Data yang dibaca Zonautara.com dari berbagai sumber memerikan penurunan produksi padi di Bolaang Mongondow dalam 10 tahun terakhir. Dan penurunan yang terparah terjadi pada 2023, di mana tahun ini produksi padi Bolaang Mongondow hanya 189,5 ribu ton, anjlok sebesar 51,66 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan ini juga tercermin dari data BPS dan Kementerian Pertanian. Penurunan produksi padi itu berdampak pada kenaikan harga beras di tingkat pengecer. Harga beras di Kotamobagu, sebagai sentra ekonomi wilayah Bolaang Mongondow Raya terus naik. Pada Januari 2024 rata-rata harga beras di Kotamobagu ada pada level Rp 13.250 per kg, dan kini harga sudah menyentuh rata-rata Rp 16.500 per kg.
Menanggapi penurunan lebih dari setengah produksi padi pada 2022 tersebut Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow menyebut bahwa penyebabnya adalah El Nino.
Namun, apakah itu satu-satunya alasan? Analisis faktor lainnya dalam pertanian menjadi penting.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong05
#terasid
#tanampadibeliberas
Data yang dibaca Zonautara.com dari berbagai sumber memerikan penurunan produksi padi di Bolaang Mongondow dalam 10 tahun terakhir. Dan penurunan yang terparah terjadi pada 2023, di mana tahun ini produksi padi Bolaang Mongondow hanya 189,5 ribu ton, anjlok sebesar 51,66 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan ini juga tercermin dari data BPS dan Kementerian Pertanian. Penurunan produksi padi itu berdampak pada kenaikan harga beras di tingkat pengecer. Harga beras di Kotamobagu, sebagai sentra ekonomi wilayah Bolaang Mongondow Raya terus naik. Pada Januari 2024 rata-rata harga beras di Kotamobagu ada pada level Rp 13.250 per kg, dan kini harga sudah menyentuh rata-rata Rp 16.500 per kg.
Menanggapi penurunan lebih dari setengah produksi padi pada 2022 tersebut Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow menyebut bahwa penyebabnya adalah El Nino.
Namun, apakah itu satu-satunya alasan? Analisis faktor lainnya dalam pertanian menjadi penting.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong05
#terasid
#tanampadibeliberas
...
Di tengah teriknya matahari Bolaang Mongondow, Mickhael Adityo Lamber dan keluarganya menghadapi pilihan sulit. Dengan mengandalkan cerita masa lalu dan pengalaman langsung, keluarga ini menggambarkan perubahan yang terjadi dari generasi ke generasi.
Dulu, sawah melimpah dengan hasil padi. Namun, biaya tinggi dan ketidakpastian air mendorong mereka beralih ke jagung. Petani setempat mengungkapkan bahwa meski teknologi pertanian masuk, kenyataan di lapangan tetap menekan.
Ayah Mickhael, Agustinus Lamber, mengisahkan bagaimana keputusan ekonomi akhirnya menggiring banyak petani untuk beralih. Tapi mereka tidak sendiri. Banyak petani di daerah ini menghadapi hal yang sama. Kini, jagung dianggap sebagai pilihan lebih aman dibandingkan padi.
Keputusan bertani kini tak sekadar pilihan, tapi tuntutan bertahan hidup.
Selengkapnya baca di: https://s.id/sawahbolmong04
#PerubahanIklim
#tanampadibeliberas
#terasid
Di tengah teriknya matahari Bolaang Mongondow, Mickhael Adityo Lamber dan keluarganya menghadapi pilihan sulit. Dengan mengandalkan cerita masa lalu dan pengalaman langsung, keluarga ini menggambarkan perubahan yang terjadi dari generasi ke generasi.
Dulu, sawah melimpah dengan hasil padi. Namun, biaya tinggi dan ketidakpastian air mendorong mereka beralih ke jagung. Petani setempat mengungkapkan bahwa meski teknologi pertanian masuk, kenyataan di lapangan tetap menekan.
Ayah Mickhael, Agustinus Lamber, mengisahkan bagaimana keputusan ekonomi akhirnya menggiring banyak petani untuk beralih. Tapi mereka tidak sendiri. Banyak petani di daerah ini menghadapi hal yang sama. Kini, jagung dianggap sebagai pilihan lebih aman dibandingkan padi.
