Siaga El Niño: Kemarau Panjang
Laporan mengenai dampak fenomena El Niño terhadap krisis kekeringan ekstrem, ancaman kebakaran hutan, serta situasi dan kondisi terkait.
Baca liputan khusus Zonautara.com yang tayang di platform kolaboratif Teras.id, dengan dukungan Tempo, Tempo Institute dan IFPIM
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Krisis iklim, siapa yang membayar harganya?
Di Sulawesi Utara, warga membayarnya dengan uang belanja, modal tanam, waktu, dan tenaga.
Di Siau, Cherry Paat membeli air dan menjatah penggunaannya. Di Bolaang Mongondow, Hasan Tungkagi menghadapi gagal panen setelah mengeluarkan modal pinjaman. Di Bitung, Martini Mundok berutang untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika cuaca buruk menghambat suaminya melaut.
Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi krisis tidak terbagi rata. Ketika penghasilan terhenti, sebagian keluarga memiliki tabungan. Sebagian lainnya harus mencari pinjaman agar dapur tetap menyala.
Pada 20 September, Zonautara.com turut memperingati Hari Keadilan Ekologis dengan mengangkat pengalaman warga yang kami temui dalam serial liputan dampak krisis iklim bagi kelompok rentan.
Bagi mereka, keadilan perlu hadir melalui air bersih yang terjangkau, informasi cuaca yang bisa digunakan, perlindungan penghasilan, serta keterlibatan dalam keputusan yang memengaruhi ruang hidupnya.
Kami juga membuat platform pelaporan dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat. Datanya bisa dipakai oleh siapa saja. Cerita warga turut didokumentasikan melalui microsite Jejak Iklim.
📖 Baca serial liputan:
https://s.id/iklimsulut01
📝 Laporkan dampak yang Anda rasakan:
https://zonautara.com/pantau-klim
🌿 Jelajahi cerita warga:
https://iklimkita.com/jejak
Warga sudah berusaha bertahan dan saling menjaga. Perlindungan publik harus menyusul.
#HariKeadilanEkologis
#KeadilanIklim
#KrisisIklim
Krisis iklim, siapa yang membayar harganya?
Di Sulawesi Utara, warga membayarnya dengan uang belanja, modal tanam, waktu, dan tenaga.
Di Siau, Cherry Paat membeli air dan menjatah penggunaannya. Di Bolaang Mongondow, Hasan Tungkagi menghadapi gagal panen setelah mengeluarkan modal pinjaman. Di Bitung, Martini Mundok berutang untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika cuaca buruk menghambat suaminya melaut.
Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi krisis tidak terbagi rata. Ketika penghasilan terhenti, sebagian keluarga memiliki tabungan. Sebagian lainnya harus mencari pinjaman agar dapur tetap menyala.
Pada 20 September, Zonautara.com turut memperingati Hari Keadilan Ekologis dengan mengangkat pengalaman warga yang kami temui dalam serial liputan dampak krisis iklim bagi kelompok rentan.
Bagi mereka, keadilan perlu hadir melalui air bersih yang terjangkau, informasi cuaca yang bisa digunakan, perlindungan penghasilan, serta keterlibatan dalam keputusan yang memengaruhi ruang hidupnya.
Kami juga membuat platform pelaporan dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat. Datanya bisa dipakai oleh siapa saja. Cerita warga turut didokumentasikan melalui microsite Jejak Iklim.
📖 Baca serial liputan:
https://s.id/iklimsulut01
📝 Laporkan dampak yang Anda rasakan:
https://zonautara.com/pantau-klim
🌿 Jelajahi cerita warga:
https://iklimkita.com/jejak
Warga sudah berusaha bertahan dan saling menjaga. Perlindungan publik harus menyusul.
#HariKeadilanEkologis
#KeadilanIklim
#KrisisIklim
...
Di balik produk olahan yang kita temui sehari-hari, ada perebutan sengit yang sedang terjadi di kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara.
Bagi petani seperti Santo Libuon di Minahasa Selatan, sebutir kelapa kini punya banyak jalan menuju uang. Apakah harus diolah menjadi kopra dengan proses panjang, atau langsung dijual dalam bentuk buah segar demi mendapat uang cepat? Pilihan ini membawa angin segar sekaligus mengubah peta ekonomi di tingkat tapak.
Namun di saat yang sama, industri pengolahan kelapa skala besar justru kekurangan bahan baku, dengan kapasitas produksi yang baru terpakai sekitar 40–50 persen. Pemerintah pun mulai mendorong pembatasan ekspor kelapa utuh demi menggenjot agenda hilirisasi di dalam negeri.
