Siaga El Niño: Kemarau Panjang
Laporan mengenai dampak fenomena El Niño terhadap krisis kekeringan ekstrem, ancaman kebakaran hutan, serta situasi dan kondisi terkait.
Baca liputan khusus Zonautara.com yang tayang di platform kolaboratif Teras.id, dengan dukungan Tempo, Tempo Institute dan IFPIM
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Platform laporan warga, kerugian ekonomi petani & nelayan, dan data ilmiah terbuka tentang dampak iklim di Sulut.
Akses ribuan data tentang Sulawesi Utara yang terstruktur dan interaktif melalui platform yang dikembangkan Zonautara.com berbasis peta.
Pelajari keamanan siber dari nol hingga mahir. Ratusan artikel, modul interaktif, dan direktori tools terlengkap.
Temukan jadwal dan rute kapal Pelni dalam peta interaktif sesuai pelabuhan tujuan semua pelabuhan di Indonesia. Diupdate setiap bulan.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Senin, 21 September 2026. Dalam operasi tersebut, KPK turut menangkap Bupati Bolmong Utara, Sirajudin Lasena.
Informasi ini dikonfirmasi oleh Ketua KPK, Setyo Budianto, yang menyatakan, "Benar, sedang ada kegiatan di lapangan," ungkapnya pada Senin.
Meski operasi telah dilakukan, Setyo Budianto belum mengungkapkan jumlah total orang yang ditangkap dalam OTT ini. Ia juga belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kasus spesifik yang menjadi basis dari penangkapan tersebut.
Berdasarkan peraturan yang berlaku, KPK memiliki waktu selama 1x24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang ditangkap dalam operasi ini.
OTT ini tercatat sebagai operasi KPK yang ke-21 sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, KPK juga telah melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang terkait dengan dugaan korupsi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
#ottkpk
#kpk
#bupatibolmut
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Senin, 21 September 2026. Dalam operasi tersebut, KPK turut menangkap Bupati Bolmong Utara, Sirajudin Lasena.
Informasi ini dikonfirmasi oleh Ketua KPK, Setyo Budianto, yang menyatakan, "Benar, sedang ada kegiatan di lapangan," ungkapnya pada Senin.
Meski operasi telah dilakukan, Setyo Budianto belum mengungkapkan jumlah total orang yang ditangkap dalam OTT ini. Ia juga belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kasus spesifik yang menjadi basis dari penangkapan tersebut.
Berdasarkan peraturan yang berlaku, KPK memiliki waktu selama 1x24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang ditangkap dalam operasi ini.
OTT ini tercatat sebagai operasi KPK yang ke-21 sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, KPK juga telah melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang terkait dengan dugaan korupsi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
#ottkpk
#kpk
#bupatibolmut
...
Sulawesi Utara sering dijuluki sebagai "Bumi Nyiur Melambai", tetapi pohon kelapa menyimpan perjalanan sejarah, ekonomi, dan budaya yang jauh lebih mendalam dari sekadar sebutan indah di lambang daerah.
Tulisan ini mengajak pembaca menyelami bagaimana kelapa menjadi tumpuan utama masyarakat Sulawesi Utara, mulai dari komoditas kebun, dapur rumah tangga, pembiayaan pendidikan keluarga, hingga menjadi arena dinamika politik dan tata niaga daerah.
Kisah ini menelusuri jejak kejayaan kopra sejak akhir abad ke-19 yang mengubah lanskap pertanian Minahasa dan menggerakkan ekonomi warga. Hasil panen kelapa tak hanya menghidupi dapur, tetapi juga membuka jalan bagi anak-anak petani untuk mengenyam pendidikan tinggi.
Selain itu, artikel ini mengulas akulturasi kuliner yang melahirkan hidangan khas seperti klappertaart, pertemuan antara resep tart Belanda dengan kelapa muda melimpah dari Manado yang hingga kini terus beradaptasi dengan pasar.
Namun, di balik romantisme pemandangan pohon kelapa dan hidangan manis oleh-oleh, ada realitas perjuangan petani yang menghadapi jatuh bangun harga kopra, tantangan peremajaan kebun, serta regenerasi pemanjat pohon.
Seluruh lapisan cerita ini dirangkai untuk menunjukkan bahwa kelapa adalah cara hidup yang terus bertahan dan membentuk identitas Sulawesi Utara.
👉 Baca artikel kelima dari serial liputan mendalam Zonautara.com tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut05
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
#kelapa
#terasid
Sulawesi Utara sering dijuluki sebagai "Bumi Nyiur Melambai", tetapi pohon kelapa menyimpan perjalanan sejarah, ekonomi, dan budaya yang jauh lebih mendalam dari sekadar sebutan indah di lambang daerah.