Keputusan bertani kini tak sekadar pilihan, tapi tuntutan bertahan hidup.
Selengkapnya baca di: https://s.id/sawahbolmong04
#PerubahanIklim
#tanampadibeliberas
#terasid
...
"Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat `Aku mau!` membuat kita mudah mendaki puncak gunung." -R.A Kartini
Selamat hari Kartini. 21 April 2026.
"Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat `Aku mau!` membuat kita mudah mendaki puncak gunung." -R.A Kartini
Selamat hari Kartini. 21 April 2026.
...
Bolaang Mongondow, lumbung beras Sulawesi Utara, menghadapi ironi. Petani harus berutang di awal musim tanam dan menanggung kerugian di akhir masa panen. Dampak El Nino memukul produksi pada 2023. Pembenahan mekanisasi dan kebijakan strategis jadi harapan. Namun, data pertanian yang tidak sejalan antara dinas dan BPS menjadi tantangan tersendiri. Tonny S. Toligaga, Kepala Dinas Pertanian Bolmong, menjelaskan tantangan ini. Ia menjelaskan perjuangan petani dan intervensi dinas dalam memacu produksi. Mari kita pahami lebih dalam.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong03
[UPDATE: Bupati Bolmong Yusra Alhabsyi menganti Tonny Toligaga dari jabatan Kepala Dinas Pertanian dalam mutasi sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Bolmong, 20 April 2026.
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
Bolaang Mongondow, lumbung beras Sulawesi Utara, menghadapi ironi. Petani harus berutang di awal musim tanam dan menanggung kerugian di akhir masa panen. Dampak El Nino memukul produksi pada 2023. Pembenahan mekanisasi dan kebijakan strategis jadi harapan. Namun, data pertanian yang tidak sejalan antara dinas dan BPS menjadi tantangan tersendiri. Tonny S. Toligaga, Kepala Dinas Pertanian Bolmong, menjelaskan tantangan ini. Ia menjelaskan perjuangan petani dan intervensi dinas dalam memacu produksi. Mari kita pahami lebih dalam.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong03
[UPDATE: Bupati Bolmong Yusra Alhabsyi menganti Tonny Toligaga dari jabatan Kepala Dinas Pertanian dalam mutasi sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Bolmong, 20 April 2026.
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
...
Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong), Yusra Alhabsyi, melantik 20 pejabat eselon II serta 5 pelaksana tugas (Plt) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bolmong, Senin, (20/04/2026). Perombakan yang digelar di teras kantor bupati kali ini memunculkan sejumlah pergeseran jabatan strategis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan posisi Tonny Susanto Toligaga.
Tonny tidak lagi menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan kini menempati posisi Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan. Pergeseran dari jabatan kepala dinas ke staf ahli umumnya dipandang sebagai penurunan dalam struktur birokrasi.
Posisi Kepala Dinas Pertanian selanjutnya diisi oleh Abdul Latief, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan, sehingga perpindahan ini sekaligus menjadi bagian dari rotasi lintas sektor dalam lingkup perangkat daerah.
Perubahan pada sektor pertanian ini terjadi di tengah sorotan terhadap isu alih fungsi lahan. Sejak 16 April 2026, media Zonautara.com menayangkan laporan dari liputan mendalam dalam serial Tanam Padi Beli Beras terkait pergeseran pemanfaatan lahan dari sawah basah ke pertanian kering di sejumlah wilayah di Bolaang Mongondow, yang tayang di Teras.id. Liputan tersebut juga menyoroti posisi Bolmong sebagai salah satu lumbung beras di Sulawesi Utara yang dinilai menghadapi tantangan serius.
#tanampadibeliberas
#bolmong
Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong), Yusra Alhabsyi, melantik 20 pejabat eselon II serta 5 pelaksana tugas (Plt) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bolmong, Senin, (20/04/2026). Perombakan yang digelar di teras kantor bupati kali ini memunculkan sejumlah pergeseran jabatan strategis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan posisi Tonny Susanto Toligaga.