Di sinilah dilema besar muncul: apakah kebijakan menahan bahan baku ini benar-benar membawa kesejahteraan, atau justru memangkas pilihan dan daya tawar petani yang baru saja menikmati kenaikan harga?
Penasaran bagaimana nasib para petani dan peta persaingan industri kelapa ini selengkapnya? Baca tulisan kedua dalam serial liputan mendalam kami tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut02
#hirilisasikelapa
#kelapasulut
#terasid
Di balik produk olahan yang kita temui sehari-hari, ada perebutan sengit yang sedang terjadi di kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara.
Bagi petani seperti Santo Libuon di Minahasa Selatan, sebutir kelapa kini punya banyak jalan menuju uang. Apakah harus diolah menjadi kopra dengan proses panjang, atau langsung dijual dalam bentuk buah segar demi mendapat uang cepat? Pilihan ini membawa angin segar sekaligus mengubah peta ekonomi di tingkat tapak.
Namun di saat yang sama, industri pengolahan kelapa skala besar justru kekurangan bahan baku, dengan kapasitas produksi yang baru terpakai sekitar 40–50 persen. Pemerintah pun mulai mendorong pembatasan ekspor kelapa utuh demi menggenjot agenda hilirisasi di dalam negeri.
Di sinilah dilema besar muncul: apakah kebijakan menahan bahan baku ini benar-benar membawa kesejahteraan, atau justru memangkas pilihan dan daya tawar petani yang baru saja menikmati kenaikan harga?
Penasaran bagaimana nasib para petani dan peta persaingan industri kelapa ini selengkapnya? Baca tulisan kedua dalam serial liputan mendalam kami tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut02
#hirilisasikelapa
#kelapasulut
#terasid
...
SULAWESI UTARA: MASIHKAH NYIUR MELAMBAI?
Sebagai produsen kelapa terbesar kedua di Indonesia, Sulawesi Utara kini menikmati angin segar dengan membaiknya harga kopra hingga Rp 15.700 per kg.
Namun, di balik geliat harga ini, kebun-kebun kelapa di tanah Minahasa hingga Bitung menyimpan paradoks yang mengkhawatirkan:
- Banyak pohon tua yang berisiko dan mulai dibiarkan buahnya gugur sendiri.
- Ongkos pemanjat dan angkut menggerus hasil yang diterima petani.
- Tingginya luas kebun dengan tanaman rusak/tidak produktif.
Pemerintah menaruh harapan besar pada Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 untuk mendorong nilai tambah produk kelapa.
Namun, pertanyaan terbesarnya: apakah hasil dari megaproyek hilirisasi ini akan benar-benar dinikmati oleh mereka yang menanam, memanjat, dan mengupas kelapa di lapangan?
Simak penelusuran mendalam Zonautara dalam serial liputan khusus.
"Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”
Tulisan pertama sebagai teaser sudah bisa dibaca melalui link berikut: https://s.id/kelapasulut01
🔗 Atau klik melalui tautan di bio kami!
💬 Bagaimana pandanganmu mengenai masa depan petani kelapa kita di Sulawesi Utara? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
#kelapa
#terasid
SULAWESI UTARA: MASIHKAH NYIUR MELAMBAI?
Sebagai produsen kelapa terbesar kedua di Indonesia, Sulawesi Utara kini menikmati angin segar dengan membaiknya harga kopra hingga Rp 15.700 per kg.
Namun, di balik geliat harga ini, kebun-kebun kelapa di tanah Minahasa hingga Bitung menyimpan paradoks yang mengkhawatirkan:
- Banyak pohon tua yang berisiko dan mulai dibiarkan buahnya gugur sendiri.
- Ongkos pemanjat dan angkut menggerus hasil yang diterima petani.
- Tingginya luas kebun dengan tanaman rusak/tidak produktif.
Pemerintah menaruh harapan besar pada Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 untuk mendorong nilai tambah produk kelapa.
Namun, pertanyaan terbesarnya: apakah hasil dari megaproyek hilirisasi ini akan benar-benar dinikmati oleh mereka yang menanam, memanjat, dan mengupas kelapa di lapangan?
Simak penelusuran mendalam Zonautara dalam serial liputan khusus.
"Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”
Tulisan pertama sebagai teaser sudah bisa dibaca melalui link berikut: https://s.id/kelapasulut01
🔗 Atau klik melalui tautan di bio kami!
💬 Bagaimana pandanganmu mengenai masa depan petani kelapa kita di Sulawesi Utara? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
#kelapa
#terasid
...
