Di balik kabut pagi di lereng Gunung Ambang, Hamid dan Masriah saban hari beraktifitas di bawah rindangnya pohon kopi. Dua sejoli itu adalah satu dari sedikit keluarga yang masih mempertahankan kopi sebagai mata pencaharian utama. Kesetiaan merawat kopi bukan sekadar motif ekomoni, namun merupakan laku hidup yang sejak lama terpatri di alam bawah sadar masyarakat setempat.
Lebih dari seratus tahun lalu, perusahaan Hindia Belanda meneken kontrak dengan Kerajaan Bolaang Mongondow untuk membentuk kawasan budidaya kopi di daerah Modayag. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, perusahaan Hindia Belanda mendatangkan ratusan warga dari Pulau Jawa ke bagian timur Kerajaan Bolmong untuk mengelola lahan seluas kurang lebih 1.500 ha.
Setelah perusahaan Hindia Belanda harus hengkang pada tahun 1950-an, para pekerja “terpaksa” tinggal dan mendirikan desa definitif dengan nama Purworejo yang belakangan telah dimekarkan menjadi tujuh desa, yakni Purworejo Induk, Purworejo Tengah, Purworejo Timur, Sumberejo, Liberia, Liberia Timur, dan Candi Rejo.
Selengkapnya baca di: https://zonautara.com/2025/12/18/robusta-biji-merah-dari-lereng-gunung-ambang-termasuk-dalam-kategori-kopi-specialty/
#kopi
#ceritakopi
#boltim
Di balik kabut pagi di lereng Gunung Ambang, Hamid dan Masriah saban hari beraktifitas di bawah rindangnya pohon kopi. Dua sejoli itu adalah satu dari sedikit keluarga yang masih mempertahankan kopi sebagai mata pencaharian utama. Kesetiaan merawat kopi bukan sekadar motif ekomoni, namun merupakan laku hidup yang sejak lama terpatri di alam bawah sadar masyarakat setempat.
Lebih dari seratus tahun lalu, perusahaan Hindia Belanda meneken kontrak dengan Kerajaan Bolaang Mongondow untuk membentuk kawasan budidaya kopi di daerah Modayag. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, perusahaan Hindia Belanda mendatangkan ratusan warga dari Pulau Jawa ke bagian timur Kerajaan Bolmong untuk mengelola lahan seluas kurang lebih 1.500 ha.
Setelah perusahaan Hindia Belanda harus hengkang pada tahun 1950-an, para pekerja “terpaksa” tinggal dan mendirikan desa definitif dengan nama Purworejo yang belakangan telah dimekarkan menjadi tujuh desa, yakni Purworejo Induk, Purworejo Tengah, Purworejo Timur, Sumberejo, Liberia, Liberia Timur, dan Candi Rejo.
Selengkapnya baca di: https://zonautara.com/2025/12/18/robusta-biji-merah-dari-lereng-gunung-ambang-termasuk-dalam-kategori-kopi-specialty/
#kopi
#ceritakopi
#boltim
...
Koalisi Transisi Bersih mengecam keras rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong penanaman kelapa sawit, tebu, dan singkong di Papua sebagai bahan baku produksi bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini dinilai sebagai langkah keliru dan berisiko tinggi yang alih-alih mewujudkan swasembada energi, justru berpotensi memicu deforestasi masif, meningkatkan risiko bencana ekologis, serta mengancam hak tanah masyarakat adat di wilayah tersebut.
Penolakan ini didasari kekhawatiran bahwa Papua, yang memiliki tutupan hutan alam terbesar di Indonesia dan berfungsi vital sebagai penyangga ekosistem global, akan mengalami dampak kerusakan lingkungan parah.
Achmad Surambo, Direktur Eksekutif Sawit Watch, menegaskan bahwa rencana ini sangat membahayakan. Analisis Sawit Watch berdasarkan riset Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) menunjukkan bahwa total potensi lahan sawit yang sesuai dan optimal di Pulau Papua adalah 290.837,03 hektar, sementara luas perkebunan sawit eksisting di tahun 2022 sudah mencapai 290.659,14 hektar. Angka ini menandakan bahwa luas eksisting hampir mendekati kapasitas ekosistem ideal. Bahkan, 75.308,04 hektar perkebunan sawit eksisting di Papua telah berada di wilayah dengan Variabel Pembatas (VP) seperti hutan primer dan kawasan konservasi.
Surambo memperingatkan bahwa rencana ekspansi di Papua dikhawatirkan akan memicu gelombang konflik agraria baru. Ia juga menyoroti krisis iklim dan bencana ekologis di Sumatera sebagai bukti kegagalan tata kelola sawit dan pelanggaran daya dukung lingkungan.
