Tanam Padi,
Beli Beras.
Di kabupaten yang selama puluhan tahun disebut lumbung beras Sulawesi Utara, sawah menyusut, tambang meluas, dan petaninya — sesudah panen — tetap antre membeli beras.
Pada Agustus 2025, Sulawesi Utara mencatatkan harga beras kualitas medium tertinggi se-Indonesia. Sementara itu, di sawah-sawah Bolaang Mongondow — kabupaten yang seharusnya menjadi lumbung berasnya — terjadi transformasi diam-diam yang telah berlangsung satu dekade.
Kabupaten Bolaang Mongondow, yang oleh dokumen perencanaan daerah, pidato pejabat, dan bahkan lambang kabupatennya sendiri disebut sebagai penghasil beras utama Sulawesi Utara, kini sedang mengalami pergeseran yang tidak banyak tercatat dalam laporan resmi. Petani meninggalkan sawah. Bukan karena malas. Melainkan karena kalkulasi yang sangat rasional.
Selama dua bulan, tim Zonautara.com menelusuri sebelas desa, mewawancarai puluhan petani, mengonfrontasi tiga pejabat dengan dokumen yang mereka tandatangani sendiri, dan menganalisis data citra satelit selama dua puluh satu tahun. Yang kami temukan lebih mengganggu dari yang kami duga.
Dua Peraturan Daerah yang disahkan pada tahun yang sama memberikan angka produksi padi yang berbeda hampir tiga kali lipat. Luas sawah yang tercatat identik hingga dua digit desimal selama lima tahun berturut-turut. Lima dari enam penggilingan padi di satu desa tutup. Frasa “Lumbung Pangan Indonesia Timur” diam-diam dihapus dari visi dua puluh tahun ke depan — tanpa pengumuman, tanpa penjelasan.
Serial ini terbagi dalam empat bab, dan seluruh tulisan panjangnya tersedia di Teras.id dengan berbagai mode akses: gratis, freemium, dan VIP. Di halaman ini Anda menemukan rangkuman data dan narasi dari masing-masing bab, berikut tautan langsung ke setiap tulisan.
Perang Angka di Lumbung Beras
Beberapa sumber data resmi pemerintah memberi jawaban yang berbeda atas satu pertanyaan mendasar: seberapa luas sawah di Bolaang Mongondow, dan berapa yang masih tersisa? Saat pemerintah beradu angka, di sawah, petani tidak menunggu perdebatan itu selesai.
Produksi Padi Bolmong 2004–2023
Anjlok lebih dari separuh pada 2023. El Niño disebut pemerintah sebagai penyebab tunggal — tapi Bolmut yang berbatasan hanya turun 12,95%.
Lima Sumber Data, Lima Angka Berbeda
Untuk pertanyaan sesederhana “berapa produksi padi Bolmong 2022?”, lima sumber resmi memberikan jawaban yang saling bertentangan — dan dua di antaranya sudah berkekuatan hukum sebagai Perda.
| Sumber Data | Produksi 2022 | Produksi 2023 | Catatan |
|---|---|---|---|
| Perda RPJMD No. 3/2025 | 392.080 ton | 189.527 ton | Data Dinas Pertanian — angka tertinggi, sudah jadi produk hukum |
| Perda RPJPD No. 1/2025 | 137.208 ton | 189.527 ton | Bersumber BPS Sulut — konsisten dengan Kementan |
| Kementerian Pertanian RI | 137.209 ton | 134.664 ton | Independen, konsisten dengan BPS |
| MapBiomas (luas sawah) | Turun dari puncak 23.338 ha (2017) | Citra satelit Landsat — tidak bergantung birokrasi | |
| ATR/BPN Lahan Baku | 17.666 ha (2019) | Berpotensi polemik menurut Kadis Pertanian sendiri | |
21 Tahun Perubahan di Atas Lahan Bolmong
Sawah mencapai puncak 2017, lalu menyusut. Ladang jagung-nilam meledak 163%. Lubang tambang tumbuh dari nol menjadi 268 hektar.
Baca Tulisan Bab I
di Teras.id
Lihat Semua Tulisan →
Angka yang sama persis selama lima tahun bukan hasil pengukuran tahunan. Ini adalah satu angka yang disalin lima kali.— Temuan Investigasi Zonautara, April 2026
Ketika Sawah Tak Lagi Masuk Akal
Petani Bolaang Mongondow beralih dari padi bukan karena malas — mereka berhitung. Di balik pergeseran masif ke jagung dan nilam ada krisis irigasi, kebijakan yang tidak sinkron, dan pengakuan diam-diam bahwa status lumbung beras tidak bisa dipertahankan.
Di titik ini, narasi umum tentang petani sering keliru. Petani kerap digambarkan sebagai pihak yang tidak konsisten, tidak sabar, atau sekadar ikut-ikutan tren komoditas. Tapi di hadapan Nyoman Pasek (61), Rukmantik Agantu (45), dan Agustinus Lamber (47), anggapan itu runtuh. Mereka bukan spekulan. Mereka ekonom lapangan yang memilih opsi terbaik dari pilihan yang tersedia.
Satu Sawah, Tiga Cara Bertahan
Keluarga Lamber di Desa Langagon II memperlihatkan bagaimana cara berhadapan dengan tanah yang sama terus berubah.
