Connect with us

HEADLINE

Anggota Parlemen Eropa: anjing dan kucing bukan makanan

Diskusi dilakukan dengan Pemerintah Sulut untuk edukasi dan sosialisasi.

Bagikan !

Published

on

Anjing di dalam kerangkeng yang dijual di Pasar Tomohon. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com – Perdagangan daging anjing dan kucing di Sulawesi Utara (Sulut) kembali menjadi sorotan jelang akhir tahun, seiring meningkatnya angka penjualan anjing dan kucing di pasar-pasar tradisional.

Sorotan datang dari Sekretaris Anggota Parlemen Eropa, Sandra Gabriel yang baru-baru ini mengunjungi Sulut mewakili Prof. Dr. Klaus Buchner (MEP) dari Komite Perdagangan dan Tilly Metz (MEP) dari Komite Pariwisata (keduanya juga merupakan Vice-President dari intergroup Lingkungan dan Kesejahteraan Hewan dalam Parlemen Eropa), serta Stefan Bernhard Eck (MEP).

Mereka prihatin tentang masalah perdagangan daging anjing dan kucing di Indonesia, khususnya di Sulut.

Selama kunjungannya di Sulut, Sandra terkejut melihat banyaknya jumlah anjing dan kucing yang dijual di pasar tradisional baik di Manado, Tomohon maupun Minahasa. Juga bagaimana cara mereka dibunuh dengan kejam dan dilakukan di ruang publik.

Menurut Sandra, dia dan para Anggota Parlemen Eropa sangat prihatin karena hal ini terjadi di daerah yang merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia.

Sandra mengatakan bahwa Sulut berpotensi menjadi daerah tujuan wisata populer, karena memiliki panorama alam yang indah ditunjang dengan keramahan penduduknya.

Namun akan sangat disayangkan jika hal tersebut rusak karena kegiatan perdagangan daging anjing dan kucing, yang bisa membuat wisatawan asing (khususnya dari Eropa) yang pernah berkunjung menjadi enggan untuk datang kembali, dan bahkan tidak merekomendasikan Sulut sebagai tujuan wisata kepada teman atau kerabatnya.

Pertemuan dengan Pemprov Sulut. (Foto: istimewa)

Selama beberapa hari di Sulut, Sandra menyempatkan diri berkunjung ke Pemerintah Provinsi Sulut (Selasa, 17/12) dan diterima oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Praseno Hadi.

Sandra yang didampingi oleh Sebastian Margenfeld (Förderverein Animal Hope & Wellness e.V.), Davide Acito (Action Project Animal), Anne Parengkuan Supit dan Frank Delano Manus (AFMI-Indonesia) mengatakan senang dengan penerimaan yang baik oleh Pemprov Sulut.

Mereka juga melihat adanya harapan, karena Pemprov Sulut berkomitmen untuk memulai mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat bahwa anjing dan kucing bukanlah termasuk pangan sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Begitu juga dengan bahaya penyakit menular ke manusia (zoonosis) yang bisa ditularkan dari kebiasaan mengonsumsi daging anjing dan kucing.

Sandra mengatakan bahwa tujuannya datang ke Manado, selain melihat langsung kegiatan perdagangan daging anjing dan kucing di beberapa tempat di Sulut, juga berdiskusi dengan Pemerintah untuk mencari solusi terbaik dalam menghentikan kegiatan perdagangan daging anjing ini.

Hasil dari kunjungan ini akan dilaporkan Sandra kepada para Anggota Parlemen Eropa tersebut dan akan dibahas langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk membantu Pemerintah Provinsi Sukut terkait masalah ini.

Pertemuan dengan Pemkot Tomohon. (Foto: istimewa)

Mereka berharap bahwa Pemprov Sulut dapat mencontoh daerah lain yang bisa menerbitkan aturan resmi tentang pelarangan perdagangan daging anjing dan kucing yang mengacu pada Pasal 302 KUHP dan UU No. 18 tahun 2009 juncto UU No. 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa perdagangan daging anjing dan kucing di Sulut terjadi dalam jumlah yang sangat besar, mencapai 8,700 ekor per minggu untuk anjing, begitu pula dengan kucing yang mungkin lebih banyak lagi.

