MARI HADIRI NOBAR & DISKUSI.
TERBUKA UNTUK UMUM!
Film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale merupakan hasil kolaborasi berbagai lembaga, menghadirkan potret nyata tentang relasi antara masyarakat, kekuasaan, dan pembangunan di Papua.
Karya ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi atas situasi yang terus berlangsung. Mulai dari penggusuran, kekerasan struktural, hingga suara-suara yang kerap dibungkam atas nama kemajuan.
Dengan visual yang kuat, film ini menggambarkan keterkaitan antara pemerintah, korporasi, aparat, dan institusi lainnya dalam suatu sistem yang seringkali berdampak langsung pada masyarakat adat dan ruang hidup mereka.
Ini adalah kesempatan untuk membuka ruang dialog, mendengar perspektif yang jarang disorot, dan memahami realitas dari sudut pandang yang berbeda.
📅 : Sabtu, 25 April 2026
⏰ : 19.00 WITA – selesai
📍 : Aula Universitas Dumoga Kotamobagu
📞 : Info lebih lanjut: 081526092668 (Deyna)
Mari hadir dan jadi bagian dari ruang belajar bersama.
Silahkan mendaftar di siniL https://s.id/nobarzu
CATATAN:
- Dapat membawa/snack pribadi
- Membawa tumbler masing-masing
- Dilarang membawa atau mengonsumsi minuman beralkohol dan narkoba atau sejenisnya
#pestababi
#PapuaBukanTanahKosong
MARI HADIRI NOBAR & DISKUSI.
TERBUKA UNTUK UMUM!
Film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale merupakan hasil kolaborasi berbagai lembaga, menghadirkan potret nyata tentang relasi antara masyarakat, kekuasaan, dan pembangunan di Papua.
Karya ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi atas situasi yang terus berlangsung. Mulai dari penggusuran, kekerasan struktural, hingga suara-suara yang kerap dibungkam atas nama kemajuan.
Dengan visual yang kuat, film ini menggambarkan keterkaitan antara pemerintah, korporasi, aparat, dan institusi lainnya dalam suatu sistem yang seringkali berdampak langsung pada masyarakat adat dan ruang hidup mereka.
Ini adalah kesempatan untuk membuka ruang dialog, mendengar perspektif yang jarang disorot, dan memahami realitas dari sudut pandang yang berbeda.
📅 : Sabtu, 25 April 2026
⏰ : 19.00 WITA – selesai
📍 : Aula Universitas Dumoga Kotamobagu
📞 : Info lebih lanjut: 081526092668 (Deyna)
Mari hadir dan jadi bagian dari ruang belajar bersama.
Silahkan mendaftar di siniL https://s.id/nobarzu
CATATAN:
- Dapat membawa/snack pribadi
- Membawa tumbler masing-masing
- Dilarang membawa atau mengonsumsi minuman beralkohol dan narkoba atau sejenisnya
#pestababi
#PapuaBukanTanahKosong
...
Beberapa sumber data pemerintah memberi jawaban yang berbeda atas satu pertanyaan mendasar kami: seberapa luas sebenarnya sawah di Bolaang Mongondow, dan berapa yang masih tersisa?
Dalam serial liputan “Tanam Padi Beli Beras”, kami di Zonautara menetapkan hierarki sumber data sebagai berikut, untuk tren jangka panjang, data Kementerian Pertanian menjadi rujukan utama karena relatif konsisten dengan versi BPS. Untuk konfirmasi independen tutupan lahan, kami menggunaan data analisi citra satelit dari MapBiomas, karena tidak bergantung pada birokrasi manapun. Dan, untuk data terkini serta harga beras, kami gunakan data dari BPS dan PIPH Nasional. Sementara itu, untuk klaim pemerintah daerah, data Dinas Pertanian kami sertakan sebagai posisi resmi yang perlu dikonfrontasikan, bukan sebagai fakta yang berdiri sendiri.
Cara menggunakan data ini punya implikasi serius. Jika menggunakan angka Dinas Pertanian, produksi padi Bolmong tampak jauh lebih besar dan trennya tampak lebih baik dari realitas. Jika menggunakan BPS/Kementan, gambaran yang muncul adalah kabupaten yang kehilangan hampir separuh area panen dalam dua dekade, dengan produksi yang belum kembali ke level sebelum El Nino 2023.
