Siaga El Niño: Kemarau Panjang
Laporan mengenai dampak fenomena El Niño terhadap krisis kekeringan ekstrem, ancaman kebakaran hutan, serta situasi dan kondisi terkait.
Baca liputan khusus Zonautara.com yang tayang di platform kolaboratif Teras.id, dengan dukungan Tempo, Tempo Institute dan IFPIM
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Situasi terkini di depan Gedung DPR RI Jakarta pada Kamis 27 Agustus 2026 pagi.
Sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa akan menggelar aksi unjuk rasa. Polda Metro Jaya melaporkan ada 62 kegiatan penyampaian pendapat di muka umum hari ini.
Empat kelompok utama yang terlibat
- Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) — dari Pati, Jawa Tengah.
- Aliansi Masyarakat Depok Bersatu (AMDB) — dari Depok, Jawa Barat (sebagian sudah aksi di DPRD Depok sehari sebelumnya).
- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) — aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil (sekitar 14 organisasi), dijadwalkan mulai pukul 14.00 WIB dengan perkiraan sekitar 1.000 peserta, mengusung tagar #MerebutKembaliIndonesia.
- Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4) — dari Bangkalan, Madura; datang untuk memberikan dukungan terhadap program pemerintah.
Massa AMPB dan kelompok lain sudah mulai berkumpul sejak hari sebelumnya, dengan persiapan spanduk dan logistik.
Tuntutan utama
AMPB: Mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset; mendorong hukuman mati bagi koruptor; serta penuntasan kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat di Kabupaten Pati (termasuk kasus terkait Bupati Pati).
AMDB: Pengesahan RUU Perampasan Aset; hukuman mati bagi koruptor; dan penurunan/stabilisasi harga kebutuhan pokok.
GERAM: Pertanggungjawaban politik dan dari Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka (terkait isu militerisme, demokrasi, dan ketimpangan); hentikan/evaluasi program KDMP dan MBG; tolak kebijakan pajak yang dianggap membebani rakyat serta dorong pajak progresif; pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas; turunkan harga kebutuhan pokok + naikkan upah buruh; tetapkan bencana di Sumatra dan NTT sebagai bencana nasional; lindungi hak pekerja rumah tangga; demiliterisasi dan hentikan pembangunan batalyon; hentikan kriminalisasi aktivis + bebaskan tahanan politik; serta usut korupsi dan kembalikan aset hasil korupsi.
RMP4: Dukungan terhadap program prioritas Presiden Prabowo, khususnya MBG, sambil meminta evaluasi pelaksanaannya.
Isu sentral yang paling menonjol adalah desakan pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai instrumen pemberantasan korupsi.
#demo27agustus
Situasi terkini di depan Gedung DPR RI Jakarta pada Kamis 27 Agustus 2026 pagi.
Sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa akan menggelar aksi unjuk rasa. Polda Metro Jaya melaporkan ada 62 kegiatan penyampaian pendapat di muka umum hari ini.
Empat kelompok utama yang terlibat
- Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) — dari Pati, Jawa Tengah.
- Aliansi Masyarakat Depok Bersatu (AMDB) — dari Depok, Jawa Barat (sebagian sudah aksi di DPRD Depok sehari sebelumnya).
- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) — aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil (sekitar 14 organisasi), dijadwalkan mulai pukul 14.00 WIB dengan perkiraan sekitar 1.000 peserta, mengusung tagar #MerebutKembaliIndonesia.
- Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4) — dari Bangkalan, Madura; datang untuk memberikan dukungan terhadap program pemerintah.
Massa AMPB dan kelompok lain sudah mulai berkumpul sejak hari sebelumnya, dengan persiapan spanduk dan logistik.
Tuntutan utama
AMPB: Mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset; mendorong hukuman mati bagi koruptor; serta penuntasan kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat di Kabupaten Pati (termasuk kasus terkait Bupati Pati).
AMDB: Pengesahan RUU Perampasan Aset; hukuman mati bagi koruptor; dan penurunan/stabilisasi harga kebutuhan pokok.
GERAM: Pertanggungjawaban politik dan dari Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka (terkait isu militerisme, demokrasi, dan ketimpangan); hentikan/evaluasi program KDMP dan MBG; tolak kebijakan pajak yang dianggap membebani rakyat serta dorong pajak progresif; pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas; turunkan harga kebutuhan pokok + naikkan upah buruh; tetapkan bencana di Sumatra dan NTT sebagai bencana nasional; lindungi hak pekerja rumah tangga; demiliterisasi dan hentikan pembangunan batalyon; hentikan kriminalisasi aktivis + bebaskan tahanan politik; serta usut korupsi dan kembalikan aset hasil korupsi.
RMP4: Dukungan terhadap program prioritas Presiden Prabowo, khususnya MBG, sambil meminta evaluasi pelaksanaannya.
Isu sentral yang paling menonjol adalah desakan pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai instrumen pemberantasan korupsi.
#demo27agustus
...
#krisisDi Balik Kilau Ekspor Tuna: Realita yang Tak Terlihat di Bitung
Di balik angka ekspor tuna yang mencapai miliaran rupiah dan statistik pelabuhan yang tampak meroket, ada kisah yang jauh lebih getir di rumah-rumah nelayan tradisional Bitung.
