dari bunga,” beber wanita empat anak ini.

Untuk tahun 2017 ini, Pemkot Tomohon mengucurkan dana sekitar Rp1,9 miliar rupiah untuk pelaksnaan TIFF. Mulai dari pengadaan bunga, pembuatan kendaraan hias, hingga kebutuhan lainnya.

Untuk pembuatan kendaraan hias, dikucurkan dana antara 50 – 70 juta tiap kendaraannya. Itu sudah termasuk sewa kendaraan, dekorasi, dan pengadaan bunga. Pihak ketiga atau dekorator yang biasa berurusan dengan Pemkot Tomohon terkait hal ini.

Di sisi lain, petani tradisional yang puluhan tahun menggantungkan hidup dari menanam bunga merasa tidak diuntungkan dari iven itu. Bagaimana tanggapan pemerintah Tomohon atas hal ini?

“Kalau dikatakan petani-petani ini ada kedekatan-kedekatan dengan orang pemerintah, itu tidak ada,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Tomohon, Ir Vonny Pontoh kepada wartawan, Selasa (1/8). 

Vonny mengatakan, kelompok tani itu yang sudah lama ada, dan mereka yang sudah bermitra dengan pemerintah untuk mengembangkan krisan.

“Karena kalau dia baru, tidak akan mampu menanam bunga khususnya krisan,” ujar Vonny.

Dia mengakui ada bantuan dari pemerintah untuk kelompok tani, dalam bentuk bibit, pupuk, zat perangsang tumbuh, serta tenaga teknis pendampingan.

“Dari total 100 ribu bibit krisan, itu yang kita bagi ke 34 kelompok. Per kelompok hanya menerima 3 ribu sampai 4 ribu,” ungkap Vonny sambil menambahkan, jika dirupiahkan nilainya sekitar Rp2,1 juta.

Bantuan ke kelompok ternyata juga tidak secara merata diterima oleh tiap anggota. Apalagi untuk penanaman bunga krisan, hanya khusus bagi yang punya screen house.

“Khusus  krisan lulu dan pulo itu bisa ditanam tanpa screen house.  Tetapi dengan kondisi alam kan tidak memungkinkan, hanya yang punya screen house yang kita berikan bantuan. Jadi tidak harus seluruh anggota kelompok terima bantuan,” papar Vonny.

Terkait keuntungan yang bisa didapat kelompok tani, Vonny mengungkapkan, kalau petani bisa menghasilkan 5 ribu kuntum dan nilai jualnya Rp3 ribu berarti mendapat hasil Rp15 juta.

Berbagai varian bunga krisan.

“Mereka sudah tahu keuntungannya. Ada yang tanam dua puluh  ribu, berarti dia akan dapat sekitar enam puluh juta,” tandas Vonny.

Vonny mengatakan, pihaknya sudah menghitung dari sisi analisa usaha tani berapa keuntungan yang didapat petani.

“Keuntungan banyak, sehingga untuk harga petani tidak akan meminta lebih dari itu. tiga ribu lima ratus rupiah, mereka sudah untung cukup banyak,”papar Vonny.

Dari data di Dinas Pertanian Kota Tomohon, terdapat 50 kelompok petani bunga, tiap kelompoknya sebanyak 15 orang. Sehingga total ada 750 orang. Sedangkan luas lahan sebesar 300 hektar per tahun.

Gallery Foto Tomohon

Sedot APBD Miliaran Rupiah, Manfaat TIFF Belum Terukur

PULUHAN kendaraan roda empat berjejer di Stadion Parasamya Walian, Kota Tomohon, Selasa (1/8/2017) lalu. Kemudian satu per satu mayoritas kendaraan milik pemerintah tersebut mulai berjalan keluar lapangan dan mengitari pusat Kota Tomohon.

Petugas Lalu Lintas Polres Tomohon dan Dinas Perhubungan ikut berjaga-jaga di sepanjang jalan-jalan utama. Ada jalan yang diberi tanda larangan yang tak bisa dimasuki kendaraan umum. Dan hampir empat jam lebih Tomohon sedikit macet dengan antrian kendaraan-kendaraan tadi.

Ya, hari itu sedang berlangsung simulasi pertama parade kendaraan sebagai pertanda akan berlangsungnya gelaran Tomohon International Flower Festival (TIFF), 7-12 Agustus 2017. TIFF kali ini memasuki tahun ketujuh pelaksanaannya yang menyedot anggaran miliaran rupiah yang berasal dari APBD Kota Tomohon.

Fantasisnya lagi, Pemkot Tomohon meng-klaim setiap pelaksanaan TIFF selalu dihadiri ribuan turis dari wisatawan mancenegara dan wisatawan nusantara.

Frasiskus Talokon, warga Paslaten Tomohon mengatakan iven yang menyedot miliran rupiah uang rakyat ini terkesan hanya menghampur-hampurkan uang saja. Tidak memberi keuntungan bagi masyarakat secara umum.

