zonautara.com
Leidiana Maili, siswa kelas 10 jurusan teknik komputer sedang berinteraksi di ruang kelas SMK Kristen Getsemani Manado. (Foto: zonautara.com/Gita Waloni)

Merawat keberagaman di sekolah Kristen

Eksistensi siswa beragama Islam di tengah mayoritas siswa Kristen

Banyak orang menyebut Manado sebagai laboratorium kerukunan. Kota ini mampu memelihara kehidupan yang menyejukan bagi warganya.

Harmonisasi di sini adalah harga mati. Kendati beberapa kali sempat diguncang isu intoleransi, namun toh ruh “torang samua basudara” mampu merekat sendi silang pendapat.

Beberapa kali Manado sebagai ibu kota Sulawesi Utara diganjar penghargaan kota paling toleran. Penghargaan itu pun bukan hanya milik Manado, tetapi juga representatif keberagaman di Sulut yang terpelihara.

Dari sisi keyakinan pemeluknya, Kristen adalah mayoritas. Sebanyak 61,28% penduduk Manado pada 2015 memeluk agama Kristen. Protestan terbesar dengan 54,35% dan Katolik sebanyak 6,92%.

Islam adalah agama terbesar kedua dengan 37,82 persen. Sisanya adalah Hindu, Budha dan Khonghucu.

Walau Kristen menjadi agama utama di Manado, namun praktik kehidupan beragama di Kota ini tergolong longgar dan tidak kaku.

Di sini agama bersifat kultural dan tidak formalistik. Sejarah panjang membuat itu menjadi cair. Sebabnya adalah kawin-mawin orang Manado dengan yang berbeda agama.

 

Jamak anggota rumah tangga di Manado dijumpai dalam berbeda kepercayaan. Jadinya, toleransi menjadi santapan setiap saat.

Bagi orang Manado agama adalah sama. Intinya soal kasih sayang dan berbuat kebaikan. Terutama kepada sesama. Siapa lagi kalau bukan kerabat atau tetangga.

zonautara.com
Leidiana Maili, siswa Muslim di SMK Kristen Getsemani Manado. (Foto: zonautara.com/Gita Waloni)

Menepis ekslusifitas

Soal hidup dalam keberagaman itu juga bisa dijumpai di dunia pendidikan Manado. Sebagai daerah dengan mayoritas Kristen, banyak yayasan Kristen mendirikan institusi pendidikan.

Walau berlabel Kristen, namun persekolahan yang dikelola yayasan Kristen di Manado menegaskan terbuka untuk siswa dari semua golongan.

“Sekolah ini tidak ekslusif, terbuka bagi siapa saja yang mau mendaftar. Kami tak memilih golongan agama tertentu saja,” jelas Assisten Direktur Yayasan Eben Haezar, Agus Kakambohe.

Yayasan ini mengelola persekolahan  mulai dari taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

Kualitas akademik menjadi alasan siswa beragama lain memilih sekolah di SMA Eben Haezar. Walaupun menurut Agus, saat mendaftar orang tua siswa sudah disodorkan tata terbit yang harus dipatuhi oleh anaknya ketika bersekolah di situ.

“Ya karena ini kan sekolah Kristen, tentu identitas Kristen yang kami tonjolkan,” kata Agus.

Namun demikian, menurutnya itu tidak menganggu keberadaan siswa Muslim di Eben Haezar. Demikian pula pengakuan pengelola sekolah Kristen lainnya.

Di SMA Katolik Rex Mundi, Ryan Ikhsan yang duduk di kelas 12 menceritakan bahwa perlakuan teman-teman siswa lainnya sangat baik.

“Mereka semua baik, tidak membedakan soal agama. Kami sudah persis saudara sendiri. Kami sesama siswa Muslim tidak bikin kelompok, karena semua merasa sama,” kata Ikhsan.

Iksan memang datang dari keluarga yang menghormati keberagaman. Kakaknya Muslim sama seperti dirinya, sementara adiknya beragama Katolik, karena ibunya memeluk Katolik, sementara ayah mereka seorang Muslim.

Walau dididik di lingkungan Katolik sejak dari TK, namun Ikhsan mengaku tetap memegang keyakinannya sebagai seorang Muslim. Dia belajar agama di rumah bersama ayahnya.

Soal pelajaran agama itu, Guru Agama Katolik di SMA Katolik Rex Mundi, Frans Komendong menjelaskan bahwa memang sekolah mereka belum menyediakan guru khusus mata pelajaran agama Islam.

“Isi mata pelajaran Katolik yang diajarkan di kelas adalah nilai-nilai universal. Semisal soal bagaimana itu kebajikan,” jelas Frans.

Di Rex Mundi menurutnya, siswa beragama Islam diberi ijin dan keleluasaan jika akan menunaikan kegiatan agama mereka.

“Jadi kalau mereka mau shalat silahkan, mereka sampaikan saja, sekolah akan ijinkan. Cuma saja kami belum menyediakan fasilitasnya,” kata Frans.