Tonny tidak lagi menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan kini menempati posisi Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan. Pergeseran dari jabatan kepala dinas ke staf ahli umumnya dipandang sebagai penurunan dalam struktur birokrasi.
Posisi Kepala Dinas Pertanian selanjutnya diisi oleh Abdul Latief, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan, sehingga perpindahan ini sekaligus menjadi bagian dari rotasi lintas sektor dalam lingkup perangkat daerah.
Perubahan pada sektor pertanian ini terjadi di tengah sorotan terhadap isu alih fungsi lahan. Sejak 16 April 2026, media Zonautara.com menayangkan laporan dari liputan mendalam dalam serial Tanam Padi Beli Beras terkait pergeseran pemanfaatan lahan dari sawah basah ke pertanian kering di sejumlah wilayah di Bolaang Mongondow, yang tayang di Teras.id. Liputan tersebut juga menyoroti posisi Bolmong sebagai salah satu lumbung beras di Sulawesi Utara yang dinilai menghadapi tantangan serius.
#tanampadibeliberas
#bolmong
...
Sebelum Tim Zonautara mendatangi sawah-sawah dan bertemu petani di ladang nilam dan kebun jagung di berbagai desa di Bolaang Mongondow, ada data pertanian daerah tersebut yang sudah berbicara. Angka-angka itu bukan dari laporan Dinas Pertanian atau presentasi Bupati, melainkan datang dari orbit satelit Landsat yang selama tiga dekade secara rutin memotret permukaan bumi dengan resolusi 30 meter per piksel. Cara kerjanya tanpa mempedulikan batas administrasi, kepentingan anggaran, serta kebutuhan untuk membuat laporan terlihat bagus.
Data yang kami analisis berasal dari MapBiomas Indonesia, sebuah platform pemetaan tutupan lahan tahunan yang dikembangkan oleh jaringan masyarakat sipil Indonesia yang dipimpin Auriga Nusantara. Tulisan ini menjelaskan secara terbuka: bagaimana data itu bekerja, bagaimana kami menggunakannya, apa yang kami temukan, dan yang sama pentingnya, apa yang tidak bisa dilihat dari satelit dan mengapa kami tetap harus turun ke lapangan.
Selengkapnya baca di Teras.id melalui link https://s.id/sawahbolmong02
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
Sebelum Tim Zonautara mendatangi sawah-sawah dan bertemu petani di ladang nilam dan kebun jagung di berbagai desa di Bolaang Mongondow, ada data pertanian daerah tersebut yang sudah berbicara. Angka-angka itu bukan dari laporan Dinas Pertanian atau presentasi Bupati, melainkan datang dari orbit satelit Landsat yang selama tiga dekade secara rutin memotret permukaan bumi dengan resolusi 30 meter per piksel. Cara kerjanya tanpa mempedulikan batas administrasi, kepentingan anggaran, serta kebutuhan untuk membuat laporan terlihat bagus.
Data yang kami analisis berasal dari MapBiomas Indonesia, sebuah platform pemetaan tutupan lahan tahunan yang dikembangkan oleh jaringan masyarakat sipil Indonesia yang dipimpin Auriga Nusantara. Tulisan ini menjelaskan secara terbuka: bagaimana data itu bekerja, bagaimana kami menggunakannya, apa yang kami temukan, dan yang sama pentingnya, apa yang tidak bisa dilihat dari satelit dan mengapa kami tetap harus turun ke lapangan.
Selengkapnya baca di Teras.id melalui link https://s.id/sawahbolmong02
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
...
Bolaang Mongondow bukan baru kemarin disebut lumbung beras. Identitas itu sudah melekat puluhan tahun dan tertera dalam dokumen perencanaan daerah, disebutkan dalam pidato pejabat, dan disematkan dalam lambang daerah.
Namun kini terjadi transformasi diam-diam yang telah berlangsung setidaknya satu dekade. Petani meninggalkan sawah bukan karena malas, melainkan karena kalkulasi yang sangat rasional: biaya produksi padi terus naik, pupuk bersubsidi sulit didapat dan dijual di atas harga resmi, irigasi peninggalan Orde Baru menurun kualitasnya tanpa perawatan yang memadai. Sementara itu, nilam, tanaman penghasil minyak atsiri yang menguasai 90 persen pasar dunia, menawarkan pendapatan yang jauh lebih besar dengan risiko lebih kecil. Dan jagung, kini pabriknya dibangun di tengah sawah.