“Ini pelaksanaan yang ketujuh tapi apa yang diperoleh masyarakat dari kegiatan tersebut? Tidak ada sama sekali dan hanya menghampur-hamburkan uang rakyat saja,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan, kegiatan TIFF hanya menguntungkan orang-orang di lingkaran pejabat saja.

“Petani bunga, dekorator hingga pembuat float itu disinyalir hanya orang-orang dekat pejabat. Bisa saja tim sukses atau keluarga pejabat,” ujarnya.

Kadis Pariwisata Tomohon, Masna J Pioh, menjelaskan TIFF kali ini adalah pelaksanaan yang ketujuh dan dipersiapkan semakin baik dan semarak.

“Tak hanya parade bunga yang mirip Pasadena di Amerika Serikat, tapi ada juga kegiatan lain yang mewarnai TIFF diantaranya pagelaran seni dan budaya Nusantara, yang dikemas dalam atraksi menarik. Ada juga kegiatan Tourism, Trade, Investment, and Floriculture Expo. Pameran ini akan menyajikan pameran florikultura, landscape taman bunga, dan juga pameran pariwisata, perdagangan serta investasi,” katanya.

Ia mengatakan TIFF 2017 merupakan salah satu kegiatan promosi kreatif Kota Tomohon untuk meningkatkan pergerakan wisatawan. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang promosi bagi masyarakat Kota Tomohon. Target turis yang akan datang saat TIFF nanti sebanyak 6 ribu dari mancanegara, dan 125 ribu wisatawan domestik mulai 6 Agustus sampai 12 Agustus.

“Kami optimis mencapai itu,” ujarnya.

Sayang Masna tak bisa membeber pendapatan dan keuntungan ril yang diperoleh dari pelaksanaan TIFF untuk pemasukan kas daerah dan keuntungan bagi masyarakat Tomohon.

“Belum dihitung pendapatan dan pemasukan ke kas daerah. Dihitung bisa saja tapi selama ini belum pernah dihitung,” ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini sudah ada pembagian 31 float kendaraan hias ke asosiasi dekorator. Asosiasi dekorator ini terdiri dari koordinator dan asisten, dan kru yang bekerja selama sepekan. Kemudian float kendaraan sudah diatur Dinas Pertanian untuk mengambil suplai bunga dari petani lokal yang sebelumnya dilakukan MoU.

“Jadi dekorator sudah tahu kebutuhan bunga kendaraannya yang digunakan. Dan selanjutnya akan berhubungan dengan kelompok tani,” papar Masna.

Dan ada keuntungan yang diraih dari setiap float yang disiapkan peserta dari luar daerah dan luar negeri.

“Harga satu float kecil Rp50 juta, kalau float besar Rp70 juta. Semua itu ditanggung peserta bukan diambil dari kas daerah atau APBD. Sayangnya memang kami membatasi peserta hanya sampai 31 kendaraan saja,” katanya lagi.

Dirinya enggan menjelaskan soal keberadaan event organizer (EO) yang meng-handle semua kegiatan TIFF.

“Setiap iven dari TIFF beda-beda EO. Saya tak bisa memberikan nomor telpon para EO, karena mereka bekerja bagus, jadi tak perlu lagi ditanya-tanya kepada mereka. Kan mereka sudah presentase di depan walikota, wakil walikota dan pejabat terkait lainnya beberapa waktu lalu sehingga mereka telah bekerja secara profesional,” imbuh Masna.

Sementara itu, Walikota Tomohon, Jimmy Feidie Eman menjelaskan, penyelenggaraan TIFF 2017 sengaja mengangkat tema The 7 Wonders of Tomohon untuk menegaskan Tomohon dikaruniai keindahan alam berupa 7 gunung (Gunung; Lokon, Empung, Tatawiran, Mahawu, Tampusu, Masarang, dan Kasuratan), 7 danau (Danau Tampusu, Linow, Pangolombian, Sineleyan, Panunuzaen, Linow Oki, dan Kasewean), dan 7 air terjun (Air Terjun; Tapahan Rinokrok, Tumimperas, Regesan, Ranowawa, TekaanTelu, Kanderawatu, dan Kinapesutan) kesemuanya merupakan keajaiban (wonders).

 “Tomohon memiliki destinasi wisata unggulan, hanya di Kota Tomohon kita bisa melihat di tiga lanskap sekaligus, di puncak Temboan tepatnya. Kita bisa melihat gunung, danau dan laut dari segala arah dan di Indonesia, cuma ada di kota Tomohon,” ujarnya.

Dia mengatakan, jumlah wisman yang datang ke Kota Tomohon pada tahun 2016 mencapai 26.261 serta pergerakan wisnus mencapai 244.563 orang.