Tulisan ini mengajak pembaca menyelami bagaimana kelapa menjadi tumpuan utama masyarakat Sulawesi Utara, mulai dari komoditas kebun, dapur rumah tangga, pembiayaan pendidikan keluarga, hingga menjadi arena dinamika politik dan tata niaga daerah.
Kisah ini menelusuri jejak kejayaan kopra sejak akhir abad ke-19 yang mengubah lanskap pertanian Minahasa dan menggerakkan ekonomi warga. Hasil panen kelapa tak hanya menghidupi dapur, tetapi juga membuka jalan bagi anak-anak petani untuk mengenyam pendidikan tinggi.
Selain itu, artikel ini mengulas akulturasi kuliner yang melahirkan hidangan khas seperti klappertaart, pertemuan antara resep tart Belanda dengan kelapa muda melimpah dari Manado yang hingga kini terus beradaptasi dengan pasar.
Namun, di balik romantisme pemandangan pohon kelapa dan hidangan manis oleh-oleh, ada realitas perjuangan petani yang menghadapi jatuh bangun harga kopra, tantangan peremajaan kebun, serta regenerasi pemanjat pohon.
Seluruh lapisan cerita ini dirangkai untuk menunjukkan bahwa kelapa adalah cara hidup yang terus bertahan dan membentuk identitas Sulawesi Utara.
👉 Baca artikel kelima dari serial liputan mendalam Zonautara.com tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut05
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
#kelapa
#terasid
...
Pemerintah mendorong hilirisasi kelapa nasional dengan menempatkan peremajaan kebun sebagai fondasi utama. Sulawesi Utara, yang menjadi salah satu produsen kelapa terbesar di Indonesia, berada di garis depan agenda besar ini. Namun di tingkat tapak, tepatnya di Kabupaten Bolaang Mongondow, upaya mendorong petani menanam kembali pohon kelapa berhadapan dengan persoalan mendasar: ketidakpastian status tanah.
Banyak lahan perkebunan kelapa warga beririsan dengan kawasan Hak Guna Usaha (HGU), baik yang statusnya masih aktif, sudah berakhir, maupun yang belum terpetakan dengan jelas oleh Kantor Pertanahan/BPN. Kondisi ini membuat sebagian petani berada dalam posisi dilematis. Menanam kelapa berbeda dengan tanaman semusim; bibit butuh bertahun-tahun untuk berbuah dan diharapkan memberi hasil hingga puluhan tahun ke depan. Tanpa jaminan kepastian hukum atas tanah yang mereka garap, para petani enggan menanggung risiko investasi jangka panjang pada lahan yang berisiko lepas dari penguasaan mereka.
Hilirisasi industri tidak cukup hanya dengan membangun pabrik pengolahan di bagian hilir. Tanpa penyelesaian penataan hak atas tanah bagi penggarap di hulu, program peremajaan kelapa akan sulit berjalan optimal. Keberlanjutan pasokan bahan baku kelapa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bibit unggul, tetapi juga oleh kepastian hukum di atas tanah tempat pohon-pohon itu akan tumbuh.
Simak bagian keempat dari serial liputan mendalam Zonautara.com tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link berikut: https://s.id/kelapasulut04
#HilirisasiKelapa
#PetaniKelapa
#Kelapa
#Terasid
Pemerintah mendorong hilirisasi kelapa nasional dengan menempatkan peremajaan kebun sebagai fondasi utama. Sulawesi Utara, yang menjadi salah satu produsen kelapa terbesar di Indonesia, berada di garis depan agenda besar ini. Namun di tingkat tapak, tepatnya di Kabupaten Bolaang Mongondow, upaya mendorong petani menanam kembali pohon kelapa berhadapan dengan persoalan mendasar: ketidakpastian status tanah.
Banyak lahan perkebunan kelapa warga beririsan dengan kawasan Hak Guna Usaha (HGU), baik yang statusnya masih aktif, sudah berakhir, maupun yang belum terpetakan dengan jelas oleh Kantor Pertanahan/BPN. Kondisi ini membuat sebagian petani berada dalam posisi dilematis. Menanam kelapa berbeda dengan tanaman semusim; bibit butuh bertahun-tahun untuk berbuah dan diharapkan memberi hasil hingga puluhan tahun ke depan. Tanpa jaminan kepastian hukum atas tanah yang mereka garap, para petani enggan menanggung risiko investasi jangka panjang pada lahan yang berisiko lepas dari penguasaan mereka.
Hilirisasi industri tidak cukup hanya dengan membangun pabrik pengolahan di bagian hilir. Tanpa penyelesaian penataan hak atas tanah bagi penggarap di hulu, program peremajaan kelapa akan sulit berjalan optimal. Keberlanjutan pasokan bahan baku kelapa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bibit unggul, tetapi juga oleh kepastian hukum di atas tanah tempat pohon-pohon itu akan tumbuh.