Bolmong memang masih lumbung beras. Tapi lumbung itu sedang dihitung dengan ukuran yang berbeda-beda. Dan, di bawah perdebatan angka itu, petani sudah membuat keputusan, dengan mengalihkan komoditas, mengurangi lahan tanam, atau sekadar "Sabar, sampai di sabar saja," seperti kata salah satu petani.
Selengkapnya baca di: https://s.id/sawahbolmong06
Anda juga dapat membaca insight dari seluruh liputan ini di sini: https://zonautara.com/serial-lipsus-tanam-padi-beli-beras/
#terasid
#tanampadibeliberas
#alihfungsilahan
Beberapa sumber data pemerintah memberi jawaban yang berbeda atas satu pertanyaan mendasar kami: seberapa luas sebenarnya sawah di Bolaang Mongondow, dan berapa yang masih tersisa?
Dalam serial liputan “Tanam Padi Beli Beras”, kami di Zonautara menetapkan hierarki sumber data sebagai berikut, untuk tren jangka panjang, data Kementerian Pertanian menjadi rujukan utama karena relatif konsisten dengan versi BPS. Untuk konfirmasi independen tutupan lahan, kami menggunaan data analisi citra satelit dari MapBiomas, karena tidak bergantung pada birokrasi manapun. Dan, untuk data terkini serta harga beras, kami gunakan data dari BPS dan PIPH Nasional. Sementara itu, untuk klaim pemerintah daerah, data Dinas Pertanian kami sertakan sebagai posisi resmi yang perlu dikonfrontasikan, bukan sebagai fakta yang berdiri sendiri.
Cara menggunakan data ini punya implikasi serius. Jika menggunakan angka Dinas Pertanian, produksi padi Bolmong tampak jauh lebih besar dan trennya tampak lebih baik dari realitas. Jika menggunakan BPS/Kementan, gambaran yang muncul adalah kabupaten yang kehilangan hampir separuh area panen dalam dua dekade, dengan produksi yang belum kembali ke level sebelum El Nino 2023.
Bolmong memang masih lumbung beras. Tapi lumbung itu sedang dihitung dengan ukuran yang berbeda-beda. Dan, di bawah perdebatan angka itu, petani sudah membuat keputusan, dengan mengalihkan komoditas, mengurangi lahan tanam, atau sekadar "Sabar, sampai di sabar saja," seperti kata salah satu petani.
Selengkapnya baca di: https://s.id/sawahbolmong06
Anda juga dapat membaca insight dari seluruh liputan ini di sini: https://zonautara.com/serial-lipsus-tanam-padi-beli-beras/
#terasid
#tanampadibeliberas
#alihfungsilahan
...
Sebuah momen haru terlihat pada video yang diunggah di akun Facebook Enjel Lokas, ketika seekor anjing kampung tidak tega melihat tuannya yang sudah meninggal. Adegan ini memperlihatan betapa kuat hubungan emosional manusia dengan hewan peliharaannya.
#doglover
#dog
Sebuah momen haru terlihat pada video yang diunggah di akun Facebook Enjel Lokas, ketika seekor anjing kampung tidak tega melihat tuannya yang sudah meninggal. Adegan ini memperlihatan betapa kuat hubungan emosional manusia dengan hewan peliharaannya.
#doglover
#dog
...
Akun Facebook Jamil Welong mengupload video yang memperlihatkan ketika sejumlah nelayan bertemu dengan hiu paus saat mereka sedang menangkap ikan kecil. Dari adegan di dalam video tersebut terlihat para nelayan sudah mendapat edukasi yang baik tentang jenis hewan laut yang tidak perlu ditangkap.
Banyak momen lucu saat mereka membiarkan hiu paus memakan ikan-ikan kecil.
#hiupaus
#whaleshark
Akun Facebook Jamil Welong mengupload video yang memperlihatkan ketika sejumlah nelayan bertemu dengan hiu paus saat mereka sedang menangkap ikan kecil. Dari adegan di dalam video tersebut terlihat para nelayan sudah mendapat edukasi yang baik tentang jenis hewan laut yang tidak perlu ditangkap.