Krisis iklim bukanlah sekadar istilah sains bagi mereka. Saat angin selatan bertiup kencang dan gelombang tinggi menerjang, nelayan kecil di Bitung bukan hanya kehilangan mata pencaharian, tapi juga terjebak dalam "jaring utang" yang tak berujung. Sistem panjar, modal yang diberikan pemilik kapal, yang tidak lunas akibat cuaca buruk, perlahan menumpuk menjadi beban utang pribadi yang harus ditanggung keluarga di darat.
Ada kontras yang tajam antara data makro dan realitas di lapangan. Sementara pertumbuhan sektor perikanan mencatat angka pertumbuhan dua digit, nelayan gurem justru berjuang mempertahankan daya beli keluarga di tengah badai.
Angka-angka statistik seringkali menyembunyikan ketimpangan struktural: bahwa kesejahteraan yang ada masih terkonsentrasi pada korporasi besar dengan teknologi modern, sementara nelayan tradisional dibiarkan "berjalan sendiri" tanpa bantalan sosial yang memadai.
Kisah para nelayan di Bitung adalah pengingat penting bahwa kemajuan ekonomi tidak bisa hanya diukur dari volume ekspor. Ada nyawa yang dipertaruhkan di tengah laut dan ada ketahanan pangan keluarga yang terancam. Ketika data cuaca sulit diakses dan perlindungan nelayan masih mandul di lapangan, sudah saatnya kita melihat melampaui statistik dan mendengar suara mereka yang berada di garis depan.
Mari lebih peduli pada nasib nelayan kita. Karena di setiap potong ikan yang kita konsumsi, ada cerita tentang perjuangan hidup dan ketidakpastian iklim yang sedang mereka lawan setiap hari.
Baca tulisan ketiga dari Serial Liputan Mendalam kami: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulut" melalu link berikut ini: https://s.id/iklimsulut03
#krisisiklim
#keadilaniklim
#terasid
#bitung
#krisisDi Balik Kilau Ekspor Tuna: Realita yang Tak Terlihat di Bitung
Di balik angka ekspor tuna yang mencapai miliaran rupiah dan statistik pelabuhan yang tampak meroket, ada kisah yang jauh lebih getir di rumah-rumah nelayan tradisional Bitung.
Krisis iklim bukanlah sekadar istilah sains bagi mereka. Saat angin selatan bertiup kencang dan gelombang tinggi menerjang, nelayan kecil di Bitung bukan hanya kehilangan mata pencaharian, tapi juga terjebak dalam "jaring utang" yang tak berujung. Sistem panjar, modal yang diberikan pemilik kapal, yang tidak lunas akibat cuaca buruk, perlahan menumpuk menjadi beban utang pribadi yang harus ditanggung keluarga di darat.
Ada kontras yang tajam antara data makro dan realitas di lapangan. Sementara pertumbuhan sektor perikanan mencatat angka pertumbuhan dua digit, nelayan gurem justru berjuang mempertahankan daya beli keluarga di tengah badai.
Angka-angka statistik seringkali menyembunyikan ketimpangan struktural: bahwa kesejahteraan yang ada masih terkonsentrasi pada korporasi besar dengan teknologi modern, sementara nelayan tradisional dibiarkan "berjalan sendiri" tanpa bantalan sosial yang memadai.
Kisah para nelayan di Bitung adalah pengingat penting bahwa kemajuan ekonomi tidak bisa hanya diukur dari volume ekspor. Ada nyawa yang dipertaruhkan di tengah laut dan ada ketahanan pangan keluarga yang terancam. Ketika data cuaca sulit diakses dan perlindungan nelayan masih mandul di lapangan, sudah saatnya kita melihat melampaui statistik dan mendengar suara mereka yang berada di garis depan.
Mari lebih peduli pada nasib nelayan kita. Karena di setiap potong ikan yang kita konsumsi, ada cerita tentang perjuangan hidup dan ketidakpastian iklim yang sedang mereka lawan setiap hari.
Baca tulisan ketiga dari Serial Liputan Mendalam kami: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulut" melalu link berikut ini: https://s.id/iklimsulut03
#krisisiklim
#keadilaniklim
#terasid
#bitung
...
Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, menyapu desa-desa serta rute pendakian di sepanjang Sungai Bhotekoshi.
Bencana mematikan ini diduga kuat dipicu oleh longsoran es atau luapan danau glasial secara tiba-tiba dari sisi perbatasan China yang mengirimkan gelombang air tanpa peringatan.
Fakta terkini dari lokasi kejadian:
Korban Jiwa: Ratusan jenazah telah dievakuasi dari wilayah Rasuwa dan Nuwakot.
Ratusan Orang Hilang: Hampir 400 orang, termasuk wisatawan asing, peziarah, personel keamanan, dan pekerja infrastruktur masih belum ditemukan.
Infrastruktur Hancur: Gelombang air bah menghancurkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sembilan cabang bank komersial, dan memutus total komunikasi serta jalan raya.
Operasi Penyelamatan: Tim SAR gabungan mengerahkan drone, militer, dan helikopter untuk mencari korban di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Bantuan darurat lokal mulai didistribusikan, sementara lembaga internasional dan negara tetangga telah menawarkan dukungan untuk mempercepat proses evakuasi di daerah aliran sungai.
#Nepal #BanjirNepal
Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, menyapu desa-desa serta rute pendakian di sepanjang Sungai Bhotekoshi.