Simak bagian keempat dari serial liputan mendalam Zonautara.com tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link berikut: https://s.id/kelapasulut04
#HilirisasiKelapa
#PetaniKelapa
#Kelapa
#Terasid
...
Menjelang HUT ke-62 Sulawesi Utara dan perhelatan World Coconut Day 2026 di Manado pada 7–10 Oktober mendatang, kelapa kembali berada di pusat perhatian sebagai identitas dan sumber penghidupan utama Bumi Nyiur Melambai.
Sebagai produsen kelapa terbesar kedua di Indonesia setelah Riau, Sulawesi Utara memiliki total luas perkebunan mencapai 262.611 hektare dengan tingkat produktivitas rata-rata 1.256 kg/ha, melampaui rata-rata nasional sebesar 1.100 kg/ha.
Sektor ini memegang peran vital dalam perekonomian daerah dengan menghidupi sekitar 200.000 petani dan menyerap 19.500 tenaga kerja di 20 pabrik pengolahan besar.
Kendati demikian, sektor ini menghadapi tantangan besar pada aspek regenerasi tanaman, di mana sekitar 11% atau 29.322 hektare lahan memerlukan peremajaan akibat pohon tua atau rusak.
Kabupaten Minahasa Selatan mencatat luas kebun terbesar mencapai 46.541 hektare, namun 22.376 hektare di antaranya menghadapi masalah pohon tua.
Guna mengoptimalkan utilisasi pabrik yang saat ini baru berkisar 40–50%, pemerintah menggulirkan program peremajaan massal seluas 20.000–25.000 hektare melalui distribusi 2,7 juta bibit senilai Rp88,76 miliar pada periode 2026–2027, sekaligus menargetkan peningkatan produksi hingga 276.425 ton pada tahun 2030 untuk memperkuat hilirisasi di kancah global.
Bagaimana kondisi perkelapaan saat ini di Sulawesi Utara? Baca tulisan ketiga Zonautara.com dalam serial liputan mendalam tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut03
#hirilisasikelapa
#kelapasulut
#kelapa
#terasid
Menjelang HUT ke-62 Sulawesi Utara dan perhelatan World Coconut Day 2026 di Manado pada 7–10 Oktober mendatang, kelapa kembali berada di pusat perhatian sebagai identitas dan sumber penghidupan utama Bumi Nyiur Melambai.
Sebagai produsen kelapa terbesar kedua di Indonesia setelah Riau, Sulawesi Utara memiliki total luas perkebunan mencapai 262.611 hektare dengan tingkat produktivitas rata-rata 1.256 kg/ha, melampaui rata-rata nasional sebesar 1.100 kg/ha.
Sektor ini memegang peran vital dalam perekonomian daerah dengan menghidupi sekitar 200.000 petani dan menyerap 19.500 tenaga kerja di 20 pabrik pengolahan besar.
Kendati demikian, sektor ini menghadapi tantangan besar pada aspek regenerasi tanaman, di mana sekitar 11% atau 29.322 hektare lahan memerlukan peremajaan akibat pohon tua atau rusak.
Kabupaten Minahasa Selatan mencatat luas kebun terbesar mencapai 46.541 hektare, namun 22.376 hektare di antaranya menghadapi masalah pohon tua.
Guna mengoptimalkan utilisasi pabrik yang saat ini baru berkisar 40–50%, pemerintah menggulirkan program peremajaan massal seluas 20.000–25.000 hektare melalui distribusi 2,7 juta bibit senilai Rp88,76 miliar pada periode 2026–2027, sekaligus menargetkan peningkatan produksi hingga 276.425 ton pada tahun 2030 untuk memperkuat hilirisasi di kancah global.
Bagaimana kondisi perkelapaan saat ini di Sulawesi Utara? Baca tulisan ketiga Zonautara.com dalam serial liputan mendalam tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut03
#hirilisasikelapa
#kelapasulut
#kelapa
#terasid
...
Krisis iklim, siapa yang membayar harganya?
Di Sulawesi Utara, warga membayarnya dengan uang belanja, modal tanam, waktu, dan tenaga.
Di Siau, Cherry Paat membeli air dan menjatah penggunaannya. Di Bolaang Mongondow, Hasan Tungkagi menghadapi gagal panen setelah mengeluarkan modal pinjaman. Di Bitung, Martini Mundok berutang untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika cuaca buruk menghambat suaminya melaut.
Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi krisis tidak terbagi rata. Ketika penghasilan terhenti, sebagian keluarga memiliki tabungan. Sebagian lainnya harus mencari pinjaman agar dapur tetap menyala.