Banyak momen lucu saat mereka membiarkan hiu paus memakan ikan-ikan kecil.
#hiupaus
#whaleshark
...
Data yang dibaca Zonautara.com dari berbagai sumber memerikan penurunan produksi padi di Bolaang Mongondow dalam 10 tahun terakhir. Dan penurunan yang terparah terjadi pada 2023, di mana tahun ini produksi padi Bolaang Mongondow hanya 189,5 ribu ton, anjlok sebesar 51,66 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan ini juga tercermin dari data BPS dan Kementerian Pertanian. Penurunan produksi padi itu berdampak pada kenaikan harga beras di tingkat pengecer. Harga beras di Kotamobagu, sebagai sentra ekonomi wilayah Bolaang Mongondow Raya terus naik. Pada Januari 2024 rata-rata harga beras di Kotamobagu ada pada level Rp 13.250 per kg, dan kini harga sudah menyentuh rata-rata Rp 16.500 per kg.
Menanggapi penurunan lebih dari setengah produksi padi pada 2022 tersebut Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow menyebut bahwa penyebabnya adalah El Nino.
Namun, apakah itu satu-satunya alasan? Analisis faktor lainnya dalam pertanian menjadi penting.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong05
#terasid
#tanampadibeliberas
Data yang dibaca Zonautara.com dari berbagai sumber memerikan penurunan produksi padi di Bolaang Mongondow dalam 10 tahun terakhir. Dan penurunan yang terparah terjadi pada 2023, di mana tahun ini produksi padi Bolaang Mongondow hanya 189,5 ribu ton, anjlok sebesar 51,66 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan ini juga tercermin dari data BPS dan Kementerian Pertanian. Penurunan produksi padi itu berdampak pada kenaikan harga beras di tingkat pengecer. Harga beras di Kotamobagu, sebagai sentra ekonomi wilayah Bolaang Mongondow Raya terus naik. Pada Januari 2024 rata-rata harga beras di Kotamobagu ada pada level Rp 13.250 per kg, dan kini harga sudah menyentuh rata-rata Rp 16.500 per kg.
Menanggapi penurunan lebih dari setengah produksi padi pada 2022 tersebut Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow menyebut bahwa penyebabnya adalah El Nino.
Namun, apakah itu satu-satunya alasan? Analisis faktor lainnya dalam pertanian menjadi penting.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong05
#terasid
#tanampadibeliberas
...
Di tengah teriknya matahari Bolaang Mongondow, Mickhael Adityo Lamber dan keluarganya menghadapi pilihan sulit. Dengan mengandalkan cerita masa lalu dan pengalaman langsung, keluarga ini menggambarkan perubahan yang terjadi dari generasi ke generasi.
Dulu, sawah melimpah dengan hasil padi. Namun, biaya tinggi dan ketidakpastian air mendorong mereka beralih ke jagung. Petani setempat mengungkapkan bahwa meski teknologi pertanian masuk, kenyataan di lapangan tetap menekan.
Ayah Mickhael, Agustinus Lamber, mengisahkan bagaimana keputusan ekonomi akhirnya menggiring banyak petani untuk beralih. Tapi mereka tidak sendiri. Banyak petani di daerah ini menghadapi hal yang sama. Kini, jagung dianggap sebagai pilihan lebih aman dibandingkan padi.
Keputusan bertani kini tak sekadar pilihan, tapi tuntutan bertahan hidup.
Selengkapnya baca di: https://s.id/sawahbolmong04
#PerubahanIklim
#tanampadibeliberas
#terasid
Di tengah teriknya matahari Bolaang Mongondow, Mickhael Adityo Lamber dan keluarganya menghadapi pilihan sulit. Dengan mengandalkan cerita masa lalu dan pengalaman langsung, keluarga ini menggambarkan perubahan yang terjadi dari generasi ke generasi.
Dulu, sawah melimpah dengan hasil padi. Namun, biaya tinggi dan ketidakpastian air mendorong mereka beralih ke jagung. Petani setempat mengungkapkan bahwa meski teknologi pertanian masuk, kenyataan di lapangan tetap menekan.