“Saat iven TIFF 2017, target wisman yang datang ke Kota Tomohon di bulan Agustus mencapai 6 ribu wisman dan 160 ribu wisnus,” katanya.

Gelaran TIFF 2017 kali ini, akan mengagendakan lima kegiatan utama yakni Tournament of Flowers yang diadakan pada 8 Agustus sebagai parade kendaraan hias yang diikuti oleh perwakilan negara sahabat, pemerintah propinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia, BUMN/BUMD, serta instansi/perusahaan swasta.

Kontes Ratu Bunga Nusantara juga ikut memeriahkan TIFF 2017 sebagai ajang kontes menjaring minat dan bakat para putri terbaik se-Indonesia dalam mengembangkan minat dan bakat masing–masing serta kecintaan akan bunga pada 7-10 Agustus.

Salah satu finalis Ratu Bunga saat TIFF 2015.

 

Pada 8 Agustus, Tomohon Flower Carnival akan menampilkan eksotisme bunga dalam balutan pakaian kreatif yang dirancang oleh para perancang lokal maupun nasional sebagai bagian dari Parade Bunga.

 

TIFF Tanpa Angka Pasti

Logikanya, iven internasional yang sudah tujuh kali bergulir seharusnya bisa mendorong roda perekonomian masyarakat Kota Tomohon. Gelaran festival bunga itu juga sudah sepatutnya memarakkan bisnis-bisnis, menaikkan daya beli masyarakat dan sejatinya membuat petani bunga makin sejahtera. Menyangkut angka-angka keekonomian daerahnya, walikota belum menguasai data solid.

“Bicara TIFF, dampaknya sangat besar,” katanya.

Secara ekonomi kata dia, semua sektor bergerak. Jadi tidak hanya petani bunga saja yang merasakan dampaknya.

“Termasuk sektor jasa, restauran, hotel, transportasi dan penyerapan tenaga kerja di pembuatan float, hari ini kita melihat hotel-hotel full booking. Sudah sangat sulit mencari hotel hari ini. Silakan cek saja,” ujar Jimmy.

Dia memperkirakan keterlibatan ratusan pekerja dalam pembuatan float atau kendaraan yang akan tampil dalam parade. Dari 31 float yang ikut, pembangunannya memakai 500 hingga 600-an tenaga lokal.

“Penciptaan tenaga kerja bisa diukur dari situ. Belum lagi toko-toko, multiplier effect-nya sangat besar dan yang paling terutama mengangkat nama Kota Tomohon ke level mancanegara,” tambah Eman.

TIFF menurut Eman tidak hanya terdampak dari pelaksanaannya, tapi juga bisa menaikkan pendapatan dari berbagai sektor. Namun soal bagaimana pergerakan sektor-sektor dimaksud, Eman tidak menyampaikannya.

Soal kebijakan anggaran, pada pelaksanaan ketujuh dia memastikan sudah semakin baik. Dalam APBD, TIFF dibudjetkan Rp3 miliar, kalau tahun-tahun sebelumnya pernah mencapai Rp 20 M.

“Dari 3 miliar ini akan memberikan dampak yang lebih besar buat Kota Tomohon,” jelas Eman.

Untuk diketahui, pada pelaksanaan sebelumnya pemerintah kota menganggarkan Rp800 juta untuk iven yang sama, di luar bantuan dana dari pemerintah provinsi dan pusat.

Senada disampaikan Frets Keles, Anggota DPRD Tomohon dari Komisi III Bidang Anggaran. Menurutnya, dari tahun ke tahun ada penurunan jumlah anggaran.

“Pertama kali digelar mencapai Rp20 M, tahun 2016 lalu hanya Rp3 M, tahun ini sudah diputuskan melalui APBD 2017 hanya Rp1,9 M. Nilai itu dituangkan melalui tiga SKPD yakni Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Pariwisata,” tukas wakil rakyat dari Partai Golkar ini.  

Ria, Resepsionis Hotel Jhoanie Tomohon mengatakan jelang pelaksanaan TIFF kamar-kamar hotel telah full booking.

“Kita di sini ada 32 kamar dengan harga per kamar sangat variatif mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu. Untuk pesanan kamar tamu yang akan menyaksikan TIFF sudah full sejak pekan lalu. Dan setiap kegiatan TIFF hotel kami selalu penuh,” ujarnya.

TIM KERJA

Produser : Ronny Adolof Buol

 

Peliput:

EVA ARUPERES (Kontributor The Jakarta Post)

YOSEPH IKANUBUN (Kontributor Liputan6.com)

AGUST HARI (Kontributor Viva.co.id)

ADY PUTONG (Kontributor Gatra)

 

Fotografer/Videografer:

Lukman Polimengo; Tonny Rarung

 

Editor: Ronny A. Buol

Web Designer: RAB

 

ZONAUTARA.com