Pada 20 September, Zonautara.com turut memperingati Hari Keadilan Ekologis dengan mengangkat pengalaman warga yang kami temui dalam serial liputan dampak krisis iklim bagi kelompok rentan.
Bagi mereka, keadilan perlu hadir melalui air bersih yang terjangkau, informasi cuaca yang bisa digunakan, perlindungan penghasilan, serta keterlibatan dalam keputusan yang memengaruhi ruang hidupnya.
Kami juga membuat platform pelaporan dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat. Datanya bisa dipakai oleh siapa saja. Cerita warga turut didokumentasikan melalui microsite Jejak Iklim.
📖 Baca serial liputan:
https://s.id/iklimsulut01
📝 Laporkan dampak yang Anda rasakan:
https://zonautara.com/pantau-klim
🌿 Jelajahi cerita warga:
https://iklimkita.com/jejak
Warga sudah berusaha bertahan dan saling menjaga. Perlindungan publik harus menyusul.
#HariKeadilanEkologis
#KeadilanIklim
#KrisisIklim
Krisis iklim, siapa yang membayar harganya?
Di Sulawesi Utara, warga membayarnya dengan uang belanja, modal tanam, waktu, dan tenaga.
Di Siau, Cherry Paat membeli air dan menjatah penggunaannya. Di Bolaang Mongondow, Hasan Tungkagi menghadapi gagal panen setelah mengeluarkan modal pinjaman. Di Bitung, Martini Mundok berutang untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika cuaca buruk menghambat suaminya melaut.
Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi krisis tidak terbagi rata. Ketika penghasilan terhenti, sebagian keluarga memiliki tabungan. Sebagian lainnya harus mencari pinjaman agar dapur tetap menyala.
Pada 20 September, Zonautara.com turut memperingati Hari Keadilan Ekologis dengan mengangkat pengalaman warga yang kami temui dalam serial liputan dampak krisis iklim bagi kelompok rentan.
Bagi mereka, keadilan perlu hadir melalui air bersih yang terjangkau, informasi cuaca yang bisa digunakan, perlindungan penghasilan, serta keterlibatan dalam keputusan yang memengaruhi ruang hidupnya.
Kami juga membuat platform pelaporan dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat. Datanya bisa dipakai oleh siapa saja. Cerita warga turut didokumentasikan melalui microsite Jejak Iklim.
📖 Baca serial liputan:
https://s.id/iklimsulut01
📝 Laporkan dampak yang Anda rasakan:
https://zonautara.com/pantau-klim
🌿 Jelajahi cerita warga:
https://iklimkita.com/jejak
Warga sudah berusaha bertahan dan saling menjaga. Perlindungan publik harus menyusul.
#HariKeadilanEkologis
#KeadilanIklim
#KrisisIklim
...
Di balik produk olahan yang kita temui sehari-hari, ada perebutan sengit yang sedang terjadi di kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara.
Bagi petani seperti Santo Libuon di Minahasa Selatan, sebutir kelapa kini punya banyak jalan menuju uang. Apakah harus diolah menjadi kopra dengan proses panjang, atau langsung dijual dalam bentuk buah segar demi mendapat uang cepat? Pilihan ini membawa angin segar sekaligus mengubah peta ekonomi di tingkat tapak.
Namun di saat yang sama, industri pengolahan kelapa skala besar justru kekurangan bahan baku, dengan kapasitas produksi yang baru terpakai sekitar 40–50 persen. Pemerintah pun mulai mendorong pembatasan ekspor kelapa utuh demi menggenjot agenda hilirisasi di dalam negeri.
Di sinilah dilema besar muncul: apakah kebijakan menahan bahan baku ini benar-benar membawa kesejahteraan, atau justru memangkas pilihan dan daya tawar petani yang baru saja menikmati kenaikan harga?
Penasaran bagaimana nasib para petani dan peta persaingan industri kelapa ini selengkapnya? Baca tulisan kedua dalam serial liputan mendalam kami tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut02
#hirilisasikelapa
#kelapasulut
#terasid
Di balik produk olahan yang kita temui sehari-hari, ada perebutan sengit yang sedang terjadi di kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara.
Bagi petani seperti Santo Libuon di Minahasa Selatan, sebutir kelapa kini punya banyak jalan menuju uang. Apakah harus diolah menjadi kopra dengan proses panjang, atau langsung dijual dalam bentuk buah segar demi mendapat uang cepat? Pilihan ini membawa angin segar sekaligus mengubah peta ekonomi di tingkat tapak.
Namun di saat yang sama, industri pengolahan kelapa skala besar justru kekurangan bahan baku, dengan kapasitas produksi yang baru terpakai sekitar 40–50 persen. Pemerintah pun mulai mendorong pembatasan ekspor kelapa utuh demi menggenjot agenda hilirisasi di dalam negeri.
