Bagikan....

PAUL RICHARD RENWARIN:
"Inkulturasi dalam liturgi gereja"

Peliput : Ronny Adolof Buol
Foto : Hermondo Kasiadi

PAUL RICHARD RENWARIN lahir tanggal 7 Januari 1955 di Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Manado dan Tomohon. Pada tahun 1981, Renwarin meraih gelar Sarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng dengan tulisan Kematian Menurut Penghayatan Orang Minahasa. Dia kemudian belajar Missiology di Universitas Gregoriana Roma dan Filsafat Timur di Leuven Belgia. Namun ternyata studi itu rupanya bukan merupakan minat utamanya.

Renwarin kemudian pindah ke Universitas Leiden di Belanda dan mempelajari Antropologi Budaya. Dia menyelesaikan pendidikan Sarjananya melalui tulisan tentang Masyarakat Tanimbar di Maluku Tenggara. Tulisan itu dipublikasikan oleh ICA Leiden no. 80 pada tahun 1988 dengan judul Life in Saryamrene. Renwarin kemudian memperoleh gelar PhD di universitas yang sama dengan judul tesis Matuari and Tona’as.

Saat ini Renwarin mengajar di sejumlah universitas di Indonesia Timur, seperti di Program Doktoral Universitas Sam Ratulangi, Universitas Kristen Indonesia Tomohon, STFT Fajar Timur Papua dan tentu saja di almamaternya Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng.

Disamping kesibukannya sebagai seorang dosen, Renwarin juga keseharian sebagai seorang Pastor yang melayani umat di wilayah Keuskupan Manado. Hari-harinya juga diisi dengan kegiatan menulis serta sering diminta untuk menangani berbagai pesta adat serta misa inkulturatif yang dipeloporinya beberapa tahun lalu. “Saya sering terima oder pimpin prosesi kue pengantin traditional,” ujarnya sambil tertawa di Seminari Pineleng, Desember beberapa tahun lalu.

Pria berperawakan besar serta suara berat ini mengajak ke kamar yang ditempatinya di Asrama Seminari Pineleng. “Disinilah saya sehari-hari. Ini menjadi pusat kegiatan saya, walau saya punya rumah juga di Manado,” katanya.

Renwarin lalu duduk di sebuah meja kayu berukuran cukup besar dengan latar belakang rak kayu yang dipenuhi buku. Di berbagai sudut termasuk di meja kerjanya juga dipenuhi dengan berbagai barang hasil kerajinan tangan berciri budaya. Beberapa di antaranya tertempel di dinding. “Kalau di rumah di Manado, lebih banyak lagi koleksi buku dan barang-barang saya,” ujarnya sambil mempersilahkan kami duduk.

 

Walau sesi wawancara ini sudah dilakukan beberapa tahun lalu, kami masih menganggap relevan untuk diangkat kembali.

Hanya dengan berkaos singlet dan bercelana pendek, Renwarin lalu melayani wawancara.

Bagaimana Pastor melihat kebudayaan?

Kebudayaan itu bukan cuma dalam pengertian kesenian. Kebudayaan harus dilihat sebagai penghargaan untuk mengangkat nilai-nilai yang dimiliki masyarakat setempat.

Apa yang membuat Pastor meminati Kebudayaan?

Orang tua saya pecinta budaya. Baik ayah maupun ibu, keduanya berprofesi sebagai guru dan aktif di organisasi keagamaan. Tahun 1960-an orang tua saya diminta untuk mengubah satu jenis maengket. Maengket imbasan namanya. Lalu mereka mengubahnya termasuk lagu. Dan jadilah tarian itu menjadi tarian wajib Wanita Katolik Indonesia (WKI) Manado. Dari situ kemudian menjadi tarian wajib WKI Keuskupan dan hingga pada tahun 1980-an di Kompernas di Jakarta tarian itu menjadi tarian wajib bagi WKI se Indonesia. Tiap kali pertandingan lagu itu harus ada. Itu saya masih SMP.

Apakah Gereja Katolik mengajarkan soal pelestarian nilai budaya?

Memang ada dokumen gereja soal kebudayaan. Gereja musti masuk dengan budaya, itu yang disebut Inkulturasi. Itu ada di dokumen gereja di Vatikan. Dengan begitu agama menjadi mengakar di suatu tempat dan bukan hanya tempelan.