Selengkapnya baca di: https://zonautara.com/2025/12/19/rencana-pembukaan-hutan-papua-untuk-biofuel-disebut-koalisi-sebagai-resep-bencana-ekologis/
Koalisi Transisi Bersih mengecam keras rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong penanaman kelapa sawit, tebu, dan singkong di Papua sebagai bahan baku produksi bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini dinilai sebagai langkah keliru dan berisiko tinggi yang alih-alih mewujudkan swasembada energi, justru berpotensi memicu deforestasi masif, meningkatkan risiko bencana ekologis, serta mengancam hak tanah masyarakat adat di wilayah tersebut.
Penolakan ini didasari kekhawatiran bahwa Papua, yang memiliki tutupan hutan alam terbesar di Indonesia dan berfungsi vital sebagai penyangga ekosistem global, akan mengalami dampak kerusakan lingkungan parah.
Achmad Surambo, Direktur Eksekutif Sawit Watch, menegaskan bahwa rencana ini sangat membahayakan. Analisis Sawit Watch berdasarkan riset Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) menunjukkan bahwa total potensi lahan sawit yang sesuai dan optimal di Pulau Papua adalah 290.837,03 hektar, sementara luas perkebunan sawit eksisting di tahun 2022 sudah mencapai 290.659,14 hektar. Angka ini menandakan bahwa luas eksisting hampir mendekati kapasitas ekosistem ideal. Bahkan, 75.308,04 hektar perkebunan sawit eksisting di Papua telah berada di wilayah dengan Variabel Pembatas (VP) seperti hutan primer dan kawasan konservasi.
Surambo memperingatkan bahwa rencana ekspansi di Papua dikhawatirkan akan memicu gelombang konflik agraria baru. Ia juga menyoroti krisis iklim dan bencana ekologis di Sumatera sebagai bukti kegagalan tata kelola sawit dan pelanggaran daya dukung lingkungan.
Selengkapnya baca di: https://zonautara.com/2025/12/19/rencana-pembukaan-hutan-papua-untuk-biofuel-disebut-koalisi-sebagai-resep-bencana-ekologis/
...
Motayok adalah ritual pengobatan tradisional orang Mongondow yang hidup dari ingatan kolektif, pengalaman tubuh, dan hubungan spiritual dengan leluhur. Dalam praktiknya, seorang bolian, perempuan yang dipilih melalui pengalaman spiritual, bukan pendidikan formal, menjadi perantara penyembuhan dengan memasuki kondisi trance, diiringi musik dan syair tua.
Motayok bukan sekadar soal sakit dan sembuh, tetapi tentang posisi perempuan sebagai penjaga pengetahuan, perawat komunitas, dan penghubung dunia yang kasatmata dan tak kasatmata.
Hari ini, motayok kian jarang dipraktikkan. Modernisasi layanan kesehatan, perubahan tafsir keagamaan, dan berkurangnya regenerasi bolian membuat ritual ini menyempit ruang hidupnya, bertahan hanya di wilayah tertentu.
Padahal, negara mengakui pengetahuan dan praktik budaya seperti motayok sebagai bagian dari kekayaan budaya yang layak dilindungi. Motayok kini berada di ambang ingatan: antara dilupakan atau dirawat bersama sebagai warisan pengetahuan lokal, sejarah tubuh perempuan, dan cara lain manusia memahami sakit, sembuh, dan kehidupan.
#motayok
#tradisi
#bolmong
#budaya
Motayok adalah ritual pengobatan tradisional orang Mongondow yang hidup dari ingatan kolektif, pengalaman tubuh, dan hubungan spiritual dengan leluhur. Dalam praktiknya, seorang bolian, perempuan yang dipilih melalui pengalaman spiritual, bukan pendidikan formal, menjadi perantara penyembuhan dengan memasuki kondisi trance, diiringi musik dan syair tua.
Motayok bukan sekadar soal sakit dan sembuh, tetapi tentang posisi perempuan sebagai penjaga pengetahuan, perawat komunitas, dan penghubung dunia yang kasatmata dan tak kasatmata.
Hari ini, motayok kian jarang dipraktikkan. Modernisasi layanan kesehatan, perubahan tafsir keagamaan, dan berkurangnya regenerasi bolian membuat ritual ini menyempit ruang hidupnya, bertahan hanya di wilayah tertentu.
Padahal, negara mengakui pengetahuan dan praktik budaya seperti motayok sebagai bagian dari kekayaan budaya yang layak dilindungi. Motayok kini berada di ambang ingatan: antara dilupakan atau dirawat bersama sebagai warisan pengetahuan lokal, sejarah tubuh perempuan, dan cara lain manusia memahami sakit, sembuh, dan kehidupan.
#motayok
#tradisi
#bolmong
#budaya
...
Sign in to your account