Di sinilah dilema besar muncul: apakah kebijakan menahan bahan baku ini benar-benar membawa kesejahteraan, atau justru memangkas pilihan dan daya tawar petani yang baru saja menikmati kenaikan harga?
Penasaran bagaimana nasib para petani dan peta persaingan industri kelapa ini selengkapnya? Baca tulisan kedua dalam serial liputan mendalam kami tentang Hirilisasi Kelapa Sulawesi Utara melalui link ini: https://s.id/kelapasulut02
#hirilisasikelapa
#kelapasulut
#terasid
...
SULAWESI UTARA: MASIHKAH NYIUR MELAMBAI?
Sebagai produsen kelapa terbesar kedua di Indonesia, Sulawesi Utara kini menikmati angin segar dengan membaiknya harga kopra hingga Rp 15.700 per kg.
Namun, di balik geliat harga ini, kebun-kebun kelapa di tanah Minahasa hingga Bitung menyimpan paradoks yang mengkhawatirkan:
- Banyak pohon tua yang berisiko dan mulai dibiarkan buahnya gugur sendiri.
- Ongkos pemanjat dan angkut menggerus hasil yang diterima petani.
- Tingginya luas kebun dengan tanaman rusak/tidak produktif.
Pemerintah menaruh harapan besar pada Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 untuk mendorong nilai tambah produk kelapa.
Namun, pertanyaan terbesarnya: apakah hasil dari megaproyek hilirisasi ini akan benar-benar dinikmati oleh mereka yang menanam, memanjat, dan mengupas kelapa di lapangan?
Simak penelusuran mendalam Zonautara dalam serial liputan khusus.
"Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”
Tulisan pertama sebagai teaser sudah bisa dibaca melalui link berikut: https://s.id/kelapasulut01
🔗 Atau klik melalui tautan di bio kami!
💬 Bagaimana pandanganmu mengenai masa depan petani kelapa kita di Sulawesi Utara? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
#kelapa
#terasid
SULAWESI UTARA: MASIHKAH NYIUR MELAMBAI?
Sebagai produsen kelapa terbesar kedua di Indonesia, Sulawesi Utara kini menikmati angin segar dengan membaiknya harga kopra hingga Rp 15.700 per kg.
Namun, di balik geliat harga ini, kebun-kebun kelapa di tanah Minahasa hingga Bitung menyimpan paradoks yang mengkhawatirkan:
- Banyak pohon tua yang berisiko dan mulai dibiarkan buahnya gugur sendiri.
- Ongkos pemanjat dan angkut menggerus hasil yang diterima petani.
- Tingginya luas kebun dengan tanaman rusak/tidak produktif.
Pemerintah menaruh harapan besar pada Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 untuk mendorong nilai tambah produk kelapa.
Namun, pertanyaan terbesarnya: apakah hasil dari megaproyek hilirisasi ini akan benar-benar dinikmati oleh mereka yang menanam, memanjat, dan mengupas kelapa di lapangan?
Simak penelusuran mendalam Zonautara dalam serial liputan khusus.
"Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”
Tulisan pertama sebagai teaser sudah bisa dibaca melalui link berikut: https://s.id/kelapasulut01
🔗 Atau klik melalui tautan di bio kami!
💬 Bagaimana pandanganmu mengenai masa depan petani kelapa kita di Sulawesi Utara? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
#kelapa
#terasid
...
Harga kelapa membaik. Tapi benarkah masa depan nyiur juga ikut membaik?
Tim Zonautara.com menelusuri perjalanan kelapa Sulawesi Utara dari kebun rakyat hingga agenda hilirisasi: dari panen, bahan baku, hingga pertanyaan siapa yang benar-benar menikmati nilainya.
Serial Liputan Mendalam: Hilirisasi Kelapa Sulut
Tayang di teras.id mulai 19 September 2026.
Harga kelapa membaik. Tapi benarkah masa depan nyiur juga ikut membaik?
Tim Zonautara.com menelusuri perjalanan kelapa Sulawesi Utara dari kebun rakyat hingga agenda hilirisasi: dari panen, bahan baku, hingga pertanyaan siapa yang benar-benar menikmati nilainya.
Serial Liputan Mendalam: Hilirisasi Kelapa Sulut
Tayang di teras.id mulai 19 September 2026.
...
601 operasi SAR kecelakaan kapal dalam delapan bulan bukan sekadar deretan angka.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, kecelakaan kapal di Indonesia berdampak pada 3.607 orang. Sebanyak 3.165 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, tetapi 239 orang meninggal dunia dan 203 lainnya dinyatakan hilang.
Mengapa kecelakaan pelayaran terus berulang?