Harga kelapa membaik. Tapi benarkah masa depan nyiur juga ikut membaik?
Tim Zonautara.com menelusuri perjalanan kelapa Sulawesi Utara dari kebun rakyat hingga agenda hilirisasi: dari panen, bahan baku, hingga pertanyaan siapa yang benar-benar menikmati nilainya.
Serial Liputan Mendalam: Hilirisasi Kelapa Sulut
Tayang di teras.id mulai 19 September 2026.
Harga kelapa membaik. Tapi benarkah masa depan nyiur juga ikut membaik?
Tim Zonautara.com menelusuri perjalanan kelapa Sulawesi Utara dari kebun rakyat hingga agenda hilirisasi: dari panen, bahan baku, hingga pertanyaan siapa yang benar-benar menikmati nilainya.
Serial Liputan Mendalam: Hilirisasi Kelapa Sulut
Tayang di teras.id mulai 19 September 2026.
...
601 operasi SAR kecelakaan kapal dalam delapan bulan bukan sekadar deretan angka.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, kecelakaan kapal di Indonesia berdampak pada 3.607 orang. Sebanyak 3.165 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, tetapi 239 orang meninggal dunia dan 203 lainnya dinyatakan hilang.
Mengapa kecelakaan pelayaran terus berulang?
Persoalannya tidak hanya cuaca buruk atau kesalahan manusia. Sejumlah kajian menyoroti kompetensi dan sertifikasi awak kapal, desain armada yang tidak aman, peralatan keselamatan yang kurang, muatan berlebih, hingga pencatatan penumpang yang tidak tertib. Ketika manifes tidak sesuai kondisi di kapal, jumlah korban pun sulit dipastikan saat musibah terjadi.
Pada kapal roro, pintu kendaraan atau ramp door merupakan salah satu titik kritis. Kerusakan atau kebocoran dapat membuat air masuk ke geladak dan mengganggu stabilitas kapal. Karena itu, pemeriksaan tidak boleh berhenti hanya pada kelengkapan dokumen. Sertifikat berlayar harus benar-benar mencerminkan kondisi kapal di lapangan.
Masalah pengawasan juga terlihat dalam rekomendasi KNKT. Sepanjang 2003–2026, sebanyak 77,8 persen rekomendasi kecelakaan pelayaran mengarah pada perbaikan pengawasan.
Ada pula dilema biaya. Tiket murah dibutuhkan masyarakat kepulauan, tetapi operator tetap harus memiliki cukup biaya untuk perawatan, perlengkapan keselamatan, dan awak yang kompeten. Jika keselamatan dianggap sekadar beban biaya, risikonya dibayar oleh penumpang.
Yang dibutuhkan bukan hanya aturan baru, melainkan audit yang tegas, inspeksi teknis yang sungguh-sungguh, manifes yang akurat, penegakan batas muatan, serta insentif bagi operator yang patuh.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, transportasi laut adalah kebutuhan dasar. Keselamatan tidak boleh baru dibicarakan setelah kapal tenggelam dan korban berjatuhan.
Data diolah dari: Basarnas, Kementerian Perhubungan, KNKT, dan laporan keselamatan feri internasional.
#KecelakaanKapal
#TransportasiLaut
601 operasi SAR kecelakaan kapal dalam delapan bulan bukan sekadar deretan angka.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, kecelakaan kapal di Indonesia berdampak pada 3.607 orang. Sebanyak 3.165 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, tetapi 239 orang meninggal dunia dan 203 lainnya dinyatakan hilang.
Mengapa kecelakaan pelayaran terus berulang?
Persoalannya tidak hanya cuaca buruk atau kesalahan manusia. Sejumlah kajian menyoroti kompetensi dan sertifikasi awak kapal, desain armada yang tidak aman, peralatan keselamatan yang kurang, muatan berlebih, hingga pencatatan penumpang yang tidak tertib. Ketika manifes tidak sesuai kondisi di kapal, jumlah korban pun sulit dipastikan saat musibah terjadi.
Pada kapal roro, pintu kendaraan atau ramp door merupakan salah satu titik kritis. Kerusakan atau kebocoran dapat membuat air masuk ke geladak dan mengganggu stabilitas kapal. Karena itu, pemeriksaan tidak boleh berhenti hanya pada kelengkapan dokumen. Sertifikat berlayar harus benar-benar mencerminkan kondisi kapal di lapangan.