Bencana mematikan ini diduga kuat dipicu oleh longsoran es atau luapan danau glasial secara tiba-tiba dari sisi perbatasan China yang mengirimkan gelombang air tanpa peringatan.
Fakta terkini dari lokasi kejadian:
Korban Jiwa: Ratusan jenazah telah dievakuasi dari wilayah Rasuwa dan Nuwakot.
Ratusan Orang Hilang: Hampir 400 orang, termasuk wisatawan asing, peziarah, personel keamanan, dan pekerja infrastruktur masih belum ditemukan.
Infrastruktur Hancur: Gelombang air bah menghancurkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sembilan cabang bank komersial, dan memutus total komunikasi serta jalan raya.
Operasi Penyelamatan: Tim SAR gabungan mengerahkan drone, militer, dan helikopter untuk mencari korban di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Bantuan darurat lokal mulai didistribusikan, sementara lembaga internasional dan negara tetangga telah menawarkan dukungan untuk mempercepat proses evakuasi di daerah aliran sungai.
#Nepal #BanjirNepal
...
Berbagai kalangan menyalurkan bantuan logistik bagi masyarakat yang berkumpul di sekitar Gedung DPRD RI, yang berencana akan menggelar akse demo pada 27 Agustus 2026.
Footage: @serangfyp
#demo27agustus
#270826
Berbagai kalangan menyalurkan bantuan logistik bagi masyarakat yang berkumpul di sekitar Gedung DPRD RI, yang berencana akan menggelar akse demo pada 27 Agustus 2026.
Footage: @serangfyp
#demo27agustus
#270826
...
Banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-China (Tibet) terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Gelombang air bercampur lumpur dan material longsor menerjang kawasan pegunungan di Distrik Rasuwa dan Nuwakot (Nepal), serta area Pelabuhan Gyirong di Tibet. Arus deras menyapu desa, rumah, jalan, jembatan, dan proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang Sungai Bhote Koshi hingga Trishuli.
Hingga saat ini korban jiwa mencapai sekitar 160 orang (angka terus bertambah), dengan ratusan lainnya hilang, termasuk sekitar 400an wisatawan dan pekerja (banyak warga asing dari India, AS, Inggris, Malaysia, dll.). Sebagian besar wisatawan sedang dalam perjalanan atau ziarah.
Tim penyelamat masih melakukan pencarian dan evakuasi intensif di kedua sisi perbatasan.
Banjir diduga dipicu longsoran es/batu (ice-rock avalanche) dari gletser yang menyumbat sungai, kemungkinan terkait aktivitas seismik kecil.
#nepal #banjirbandang
Banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-China (Tibet) terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Gelombang air bercampur lumpur dan material longsor menerjang kawasan pegunungan di Distrik Rasuwa dan Nuwakot (Nepal), serta area Pelabuhan Gyirong di Tibet. Arus deras menyapu desa, rumah, jalan, jembatan, dan proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang Sungai Bhote Koshi hingga Trishuli.
Hingga saat ini korban jiwa mencapai sekitar 160 orang (angka terus bertambah), dengan ratusan lainnya hilang, termasuk sekitar 400an wisatawan dan pekerja (banyak warga asing dari India, AS, Inggris, Malaysia, dll.). Sebagian besar wisatawan sedang dalam perjalanan atau ziarah.
Tim penyelamat masih melakukan pencarian dan evakuasi intensif di kedua sisi perbatasan.
Banjir diduga dipicu longsoran es/batu (ice-rock avalanche) dari gletser yang menyumbat sungai, kemungkinan terkait aktivitas seismik kecil.
#nepal #banjirbandang
...
Angka statistik level provinsi mungkin terlihat stabil, tapi realitas di tingkat tapak dapat bicara lain.
Di balik persentase kemiskinan Sulawesi Utara yang tampak membaik, terdapat jurang kerentanan yang dalam. Krisis iklim saat ini tidak sekadar sebagai istilah teknis di meja birokrat, melainkan sebagai krisis air bersih bagi warga Sitaro, gagal panen bagi petani di Bolmong, hingga jeratan utang bagi nelayan tradisional di Bitung dan Bolsel.
Proyek infrastruktur megah sering kali terhambat birokrasi, sementara warga harus membayar mahal untuk bertahan hidup di tengah anomali cuaca. Data makro sering kali menutupi penderitaan mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi global, namun justru menanggung dampak paling berat sendirian.
Saatnya melihat lebih dekat pada mereka yang sering terabaikan. Keadilan iklim bukan sekadar tentang sertifikat program, melainkan tentang akses nyata bagi warga untuk bertahan hidup di tanah mereka sendiri.
Ikuti seri liputan mendalam Zonautara.com dalam seri "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
Baca tulisan kedua dari 10 tulisan yang akan kami terbitkan: KETIKA RERATA MENUTUPI KRISIS: POTRET KETIMPANGAN IKLIM SULAWESI UTARA
👉 https://s.id/iklimsulut02
#KrisisIklim
#ElNino2026
#WargaRentan
#KeadilanIklim
#TerasID
Angka statistik level provinsi mungkin terlihat stabil, tapi realitas di tingkat tapak dapat bicara lain.