Bahkan RPJPD PJPD 2025–2045 tidak lagi menggunakan frasa "Lumbung Pangan Indonesia Timur" dalam visinya. Frasa itu diam-diam dihapus dari cita-cita 20 tahun ke depan. Tidak ada pengumuman, tidak ada penjelasan publik, tidak ada pernyataan resmi. Pergantian itu seperti tersembunyi dalam bahasa birokrasi yang jarang dibaca orang. Sebuah pengakuan implisit yang tidak pernah dikomunikasikan kepada masyarakat yang selama puluhan tahun bangga menyebut tanah mereka sebagai lumbung beras.
Zonautara.com menyajikan hasil yang didapat dari penelusuran akar struktural dari apa yang terjadi di Bolmong: mengapa petani meninggalkan sawah, irigasi yang sudah tidak berfungsi maksimal dan mengapa tidak diperbaiki, bagaimana industri pertambangan tumbuh sementara pertanian menyusut, apa yang sesungguhnya dirasakan petani dan perempuan tani di lapangan, dan apa yang pejabat katakan saat dihadapkan dengan data dari dokumen yang mereka terbitkan sendiri.
Selengkapnya baca Teras.id melalui link ini: https://s.id/sawahbolmong01
#terasid
#zonautaracom
#tanampadibeliberas
Bolaang Mongondow bukan baru kemarin disebut lumbung beras. Identitas itu sudah melekat puluhan tahun dan tertera dalam dokumen perencanaan daerah, disebutkan dalam pidato pejabat, dan disematkan dalam lambang daerah.
Namun kini terjadi transformasi diam-diam yang telah berlangsung setidaknya satu dekade. Petani meninggalkan sawah bukan karena malas, melainkan karena kalkulasi yang sangat rasional: biaya produksi padi terus naik, pupuk bersubsidi sulit didapat dan dijual di atas harga resmi, irigasi peninggalan Orde Baru menurun kualitasnya tanpa perawatan yang memadai. Sementara itu, nilam, tanaman penghasil minyak atsiri yang menguasai 90 persen pasar dunia, menawarkan pendapatan yang jauh lebih besar dengan risiko lebih kecil. Dan jagung, kini pabriknya dibangun di tengah sawah.
Bahkan RPJPD PJPD 2025–2045 tidak lagi menggunakan frasa "Lumbung Pangan Indonesia Timur" dalam visinya. Frasa itu diam-diam dihapus dari cita-cita 20 tahun ke depan. Tidak ada pengumuman, tidak ada penjelasan publik, tidak ada pernyataan resmi. Pergantian itu seperti tersembunyi dalam bahasa birokrasi yang jarang dibaca orang. Sebuah pengakuan implisit yang tidak pernah dikomunikasikan kepada masyarakat yang selama puluhan tahun bangga menyebut tanah mereka sebagai lumbung beras.
Zonautara.com menyajikan hasil yang didapat dari penelusuran akar struktural dari apa yang terjadi di Bolmong: mengapa petani meninggalkan sawah, irigasi yang sudah tidak berfungsi maksimal dan mengapa tidak diperbaiki, bagaimana industri pertambangan tumbuh sementara pertanian menyusut, apa yang sesungguhnya dirasakan petani dan perempuan tani di lapangan, dan apa yang pejabat katakan saat dihadapkan dengan data dari dokumen yang mereka terbitkan sendiri.
Selengkapnya baca Teras.id melalui link ini: https://s.id/sawahbolmong01
#terasid
#zonautaracom
#tanampadibeliberas
...
Dalam empat bulan terakhir kami sudah menerbitkan 40 lebih konten dari liputan mendalam/investigatif di platform Teras.id, bagian dari TEMPO.