Masalah pengawasan juga terlihat dalam rekomendasi KNKT. Sepanjang 2003–2026, sebanyak 77,8 persen rekomendasi kecelakaan pelayaran mengarah pada perbaikan pengawasan.
Ada pula dilema biaya. Tiket murah dibutuhkan masyarakat kepulauan, tetapi operator tetap harus memiliki cukup biaya untuk perawatan, perlengkapan keselamatan, dan awak yang kompeten. Jika keselamatan dianggap sekadar beban biaya, risikonya dibayar oleh penumpang.
Yang dibutuhkan bukan hanya aturan baru, melainkan audit yang tegas, inspeksi teknis yang sungguh-sungguh, manifes yang akurat, penegakan batas muatan, serta insentif bagi operator yang patuh.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, transportasi laut adalah kebutuhan dasar. Keselamatan tidak boleh baru dibicarakan setelah kapal tenggelam dan korban berjatuhan.
Data diolah dari: Basarnas, Kementerian Perhubungan, KNKT, dan laporan keselamatan feri internasional.
#KecelakaanKapal
#TransportasiLaut
...
Sulawesi Utara tak disebut Bumi Nyiur Melambai tanpa alasan. Kelapa masih menjadi salah satu penopang penting ekonomi daerah, sekaligus sumber hidup bagi ratusan ribu warga.
Data yang dihimpun Tim Data Zonautara.com menunjukkan, Sulut merupakan produsen kelapa terbesar ke-2 di Indonesia setelah Riau, dengan luas perkebunan mencapai 262.611 hektare. Produktivitasnya pun tergolong tinggi, sekitar 1.256 kg/ha, atau berada di atas rata-rata nasional.
Di balik angka itu, kelapa bukan sekadar komoditas. Ada sekitar 200.000 petani yang menggantungkan hidup pada sektor ini, bersama ribuan tenaga kerja yang terlibat dalam rantai produksi dan pengolahan.
Namun tantangan juga nyata: sekitar 11 persen kebun kelapa di Sulut atau sekitar 29.322 hektare membutuhkan peremajaan karena tanaman sudah tua atau rusak. Artinya, masa depan kelapa Sulut tak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada regenerasi kebun, penguatan industri hilir, dan keberpihakan pada petani.
Momentum ini makin penting karena Manado dijadwalkan menjadi tuan rumah World Coconut Day 2026 pada 7–10 Oktober 2026. Ajang ini menjadi kesempatan bagi Sulawesi Utara untuk menunjukkan bahwa kelapa bukan sekadar warisan, tetapi juga masa depan.
Bagaimana seluk beluk terkini komoditas andalan Sulut ini? Ikuti Serial Liputan Mendalam Zonautara.com: "Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, yang akan segera tayang di https://teras.id/zonautara-com.
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
@terasid
Sulawesi Utara tak disebut Bumi Nyiur Melambai tanpa alasan. Kelapa masih menjadi salah satu penopang penting ekonomi daerah, sekaligus sumber hidup bagi ratusan ribu warga.
Data yang dihimpun Tim Data Zonautara.com menunjukkan, Sulut merupakan produsen kelapa terbesar ke-2 di Indonesia setelah Riau, dengan luas perkebunan mencapai 262.611 hektare. Produktivitasnya pun tergolong tinggi, sekitar 1.256 kg/ha, atau berada di atas rata-rata nasional.
Di balik angka itu, kelapa bukan sekadar komoditas. Ada sekitar 200.000 petani yang menggantungkan hidup pada sektor ini, bersama ribuan tenaga kerja yang terlibat dalam rantai produksi dan pengolahan.
Namun tantangan juga nyata: sekitar 11 persen kebun kelapa di Sulut atau sekitar 29.322 hektare membutuhkan peremajaan karena tanaman sudah tua atau rusak. Artinya, masa depan kelapa Sulut tak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada regenerasi kebun, penguatan industri hilir, dan keberpihakan pada petani.
Momentum ini makin penting karena Manado dijadwalkan menjadi tuan rumah World Coconut Day 2026 pada 7–10 Oktober 2026. Ajang ini menjadi kesempatan bagi Sulawesi Utara untuk menunjukkan bahwa kelapa bukan sekadar warisan, tetapi juga masa depan.
Bagaimana seluk beluk terkini komoditas andalan Sulut ini? Ikuti Serial Liputan Mendalam Zonautara.com: "Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, yang akan segera tayang di https://teras.id/zonautara-com.
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
@terasid
...
Harga kelapa membaik. Buah kembali diburu, petani punya lebih banyak pilihan, dan industri membutuhkan pasokan.