Di balik persentase kemiskinan Sulawesi Utara yang tampak membaik, terdapat jurang kerentanan yang dalam. Krisis iklim saat ini tidak sekadar sebagai istilah teknis di meja birokrat, melainkan sebagai krisis air bersih bagi warga Sitaro, gagal panen bagi petani di Bolmong, hingga jeratan utang bagi nelayan tradisional di Bitung dan Bolsel.
Proyek infrastruktur megah sering kali terhambat birokrasi, sementara warga harus membayar mahal untuk bertahan hidup di tengah anomali cuaca. Data makro sering kali menutupi penderitaan mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi global, namun justru menanggung dampak paling berat sendirian.
Saatnya melihat lebih dekat pada mereka yang sering terabaikan. Keadilan iklim bukan sekadar tentang sertifikat program, melainkan tentang akses nyata bagi warga untuk bertahan hidup di tanah mereka sendiri.
Ikuti seri liputan mendalam Zonautara.com dalam seri "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
Baca tulisan kedua dari 10 tulisan yang akan kami terbitkan: KETIKA RERATA MENUTUPI KRISIS: POTRET KETIMPANGAN IKLIM SULAWESI UTARA
👉 https://s.id/iklimsulut02
#KrisisIklim
#ElNino2026
#WargaRentan
#KeadilanIklim
#TerasID
...
Dari pulau Siau yang dilanda kekeringan dan warga kehabisan air bersih, sawah yang retak dan jagung puso di Bolaang Mongondow, hingga nelayan di Bitung dan Bolsel yang terjerat utang karena gelombang semakin tinggi dan ikan semakin jauh, ketimpangan semakin lebar saat infrastruktur dasar tak berfungsi dan peringatan dini seringkali gagal tersampaikan.
Apa yang sebenarnya terjadi di tapak?
Setidaknya kami menemukan beberapa hal ini:
📍 Dampak Asimetris: Warga di wilayah pesisir, pertanian, dan pulau kecil menanggung beban terberat akibat El Niño 2026.
📍 Sistem yang Macet: Krisis air dan kegagalan sistem irigasi membuat warga harus berjuang sendiri, sementara petani dibiarkan bertaruh tanpa informasi cuaca yang jelas.
📍 Janji yang Belum Sampai: Program mitigasi seperti ProKlim dinilai belum memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di lapangan.
Ini bukan lagi soal prediksi masa depan, tapi realita pahit yang harus dihadapi warga hari ini. Ikuti seri liputan mendalam Zonautara.com dalam seri "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
Mulailah dari tulisan pertama dari 10 tulisan yang akan kami terbitkan:
👉 https://s.id/iklimsulut01
#KrisisIklim
#ElNino2026
#WargaRentan
#KeadilanIklim
#TerasID
Dari pulau Siau yang dilanda kekeringan dan warga kehabisan air bersih, sawah yang retak dan jagung puso di Bolaang Mongondow, hingga nelayan di Bitung dan Bolsel yang terjerat utang karena gelombang semakin tinggi dan ikan semakin jauh, ketimpangan semakin lebar saat infrastruktur dasar tak berfungsi dan peringatan dini seringkali gagal tersampaikan.
Apa yang sebenarnya terjadi di tapak?
Setidaknya kami menemukan beberapa hal ini:
📍 Dampak Asimetris: Warga di wilayah pesisir, pertanian, dan pulau kecil menanggung beban terberat akibat El Niño 2026.
📍 Sistem yang Macet: Krisis air dan kegagalan sistem irigasi membuat warga harus berjuang sendiri, sementara petani dibiarkan bertaruh tanpa informasi cuaca yang jelas.
📍 Janji yang Belum Sampai: Program mitigasi seperti ProKlim dinilai belum memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di lapangan.
Ini bukan lagi soal prediksi masa depan, tapi realita pahit yang harus dihadapi warga hari ini. Ikuti seri liputan mendalam Zonautara.com dalam seri "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
Mulailah dari tulisan pertama dari 10 tulisan yang akan kami terbitkan:
👉 https://s.id/iklimsulut01
#KrisisIklim
#ElNino2026
#WargaRentan
#KeadilanIklim
#TerasID
...
Bolaang Mongondow dikenal sebagai lumbung beras utama bagi Sulawesi Utara. Namun hari ini, lumbung beras itu sedang meradang.
Krisis iklim yang membawa suhu panas menyengat telah membakar sawah-sawah tadah hujan di wilayah Lolak dan Sangtombolang. Petani perempuan seperti Ibu Putih Hati Paropo harus menyaksikan impian panen padinya hangus menjadi abu terpanggang kemarau, meninggalkan kerugian modal hingga belasan juta rupiah. Tanpa jaminan asuransi tani dari negara, para perempuan kepala keluarga ini harus menanggung beban utang yang menumpuk.
Ironi terbesar berada tepat di depan mata mereka: Bendungan Lolak berdiri tegak dan megah menahan jutaan kubik air. Tetapi mengapa sawah di sekitarnya malah banyak yang tidak mendapatkan air? Liputan mendalam kami menemukan banyak fakta yang menyesakkan, bagi petani gurem.
Di tengah bencana ini, perempuan memikul beban ganda yang tidak terlihat. Merekalah yang harus berjalan berkilo-kilometer mencari sisa mata air bersih demi kebutuhan mandi, cuci, dan untuk keluarga, sekaligus memutar otak mencari alternatif tanaman seperti semangka.