Konten-konten tersebut memerinci 4 topik yang kami liput:
- Konflik Agraria Tanah Ulayat di eks kawasan Transmigrasi Dumoga
- Paradoks Pala Sitaro
- Relokasi Warga Terdampak Erupsi Gunung Ruang ke Huntap Modisi
- Masihkah Bolmong sebagai Lumbung Beras (Alih fungsi lahan)
Sebagian dari puluhan konten tersebut tersedia dalam mode premium (anda harus berlangganan), sebagian lainnya freemium (anda harus mendaftar) tetapi lebih dari setengah tersedia dalam bentuk free (bebas akses).
Untuk keberlangsungan kerja-kerja independen, bebas iklan dan bebas dari kepentingan pihak lain, kami butuh dukungan anda dengan menjadi Pelanggan. Tersedia berbagai paket, mulai dari Paket 1 Bulan, 6 Bulan atau 12 Bulan dan juga paket bundling untuk membaca seluruh konten TEMPO + New York Times + Teras + Zonautara.
Harga langganan 1 bulan pun sangat murah. Dan jika anda sudah berlangganan, anda tidak hanya dapat membaca konten premium dari Zonautara, tetapi juga bisa membaca konten premium dari 29 media lain yang bergabung di Teras dari Aceh hingga Papua.
Jika tertarik silahkan akses https://teras.id/zonautara-com, dan klik tombol DUKUNG MEDIA, atau saat membaca konten premium Zonautar, klik tombol LANGGANAN SEKARANG.
Jika anda butuh voucher, kami masih punya 40an voucher, yang bisa anda gunakan, dengan harga langganan bulan pertama sebesar Rp 17.500 saja. (Silahkan inbox atau hubungi kami)
Jika teman-teman di Sulawesi Utara ingin berlangganan atau sudah berlangganan, barangkali kita bisa diskusi topik apa selanjutnya yang penting untuk diangkat. Sembari menunggu anda berlangganan, dapat kami informasikan topik bulan depan yang akan tayang, adalah topik yang cukup banyak menarik perhatian di Sulut dalam beberapa bulan terakhir. Nantikan!.
#terasid
#zonautaracom
Dalam empat bulan terakhir kami sudah menerbitkan 40 lebih konten dari liputan mendalam/investigatif di platform Teras.id, bagian dari TEMPO.
Konten-konten tersebut memerinci 4 topik yang kami liput:
- Konflik Agraria Tanah Ulayat di eks kawasan Transmigrasi Dumoga
- Paradoks Pala Sitaro
- Relokasi Warga Terdampak Erupsi Gunung Ruang ke Huntap Modisi
- Masihkah Bolmong sebagai Lumbung Beras (Alih fungsi lahan)
Sebagian dari puluhan konten tersebut tersedia dalam mode premium (anda harus berlangganan), sebagian lainnya freemium (anda harus mendaftar) tetapi lebih dari setengah tersedia dalam bentuk free (bebas akses).
Untuk keberlangsungan kerja-kerja independen, bebas iklan dan bebas dari kepentingan pihak lain, kami butuh dukungan anda dengan menjadi Pelanggan. Tersedia berbagai paket, mulai dari Paket 1 Bulan, 6 Bulan atau 12 Bulan dan juga paket bundling untuk membaca seluruh konten TEMPO + New York Times + Teras + Zonautara.
Harga langganan 1 bulan pun sangat murah. Dan jika anda sudah berlangganan, anda tidak hanya dapat membaca konten premium dari Zonautara, tetapi juga bisa membaca konten premium dari 29 media lain yang bergabung di Teras dari Aceh hingga Papua.
Jika tertarik silahkan akses https://teras.id/zonautara-com, dan klik tombol DUKUNG MEDIA, atau saat membaca konten premium Zonautar, klik tombol LANGGANAN SEKARANG.
Jika anda butuh voucher, kami masih punya 40an voucher, yang bisa anda gunakan, dengan harga langganan bulan pertama sebesar Rp 17.500 saja. (Silahkan inbox atau hubungi kami)
Jika teman-teman di Sulawesi Utara ingin berlangganan atau sudah berlangganan, barangkali kita bisa diskusi topik apa selanjutnya yang penting untuk diangkat. Sembari menunggu anda berlangganan, dapat kami informasikan topik bulan depan yang akan tayang, adalah topik yang cukup banyak menarik perhatian di Sulut dalam beberapa bulan terakhir. Nantikan!.