Tidak tersedianya fasilitas bagi siswa beragama Islam di Rex Mundi, disebabkan jumlah siswa Muslim yang tidak lebih dari 10 orang.

Namun walaupun sedikit, menurut Frans, siswa Katolik tidak pernah memandang siswa Muslim sebagai minoritas.

zonautara.com

Wakil kepala SMK Kristen Getsemani Manado, Wens Tampanguma. (Foto: zonautara.com/Gita Waloni)

 

“Semua hidup harmonis dan saling menghargai. Buktinya, sejak dulu selalu ada saja siswa dari agama Islam bersekolah di sini,” tambah Frans.

Frans menjelaskan sikap toleransi yang tercipta itu juga dikarenakan, para guru membuka ruang dialog bagi siswa yang berbeda agama.

“Dialog itu memperkaya pengetahuan mereka tentang perbedaan. Mereka jadi tahu bahwa tidak ada agama yang mengajarkan hal yang negatif,” kata Frans.

Soal tidak membedakan golongan dan penganut keyakinan, juga tercemin dari tidak dicantumkannya soal agama di absensi siswa.

Kepala SMK Kristen Getsemani, Freddy Wurangian bahkan menepis jika sekolah yang dikelola oleh Gereja GMIM Getsemani Sario itu adalah sekolah berbasis agama.

“Ini sekolah kejuruan umum. Tidak berbasis agama. Jadi siswa dengan latar belakang agama apapun bisa masuk di sini. Asal dia setuju dengan aturan  sekolah,” jelas Freddy.

Sama halnya dengan di Rex Mundi, di SMK Getsemani, siswa Muslim diijinkan jika ingin menunaikan shalat.

“Ada masjid di dekat sekolah, mereka bisa shalat di sana, dan balik ke sekolah jika sudah selesai shalat. Kami mengijinkannya,” kata Freddy.

Di SMK Getsemani, siswa beragama Islam cukup banyak. Menurut Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan Wens Novi Tampanguma, dari 316 siswa yang ada sekarang, 25 diantaranya beragama Islam.

Menurut Wens, siswa Muslim tidak pernah terlihat hanya berkumpul dengan sesama siswa Muslim, semuanya membaur dan harmonis.

“Ada diantara mereka (siswa Muslim) yang cukup berprestasi dan menjadi pengurus OSIS,” kata Wens.

Tidak adanya sekat ekslusifitas itu juga terlihat dari seringnya siswa Muslim ikut ambil bagian menjadi panitia perayaan hari raya. “Misalnya ada siswa Muslim yang menjadi panitia perayaan Natal, bahkan ada yang sempat menjadi pembawa acara,” jelas Wens.

Chicilia Monoaifa dan Ferentina Onibala, dua siswa di Di SMK YPKM (Yayasan Perguruan Kristen Manado) mengaku bahwa mereka siswa Kristen juga sering mendatangi rumah teman mereka yang Muslim. Apalagi saat perayaan hari Idul Ftri.

“Kami tidak pernah memandang mereka lain, sama saja. Di sini kami semua mencari ilmu, bukan perbedaan,” ujar Chicilia dan Ferentina.

zonautara.com

Chicilia Monoaifa dan Ferentina Onibala, siswa beragama Kristen di SMK YPKM Manado. (Foto: zonautara.com/Gita Waloni)

 

Website Badan  Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI memposting hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan tentang pelayanan pendidikan agama siswa di SMK Kesehatan Gloria Manado pada 2016.

Penelitian itu menemukan di sekolah yang dikelola yayasan Kristen itu menyediakan guru khusus mata pelajaran agama Islam bagi siswa Muslim. Kebijakan itu diambil karena kesadaran soal keberagaman dari pihak sekolah. Orang tua siswa juga mendorong penyediaan fasilitas tersebut.

Sayang, beberapa kali didatangi pihak sekolah belum dapat menyediakan waktu untuk melakukan wawancara.

zonautara.com

Mencari kualitas pendidikan

Selain karena persekolahan Kristen bersikap terbuka, minat siswa beragama lain masuk di persekolahan Kristen karena alasan kualitas pendidikan. Sebutnya saja Persekolahan Katolik Rex Mundi, Persekolahan Katolik Don Bosco, Persekolah Kristen Eben Haezar dan SMK Kristen Getsemani Manado.

Sekolah-sekolah ini selalu menoreh prestasi baik dalam bidang akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Tak heran itu menjadi idaman bagi orang tua siswa.

Kualitas akedemik yang dihasilkan dari sekolah-sekolah itu, terbangun juga dari peraturan sekolah yang ketat dan displin yang ditegakkan.

Rizky Chandra, siswa kelas 11 jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Kristen Getsemani, mengakui displinlah yang membuat dia memilih bersekolah di situ.

Rizky beragama Islam. Adik keduanya bersekolah di pondok pesantren di Jawa Timur. Sementara adik pertamanya ikut dia bersekolah di SMK Getsemani.