Namun, kisah ini bukan hanya tentang penderitaan. Ini adalah kisah tentang ketangguhan. Ibu Putih Hati bersama kelompok perempuan tani di Desa Babo membuktikan agensinya dengan bersatu secara swadaya mengorganisasikan penanaman semangka bersama agar tidak tergilas oleh impitan ekonomi pascabencana.
Kami meliput ini untuk menyuarakan keadilan ruang dan hak air bagi petani gurem yang memikul ketahanan pangan kita.
Simak serial liputan lengkapnya: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara" mulai Senin, 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Teras.id
#LumbungPanganBolmong
#KrisisIklim
#TerasId
#KeadilanIklim
#KelompokRentan
Bolaang Mongondow dikenal sebagai lumbung beras utama bagi Sulawesi Utara. Namun hari ini, lumbung beras itu sedang meradang.
Krisis iklim yang membawa suhu panas menyengat telah membakar sawah-sawah tadah hujan di wilayah Lolak dan Sangtombolang. Petani perempuan seperti Ibu Putih Hati Paropo harus menyaksikan impian panen padinya hangus menjadi abu terpanggang kemarau, meninggalkan kerugian modal hingga belasan juta rupiah. Tanpa jaminan asuransi tani dari negara, para perempuan kepala keluarga ini harus menanggung beban utang yang menumpuk.
Ironi terbesar berada tepat di depan mata mereka: Bendungan Lolak berdiri tegak dan megah menahan jutaan kubik air. Tetapi mengapa sawah di sekitarnya malah banyak yang tidak mendapatkan air? Liputan mendalam kami menemukan banyak fakta yang menyesakkan, bagi petani gurem.
Di tengah bencana ini, perempuan memikul beban ganda yang tidak terlihat. Merekalah yang harus berjalan berkilo-kilometer mencari sisa mata air bersih demi kebutuhan mandi, cuci, dan untuk keluarga, sekaligus memutar otak mencari alternatif tanaman seperti semangka.
Namun, kisah ini bukan hanya tentang penderitaan. Ini adalah kisah tentang ketangguhan. Ibu Putih Hati bersama kelompok perempuan tani di Desa Babo membuktikan agensinya dengan bersatu secara swadaya mengorganisasikan penanaman semangka bersama agar tidak tergilas oleh impitan ekonomi pascabencana.
Kami meliput ini untuk menyuarakan keadilan ruang dan hak air bagi petani gurem yang memikul ketahanan pangan kita.
Simak serial liputan lengkapnya: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara" mulai Senin, 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Teras.id
#LumbungPanganBolmong
#KrisisIklim
#TerasId
#KeadilanIklim
#KelompokRentan
...
Saat Anda menikmati sepiring tuna segar yang lezat, tahukah Anda bahwa ada nyawa nelayan tradisional yang baru saja dipertaruhkan demi mendaratkannya ke daratan?
Perubahan iklim telah memicu anomali suhu muka laut yang ekstrem. Fenomena El Niño kuat (+2,26) mendorong massa air kaya hara naik ke permukaan laut. Tuna-tuna berkumpul, namun angin selatan bertiup kencang membawa badai ekstrem yang tidak ramah bagi perahu pakura gurem berukuran di bawah 10 GT.
Para nelayan kecil seperti Pak Kombang Akuba di Bitung atau Opa Japar di pesisir Bolsel kini harus melaut hingga jarak yang tidak masuk akal, lebih dari 70 mil laut dari garis pantai, hanya untuk mengejar jalur migrasi ikan yang terus bergeser ke tengah laut lepas. Biaya solar melambung, risiko perahu terbalik dihantam gelombang semakin nyata, namun asuransi nelayan yang diamanatkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2016 mandek di tingkat birokrasi.
Di darat, para istri nelayan seperti Martini Mundok terjebak dalam kecemasan. Saat badai menahan suaminya melaut, dapur harus tetap mengepul demi anak-anak mereka. Jalan satu-satunya adalah berutang beras ke pemilik kapal. Utang yang menumpuk ini akhirnya mengikat para nelayan gurem untuk terus bekerja di bawah sistem bagi hasil yang menjerat, tanpa pernah bisa mandiri.
Mengapa Zonautara.com meliput ini? Kami tidak ingin membiarkan penderitaan para penjaga kedaulatan pangan laut kita tenggelam dalam sepi tanpa pertanggungjawaban dari para pemegang kebijakan industri perikanan.
Tim kami telah mewawancarai nelayan tradisional, serikat awak kapal SAKTI, syahbandar pelabuhan, hingga pengusaha perikanan skala besar untuk menguak ketimpangan sistemik ini.
Ikuti penelusuran lengkapnya dalam serial laporan mendalam: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
Tanayng mulai Senin, 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Teras.id
#KrisisIklim
#TerasId
#KeadilanIklim
#Nelayan
Saat Anda menikmati sepiring tuna segar yang lezat, tahukah Anda bahwa ada nyawa nelayan tradisional yang baru saja dipertaruhkan demi mendaratkannya ke daratan?
Perubahan iklim telah memicu anomali suhu muka laut yang ekstrem. Fenomena El Niño kuat (+2,26) mendorong massa air kaya hara naik ke permukaan laut. Tuna-tuna berkumpul, namun angin selatan bertiup kencang membawa badai ekstrem yang tidak ramah bagi perahu pakura gurem berukuran di bawah 10 GT.