Persoalannya tidak hanya cuaca buruk atau kesalahan manusia. Sejumlah kajian menyoroti kompetensi dan sertifikasi awak kapal, desain armada yang tidak aman, peralatan keselamatan yang kurang, muatan berlebih, hingga pencatatan penumpang yang tidak tertib. Ketika manifes tidak sesuai kondisi di kapal, jumlah korban pun sulit dipastikan saat musibah terjadi.
Pada kapal roro, pintu kendaraan atau ramp door merupakan salah satu titik kritis. Kerusakan atau kebocoran dapat membuat air masuk ke geladak dan mengganggu stabilitas kapal. Karena itu, pemeriksaan tidak boleh berhenti hanya pada kelengkapan dokumen. Sertifikat berlayar harus benar-benar mencerminkan kondisi kapal di lapangan.
Masalah pengawasan juga terlihat dalam rekomendasi KNKT. Sepanjang 2003–2026, sebanyak 77,8 persen rekomendasi kecelakaan pelayaran mengarah pada perbaikan pengawasan.
Ada pula dilema biaya. Tiket murah dibutuhkan masyarakat kepulauan, tetapi operator tetap harus memiliki cukup biaya untuk perawatan, perlengkapan keselamatan, dan awak yang kompeten. Jika keselamatan dianggap sekadar beban biaya, risikonya dibayar oleh penumpang.
Yang dibutuhkan bukan hanya aturan baru, melainkan audit yang tegas, inspeksi teknis yang sungguh-sungguh, manifes yang akurat, penegakan batas muatan, serta insentif bagi operator yang patuh.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, transportasi laut adalah kebutuhan dasar. Keselamatan tidak boleh baru dibicarakan setelah kapal tenggelam dan korban berjatuhan.
Data diolah dari: Basarnas, Kementerian Perhubungan, KNKT, dan laporan keselamatan feri internasional.
#KecelakaanKapal
#TransportasiLaut
601 operasi SAR kecelakaan kapal dalam delapan bulan bukan sekadar deretan angka.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, kecelakaan kapal di Indonesia berdampak pada 3.607 orang. Sebanyak 3.165 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, tetapi 239 orang meninggal dunia dan 203 lainnya dinyatakan hilang.
Mengapa kecelakaan pelayaran terus berulang?
Persoalannya tidak hanya cuaca buruk atau kesalahan manusia. Sejumlah kajian menyoroti kompetensi dan sertifikasi awak kapal, desain armada yang tidak aman, peralatan keselamatan yang kurang, muatan berlebih, hingga pencatatan penumpang yang tidak tertib. Ketika manifes tidak sesuai kondisi di kapal, jumlah korban pun sulit dipastikan saat musibah terjadi.
Pada kapal roro, pintu kendaraan atau ramp door merupakan salah satu titik kritis. Kerusakan atau kebocoran dapat membuat air masuk ke geladak dan mengganggu stabilitas kapal. Karena itu, pemeriksaan tidak boleh berhenti hanya pada kelengkapan dokumen. Sertifikat berlayar harus benar-benar mencerminkan kondisi kapal di lapangan.
Masalah pengawasan juga terlihat dalam rekomendasi KNKT. Sepanjang 2003–2026, sebanyak 77,8 persen rekomendasi kecelakaan pelayaran mengarah pada perbaikan pengawasan.
Ada pula dilema biaya. Tiket murah dibutuhkan masyarakat kepulauan, tetapi operator tetap harus memiliki cukup biaya untuk perawatan, perlengkapan keselamatan, dan awak yang kompeten. Jika keselamatan dianggap sekadar beban biaya, risikonya dibayar oleh penumpang.
Yang dibutuhkan bukan hanya aturan baru, melainkan audit yang tegas, inspeksi teknis yang sungguh-sungguh, manifes yang akurat, penegakan batas muatan, serta insentif bagi operator yang patuh.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, transportasi laut adalah kebutuhan dasar. Keselamatan tidak boleh baru dibicarakan setelah kapal tenggelam dan korban berjatuhan.
Data diolah dari: Basarnas, Kementerian Perhubungan, KNKT, dan laporan keselamatan feri internasional.
#KecelakaanKapal
#TransportasiLaut
...
Sulawesi Utara tak disebut Bumi Nyiur Melambai tanpa alasan. Kelapa masih menjadi salah satu penopang penting ekonomi daerah, sekaligus sumber hidup bagi ratusan ribu warga.
Data yang dihimpun Tim Data Zonautara.com menunjukkan, Sulut merupakan produsen kelapa terbesar ke-2 di Indonesia setelah Riau, dengan luas perkebunan mencapai 262.611 hektare. Produktivitasnya pun tergolong tinggi, sekitar 1.256 kg/ha, atau berada di atas rata-rata nasional.
Di balik angka itu, kelapa bukan sekadar komoditas. Ada sekitar 200.000 petani yang menggantungkan hidup pada sektor ini, bersama ribuan tenaga kerja yang terlibat dalam rantai produksi dan pengolahan.