“Saya menyukai soal listrik, dan memilih sekolah di sini karena kualitasnya.” ujar Rizky saat ditemui akhir pekan lalu.

Selain Rizky, ada juga Leidiana Maili, siswa yang beragama Islam. Leidiana yang duduk di kelas 10 jurusan teknik komputer dan jaringan itu mengaku memilih SMK Getsemani atas kemauan sendiri.

Soal persekolahan Kristen, Leidiana sudah terbiasa sejak masih SMP. Dia lulusan SMP Kristen 67 Imanuel Bahu.

“Waktu SMP, sekolah itu dekat rumah. Jadi sudah terbiasa di sekolah Kristen. SMK, saya pilih di sini karena sudah tidak asing dengan suasana persekolahan Kristen,” jelas Leidiana.

Astriwati Kantohe (38), orang tua Leidiana tidak melarang pilihan anaknya. Menurutnya, itu hak anaknya memilih sekolah.

“Kami orang tua setuju dengan pilihan mereka. Dua adiknya juga bersekolah di sekolah Kristen. Tidak apa-apa, mereka menginginkan sekolah yang bagus,” kata Astriwati.

Di SMK YPKM, Yunita Lahai, siswa kelas 11 jurusan Perhotelan menjelaskan bahwa pilihannya bersekolah di situ karena selain kualitas pendidikan, pihak sekolah juga mengerti soal kondisi ekonomi keluarganya.

“Saya sekolah sambil bekerja, bersih-bersih di rumah orang agar bisa memenuhi kebutuhan sekolah. Ayah sudah meninggal. Pihak sekolah memberi keringanan uang SPP,” ujar Yunita.

Yunita Lahai,siswa kelas 11 jurusan Perhotelan SMK YPKM. (Foto: zonautara.com/Gita Waloni)

 

Dia lebih memilih di SMK YPKM karena sering melihat tindakan indisplin siswa di sekolah negeri. “Mereka suka bolos. Di sini displinnya ketat,” kata Yunita.

Walau di sekolahnya Yunita tidak mendapat pelajaran agama Islam secara khusus, namun dia tidak merasa terdoktrin dengan pelajaran agama Kristen. Sebabnya, adalah pelajaran yang diberikan soal moral universal.

“Yunita pernah mendapat nilai 90 untuk pelajaran agama. Sebab yang kami nilai tak semata pembelajarannya tapi juga soal sikap dan kedisplinan siswa,” ujar Guru mata pelajaran Kristen, Peres Lazarus.

zonautara.com

Perkaya keindonesiaan

Bagian Humas Rex Mundi Welly Polii menjelaskan bahwa seluruh siswa di sekolah mereka diajarkan bagaimana menerima perbedaan.

Para guru juga banyak belajar bagaimana mengelola perbedaan menjadi sebuah kekuatan keberagaman. Sebabnya adalah guru di sekolah itu datang dari berbagai latar belakang, tak hanya Katolik.

“Bagi kami perbedaan itu semakin memperkaya sikap toleransi dan harmonisasi. Nilai-nilai yang muncul nantinya adalah nilai-nilai kita Indonesia, bukan kita ini kita itu,” jelas Welly.

Karena pandangan seperti itu,  walaupun Rex Mundi dikelola oleh para Suster, bahkan siswa yang berasal dari Afghanistan pun diterima di sekolah itu.

“Saya baru bersekolah di sini selama tiga bulan, tetapi mereka semua baik kepada saya,” kata Ali Agha Haidari, siswa Kelas X IPS 3 Rex Mundi.

Ali adalah pengungsi dari Afghanistan yang harus tinggal di Rumah Detensi Imigrasi Manado karena masalah kewarganegaraan.

Welly bangga sekolah mereka bisa menampung Ali, sebab sebelumnya Ali bersekolah di SMA Negeri tetapi sering dibully di sana.

“Misi sekolah ini adalah membantu sesama, kami malah menampung siswa yang menjadi korban bencana gempa dan tsunami dari Palu,” kata Welly.

Pengamat sosial dan politik Sulut Pitres Sombowadile mengaku tak heran dengan kehidupan harmonisasi di Manado dan Sulut pada umumnya.

Menurutnya sejarah panjang telah membentuk karakter orang Sulut toleran kepada semua kelompok. Orang Sulut terbuka bagi siapa saja.

“Walau memang secara teologis masih ada yang perlu dikoreksi dalam soal keberagaman di dunia pendidikan itu, namun secara sosial dan kultural sudah clear. Kita semua di sini merawat keberagaman, memperkaya keindonesian,” kata Pitres. ♦

Liputan ini dibiaya dari Fellowship Interfaith Training: An inter-religious dialogue for Indonesian journalists, yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen bekerjasama dengan DW Akademie dan Foreign Office of Federal Republic of Germany.

Ronny Adolof Buol, merupakan penerima dana fellowship tersebut.