Namun di balik geliat itu, kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara menghadapi persoalan lama: pohon menua, ongkos panen membesar, peremajaan tertinggal, dan perebutan bahan baku makin ketat.
Dalam serial liputan mendalam “Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, Tim Zonautara menelusuri perjalanan kelapa dari kebun rakyat hingga industri, dari Bolaang Mongondow hingga Minahasa Selatan dan Bitung.
Siapa yang menikmati kenaikan nilai? Bagaimana nasib petani jika hilirisasi dipercepat? Dan mampukah nyiur tetap menjadi masa depan Sulawesi Utara?
Ikuti serial liputan mendalam kami di https://teras.id/zonautara-com.
SEGERA
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
Harga kelapa membaik. Buah kembali diburu, petani punya lebih banyak pilihan, dan industri membutuhkan pasokan.
Namun di balik geliat itu, kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara menghadapi persoalan lama: pohon menua, ongkos panen membesar, peremajaan tertinggal, dan perebutan bahan baku makin ketat.
Dalam serial liputan mendalam “Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, Tim Zonautara menelusuri perjalanan kelapa dari kebun rakyat hingga industri, dari Bolaang Mongondow hingga Minahasa Selatan dan Bitung.
Siapa yang menikmati kenaikan nilai? Bagaimana nasib petani jika hilirisasi dipercepat? Dan mampukah nyiur tetap menjadi masa depan Sulawesi Utara?
Ikuti serial liputan mendalam kami di https://teras.id/zonautara-com.
SEGERA
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
...
Dua kali ganti Menteri Keuangan dalam kurang dari 2 tahun. Ada apa dengan keuangan negara di bawah Presiden Prabowo?
Sejak pemerintahan Prabowo Subianto dimulai, kursi menkeu sudah ditempati 3 nama: Sri Mulyani Indrawati, Purbaya Yudhi Sadewa, dan kini Suahasil Nazara. Purbaya dilantik menggantikan Sri Mulyani pada 8 sept 2025, lalu Suahasil menggantikan Purbaya pada 14 Sept 2026.
Pergantian Menkeu bukan perkara kecil. Kementerian Keuangan memegang instrumen paling penting dalam pengelolaan fiskal negara: APBN, penerimaan pajak dan bea cukai, kas negara, utang dan pembiayaan, hingga pengelolaan risiko keuangan negara. Dengan kata lain, Menkeu bukan sekadar “bendahara”, tetapi salah satu penjaga utama kredibilitas ekonomi pemerintah.
Posisi ini juga berbeda dengan Menko Perekonomian. Menko bertugas menyinkronkan dan mengoordinasikan kebijakan ekonomi lintas kementerian, sementara Menkeu memiliki instrumen fiskal secara langsung.
Lalu, apakah dua kali pergantian Menkeu berarti keuangan negara sedang bermasalah?
Belum tentu. Pergantian pejabat saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya krisis. Namun frekuensi pergantian ini layak dibaca sebagai tanda bahwa pemerintah sedang melakukan penyesuaian arah dan mencari titik keseimbangan antara kebutuhan membiayai program-program besar dengan tuntutan menjaga APBN tetap sehat, utang terkendali, serta kepercayaan pasar tetap terjaga.
Menariknya, setelah dilantik, Suahasil menyebut arahan khusus Presiden adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, sekaligus memastikan APBN tetap mampu menjalankan program-program prioritas pemerintah.
Karena itu, pertanyaan terpenting ke depan bukan hanya siapa Menteri Keuangannya, melainkan: apakah defisit tetap terkendali? Bagaimana penerimaan pajak? Seberapa besar kebutuhan utang dan penerbitan SBN? Bagaimana program prioritas dibiayai? Dan bagaimana pasar serta rupiah merespons arah fiskal baru?
Dua kali ganti Menkeu belum membuktikan adanya krisis. Tetapi jelas ada sesuatu yang sedang disesuaikan dalam pengelolaan fiskal pemerintahan Prabowo.
#MenteriKeuangan #APBN #KeuanganNegara
Dua kali ganti Menteri Keuangan dalam kurang dari 2 tahun. Ada apa dengan keuangan negara di bawah Presiden Prabowo?
Sejak pemerintahan Prabowo Subianto dimulai, kursi menkeu sudah ditempati 3 nama: Sri Mulyani Indrawati, Purbaya Yudhi Sadewa, dan kini Suahasil Nazara. Purbaya dilantik menggantikan Sri Mulyani pada 8 sept 2025, lalu Suahasil menggantikan Purbaya pada 14 Sept 2026.