Namun tantangan juga nyata: sekitar 11 persen kebun kelapa di Sulut atau sekitar 29.322 hektare membutuhkan peremajaan karena tanaman sudah tua atau rusak. Artinya, masa depan kelapa Sulut tak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada regenerasi kebun, penguatan industri hilir, dan keberpihakan pada petani.
Momentum ini makin penting karena Manado dijadwalkan menjadi tuan rumah World Coconut Day 2026 pada 7–10 Oktober 2026. Ajang ini menjadi kesempatan bagi Sulawesi Utara untuk menunjukkan bahwa kelapa bukan sekadar warisan, tetapi juga masa depan.
Bagaimana seluk beluk terkini komoditas andalan Sulut ini? Ikuti Serial Liputan Mendalam Zonautara.com: "Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, yang akan segera tayang di https://teras.id/zonautara-com.
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
@terasid
Sulawesi Utara tak disebut Bumi Nyiur Melambai tanpa alasan. Kelapa masih menjadi salah satu penopang penting ekonomi daerah, sekaligus sumber hidup bagi ratusan ribu warga.
Data yang dihimpun Tim Data Zonautara.com menunjukkan, Sulut merupakan produsen kelapa terbesar ke-2 di Indonesia setelah Riau, dengan luas perkebunan mencapai 262.611 hektare. Produktivitasnya pun tergolong tinggi, sekitar 1.256 kg/ha, atau berada di atas rata-rata nasional.
Di balik angka itu, kelapa bukan sekadar komoditas. Ada sekitar 200.000 petani yang menggantungkan hidup pada sektor ini, bersama ribuan tenaga kerja yang terlibat dalam rantai produksi dan pengolahan.
Namun tantangan juga nyata: sekitar 11 persen kebun kelapa di Sulut atau sekitar 29.322 hektare membutuhkan peremajaan karena tanaman sudah tua atau rusak. Artinya, masa depan kelapa Sulut tak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada regenerasi kebun, penguatan industri hilir, dan keberpihakan pada petani.
Momentum ini makin penting karena Manado dijadwalkan menjadi tuan rumah World Coconut Day 2026 pada 7–10 Oktober 2026. Ajang ini menjadi kesempatan bagi Sulawesi Utara untuk menunjukkan bahwa kelapa bukan sekadar warisan, tetapi juga masa depan.
Bagaimana seluk beluk terkini komoditas andalan Sulut ini? Ikuti Serial Liputan Mendalam Zonautara.com: "Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, yang akan segera tayang di https://teras.id/zonautara-com.
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
@terasid
...
Harga kelapa membaik. Buah kembali diburu, petani punya lebih banyak pilihan, dan industri membutuhkan pasokan.
Namun di balik geliat itu, kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara menghadapi persoalan lama: pohon menua, ongkos panen membesar, peremajaan tertinggal, dan perebutan bahan baku makin ketat.
Dalam serial liputan mendalam “Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, Tim Zonautara menelusuri perjalanan kelapa dari kebun rakyat hingga industri, dari Bolaang Mongondow hingga Minahasa Selatan dan Bitung.
Siapa yang menikmati kenaikan nilai? Bagaimana nasib petani jika hilirisasi dipercepat? Dan mampukah nyiur tetap menjadi masa depan Sulawesi Utara?
Ikuti serial liputan mendalam kami di https://teras.id/zonautara-com.
SEGERA
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
Harga kelapa membaik. Buah kembali diburu, petani punya lebih banyak pilihan, dan industri membutuhkan pasokan.
Namun di balik geliat itu, kebun-kebun kelapa Sulawesi Utara menghadapi persoalan lama: pohon menua, ongkos panen membesar, peremajaan tertinggal, dan perebutan bahan baku makin ketat.
Dalam serial liputan mendalam “Menatap Masa Depan Bumi Nyiur Melambai: Jalan Panjang Hilirisasi Kelapa Sulawesi Utara”, Tim Zonautara menelusuri perjalanan kelapa dari kebun rakyat hingga industri, dari Bolaang Mongondow hingga Minahasa Selatan dan Bitung.
Siapa yang menikmati kenaikan nilai? Bagaimana nasib petani jika hilirisasi dipercepat? Dan mampukah nyiur tetap menjadi masa depan Sulawesi Utara?
Ikuti serial liputan mendalam kami di https://teras.id/zonautara-com.
SEGERA
#nyiurmelambai
#kelapasulut
#hirilisasikelapa
...
Dua kali ganti Menteri Keuangan dalam kurang dari 2 tahun. Ada apa dengan keuangan negara di bawah Presiden Prabowo?