Ayah Mickhael, Agustinus Lamber, mengisahkan bagaimana keputusan ekonomi akhirnya menggiring banyak petani untuk beralih. Tapi mereka tidak sendiri. Banyak petani di daerah ini menghadapi hal yang sama. Kini, jagung dianggap sebagai pilihan lebih aman dibandingkan padi.
Keputusan bertani kini tak sekadar pilihan, tapi tuntutan bertahan hidup.
Selengkapnya baca di: https://s.id/sawahbolmong04
#PerubahanIklim
#tanampadibeliberas
#terasid
...
"Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat `Aku mau!` membuat kita mudah mendaki puncak gunung." -R.A Kartini
Selamat hari Kartini. 21 April 2026.
"Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat `Aku mau!` membuat kita mudah mendaki puncak gunung." -R.A Kartini
Selamat hari Kartini. 21 April 2026.
...
Bolaang Mongondow, lumbung beras Sulawesi Utara, menghadapi ironi. Petani harus berutang di awal musim tanam dan menanggung kerugian di akhir masa panen. Dampak El Nino memukul produksi pada 2023. Pembenahan mekanisasi dan kebijakan strategis jadi harapan. Namun, data pertanian yang tidak sejalan antara dinas dan BPS menjadi tantangan tersendiri. Tonny S. Toligaga, Kepala Dinas Pertanian Bolmong, menjelaskan tantangan ini. Ia menjelaskan perjuangan petani dan intervensi dinas dalam memacu produksi. Mari kita pahami lebih dalam.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong03
[UPDATE: Bupati Bolmong Yusra Alhabsyi menganti Tonny Toligaga dari jabatan Kepala Dinas Pertanian dalam mutasi sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Bolmong, 20 April 2026.
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
Bolaang Mongondow, lumbung beras Sulawesi Utara, menghadapi ironi. Petani harus berutang di awal musim tanam dan menanggung kerugian di akhir masa panen. Dampak El Nino memukul produksi pada 2023. Pembenahan mekanisasi dan kebijakan strategis jadi harapan. Namun, data pertanian yang tidak sejalan antara dinas dan BPS menjadi tantangan tersendiri. Tonny S. Toligaga, Kepala Dinas Pertanian Bolmong, menjelaskan tantangan ini. Ia menjelaskan perjuangan petani dan intervensi dinas dalam memacu produksi. Mari kita pahami lebih dalam.
Baca selengkapnya di: https://s.id/sawahbolmong03
[UPDATE: Bupati Bolmong Yusra Alhabsyi menganti Tonny Toligaga dari jabatan Kepala Dinas Pertanian dalam mutasi sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Bolmong, 20 April 2026.
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
...
Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong), Yusra Alhabsyi, melantik 20 pejabat eselon II serta 5 pelaksana tugas (Plt) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bolmong, Senin, (20/04/2026). Perombakan yang digelar di teras kantor bupati kali ini memunculkan sejumlah pergeseran jabatan strategis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan posisi Tonny Susanto Toligaga.
Tonny tidak lagi menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan kini menempati posisi Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan. Pergeseran dari jabatan kepala dinas ke staf ahli umumnya dipandang sebagai penurunan dalam struktur birokrasi.
Posisi Kepala Dinas Pertanian selanjutnya diisi oleh Abdul Latief, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan, sehingga perpindahan ini sekaligus menjadi bagian dari rotasi lintas sektor dalam lingkup perangkat daerah.
Perubahan pada sektor pertanian ini terjadi di tengah sorotan terhadap isu alih fungsi lahan. Sejak 16 April 2026, media Zonautara.com menayangkan laporan dari liputan mendalam dalam serial Tanam Padi Beli Beras terkait pergeseran pemanfaatan lahan dari sawah basah ke pertanian kering di sejumlah wilayah di Bolaang Mongondow, yang tayang di Teras.id. Liputan tersebut juga menyoroti posisi Bolmong sebagai salah satu lumbung beras di Sulawesi Utara yang dinilai menghadapi tantangan serius.
#tanampadibeliberas
#bolmong
Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong), Yusra Alhabsyi, melantik 20 pejabat eselon II serta 5 pelaksana tugas (Plt) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bolmong, Senin, (20/04/2026). Perombakan yang digelar di teras kantor bupati kali ini memunculkan sejumlah pergeseran jabatan strategis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan posisi Tonny Susanto Toligaga.