Pergantian Menkeu bukan perkara kecil. Kementerian Keuangan memegang instrumen paling penting dalam pengelolaan fiskal negara: APBN, penerimaan pajak dan bea cukai, kas negara, utang dan pembiayaan, hingga pengelolaan risiko keuangan negara. Dengan kata lain, Menkeu bukan sekadar “bendahara”, tetapi salah satu penjaga utama kredibilitas ekonomi pemerintah.
Posisi ini juga berbeda dengan Menko Perekonomian. Menko bertugas menyinkronkan dan mengoordinasikan kebijakan ekonomi lintas kementerian, sementara Menkeu memiliki instrumen fiskal secara langsung.
Lalu, apakah dua kali pergantian Menkeu berarti keuangan negara sedang bermasalah?
Belum tentu. Pergantian pejabat saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya krisis. Namun frekuensi pergantian ini layak dibaca sebagai tanda bahwa pemerintah sedang melakukan penyesuaian arah dan mencari titik keseimbangan antara kebutuhan membiayai program-program besar dengan tuntutan menjaga APBN tetap sehat, utang terkendali, serta kepercayaan pasar tetap terjaga.
Menariknya, setelah dilantik, Suahasil menyebut arahan khusus Presiden adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, sekaligus memastikan APBN tetap mampu menjalankan program-program prioritas pemerintah.
Karena itu, pertanyaan terpenting ke depan bukan hanya siapa Menteri Keuangannya, melainkan: apakah defisit tetap terkendali? Bagaimana penerimaan pajak? Seberapa besar kebutuhan utang dan penerbitan SBN? Bagaimana program prioritas dibiayai? Dan bagaimana pasar serta rupiah merespons arah fiskal baru?
Dua kali ganti Menkeu belum membuktikan adanya krisis. Tetapi jelas ada sesuatu yang sedang disesuaikan dalam pengelolaan fiskal pemerintahan Prabowo.
#MenteriKeuangan #APBN #KeuanganNegara
...
Ada 11 Daerah di Sulawesi Utara Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis di Dasarian II September 2026
BMKG memutakhirkan kondisi iklim Dasarian I September 2026. Hasil monitoring menunjukkan El Niño berada pada intensitas sangat kuat, dengan indeks ENSO periode Juli, Agustus, September sebesar 2,6. Curah hujan Dasarian I September juga didominasi kategori rendah sebesar 92,62 persen, sementara sifat hujan bawah normal mencapai 92,86 persen.
Secara nasional, 80,7 persen wilayah atau 564 Zona Musim masih mengalami musim kemarau. Untuk Dasarian II September 2026, BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah provinsi, termasuk Sulawesi Utara.
Khusus Sulawesi Utara, status Siaga berlaku di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Kota Bitung.
Sementara status Awas berlaku di Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kota Manado, Kota Tomohon, Kota Kotamobagu, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Minahasa Utara, dan Kabupaten Siau Tagulandang Biaro.
BMKG memprediksi pada periode September hingga awal Oktober 2026, curah hujan di banyak wilayah Indonesia umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah. Pada Oktober 2026, sebagian besar Sulawesi Utara juga berpeluang tinggi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan.
#bmkg
#kekeringan
#kemarau2026
Ada 11 Daerah di Sulawesi Utara Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis di Dasarian II September 2026
BMKG memutakhirkan kondisi iklim Dasarian I September 2026. Hasil monitoring menunjukkan El Niño berada pada intensitas sangat kuat, dengan indeks ENSO periode Juli, Agustus, September sebesar 2,6. Curah hujan Dasarian I September juga didominasi kategori rendah sebesar 92,62 persen, sementara sifat hujan bawah normal mencapai 92,86 persen.
Secara nasional, 80,7 persen wilayah atau 564 Zona Musim masih mengalami musim kemarau. Untuk Dasarian II September 2026, BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah provinsi, termasuk Sulawesi Utara.
Khusus Sulawesi Utara, status Siaga berlaku di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Kota Bitung.
Sementara status Awas berlaku di Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kota Manado, Kota Tomohon, Kota Kotamobagu, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Minahasa Utara, dan Kabupaten Siau Tagulandang Biaro.
BMKG memprediksi pada periode September hingga awal Oktober 2026, curah hujan di banyak wilayah Indonesia umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah. Pada Oktober 2026, sebagian besar Sulawesi Utara juga berpeluang tinggi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan.
#bmkg
#kekeringan
#kemarau2026
...