#terasid
#zonautaracom
...
Seorang guru di sekolah terpencil, SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melalui akun Instagramnya @najib_nadir, memposting bagaimana anak-anak didiknya harus bergegas di tengah guyuran hujan untuk segera menyebrangi sungai sebelum banjir datang.
Di seantero Indonesia, masih banyak sekali sekolah dengan fasilitas yang minim dan dukungan infrastruktur yang buruk. Sementara pemerintah saat ini masih ngotot melanjutkan program MBG, yang bahkan untuk di perkotaan dengan infrastruktur lengkap pun belum bisa menjangkau semua anak sekolah karena sejumlah alasan teknis. Dana program yang seharusnya meningkatkan gizi anak tersebut, malah lebih banyak digunakan untuk keperluan lain yang tidak ada hubungannya dengan anak dan sekolah.
Bukankah ada yang lebih prioritas, misalnya seperti anak-anak dalam video ini?
#sekolahterpencil
Seorang guru di sekolah terpencil, SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melalui akun Instagramnya @najib_nadir, memposting bagaimana anak-anak didiknya harus bergegas di tengah guyuran hujan untuk segera menyebrangi sungai sebelum banjir datang.
Di seantero Indonesia, masih banyak sekali sekolah dengan fasilitas yang minim dan dukungan infrastruktur yang buruk. Sementara pemerintah saat ini masih ngotot melanjutkan program MBG, yang bahkan untuk di perkotaan dengan infrastruktur lengkap pun belum bisa menjangkau semua anak sekolah karena sejumlah alasan teknis. Dana program yang seharusnya meningkatkan gizi anak tersebut, malah lebih banyak digunakan untuk keperluan lain yang tidak ada hubungannya dengan anak dan sekolah.
Bukankah ada yang lebih prioritas, misalnya seperti anak-anak dalam video ini?
#sekolahterpencil
...
Masalah irigasi di Kabupaten Bolaang Mongondow kian nyata. Dari 75 daerah irigasi ada 35% dalam kondisi rusak. Artinya, lebih dari sepertiga hingga separuh jaringan irigasi tidak lagi berfungsi optimal.
Infrastruktur yang menopang ribuan hektar sawah ini mulai dari bendung hingga ratusan kilometer saluran tidak mampu lagi menyuplai air secara maksimal. Penelitian menunjukkan sejumlah titik, seperti Bendung Toraut, mengalami defisit air hampir sepanjang tahun. Bahkan, kawasan sumber air seperti DAS Kinali diproyeksikan tak lagi mampu mendukung irigasi secara fungsional pada 2036.
Dampaknya langsung dirasakan petani. Krisis air, ditambah tingginya biaya produksi, mendorong banyak petani meninggalkan sawah dan beralih ke tanaman lahan kering seperti jagung atau nilam. Fenomena ini menjadi sinyal serius ancaman terhadap ketahanan pangan sekaligus masa depan pertanian di Bolmong.
Simak liputan lengkap kamui dalam serial "Tanam Padi Beri Beras", tayang mulai besok, Kamis 16 April 2026 di teras.id/zonautara-com
#terasid
#tanampadibeliberas
Masalah irigasi di Kabupaten Bolaang Mongondow kian nyata. Dari 75 daerah irigasi ada 35% dalam kondisi rusak. Artinya, lebih dari sepertiga hingga separuh jaringan irigasi tidak lagi berfungsi optimal.
Infrastruktur yang menopang ribuan hektar sawah ini mulai dari bendung hingga ratusan kilometer saluran tidak mampu lagi menyuplai air secara maksimal. Penelitian menunjukkan sejumlah titik, seperti Bendung Toraut, mengalami defisit air hampir sepanjang tahun. Bahkan, kawasan sumber air seperti DAS Kinali diproyeksikan tak lagi mampu mendukung irigasi secara fungsional pada 2036.
Dampaknya langsung dirasakan petani. Krisis air, ditambah tingginya biaya produksi, mendorong banyak petani meninggalkan sawah dan beralih ke tanaman lahan kering seperti jagung atau nilam. Fenomena ini menjadi sinyal serius ancaman terhadap ketahanan pangan sekaligus masa depan pertanian di Bolmong.