Tonny tidak lagi menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan kini menempati posisi Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan. Pergeseran dari jabatan kepala dinas ke staf ahli umumnya dipandang sebagai penurunan dalam struktur birokrasi.
Posisi Kepala Dinas Pertanian selanjutnya diisi oleh Abdul Latief, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan, sehingga perpindahan ini sekaligus menjadi bagian dari rotasi lintas sektor dalam lingkup perangkat daerah.
Perubahan pada sektor pertanian ini terjadi di tengah sorotan terhadap isu alih fungsi lahan. Sejak 16 April 2026, media Zonautara.com menayangkan laporan dari liputan mendalam dalam serial Tanam Padi Beli Beras terkait pergeseran pemanfaatan lahan dari sawah basah ke pertanian kering di sejumlah wilayah di Bolaang Mongondow, yang tayang di Teras.id. Liputan tersebut juga menyoroti posisi Bolmong sebagai salah satu lumbung beras di Sulawesi Utara yang dinilai menghadapi tantangan serius.
#tanampadibeliberas
#bolmong
...
Sebelum Tim Zonautara mendatangi sawah-sawah dan bertemu petani di ladang nilam dan kebun jagung di berbagai desa di Bolaang Mongondow, ada data pertanian daerah tersebut yang sudah berbicara. Angka-angka itu bukan dari laporan Dinas Pertanian atau presentasi Bupati, melainkan datang dari orbit satelit Landsat yang selama tiga dekade secara rutin memotret permukaan bumi dengan resolusi 30 meter per piksel. Cara kerjanya tanpa mempedulikan batas administrasi, kepentingan anggaran, serta kebutuhan untuk membuat laporan terlihat bagus.
Data yang kami analisis berasal dari MapBiomas Indonesia, sebuah platform pemetaan tutupan lahan tahunan yang dikembangkan oleh jaringan masyarakat sipil Indonesia yang dipimpin Auriga Nusantara. Tulisan ini menjelaskan secara terbuka: bagaimana data itu bekerja, bagaimana kami menggunakannya, apa yang kami temukan, dan yang sama pentingnya, apa yang tidak bisa dilihat dari satelit dan mengapa kami tetap harus turun ke lapangan.
Selengkapnya baca di Teras.id melalui link https://s.id/sawahbolmong02
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
Sebelum Tim Zonautara mendatangi sawah-sawah dan bertemu petani di ladang nilam dan kebun jagung di berbagai desa di Bolaang Mongondow, ada data pertanian daerah tersebut yang sudah berbicara. Angka-angka itu bukan dari laporan Dinas Pertanian atau presentasi Bupati, melainkan datang dari orbit satelit Landsat yang selama tiga dekade secara rutin memotret permukaan bumi dengan resolusi 30 meter per piksel. Cara kerjanya tanpa mempedulikan batas administrasi, kepentingan anggaran, serta kebutuhan untuk membuat laporan terlihat bagus.
Data yang kami analisis berasal dari MapBiomas Indonesia, sebuah platform pemetaan tutupan lahan tahunan yang dikembangkan oleh jaringan masyarakat sipil Indonesia yang dipimpin Auriga Nusantara. Tulisan ini menjelaskan secara terbuka: bagaimana data itu bekerja, bagaimana kami menggunakannya, apa yang kami temukan, dan yang sama pentingnya, apa yang tidak bisa dilihat dari satelit dan mengapa kami tetap harus turun ke lapangan.
Selengkapnya baca di Teras.id melalui link https://s.id/sawahbolmong02
#terasid
#tanampadibeliberas
#zonautaracom
...
Bolaang Mongondow bukan baru kemarin disebut lumbung beras. Identitas itu sudah melekat puluhan tahun dan tertera dalam dokumen perencanaan daerah, disebutkan dalam pidato pejabat, dan disematkan dalam lambang daerah.
Namun kini terjadi transformasi diam-diam yang telah berlangsung setidaknya satu dekade. Petani meninggalkan sawah bukan karena malas, melainkan karena kalkulasi yang sangat rasional: biaya produksi padi terus naik, pupuk bersubsidi sulit didapat dan dijual di atas harga resmi, irigasi peninggalan Orde Baru menurun kualitasnya tanpa perawatan yang memadai. Sementara itu, nilam, tanaman penghasil minyak atsiri yang menguasai 90 persen pasar dunia, menawarkan pendapatan yang jauh lebih besar dengan risiko lebih kecil. Dan jagung, kini pabriknya dibangun di tengah sawah.