Anjing dan kucing yang dijual di pasar sebagian besar berasal dari luar Sulut dengan asal-usul dan kondisi kesehatan yang tidak jelas.

Hal ini tentu berisiko sangat besar terhadap kesehatan masyarakat di Sulut baik yang mengonsumsi anjing dan kucing, maupun di lingkungan sekitar tempat hewan-hewan tersebut ditampung, dijual, bahkan pada jalur transportasi yang dilewati oleh hewan-hewan tersebut dari lokasi asalnya.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HEADLINE

Mengapa kasus baru positif corona di Sulut melonjak tinggi?

Masih ada 1433 sampel swab test yang belum keluar hasilnya.

Bagikan !

Published

on

Petugas dari Dinkes Prov. Sulut bersiap mengirim sampel covid-19 untuk diperiksa di laboratorium. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

MANADO, ZONAUTARA.COM – Pada Rabu (8/7/2020) kemarin, Satgas Covid-19 Sulawesi Utara melaporkan kasus baru positif terkonfirmasi virus corona yang sangat tinggi.

Angka kasus baru positif ini bahkan menjadi rekor tertinggi kasus harian yang pernah diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Provinsi Sulut.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, ada 89 kasus baru yang diumumkan pada Rabu kemarin.

Penambahan 89 kasus baru ini, membuat masyarakat Sulut terkejut. Pasalnya dalam beberapa hari terakhir, angka penambahan kasus harian cenderung menurun. Misalnya pada tanggal 3 Juli hanya 19 kasus baru, tanggal 4 Juli ada 13 kasus baru, bahkan pada tanggal 6 Juli hanya ada 10 kasus baru, yang diikuti dengan angka orang sembuh yang jauh lebih tinggi.

Menanggapi tingginya angka kasus baru tersebut, Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut, Steaven Dandel memberi penjelasan melalui rilis tertulis yang diterima oleh Zonautara.com.

Menurut Dandel, sepanjang tujuh hari terakhir hasil swab dari laboratorium PCR di luar Provinsi Sulut sudah keluar. Sebagaimana diketahui kebijakan pengiriman sampel swab ke laboratorium di luar Sulut, diambil untuk mengatasi gap antara masifnya jumlah sampel yang dikumpulkan oleh jejaring surveilans dengan kemampuan laboratorium yang ada di Sulut.

“Jejaring surveilans rata-rata mengambil swab 400 hingga 600 sampe per hari, semetara kemampuan dua laboratoriumPCR di Sulut masih terbatas memeriksa antara 200 hingga 300 sampel per hari,” jelas Dandel.

Dalam waktu dekat menurut Dandel, kapasitas pemeriksaan sampel swab di sulut akan ditingkatkan menjadi 1000 sampel per hari.

Laporan Satgas Covid-19 Sulut menyebutkan, sejak pertengahan Juni hingga 7 Juli 2020, sebanyak 3.755 sampel telah dikirim ke laboratorium di luar daerah.

“Laboratorium yang dimaksud adalah Laboratorium BTKL PP Makasar, Laboratorium BBLK Jakarta, Laboratorium LBM Eijkman Jakarat dan Laboratorium Bapelitbangkes Kemenkes RI di Jakarta,” rinci Dandel.

Rincian Satgas Covid-19 Sulut, ada 2322 sampel swab yang sudah keluar hasilnya dimana 1923 hasilnya negatif dan sebanyak 393 hasilnya positif.

“Terdapat dua sampel yang inkonclusive dan empat sampel invalid. Masih ada 1433 sampel yang ditunggu hasilnya,” jelas Dandel.

Melihat data-data yang disodorkan Satgas Covid-19 Sulut, bisa diprediksi bahwa dalam beberapa hari kedepan, kasus baru positif virus corona masih akan terus bertambah.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com