Kapan persisnya Pastor tertarik mempraktekkan hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan?

Dari masa kecil saya sudah tertarik dengan hal itu. Suasana memang mendukung dan kami senang dengan budaya. Saya sering ikut koor dan tari, oh itu hobby sekali. ketika masih calon pastor saya juga ikut mempelajari soal antropologi budaya dan berlanjut sesudah ditahbiskan jadi pastor.

Waktu ujian doktorandus dulu, saya sudah meneliti mengenai kebudayaan Minahasa. Saya menggelar misa ikulturasi ketika kembali dari studi pada tahun 1988. Saya studi Antropologi Budaya di Leiden Belanda dan kembali ke sini bekerja di Paroki di Desa Kali. Suasana di sana sangat bagus, karena banyak umat yang seniman. Pengubah tari maengket dari sana dan masih hidup waktu itu. Lalu kami bikin sama-sama. Waktu itu yang paling bagus keseniannya di Sulawesi Utara, ya dari Kali. Walau mereka rata-rata hanya tamat SD saja.

Desa Kali berada di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa. Desa ini berada di daratan tinggi dan hingga sekarang masyarakatnya masih mempertahankan beberapa kearifan lokal dan kebudayaan Minahasa. Di desa itu juga terdapat Makam Imam Bonjol dan gereja Katolik. Group Maengket dari Desa Kali sering tampil dalam berbagai event kebudayaan.

Apa saja yang diatur dalam Misa Inkulturasi serta bagaimana format misa itu ketika dipadukan dengan unsur agama?

Misa inkulturasi butuh proses panjang, setidaknya butuh dua tahun untuk mempersiapkan satu misa inkulturasi yang formatnya tepat. Yang sulit dalam persiapannya itu adalah bagaimana penterjemahan dan proses adaptasinya. Inkulturasi lebih dulu menerjemahkan bahasa, teks ibadah diterjemahkan ke bahasa daerah. Ini harus menjadi awal. Belum lagi mempersiapkan lagu-lagu asli daerah yang akan dipakai dalam misa itu.

Ada banyak proses dalam misa inkulturasi dan itu tidak asal adaptasi dan terjemahkan. Kalau salah adaptasi dan terjemahkan, maka nilainya cepat hilang. Tiap bagian dari misa itu, harus jelas tujuannya apa, dan bagaimana mengungkapkannya dalam bahasa daerah setempat. Tujuan itu juga harus diungkapkan lewat melodi dan tari. Tiap minggu kita coba terapkan dan mencari format yang tepat.

Dimana pertama kali Pastor menggelar misa inkulturasi, dan bagaiamana reaksi umat?

Saya menggelar pertama kali di Desa Kali. Hampir tiap minggu kami pakai metode itu. Reaksi umat sangat senang, mereka jadi rajin sekali ke gereja. Mereka merasa ada penghargaan terhadap kebudayaan mereka ketika ditampilkan dalam liturgi gereja. Umat menjadi menangkap setiap bagian dari liturgi karena semuanya diungkapkan dalam budaya mereka sehingga alam pemikiran dan sistem nilai yang disampaikan mereka bisa terima. Itu menarik sekali.

Yang saya amati, justru umat baru mengerti apa artinya ibadah ketika misa inkulturasi digelar. Dan ini yang sebenarnya diminta oleh dokumen gereja itu. Dan saya baru mendapatkannya ketika ada di Desa Kali. Setelah itu ada banyak yang suka dan berkunjung ke gereja kami. Bukan saja dari Sulawesi Utara, tetapi bahkan misio dari Jerman dan India pernah datang. Mereka ikut bersama-sama dalam misa kami. Lalu itu menjadi hidup. Gampang kan?

Renwarin menjadi Pastor dan pemimpin umat di Gereja Santo Antonius di Desa Kali waktu itu.

Setelah itu bagaimana reaksi umat Katolik secara luas?

Wah, umat merasa sangat senang. Dimana-mana mereka membicarakan itu. Satu contoh pada waktu pentahbisan Uskup di tahun 1090-an yang digelar di Stadion Klabat dengan seluruh umat se Keusukupan Manado hadir, misa inkulturasi dipakai saat itu. Lalu pada tahun 1932 saat perayaan 125 tahun lahirnya kembali Katolik di Minahasa juga di Stadion Klabat, misa inkulturasi kembali digunakan. Waktu itu Gubernur Sulut, Rantung hadir, dan dia bilang ternyata budaya Minahasa bisa untuk ibadah.