Sejak pemerintahan Prabowo Subianto dimulai, kursi menkeu sudah ditempati 3 nama: Sri Mulyani Indrawati, Purbaya Yudhi Sadewa, dan kini Suahasil Nazara. Purbaya dilantik menggantikan Sri Mulyani pada 8 sept 2025, lalu Suahasil menggantikan Purbaya pada 14 Sept 2026.
Pergantian Menkeu bukan perkara kecil. Kementerian Keuangan memegang instrumen paling penting dalam pengelolaan fiskal negara: APBN, penerimaan pajak dan bea cukai, kas negara, utang dan pembiayaan, hingga pengelolaan risiko keuangan negara. Dengan kata lain, Menkeu bukan sekadar “bendahara”, tetapi salah satu penjaga utama kredibilitas ekonomi pemerintah.
Posisi ini juga berbeda dengan Menko Perekonomian. Menko bertugas menyinkronkan dan mengoordinasikan kebijakan ekonomi lintas kementerian, sementara Menkeu memiliki instrumen fiskal secara langsung.
Lalu, apakah dua kali pergantian Menkeu berarti keuangan negara sedang bermasalah?
Belum tentu. Pergantian pejabat saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya krisis. Namun frekuensi pergantian ini layak dibaca sebagai tanda bahwa pemerintah sedang melakukan penyesuaian arah dan mencari titik keseimbangan antara kebutuhan membiayai program-program besar dengan tuntutan menjaga APBN tetap sehat, utang terkendali, serta kepercayaan pasar tetap terjaga.
Menariknya, setelah dilantik, Suahasil menyebut arahan khusus Presiden adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, sekaligus memastikan APBN tetap mampu menjalankan program-program prioritas pemerintah.
Karena itu, pertanyaan terpenting ke depan bukan hanya siapa Menteri Keuangannya, melainkan: apakah defisit tetap terkendali? Bagaimana penerimaan pajak? Seberapa besar kebutuhan utang dan penerbitan SBN? Bagaimana program prioritas dibiayai? Dan bagaimana pasar serta rupiah merespons arah fiskal baru?
Dua kali ganti Menkeu belum membuktikan adanya krisis. Tetapi jelas ada sesuatu yang sedang disesuaikan dalam pengelolaan fiskal pemerintahan Prabowo.
#MenteriKeuangan #APBN #KeuanganNegara
Dua kali ganti Menteri Keuangan dalam kurang dari 2 tahun. Ada apa dengan keuangan negara di bawah Presiden Prabowo?
Sejak pemerintahan Prabowo Subianto dimulai, kursi menkeu sudah ditempati 3 nama: Sri Mulyani Indrawati, Purbaya Yudhi Sadewa, dan kini Suahasil Nazara. Purbaya dilantik menggantikan Sri Mulyani pada 8 sept 2025, lalu Suahasil menggantikan Purbaya pada 14 Sept 2026.
Pergantian Menkeu bukan perkara kecil. Kementerian Keuangan memegang instrumen paling penting dalam pengelolaan fiskal negara: APBN, penerimaan pajak dan bea cukai, kas negara, utang dan pembiayaan, hingga pengelolaan risiko keuangan negara. Dengan kata lain, Menkeu bukan sekadar “bendahara”, tetapi salah satu penjaga utama kredibilitas ekonomi pemerintah.
Posisi ini juga berbeda dengan Menko Perekonomian. Menko bertugas menyinkronkan dan mengoordinasikan kebijakan ekonomi lintas kementerian, sementara Menkeu memiliki instrumen fiskal secara langsung.
Lalu, apakah dua kali pergantian Menkeu berarti keuangan negara sedang bermasalah?
Belum tentu. Pergantian pejabat saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya krisis. Namun frekuensi pergantian ini layak dibaca sebagai tanda bahwa pemerintah sedang melakukan penyesuaian arah dan mencari titik keseimbangan antara kebutuhan membiayai program-program besar dengan tuntutan menjaga APBN tetap sehat, utang terkendali, serta kepercayaan pasar tetap terjaga.
Menariknya, setelah dilantik, Suahasil menyebut arahan khusus Presiden adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, sekaligus memastikan APBN tetap mampu menjalankan program-program prioritas pemerintah.
Karena itu, pertanyaan terpenting ke depan bukan hanya siapa Menteri Keuangannya, melainkan: apakah defisit tetap terkendali? Bagaimana penerimaan pajak? Seberapa besar kebutuhan utang dan penerbitan SBN? Bagaimana program prioritas dibiayai? Dan bagaimana pasar serta rupiah merespons arah fiskal baru?
Dua kali ganti Menkeu belum membuktikan adanya krisis. Tetapi jelas ada sesuatu yang sedang disesuaikan dalam pengelolaan fiskal pemerintahan Prabowo.
#MenteriKeuangan #APBN #KeuanganNegara
...