Membuka lahan dengan pajeko — bajak tradisional ditarik sapi. Air melimpah, musim bisa diprediksi. Keterbatasan terletak pada tenaga kerja, bukan produksi.
Traktor menggantikan pajeko tapi membawa biaya: pupuk, bibit, sewa alat. Air mulai langka. Bantuan subsidi sulit diakses. Akhirnya beralih ke jagung.
Tumbuh di bak penjemuran jagung, bukan di sawah yang melimpah. Cerita tentang padi yang subur hanya ingatan yang dituturkan, bukan yang dialami.
Dari Padi ke Jagung: Dua Kurva yang Bersilangan
Luas panen jagung Bolmong naik empat kali lipat dalam satu dekade. Luas panen padi terus menyusut.
Baca Tulisan Bab II
di Teras.id
Lihat Semua →
Walaupun menanam padi, kami tetap beli beras. Ini adalah gali lubang, tutup lubang.— Rafia Potabuga, 52 tahun · Petani Langagon Induk
Tambang di Hulu, Sawah di Hilir
Di Desa Bakan, Papa Andri menanam kedelai di tanah yang dulu sawah. Perusahaan tambang bayar kompensasi Rp 90 juta per hektar setelah banjir lumpur menimbun lahan. Dari enam penggilingan padi, lima tutup.
Dari Hulu Tambang ke Hilir Sawah
Dua realitas yang tidak berdiri sendiri — terdokumentasi dari lapangan, studi UNSRAT, dan data satelit.
Pertambangan Meluas
- PT JRBM: konsesi 38.150 ha sejak 1997 (Kontrak Karya Gen-6)
- Kontribusi PDRB: naik 8,16% (2019) → 10,01% (2023)
- Lubang tambang: 0 → 268 hektar dalam 21 tahun (MapBiomas)
- Sedimen Sungai Bolaang: tembaga, seng, besi terdeteksi di semua titik sampel studi UNSRAT
- Banjir lumpur: berulang kali menimbun sawah di hilir
- Kompensasi: Rp 90 juta/ha untuk lahan tertimbun
Sawah Menyusut
- Penggilingan padi Bakan: 5 dari 6 tutup total
- Sawah di Rape: dari 50+ hektar produktif → nyaris nol
- Tanoyan Selatan: 65% sawah beralih ke jagung
- Bendungan Kinali: pendangkalan akibat sedimentasi hulu
- Luas panen padi: 72.120 ha (2016) → 30.219 ha (2023)
- Proyeksi BPDAS: debit Kinali tak mampu airi sawah pada 2036
Ketika Tambang Tumbuh, Sawah Menyusut
Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Bolmong naik konsisten. Luas panen padi bergerak ke arah sebaliknya.
Baca Tulisan Bab III
di Teras.id
Lihat Semua →
Dulu ini semua sawah. Puluhan hektare. Sekarang sudah tidak ada lagi.— Dit “Papa Andri” Makalalag, 70 tahun · Desa Bakan, Lolayan
Di Atas Kertas Krisis Mengecil.
Di Dapur, Membesar.
RPJMD Bolmong mencatat hanya enam desa rawan pangan di 2024. Tapi di dapur Rafia, Risma, dan Atin — perempuan tani yang desanya tidak masuk daftar itu — krisis berlangsung setiap hari.
Dokumen vs Dapur
Dua gambaran tentang kondisi pangan Bolmong — satu di dokumen resmi, satu di meja makan.
Krisis yang Nyaris Tak Terlihat
Desa tercatat rawan pangan dalam RPJMD Bolmong 2024. Selebihnya — lebih dari 194 desa — dianggap aman secara pangan.
Visi-misi daerah terpilih menekankan peningkatan produktivitas dan akses permodalan. Narasi pembangunan digambarkan semakin kuat.
Sumber: RPJMD Kabupaten Bolaang Mongondow 2025–2029
Defisit Kalori di Lumbung Beras
Rata-rata konsumsi kalori penduduk Bolmong per kapita/hari — 5,4% di bawah standar AKE nasional 2.100 kkal.
Kelompok 40% terbawah hanya 1.689 kkal — defisit hampir 20% dari kebutuhan minimum. Di kabupaten yang mengirim beras ke Manado, petaninya sendiri lapar.
Harga Beras Kotamobagu Naik 27,9% Dalam 21 Bulan
Sementara sawah menyusut, harga beras terus naik — dan semakin banyak beras yang datang dari luar daerah (Gorontalo, Palu, Sulawesi Selatan).
Baca Tulisan Bab IV
di Teras.id
Lihat Semua →
Kalau tidak pintar-pintar atur, habis. Walaupun capek di sawah, pulang tetap pikir dapur.— Rafia Potabuga, 52 tahun · Petani Langagon Induk
Jurnalisme Seperti Ini,
Perlu Dukungan Publik.
Serial investigasi “Tanam Padi Beli Beras” ini adalah hasil dua bulan kerja lima reporter Zonautara di lapangan dan mengulik data. Untuk tetap independen, kami tidak menerima iklan yang mengintervensi editorial. Kami mengajak Anda berlangganan.
Serial ini adalah 4 dari 22 topik yang akan dikerjakan Zonautara hingga 2027