Bahkan RPJPD PJPD 2025–2045 tidak lagi menggunakan frasa "Lumbung Pangan Indonesia Timur" dalam visinya. Frasa itu diam-diam dihapus dari cita-cita 20 tahun ke depan. Tidak ada pengumuman, tidak ada penjelasan publik, tidak ada pernyataan resmi. Pergantian itu seperti tersembunyi dalam bahasa birokrasi yang jarang dibaca orang. Sebuah pengakuan implisit yang tidak pernah dikomunikasikan kepada masyarakat yang selama puluhan tahun bangga menyebut tanah mereka sebagai lumbung beras.
Zonautara.com menyajikan hasil yang didapat dari penelusuran akar struktural dari apa yang terjadi di Bolmong: mengapa petani meninggalkan sawah, irigasi yang sudah tidak berfungsi maksimal dan mengapa tidak diperbaiki, bagaimana industri pertambangan tumbuh sementara pertanian menyusut, apa yang sesungguhnya dirasakan petani dan perempuan tani di lapangan, dan apa yang pejabat katakan saat dihadapkan dengan data dari dokumen yang mereka terbitkan sendiri.
Selengkapnya baca Teras.id melalui link ini: https://s.id/sawahbolmong01
#terasid
#zonautaracom
#tanampadibeliberas
Bolaang Mongondow bukan baru kemarin disebut lumbung beras. Identitas itu sudah melekat puluhan tahun dan tertera dalam dokumen perencanaan daerah, disebutkan dalam pidato pejabat, dan disematkan dalam lambang daerah.
Namun kini terjadi transformasi diam-diam yang telah berlangsung setidaknya satu dekade. Petani meninggalkan sawah bukan karena malas, melainkan karena kalkulasi yang sangat rasional: biaya produksi padi terus naik, pupuk bersubsidi sulit didapat dan dijual di atas harga resmi, irigasi peninggalan Orde Baru menurun kualitasnya tanpa perawatan yang memadai. Sementara itu, nilam, tanaman penghasil minyak atsiri yang menguasai 90 persen pasar dunia, menawarkan pendapatan yang jauh lebih besar dengan risiko lebih kecil. Dan jagung, kini pabriknya dibangun di tengah sawah.
Bahkan RPJPD PJPD 2025–2045 tidak lagi menggunakan frasa "Lumbung Pangan Indonesia Timur" dalam visinya. Frasa itu diam-diam dihapus dari cita-cita 20 tahun ke depan. Tidak ada pengumuman, tidak ada penjelasan publik, tidak ada pernyataan resmi. Pergantian itu seperti tersembunyi dalam bahasa birokrasi yang jarang dibaca orang. Sebuah pengakuan implisit yang tidak pernah dikomunikasikan kepada masyarakat yang selama puluhan tahun bangga menyebut tanah mereka sebagai lumbung beras.
Zonautara.com menyajikan hasil yang didapat dari penelusuran akar struktural dari apa yang terjadi di Bolmong: mengapa petani meninggalkan sawah, irigasi yang sudah tidak berfungsi maksimal dan mengapa tidak diperbaiki, bagaimana industri pertambangan tumbuh sementara pertanian menyusut, apa yang sesungguhnya dirasakan petani dan perempuan tani di lapangan, dan apa yang pejabat katakan saat dihadapkan dengan data dari dokumen yang mereka terbitkan sendiri.
Selengkapnya baca Teras.id melalui link ini: https://s.id/sawahbolmong01
#terasid
#zonautaracom
#tanampadibeliberas
...
Dalam empat bulan terakhir kami sudah menerbitkan 40 lebih konten dari liputan mendalam/investigatif di platform Teras.id, bagian dari TEMPO.