Simak liputan lengkap kamui dalam serial "Tanam Padi Beri Beras", tayang mulai besok, Kamis 16 April 2026 di teras.id/zonautara-com
#terasid
#tanampadibeliberas
...
Editorial Zonautara.com harus memutuskan menggunakan data yang mana ketika ingin menguji apakah Bolaang Mongondow masih sebagai lumbung beras Sulawesi Utara. Alasannya, sumber-sumber data resmi yang kami baca tidak ada yang sama.
Kami kemudian menetapkan hierarki sumber sebagai berikut:
- Untuk tren jangka panjang (dua dekade), kami merujuk data Kementerian Pertanian RI, karena menyajikan deret waktu terpanjang dengan metodologi yang relatif konsisten dan juga konsisten dengan versi BPS.
- Untuk konfirmasi independen tutupan lahan kami mendownload citra satelit dari MapBiomas yang kami gunakan sebagai verifikator karena tidak bergantung pada birokrasi manapun.
- Untuk data terkini dan harga, kami menggunakan data BPS dan PIPH Nasional.
- Untuk klaim pemerintah daerah kami menggunakan data Dinas Pertanian Bolaang Mongondow yang kami capture dari RPJPD dan RPJMD Bolmong yang sudah menjadi produk hukum daerah.
Keputusan editorial ini punya implikasi serius, sebab jika menggunakan angka Dinas Pertanian, produksi padi Bolmong tampak jauh lebih besar dan trennya tampak lebih baik dari realitas. Jika menggunakan data BPS/Kementan, gambaran yang muncul adalah kabupaten yang kehilangan hampir separuh area panen dalam dua dekade, dengan produksi yang belum kembali ke level sebelum El Nino 2023.
Tapi langkah paling penting yang kami lakukan adalah turun ke lapangan, mendatangi para petani, tidak hanya di satu kecamatan tetapi menjangkau sebanyak mungkin wilayah yang bisa kami jangkau dengan tim yang kecil. Kami juga berbicara dengan penjual beras, pemilik gilingan, masyarakat, pengepul dan sekian banyak narasumber. Tentu berbagai stakeholder seperti Dinas Ketahanan Pangan, Bappeda, PU, BPN, BPDAS, BMKG, Balai Wilayah Sungai, Bulog dan lainnya kami wawancarai, termasuk para akademisi.
Lantas apa jawabannya: apakah Bolaang Mongondow masih sebagai Lumbung Beras Sulawesi Utara?
Baca liputan kami dalam serial "Tanam Padi Beli Beras", tayang mulai 16 April 2026 di teras .id/zonautara-com
#terasid
#tanampadiberliberas
Editorial Zonautara.com harus memutuskan menggunakan data yang mana ketika ingin menguji apakah Bolaang Mongondow masih sebagai lumbung beras Sulawesi Utara. Alasannya, sumber-sumber data resmi yang kami baca tidak ada yang sama.
Kami kemudian menetapkan hierarki sumber sebagai berikut:
- Untuk tren jangka panjang (dua dekade), kami merujuk data Kementerian Pertanian RI, karena menyajikan deret waktu terpanjang dengan metodologi yang relatif konsisten dan juga konsisten dengan versi BPS.
- Untuk konfirmasi independen tutupan lahan kami mendownload citra satelit dari MapBiomas yang kami gunakan sebagai verifikator karena tidak bergantung pada birokrasi manapun.
- Untuk data terkini dan harga, kami menggunakan data BPS dan PIPH Nasional.
- Untuk klaim pemerintah daerah kami menggunakan data Dinas Pertanian Bolaang Mongondow yang kami capture dari RPJPD dan RPJMD Bolmong yang sudah menjadi produk hukum daerah.
Keputusan editorial ini punya implikasi serius, sebab jika menggunakan angka Dinas Pertanian, produksi padi Bolmong tampak jauh lebih besar dan trennya tampak lebih baik dari realitas. Jika menggunakan data BPS/Kementan, gambaran yang muncul adalah kabupaten yang kehilangan hampir separuh area panen dalam dua dekade, dengan produksi yang belum kembali ke level sebelum El Nino 2023.