Kapal motor penumpang Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada dini hari Minggu 13 September 2026. Kapal roro berbendera Indonesia milik PT Virgo Karya Shipping itu bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak pada Sabtu 12 September dan membawa total 243 orang, terdiri atas sekitar 213 penumpang termasuk sopir dan kernet serta 30 kru, disertai 89 unit kendaraan.
Menurut data sementara Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) yang dikonfirmasi pejabat Kementerian Perhubungan dan dilansir media terpercaya seperti ANTARA, CNN Indonesia, serta Reuters, kapal mengalami listing atau kemiringan ekstrem sekitar pukul 02.00 Wita setelah dihantam ombak dari sisi lambung kanan dalam kondisi cuaca buruk. Kapal kemudian hilang kontak dan akhirnya tenggelam. Saksi penumpang yang selamat menceritakan kapal tiba-tiba miring cepat ke kiri tanpa alarm atau peringatan, memicu kepanikan di tengah laut yang masih gelap.
Hingga pembaruan terkini pada 13 September malam, tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas berhasil mengevakuasi 113 orang. Dari jumlah itu, 107 orang dinyatakan selamat dan enam orang meninggal dunia. Sekitar 130 orang lainnya masih dalam pencarian. Operasi penyelamatan melibatkan unsur laut dan udara, termasuk belasan kapal, helikopter, serta pesawat, dengan prioritas utama menemukan mereka yang belum ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Para korban selamat dibawa ke pelabuhan di Banjarmasin dan lokasi lain untuk perawatan serta pendataan, sementara proses identifikasi jenazah dan investigasi penyebab lengkap terus digelar.
Kapal motor penumpang Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada dini hari Minggu 13 September 2026. Kapal roro berbendera Indonesia milik PT Virgo Karya Shipping itu bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak pada Sabtu 12 September dan membawa total 243 orang, terdiri atas sekitar 213 penumpang termasuk sopir dan kernet serta 30 kru, disertai 89 unit kendaraan.
Menurut data sementara Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) yang dikonfirmasi pejabat Kementerian Perhubungan dan dilansir media terpercaya seperti ANTARA, CNN Indonesia, serta Reuters, kapal mengalami listing atau kemiringan ekstrem sekitar pukul 02.00 Wita setelah dihantam ombak dari sisi lambung kanan dalam kondisi cuaca buruk. Kapal kemudian hilang kontak dan akhirnya tenggelam. Saksi penumpang yang selamat menceritakan kapal tiba-tiba miring cepat ke kiri tanpa alarm atau peringatan, memicu kepanikan di tengah laut yang masih gelap.
Hingga pembaruan terkini pada 13 September malam, tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas berhasil mengevakuasi 113 orang. Dari jumlah itu, 107 orang dinyatakan selamat dan enam orang meninggal dunia. Sekitar 130 orang lainnya masih dalam pencarian. Operasi penyelamatan melibatkan unsur laut dan udara, termasuk belasan kapal, helikopter, serta pesawat, dengan prioritas utama menemukan mereka yang belum ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Para korban selamat dibawa ke pelabuhan di Banjarmasin dan lokasi lain untuk perawatan serta pendataan, sementara proses identifikasi jenazah dan investigasi penyebab lengkap terus digelar.
...
Hingga Minggu 13 September 2026 pukul 12.00 WITA, Tim Basarnas bersama Tim SAR Gabungan masih terus memaksimalkan upaya pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan kapal KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Kalimantan Selatan
Data Perkembangan Evakuasi:
• Total POB Awal: 240 orang (210 Penumpang & 30 ABK)
• Korban Selamat: 108 orang (termasuk 22 korban selamat yang baru terevakuasi oleh KM Cahaya Bahari Jaya pada koordinat 04°25.000` LS - 113°52.000` BT)
• Masih Dalam Pencarian: 132 orang
Seluruh personel di lapangan terus melakukan penyisiran sektor pencarian berbasis pola SARMAP.
Hingga Minggu 13 September 2026 pukul 12.00 WITA, Tim Basarnas bersama Tim SAR Gabungan masih terus memaksimalkan upaya pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan kapal KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Kalimantan Selatan
Data Perkembangan Evakuasi:
• Total POB Awal: 240 orang (210 Penumpang & 30 ABK)
• Korban Selamat: 108 orang (termasuk 22 korban selamat yang baru terevakuasi oleh KM Cahaya Bahari Jaya pada koordinat 04°25.000` LS - 113°52.000` BT)
• Masih Dalam Pencarian: 132 orang
Seluruh personel di lapangan terus melakukan penyisiran sektor pencarian berbasis pola SARMAP.
...