Konten-konten tersebut memerinci 4 topik yang kami liput:
- Konflik Agraria Tanah Ulayat di eks kawasan Transmigrasi Dumoga
- Paradoks Pala Sitaro
- Relokasi Warga Terdampak Erupsi Gunung Ruang ke Huntap Modisi
- Masihkah Bolmong sebagai Lumbung Beras (Alih fungsi lahan)
Sebagian dari puluhan konten tersebut tersedia dalam mode premium (anda harus berlangganan), sebagian lainnya freemium (anda harus mendaftar) tetapi lebih dari setengah tersedia dalam bentuk free (bebas akses).
Untuk keberlangsungan kerja-kerja independen, bebas iklan dan bebas dari kepentingan pihak lain, kami butuh dukungan anda dengan menjadi Pelanggan. Tersedia berbagai paket, mulai dari Paket 1 Bulan, 6 Bulan atau 12 Bulan dan juga paket bundling untuk membaca seluruh konten TEMPO + New York Times + Teras + Zonautara.
Harga langganan 1 bulan pun sangat murah. Dan jika anda sudah berlangganan, anda tidak hanya dapat membaca konten premium dari Zonautara, tetapi juga bisa membaca konten premium dari 29 media lain yang bergabung di Teras dari Aceh hingga Papua.
Jika tertarik silahkan akses https://teras.id/zonautara-com, dan klik tombol DUKUNG MEDIA, atau saat membaca konten premium Zonautar, klik tombol LANGGANAN SEKARANG.
Jika anda butuh voucher, kami masih punya 40an voucher, yang bisa anda gunakan, dengan harga langganan bulan pertama sebesar Rp 17.500 saja. (Silahkan inbox atau hubungi kami)
Jika teman-teman di Sulawesi Utara ingin berlangganan atau sudah berlangganan, barangkali kita bisa diskusi topik apa selanjutnya yang penting untuk diangkat. Sembari menunggu anda berlangganan, dapat kami informasikan topik bulan depan yang akan tayang, adalah topik yang cukup banyak menarik perhatian di Sulut dalam beberapa bulan terakhir. Nantikan!.
#terasid
#zonautaracom
Dalam empat bulan terakhir kami sudah menerbitkan 40 lebih konten dari liputan mendalam/investigatif di platform Teras.id, bagian dari TEMPO.
Konten-konten tersebut memerinci 4 topik yang kami liput:
- Konflik Agraria Tanah Ulayat di eks kawasan Transmigrasi Dumoga
- Paradoks Pala Sitaro
- Relokasi Warga Terdampak Erupsi Gunung Ruang ke Huntap Modisi
- Masihkah Bolmong sebagai Lumbung Beras (Alih fungsi lahan)
Sebagian dari puluhan konten tersebut tersedia dalam mode premium (anda harus berlangganan), sebagian lainnya freemium (anda harus mendaftar) tetapi lebih dari setengah tersedia dalam bentuk free (bebas akses).
Untuk keberlangsungan kerja-kerja independen, bebas iklan dan bebas dari kepentingan pihak lain, kami butuh dukungan anda dengan menjadi Pelanggan. Tersedia berbagai paket, mulai dari Paket 1 Bulan, 6 Bulan atau 12 Bulan dan juga paket bundling untuk membaca seluruh konten TEMPO + New York Times + Teras + Zonautara.
Harga langganan 1 bulan pun sangat murah. Dan jika anda sudah berlangganan, anda tidak hanya dapat membaca konten premium dari Zonautara, tetapi juga bisa membaca konten premium dari 29 media lain yang bergabung di Teras dari Aceh hingga Papua.
Jika tertarik silahkan akses https://teras.id/zonautara-com, dan klik tombol DUKUNG MEDIA, atau saat membaca konten premium Zonautar, klik tombol LANGGANAN SEKARANG.
Jika anda butuh voucher, kami masih punya 40an voucher, yang bisa anda gunakan, dengan harga langganan bulan pertama sebesar Rp 17.500 saja. (Silahkan inbox atau hubungi kami)
Jika teman-teman di Sulawesi Utara ingin berlangganan atau sudah berlangganan, barangkali kita bisa diskusi topik apa selanjutnya yang penting untuk diangkat. Sembari menunggu anda berlangganan, dapat kami informasikan topik bulan depan yang akan tayang, adalah topik yang cukup banyak menarik perhatian di Sulut dalam beberapa bulan terakhir. Nantikan!.
#terasid
#zonautaracom
...
Sign in to your account