Tapi langkah paling penting yang kami lakukan adalah turun ke lapangan, mendatangi para petani, tidak hanya di satu kecamatan tetapi menjangkau sebanyak mungkin wilayah yang bisa kami jangkau dengan tim yang kecil. Kami juga berbicara dengan penjual beras, pemilik gilingan, masyarakat, pengepul dan sekian banyak narasumber. Tentu berbagai stakeholder seperti Dinas Ketahanan Pangan, Bappeda, PU, BPN, BPDAS, BMKG, Balai Wilayah Sungai, Bulog dan lainnya kami wawancarai, termasuk para akademisi.
Lantas apa jawabannya: apakah Bolaang Mongondow masih sebagai Lumbung Beras Sulawesi Utara?
Baca liputan kami dalam serial "Tanam Padi Beli Beras", tayang mulai 16 April 2026 di teras .id/zonautara-com
#terasid
#tanampadiberliberas
...
Ribuan warga di Panipahan, Kec. Pasir Limau Kapas, Kab. Rokan Hilir, Riau, mengamuk dan menyerbu sebuah rumah bertingkat pada Jumat, (10/4/2026). Rumah tersebut diduga milik bandar s**u dan lokasi aktivitas peredaran na*****a yang selama ini meresahkan masyarakat setempat. Aksi spontan warga ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat situasi yang sangat tegang. Ratusan warga memadati area sekitar rumah, sambil berteriak menyuarakan kekesalan mereka.
Tak hanya merusak bangunan, amukan massa juga menyasar kendaraan yang berada di dalam teras rumah. Sejumlah sepeda motor dihancurkan, bahkan dilempar ke selokan yang berada tepat di depan rumah tersebut. Tidak berhenti di situ, sedikitnya empat unit kendaraan roda dua dilaporkan dibakar oleh warga di lokasi kejadian. Kemarahan warga diduga dipicu oleh kekecewaan yang telah lama terpendam terhadap aktivitas peredaran na*****a di wilayah tersebut. Meski aparat kepolisian tampak berada di lokasi untuk melakukan pengamanan, situasi tetap tidak terkendali. Massa yang sudah terlanjur emosi terus melakukan aksi perusakan dan pembakaran, hingga suasana berubah menjadi kacau.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata keresahan masyarakat terhadap peredaran na*****a yang kian mengkhawatirkan. Namun di sisi lain, aksi main hakim sendiri juga menimbulkan kekhawatiran baru terkait keamanan dan penegakan hukum di tengah masyarakat.
Sumber berita: Riau Online
Ribuan warga di Panipahan, Kec. Pasir Limau Kapas, Kab. Rokan Hilir, Riau, mengamuk dan menyerbu sebuah rumah bertingkat pada Jumat, (10/4/2026). Rumah tersebut diduga milik bandar s**u dan lokasi aktivitas peredaran na*****a yang selama ini meresahkan masyarakat setempat. Aksi spontan warga ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat situasi yang sangat tegang. Ratusan warga memadati area sekitar rumah, sambil berteriak menyuarakan kekesalan mereka.
Tak hanya merusak bangunan, amukan massa juga menyasar kendaraan yang berada di dalam teras rumah. Sejumlah sepeda motor dihancurkan, bahkan dilempar ke selokan yang berada tepat di depan rumah tersebut. Tidak berhenti di situ, sedikitnya empat unit kendaraan roda dua dilaporkan dibakar oleh warga di lokasi kejadian. Kemarahan warga diduga dipicu oleh kekecewaan yang telah lama terpendam terhadap aktivitas peredaran na*****a di wilayah tersebut. Meski aparat kepolisian tampak berada di lokasi untuk melakukan pengamanan, situasi tetap tidak terkendali. Massa yang sudah terlanjur emosi terus melakukan aksi perusakan dan pembakaran, hingga suasana berubah menjadi kacau.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata keresahan masyarakat terhadap peredaran na*****a yang kian mengkhawatirkan. Namun di sisi lain, aksi main hakim sendiri juga menimbulkan kekhawatiran baru terkait keamanan dan penegakan hukum di tengah masyarakat.
Sumber berita: Riau Online
...
Sign in to your account