Para nelayan kecil seperti Pak Kombang Akuba di Bitung atau Opa Japar di pesisir Bolsel kini harus melaut hingga jarak yang tidak masuk akal, lebih dari 70 mil laut dari garis pantai, hanya untuk mengejar jalur migrasi ikan yang terus bergeser ke tengah laut lepas. Biaya solar melambung, risiko perahu terbalik dihantam gelombang semakin nyata, namun asuransi nelayan yang diamanatkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2016 mandek di tingkat birokrasi.
Di darat, para istri nelayan seperti Martini Mundok terjebak dalam kecemasan. Saat badai menahan suaminya melaut, dapur harus tetap mengepul demi anak-anak mereka. Jalan satu-satunya adalah berutang beras ke pemilik kapal. Utang yang menumpuk ini akhirnya mengikat para nelayan gurem untuk terus bekerja di bawah sistem bagi hasil yang menjerat, tanpa pernah bisa mandiri.
Mengapa Zonautara.com meliput ini? Kami tidak ingin membiarkan penderitaan para penjaga kedaulatan pangan laut kita tenggelam dalam sepi tanpa pertanggungjawaban dari para pemegang kebijakan industri perikanan.
Tim kami telah mewawancarai nelayan tradisional, serikat awak kapal SAKTI, syahbandar pelabuhan, hingga pengusaha perikanan skala besar untuk menguak ketimpangan sistemik ini.
Ikuti penelusuran lengkapnya dalam serial laporan mendalam: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
Tanayng mulai Senin, 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Teras.id
#KrisisIklim
#TerasId
#KeadilanIklim
#Nelayan
...
Pala Siau terkenal di pasar dunia sebagai emas hijau dengan kualitas terbaik. Namun hari ini, para petani pala di Kepulauan Sitaro sedang menatap dahan-dahan pohon yang meranggas kering terpanggang suhu ekstrem.
Di balik kebanggaan sebagai daerah penghasil pala dunia, ada krisis kemanusiaan sunyi yang menghantam ruang domestik rumah tangga di Kepulauan Sitaro. Kekeringan ekstrem akibat anomali El Niño telah mengeringkan sumber air warga. Ibu-ibu rumah tangga seperti Cherry Paat di Desa Mini terpaksa membawa pakaian kotor mereka ke pantai, mencuci di bawah terik matahari dengan air laut yang payau karena jatah air tawar di rumah hanya cukup untuk masak dan minum.
Mengapa kami mengangkat kisah Sitaro? Karena krisis air bersih di pulau vulkanik ini bukanlah takdir alam semata. Liputan investigasi kami menemukan indikasi kuat adanya salah urus dan pembiaran proyek infrastruktur air bersih. Jaringan SPAM yang menelan anggaran miliaran rupiah beroperasi tidak maksimal. Akibatnya, kelompok rentan terpaksa membeli air tangki swasta dengan harga selangit, memperdalam rantai kemiskinan gurem.
Dalam peliputan mendalam di Sitaro ini, tim jurnalis kami mencoba menembus wilayah terdampak paling parah di Kecamatan Siau Barat Utara. Menemui langsung para petani pala, ibu rumah tangga pengambil air, dan mendatangi pejabat berwenang menanyakan persoalan ini.
Kisah tentang bagaimana perubahan iklim dan kelalaian birokrasi berkolaborasi menghancurkan ketahanan warga pulau akan tersaji secara lengkap, dalam serial liputan kami: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara", mulai 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Zonautara.com dan Teras.id
Bagikan postingan ini untuk menyebarkan kepedulian terhadap keadilan iklim di pulau-pulau kecil kita!
#KrisisAir
#KeadilanIklim
#TerasId
#KelompokRentan
#KeadilanIklim
Pala Siau terkenal di pasar dunia sebagai emas hijau dengan kualitas terbaik. Namun hari ini, para petani pala di Kepulauan Sitaro sedang menatap dahan-dahan pohon yang meranggas kering terpanggang suhu ekstrem.
Di balik kebanggaan sebagai daerah penghasil pala dunia, ada krisis kemanusiaan sunyi yang menghantam ruang domestik rumah tangga di Kepulauan Sitaro. Kekeringan ekstrem akibat anomali El Niño telah mengeringkan sumber air warga. Ibu-ibu rumah tangga seperti Cherry Paat di Desa Mini terpaksa membawa pakaian kotor mereka ke pantai, mencuci di bawah terik matahari dengan air laut yang payau karena jatah air tawar di rumah hanya cukup untuk masak dan minum.
Mengapa kami mengangkat kisah Sitaro? Karena krisis air bersih di pulau vulkanik ini bukanlah takdir alam semata. Liputan investigasi kami menemukan indikasi kuat adanya salah urus dan pembiaran proyek infrastruktur air bersih. Jaringan SPAM yang menelan anggaran miliaran rupiah beroperasi tidak maksimal. Akibatnya, kelompok rentan terpaksa membeli air tangki swasta dengan harga selangit, memperdalam rantai kemiskinan gurem.
Dalam peliputan mendalam di Sitaro ini, tim jurnalis kami mencoba menembus wilayah terdampak paling parah di Kecamatan Siau Barat Utara. Menemui langsung para petani pala, ibu rumah tangga pengambil air, dan mendatangi pejabat berwenang menanyakan persoalan ini.