Sekarang gereja-gereja Katolik di Minahasa tetap mencoba untuk menerapkan misa inkulturasi. Tapi memang tidak mudah mencari format yang tepat yang mengena dengan peribadatan lewat jiwa ke-Minahasaan. Itu yang saya rasa masih kurang hingga saat ini.

Mencari kekhasan budaya memang butuh proses yang panjang. Banyak hal yang harus dilewati. Orang harus mengerti dulu mengenai bahasanya, lalu jiwa dan rasa dari bahasa itu. Ini betul-betul harus didalami.

Apa yang berkesan dari digelarnya Misa Inkulturasi itu?

Pernah suatu ketika, pengubah lagu itu sendiri memimpin misa inkulturasi. Wah, umat sangat senang. Kalau biasanya orang setelah ibadah lari pulang, ini mereka semua bertahan, padahal misa dilangsungkan pada jam 9 malam sampai jam 12 malam. Dan sesudah itu, mereka tidak mau pulang, sampai jam 2 pagi masih berkumpul di depan gereja dan memperbincangkan yang baru saja mereka ikuti. Tapi, besok paginya, jam 7 semua sudah ada kembali di gereja.

Mengapa ini bisa terjadi? karena mereka merasa senang. Memuliakan yang Ilahi dan menghormati Allah dengan cara menghargai budaya mereka. Apalagi komponis maengket sendiri yang membawaknanya. Dan itu benar-benar luar biasa. Itu sebenarnya yang dimaksud liturgi. Ini dihidupi dan berkembang bersama.

Kalau biasanya orang masuk ibadah karena terpaksa, ini justru mereka bilang rugi kalau tidak datang ibadah. Lalu kemudian ini berkembang terus. Uskup senang dan mengundang untuk menggelar misa inkulturasi. Walau saya sudah tidak bekerja di Kali tetapi misa itu tetap digelar.

Renwarin berhenti bekerja di Kali pada tahun 1996 karena harus mengajar di Jayapura. Dia lalu sering diundang oleh gereja di Paroki lain untuk menggelar misa inkulturasi. Pada waktu Wakil Gubernur Sulut, Wenas menikahkan anaknya pada tahun 1998, Wenas meminta Renwarin menggelar misa inkulturasi di Gereja Katedral.

Saya meneliti dulu bagaimana proses perkawinan orang Minahasa serta nyanyian-nyanyian dan tari-tarian yang dipakai. Setelah itu saya beradaptasi dan menerjemahkannya serta memadukannya pada liturgi Katolik. Ini persoalan bagaimana menemukan perbedaan dan kesamaan antara budaya Minahasa serta unsur keagamaan di Katolik. Setelah itu dapat baru saya menyusun misa.

Katanya anda meminta mengganti Kue Pengantin dengan Kue Traditional?

Nah begini ceritanya. Waktu misa itu digelar, kebetulan ibu Mangindaan (E.E. Mangindaan merupakan gubernur waktu itu) hadir. Dia senang sekali. Dia ikuti dan kaget. Tahun 2000 ketika Mangindaan menikahkan anaknya saya diminta menangani prosesi kue pengantin. Saya buatlah prosesi yang memakan waktu sekitar 45 menit itu. Inkulturasi saya masukkan disitu.

Saya mengganti kue pegantin yang biasanya terbuat dari tart dengan kue traditional Minahasa, yakni Nasi Jaha dan Cucur. Saya merasa kue pengantin pakai tart itu aneh, dan pakai plastik-plastik sebagai hiasannya. Padahal di resepsi pernikahan, prosesi potong kue pengantin merupakan acara yang utama. Kenapa harus pakai tart sementara kita punya kue khas sendiri yang sarat dengan filosofi. Saya pilihlah nasi jaha dan cucur. Mangindaan yang waktu itu sebagai tonaas wangko merasa sangat senang. Kita pakai lagu-lagu dan petuah Minahasa untuk mengiringi prosesi kue pengantin itu.