Petani Sulut sedang menghadapi situasi yang agak paradoks.
Belanja rumah tangga memang sedikit lebih ringan. Tapi hasil jual pertanian turun lebih dalam.
Bayangkan begini: bulan Juli hasil kebun masih terasa cukup untuk belanja dapur, isi bensin, dan kebutuhan usaha tani. Masuk Agustus, beberapa pengeluaran memang turun, tapi nilai yang diterima dari hasil pertanian turun lebih cepat.
Akibatnya?
Daya tukar petani ikut melemah.
Data BPS Sulawesi Utara mencatat:
🔻 NTP Agustus 2026: 126,79
turun 2,14% dari Juli
🔻 NTUP: 131,34
turun 3,09%
🔻 Harga yang diterima petani turun 3,05%
🔻 Harga yang dibayar petani turun hanya 0,93%
Jadi persoalannya bukan sekadar “harga kebutuhan naik atau turun”.
Persoalannya adalah ini: hasil jual petani kehilangan daya lebih cepat daripada beban pengeluarannya berkurang.
Dan tekanan terberat datang dari hortikultura.
📉 NTP hortikultura turun 17,47%
dari 245,42 menjadi 202,55
Sementara subsektor lain justru masih naik:
📈 Tanaman pangan +2,88%
📈 Perkebunan rakyat +1,54%
📈 Peternakan +0,44%
📈 Perikanan +1,76%
Artinya, cerita petani Sulut bulan Agustus ini bukan cerita yang seragam. Ada subsektor yang masih menguat, tapi tekanan besar dari hortikultura menyeret gambaran umum ke bawah.
Satu fakta lain yang cukup mencolok: Sulawesi Utara menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Sulawesi yang NTP-nya turun pada Agustus 2026.
Jadi kalau angka 126,79 terasa abstrak, sederhananya begini: hasil panen masih bisa dibelanjakan, tapi ruang napasnya mulai menyempit.
Catatan penting: data ini menggambarkan kondisi Agustus 2026 dalam rilis BPS, bukan harga harian pasar saat ini.
Diolah oleh Tim Data Zonautara.com dari Berita Resmi Statistik BPS Sulawesi Utara, tanggal 1 September 2026.
#SulawesiUtara #PetaniSulut #NTP #EkonomiSulut
Petani Sulut sedang menghadapi situasi yang agak paradoks.
Belanja rumah tangga memang sedikit lebih ringan. Tapi hasil jual pertanian turun lebih dalam.
Bayangkan begini: bulan Juli hasil kebun masih terasa cukup untuk belanja dapur, isi bensin, dan kebutuhan usaha tani. Masuk Agustus, beberapa pengeluaran memang turun, tapi nilai yang diterima dari hasil pertanian turun lebih cepat.
Akibatnya?
Daya tukar petani ikut melemah.
Data BPS Sulawesi Utara mencatat:
🔻 NTP Agustus 2026: 126,79
turun 2,14% dari Juli
🔻 NTUP: 131,34
turun 3,09%
🔻 Harga yang diterima petani turun 3,05%
🔻 Harga yang dibayar petani turun hanya 0,93%
Jadi persoalannya bukan sekadar “harga kebutuhan naik atau turun”.
Persoalannya adalah ini: hasil jual petani kehilangan daya lebih cepat daripada beban pengeluarannya berkurang.
Dan tekanan terberat datang dari hortikultura.
📉 NTP hortikultura turun 17,47%
dari 245,42 menjadi 202,55
Sementara subsektor lain justru masih naik:
📈 Tanaman pangan +2,88%
📈 Perkebunan rakyat +1,54%
📈 Peternakan +0,44%
📈 Perikanan +1,76%
Artinya, cerita petani Sulut bulan Agustus ini bukan cerita yang seragam. Ada subsektor yang masih menguat, tapi tekanan besar dari hortikultura menyeret gambaran umum ke bawah.
Satu fakta lain yang cukup mencolok: Sulawesi Utara menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Sulawesi yang NTP-nya turun pada Agustus 2026.
Jadi kalau angka 126,79 terasa abstrak, sederhananya begini: hasil panen masih bisa dibelanjakan, tapi ruang napasnya mulai menyempit.
Catatan penting: data ini menggambarkan kondisi Agustus 2026 dalam rilis BPS, bukan harga harian pasar saat ini.
Diolah oleh Tim Data Zonautara.com dari Berita Resmi Statistik BPS Sulawesi Utara, tanggal 1 September 2026.
#SulawesiUtara #PetaniSulut #NTP #EkonomiSulut
...