Kisah tentang bagaimana perubahan iklim dan kelalaian birokrasi berkolaborasi menghancurkan ketahanan warga pulau akan tersaji secara lengkap, dalam serial liputan kami: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara", mulai 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Zonautara.com dan Teras.id
Bagikan postingan ini untuk menyebarkan kepedulian terhadap keadilan iklim di pulau-pulau kecil kita!
#KrisisAir
#KeadilanIklim
#TerasId
#KelompokRentan
#KeadilanIklim
...
Apakah Anda percaya pada angka-angka statistik yang tampak indah di atas kertas?
Di Sulawesi Utara, angka kemiskinan makro dilaporkan melandai di angka 6,71%. Namun, jika kita melangkah lebih jauh ke pesisir Teluk Tomini, pulau-pulau kecil di Kepulauan Sitaro, hingga ladang tadah hujan Bolaang Mongondow, kita akan menemukan kenyataan yang jauh berbeda.
Krisis iklim bukanlah ancaman masa depan, tapi sedang terjadi hari ini di dapur-dapur keluarga rentan. Tim jurnalis Zonautara.com telah turun langsung ke lapangan, melintasi batas-batas administratif untuk memotret ketimpangan yang luput dari sorotan kamera humas pemerintah.
Mengapa kami meliput ini? Karena krisis iklim adalah pengganda kerentanan (vulnerability multiplier). Ketika kemarau ekstrem akibat anomali El Niño (+2,26) melanda atau badai angin selatan berkecamuk, yang paling pertama dan paling berat menanggung bebannya adalah para perempuan kepala keluarga, balita, disabilitas, nelayan ketinting tradisional, dan petani gurem.
Kami melakukan investasi waktu dan tenaga untuk menggali kebenaran secara objektif dan kritis. Peliputan mendalam ini menjangkau wilayah-wilayah kritis di Sulawesi Utara:
📍 Kabupaten Kepulauan Sitaro (Krisis air bersih & rusaknya tanaman pala)
📍 Kabupaten Bolmong (Puso massal lumbung pangan & macetnya irigasi)
📍 Kabupaten Bolsel (Abrasi ekstrem & banjir pesisir berulang)
📍 Kota Bitung (Kelangkaan ikan tuna & ancaman nyawa nelayan tradisional)
📍 Kota Kotamobagu (Kerentanan perempuan urban)
Demi menghadirkan suara yang murni, kritis, dan berbasis bukti kuat, jurnalis kami telah menemui dan mewawancarai lebih dari 50 narasumber warga, petani gurem, dan nelayan tradisional. Serta lebih dari 20 pejabat publik, akademisi, dan pakar klimatologi untuk menguji akuntabilitas kebijakan serta komitmen negara di tingkat tapak.
Krisis ini nyata, beban ini timpang, dan negara tidak boleh terus-menerus bersembunyi di balik angka rerata statistik yang menipu.
Nantikan serial laporan mendalam Tim Zonautara.com: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
📅 Mulai Senin, 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Teras.id/Zonautara-com
#KrisisIklim
#TerasId
#KeadilanIklim
Apakah Anda percaya pada angka-angka statistik yang tampak indah di atas kertas?
Di Sulawesi Utara, angka kemiskinan makro dilaporkan melandai di angka 6,71%. Namun, jika kita melangkah lebih jauh ke pesisir Teluk Tomini, pulau-pulau kecil di Kepulauan Sitaro, hingga ladang tadah hujan Bolaang Mongondow, kita akan menemukan kenyataan yang jauh berbeda.
Krisis iklim bukanlah ancaman masa depan, tapi sedang terjadi hari ini di dapur-dapur keluarga rentan. Tim jurnalis Zonautara.com telah turun langsung ke lapangan, melintasi batas-batas administratif untuk memotret ketimpangan yang luput dari sorotan kamera humas pemerintah.
Mengapa kami meliput ini? Karena krisis iklim adalah pengganda kerentanan (vulnerability multiplier). Ketika kemarau ekstrem akibat anomali El Niño (+2,26) melanda atau badai angin selatan berkecamuk, yang paling pertama dan paling berat menanggung bebannya adalah para perempuan kepala keluarga, balita, disabilitas, nelayan ketinting tradisional, dan petani gurem.
Kami melakukan investasi waktu dan tenaga untuk menggali kebenaran secara objektif dan kritis. Peliputan mendalam ini menjangkau wilayah-wilayah kritis di Sulawesi Utara:
📍 Kabupaten Kepulauan Sitaro (Krisis air bersih & rusaknya tanaman pala)
📍 Kabupaten Bolmong (Puso massal lumbung pangan & macetnya irigasi)
📍 Kabupaten Bolsel (Abrasi ekstrem & banjir pesisir berulang)
📍 Kota Bitung (Kelangkaan ikan tuna & ancaman nyawa nelayan tradisional)
📍 Kota Kotamobagu (Kerentanan perempuan urban)
Demi menghadirkan suara yang murni, kritis, dan berbasis bukti kuat, jurnalis kami telah menemui dan mewawancarai lebih dari 50 narasumber warga, petani gurem, dan nelayan tradisional. Serta lebih dari 20 pejabat publik, akademisi, dan pakar klimatologi untuk menguji akuntabilitas kebijakan serta komitmen negara di tingkat tapak.