Tapi sebenarnya Mangindaan bukan orang pertama pakai kue itu. Ini sudah ada terlebih dahulu, hanya saja kita tidak mau memakainya. Untuk filosofi Minahasa, nasi jaha dan cucur sangat kena. Kue ini murah meriah dan mudah dibuat. Ketika ibadah mengenang keluarga yang meninggal dan dalam pengucapan syukur, kedua kue ini harus ada. Lalu mengapa dalam perkawinan kue ini tidak dihadirkan? Dalam kue ini ada penghayatan kehidupan baru.

Bagaimana Pastor memilih unsur budaya untuk kemudian dipadukan dengan unsur  agama dan apakah ada kriterianya?

Itu harus dipelajari terlebih dulu, tidak semua bisa dipadukan. Misalnya kue semprong, orang tahu bahwa itu salah satu kue traditional Minahasa, tetapi ternyata di wilayah Pasifik lainnya juga ada. Di Sulawesi Tengah mungkin ada kemiripan dengan di Minahasa, tapi mitosnya hanya ada di Minahasa. Itu yang dimaksud inkulturasi. Jadi benar-benar harus dicari yang pas.

Apakah ada yang menentang upaya perpaduan itu?

Sejauh yang saya tahu tidak ada. Justru itu yang mereka cari. Saya malah jadi heran, pendeta-pendeta dari Pamona, suku-suku di Poso, Tentena minta saya memadukan kebudayaan mereka dengan unsur agama. Saya malah mendapat profesi baru untuk menggelar prosesi kue pengantin. (Pastor tertawa)

Dengan memadukan unsur budaya dalam kegiatan gereja malah menjadi menarik. Acara adat ada unsur entertaintnya. Waktu belum dipadukan budaya dalam prosesi resepsi nikah, tamu jadi bosan mendengar sambutan yang panjang sekali. Lalu ini kita ganti dengan pertunjukkan budaya, misalnya lewat prosesi kue pengantin itu. Orang jadi senang. Memang sambutan itu penting, karena itu simbol penerimaan kedua belah pihak. Tapi kan waktu misa itu sudah ada, jadi di respsi kita ganti saja dan itu kena.

Sekali lagi Pastor menjelaskan soal Kue Pengantin:

Di kampung itu dulu orang tidak tahu bikin kue tart. cuma tahu brudel. Lalu mereka bikin kue pengantin dari tart, diolesi mentega dan dihiasi macam-macam. Pada saat resepsi, kue itu cuma dimakan secuil saja, sisanya dibuang. Itu menghina sekali dan hanya sandiwara (muka Pastor serius). Kalau pakai nasi jaha dan cucur, harus habis dimakan bukan cuma secuil. Karena makan nasi jaha itu lama, ya diisilah dengan menyanyi dan tari-tarian. Unsur entertaintment dan kreatifnya muncul (Pastor tertawa terbahak).

D tahun 1990-an kami di Kali mulai menerima turis. Mereka datang ke sana karena ingin melihat inkulturasi itu. Lalu kami menyesuaikan kalau ada yang menikah di kampung, pemberkatannya dilakukan hari Senin atau Kamis, karena bertepatan dengan kunjungan turis, yang waktu itu sesuai jadwal penerbangan pesawat Silk Air. Misa pemberkatan nikah inkulturasi diadakan jam 3 sore, setelah itu acara rekreasi yang disaksikan turis. Keluarga senang dan semua umat senang. Sisi positifnya, calon pengantin dari jauh-jauh hari harus belajar menyanyi lagu daerah. Keluarga juga harus bisa menyanyikan itu. Masuklah unsur budaya dan rekreasi.

Apa harapan dan rencana Pastor di masa depan soal perpaduan budaya dan agama ini?

Iya, saya berharap hal ini terus dikembangkan. Saat ini ada pengembangan Tarian Pasutri. Sebelumnya tari Jajar sudah berhasil dan sering dilombakan oleh kaum muda. Kini yang bapak-bapak juga harus ada, tarian untuk suami isteri. Bagaimana seni budaya itu diambil sebagai pengikat hubungan suami isteri. Itu yang saya mau kembangkan.

Dalam tarian Pasutri, pasangan haruslah suami isteri yang sah. Syukur-syukur kalau pasangan itu keduanya peminat, kalau tidak yang salah satunya harus mengajar pasangannya. Itu akan jadi akrab dan dengan sendirinya komunikasi suami isteri terbangun kembali, terlebih bagi suami isteri yang sudah di atas 10 tahun menikah. Di kaum ibu juga sudah ada Tari Selendang Biru yang sudah dilombakan sejak dari orang tua saya.

Sekarang Tari Pasutri ini terus dipromosikan. Saya senang, karena ada pasangan yang sudah berumur 70 tahun, tapi tetap menari. Ini juga bisa menjadi pembelajaran budaya, misalnya salah satu pasangan datang dari suku bukan Minahasa, kan yang pasangannya akan mengajarkan itu.

Kedepan Tari ini saya akan kembangkan bukan hanya dalam bahasa Tombulu, tetapi bisa juga dalam bahasa Sanger Talaud, atau bahasa Pamona Kaili. Gereja harus memfasilitasi dengan rambu-rambu agar pengembangannya bisa harmoni. Tahun depan kami akan menseminarkan tarian ini.

Apa yang bisa dilakukan Gereja untuk mengambil peran dalam pengembangan budaya ini?

Gereja sebenarnya harus menjadi motivator sekaligus fasilitator untuk mengangkat budaya. Secara aplikatif, misalnya gereja dapat mendirikan sangar. Tapi sangar harus terlepas dari dewan Paroki, sehingga orang di luar Katolik juga bisa ikut ambil bagian. Beberapa tahun lalu saya sudah mencoba bekerjasama dengan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara yang dipimpin Benny Mamoto. Bersama-sama kami mencoba mengangkat kebudayaan Minahasa agar lebih dikenal.

Tahun 2007 lalu kami melaksanakan pagelaran budaya di Pinabetengan dengan penekanan bagaimana budaya Minahasa menjadi pemersatu. Unsur agama juga kami masukan. Ini sebuah kerjasama budaya yang sangat baik. Pagelaran itu sukses dan terus dilaksanakan. Tahun 2010 kami gelar malah dengan tema ekologi. Selain unsur entertainment ada juga filosofinya, yang memberi setiap pasangan yang akan menikah bakal bibit pohon, agar bisa tanam pohon sebagai bagian dari pemahaman filosofi kehidupan baru.

Pastor Renwarin juga sempat menyentil bagaimana susahnya mencari lagu-lagu daerah yang benar-benar asli digubah dari daerah tersebut. Menurut dia, kebanyakan lagu yang dianggap sebagai lagu daerah, tak lain adalah lagu dari wilayah lain yang hanya diterjemahkan ke bahasa darah setempat. Dia pernah menantang suku Totemboan untuk mencari lagu-lagu daerah Tomboan. Dan ternyata lagu-lagu yang diklaim sebagai lagu Totemboan, kebanyakan merupakan lagu gereja lain yang bahasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Totemboan. “Unsur rekreasi dari lagu-lagu daerah asli itu perlu terus dihidupi. Sekarang orang lain masuk dengan macam-macam genre musik dengan filosofi yang tidak jelas, padahal kita punya sendiri. Ini harus diusahakan agar hidup kembali,” kata Renwarin.

Pastor Renwarin menulis sebuah buku khusus untuk menyoroti lirik lagu-lagu berbahasa Minahasa yang berhubungan dengan penyembahan Ilahi. Buku yang diterbitkan oleh Kanius pada tahun 2012 itu berjudul Opo-Empung-Wailan (Yang Ilahi dalam Lirik Tembang Minahasa)

Bagaimana Pastor melihat soal Perayaan Natal?

Perayaan natal itu sebenarnya religi populer dan bukan religi formal. Itu adalah perayaan agama kerakyatan, bukan diatur dari lembaga resmi agama. Di geraja Katolik sendiri sebenarnya perayaan natal itu hanya berupa misa sederhana. Dalam empat injil, hanya ada dua yang bercerita mengenai Natal.

Sebenarnya dulu Kristen menekankan soal kebangkitan dan kematian Yesus. Ada proses panjang menuju ke kematian dan kebangkitan itu. Namun di beberapa budaya-budaya, kelahiran juga mengambil peranan yang penting. Lalu masuklah hal itu dan natal menjadi luar biasa ketika berhadapan dengan macam-macam budaya termasuk di Minahasa.