Krisis ini nyata, beban ini timpang, dan negara tidak boleh terus-menerus bersembunyi di balik angka rerata statistik yang menipu.
Nantikan serial laporan mendalam Tim Zonautara.com: "Dampak Krisis Iklim Bagi Kelompok Rentan di Sulawesi Utara"
📅 Mulai Senin, 24 Agustus 2026
🌐 Eksklusif di Teras.id/Zonautara-com
#KrisisIklim
#TerasId
#KeadilanIklim
...
Jarak itu terasa semakin ironis ketika diletakkan bersebelahan dengan pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus, tepat ketika saya sedang menyaksikan kekeringan dan kebakaran lahan di Bolaang Mongondow.
Di depan MPR, DPR dan DPD, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dan menegaskan bahwa keadaan pangan nasional aman serta pemerintah yakin mampu menghadapi El Niño tahun ini. Pada pidato yang sama Presiden juga mengatakan sesuatu yang menurut saya jauh lebih penting daripada seluruh angka produksi pangan yang disampaikan hari itu: kemerdekaan adalah apa yang dapat dirasakan oleh rakyat.
Kalimat itu sebaiknya tidak diperlakukan sekadar sebagai bagian yang bagus untuk dipotong menjadi konten media sosial Istana.
Bawalah kalimat tersebut ke Babo dan tanyakan kepada petani yang harus menyewa ekskavator untuk mendapatkan air. Bawalah ke Diat, tempat puluhan hektare sawah gagal ditanami. Bawalah ke Langagon, ke Inobonto, ke Tambun, atau ke peternak yang harus mencari air dari tempat lain supaya sapinya dapat minum.
Dengan ukuran yang dibuat Presiden sendiri, bahwa kemerdekaan harus dapat dirasakan rakyat, kita mempunyai alasan yang sangat sah untuk bertanya seberapa jauh kemerdekaan itu telah sampai ke sini.
Swasembada pangan nasional adalah pencapaian yang patut dihargai. Menurunkan harga pupuk, memperbesar ketersediaannya, membangun infrastruktur, menyediakan pompa dan meningkatkan produksi tentu bukan hal kecil.
Tetapi keberhasilan makro tidak boleh membuat kita lupa bahwa ketahanan pangan sebenarnya berlangsung di jutaan petak lahan yang masing-masing mempunyai persoalan air, tanah dan risiko berbeda. Negara boleh memiliki stok beras yang aman sementara satu keluarga petani kehilangan seluruh modalnya.
Produksi jagung nasional dapat meningkat sementara satu hamparan jagung di Inobonto mati. Tidak ada kontradiksi statistik di sana; yang ada adalah perbedaan antara melihat pangan sebagai angka produksi dan melihat pangan sebagai kehidupan orang yang memproduksinya.
Selengkapnya baca di sini: https://zonautara.com/2026/08/17/merdeka-tetapi-petani-masih-membeli-air/
Jarak itu terasa semakin ironis ketika diletakkan bersebelahan dengan pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus, tepat ketika saya sedang menyaksikan kekeringan dan kebakaran lahan di Bolaang Mongondow.
Di depan MPR, DPR dan DPD, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dan menegaskan bahwa keadaan pangan nasional aman serta pemerintah yakin mampu menghadapi El Niño tahun ini. Pada pidato yang sama Presiden juga mengatakan sesuatu yang menurut saya jauh lebih penting daripada seluruh angka produksi pangan yang disampaikan hari itu: kemerdekaan adalah apa yang dapat dirasakan oleh rakyat.
Kalimat itu sebaiknya tidak diperlakukan sekadar sebagai bagian yang bagus untuk dipotong menjadi konten media sosial Istana.
Bawalah kalimat tersebut ke Babo dan tanyakan kepada petani yang harus menyewa ekskavator untuk mendapatkan air. Bawalah ke Diat, tempat puluhan hektare sawah gagal ditanami. Bawalah ke Langagon, ke Inobonto, ke Tambun, atau ke peternak yang harus mencari air dari tempat lain supaya sapinya dapat minum.
Dengan ukuran yang dibuat Presiden sendiri, bahwa kemerdekaan harus dapat dirasakan rakyat, kita mempunyai alasan yang sangat sah untuk bertanya seberapa jauh kemerdekaan itu telah sampai ke sini.
Swasembada pangan nasional adalah pencapaian yang patut dihargai. Menurunkan harga pupuk, memperbesar ketersediaannya, membangun infrastruktur, menyediakan pompa dan meningkatkan produksi tentu bukan hal kecil.
Tetapi keberhasilan makro tidak boleh membuat kita lupa bahwa ketahanan pangan sebenarnya berlangsung di jutaan petak lahan yang masing-masing mempunyai persoalan air, tanah dan risiko berbeda. Negara boleh memiliki stok beras yang aman sementara satu keluarga petani kehilangan seluruh modalnya.
Produksi jagung nasional dapat meningkat sementara satu hamparan jagung di Inobonto mati. Tidak ada kontradiksi statistik di sana; yang ada adalah perbedaan antara melihat pangan sebagai angka produksi dan melihat pangan sebagai kehidupan orang yang memproduksinya.
Selengkapnya baca di sini: https://zonautara.com/2026/08/17/merdeka-tetapi-petani-masih-membeli-air/
...