Tahun 1960-an, natal dirayakan dengan sangat sederhana, hanya di tingkat keluarga dan bukan di tingkat publik. Umat buat kue hanya untuk keluarga dan untuk menanti kunjungan keluarga. Hari natal pertama untuk keluarga sendiri, dan pada hari natal kedua untuk keluarga dan tetangga. Tetapi kemudian natal di Minahasa berkembang menjadi aneh. Dulu keluarga yang merayakan natal hanya masak dua jenis makanan, sayur pangi dan tinoransak. Ini makanan tahan lama. Semakin dipanaskan semakin enak. Maksudnya apa? ya agar pada masa natal hingga tahun baru tidak masak lagi dan waktu yang ada digunakan untuk mengunjungi keluarga lainnya. Ini merupakan tradisi keluarga memasak setahun sekali dengan menu klasik.

Lalu sejak kapan natal kemudian menjadi seperti yang Pastor katakan?

Nah, tahun 1970-an muncullah apa yang dinamakan Natal Oikumene. Berbagai denominasi gereja dikumpulkan dalam perayaan natal bersama. Tanpa disadari perayaan natal Oikumene itulah muncul persaingan antar denominasi gereja secara terselubung. Waktu itu denominasi gereja tampil sesuai dengan besar kecilnya jemaat mereka. Lalu yang bersaing tinggal Katolik dan GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa, merupakan persatuan Kristen Protestan terbesar di tanah Minahasa, -red)

Dari situ kemudian berkembang perayaan natal sampai ke tingat jemaat, kolom, kumpulan-kumpulan dan organisasi. Ini supaya ada kegiatan dan kemudian natal menjadi populer. Sekarang di Minahasa natal sudah menjadi kegiatan religi pop. Uniknya itu kemudian diolah dengan budaya Minahasa, kuliner juga dipengaruhi. Dulu yang disajikan hanya makanan yang dimasak di bambu, tetapi sekarang sudah menjadi macam-macam, termasuk kue mentega itu.

Natal lalu menjadi sebuah perayaan dengan biaya besar untuk menyiapkan makanan dan kue serta hal lainnya. Arisan kelompok kemudian mulai berkembang. Munculnya bisnis jualan “Paket natal” yang dicicil mulai dari bulan Januari. Jadi orang Minahasa sudah mempersiapkan natal sejak dari Januari. Semuanya diatur secara populer dan sudah jauh dari makna natal yang sebenarnya. Suasananya menjadi seperti pesta, arahnya menjadi lain. Setiap umat berlomba harus ada baju baru, padahal saat ini ekonomi sudah lebih baik bisa setiap saat beli baju, tapi tetap saja kalau natal ada tradisi beli baju baru yang harus dipenuhi.

Tradisi beli baju baru ini saat ini tujuannya sudah menjurus ke persaingan dan mempertontonkan baju baru. Padahal dulu di kampung tradisi beli baju baru ini memang hanya dilakukan saat natal dan tahun baru.

Lihat saja, saat ini umat lebih senang kalau ibadah natal berlangsung dalam waktu yang lama, karena mereka bisa mendapat kesempatan untuk mempertontonkan baju baru yang dikenakan. Terjadilah persaingan, ini memang khas Minahasa, semua ingin tampil beda tapi bersaing terselubung dan berkelompok. Persaingan juga terjadi saat menyiapkan makanan, minuman dan kue. Tragisnya itu kebanyakan hanya menjadi pajangan dan bukan untuk dimakan. Ini natal yang aneh. (Suara Pastor meninggi dan wajahnya serius)

 

Saya rasa di seluruh dunia, hanya natal di Minahasa yang aneh seperti ini, karena sudah disiapkan sejak Januari. Persaingan di kalangan umat menjadi terbuka. Makanya natal di Minahasa terasa ramai. Ibadah pra Natal digelar begitu masuk bulan Desember. Disana-sini ada perayaan Pra Natal, khotbah natal di ulang-ulang tetapi makna natal yang sesungguhnya malah semakin tenggelam. Satu hari di satu jemaat bisa sampai tiga kali ibadah natal. Saya sampai binggung, mau bilang apa?

Renwarin menginisasi terbitan buku yang berisi kumpulan tulisan para dosen di Seminari Pineleng mengenai Makna Natal. Buku itu berjudul “Natal, Mengapa Dipestakan?”