Jemmy Makasala

Relawan konservasi yang menebus dosa
dengan mengurus sampah

Peluh belum juga hilang dari tubuhnya. Nampak sedikit dekil dengan kaos lengan panjang. Walau terlihat lelah, pria ini bersemangat ketika diminta untuk berfoto.

 

Jemmy Makasala baru saja tiba di markas Manengkel Solidaritas, di Kelurahan Paal Dua, Manado sore menjelang malam, Rabu (3/7/2019). Dengan kendaraan pengangkut sampah dia tiba dari daerah Minahasa Utara. Bersama beberapa relawan konservasi lainnya, Jemmy ikut membantu membuat biopori di sana.

 

“Agar air hujan tidak hilang begitu saja. Ini solusi mengurangi genangan air. Bumi harus menerima kembali air,” ujar Jemmy disela-sela fotografer Hermondo Kasiadi mengambil gambar dirinya.

 

Ditemani secangkir kopi hitam kami berbincang soal sampah, hal yang digeluti oleh pria yang juga pecinta alam senior di Sulawesi Utara ini.

 

 

Sejak kapan tertarik dengan alam?
Dulu saya pramuka. Itu sudah lama, saya masih SMP. Waktu itu di Sangihe. Disitu saya mengerti apa pentingnya kebersihan. Di jambore nasional tahun 1986, kami juara nasional soal kebersihan.
Sejak itu saya jatuh cinta soal alam dan lingkungan. Lalu menekuni pendakian gunung hingga mendirikan kelompok mahasiswa pecinta alam di Politeknik Manado.

 

Mengapa kemudian tertarik mengurus sampah?
Untuk bersih, kita harus mampu mengurusi sampah. Saya belajar soal ini. Sampah itu bukan musuh, karena produk peradaban manusia yang tidak bisa dihilangkan. Sepanjang hidup kita menghasilkan sampah. Kita harus belajar bagaimana mengelolanya. Dulu saya kumpul sampah, sehari bisa sampai sepuluh karung. Lalu saya langsung bakar, termasuk sampah plastik. Ternyata itu salah.

 

Kenapa salah?
Membakar sampah plastik itu berbahaya, karena asapnya menciptakan polutan. Ada zat-zat kimia yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik yang justru mengancam kehidupan kita.

 

(Jemmy kemudian mengambil plastik label botol air mineral dan mencoba membakarnya).

 

Lihat ini, setiap kali dibakar ada asap hitam pekat yang keluar. Itu polutan. Baunya saja sudah tidak enak. Bayangkan jika dalam jumlah besar. Makanya membakar sampah itu dilarang. Tapi kan banyak orang tidak tahu soal itu. Saya juga dulu tidak tahu.

 

Sekarang sudah tidak membakar lagi?
Saya belajar, membakar sampah itu akan memberi kontribusi terhadap pemanasan global. Saya merasa bersalah, karena cukup banyak sampah yang saya bakar. Setiap hari waktu itu, semua sampah yang saya kumpul saya bakar. Sekarang saya menebus dosa dengan mengurus sampah.

 

Maksudnya menebus dosa?
Sekarang saya bersama teman-teman mengelola bank sampah. Orang bisa antar sampah mereka ke kami. Jika sebelumnya sampah rumah tangga itu hanya dibuang begitu saja, sekarang bisa jadi uang jika dibawa ke bank sampah. Tentu tidak semua jenis sampah. Tetapi sebagian besar sampah rumah tangga itu bisa dikelola kembali oleh bank sampah.

 

(Jemmy sering diundang menjadi pemateri dalam berbagai sosialisasi dan pelatihan mengelola sampah)

Mengapa memilih bentuk bank sampah?
Saya kira bank sampah adalah solusi tepat mengatasi persoalan sampah rumah tangga. Mengajak orang untuk peduli mengelola sampah tanpa value itu susah. Orang cenderung hanya iya iya saja di awal, setelahnya dia cuek. Di bank sampah, mereka dapat value, ada penghargaan dalam bentuk uang dan emas.

 

Emas?
Iya bank sampah yang kami kelola telah bekerjasama dengan Pegadaian Manado. Nasabah di bank sampah kami punya dua pilihan bentuk tabungan. Apakah dia mau tabungan dalam bentuk uang atau emas. Jika dalam bentuk emas, dia bisa dapat emas setara dengan jumlah uang yang ada dalam tabungannya. Jika nilainya sudah setara dengan kurs emas 1 gram, dia bisa ambil emasnya plus dapat Rp 100 ribu.

 

(Bank Sampah Simponi berada di desa Watutumou Dua, Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara. Jemmy menjadi wakil direktur di bank sampah itu. Direkturnya adalah sahabatnya Marlon Kamagi. Bank sampah ini juga punya pengurus lain seperti sekretaris, bendahara dan juru timbang. Mereka mempekerjakan 10 orang).

 

Banyak yang tertarik dengan konsep bank sampah yang anda kelola?
Saat ini kami sudah punya 230 nasabah. padahal kami baru beroperasi selama enam bulan. Mereka rutin mengantar sampah ke kami atau kami jemput. Nasabah-nasabah ini adalah warga yang sudah paham bagaimana memperlakukan sampah. Saat sampah itu datang ke kami, kami memilahnya sesuai jenisnya. Terutama plastik. Rata-rata kami hargai Rp 2500 per kilogram.

 

Darimana bank sampah mendapat dana pembelian?
Ya dari menjual sampah yang sudah diproses itu ke para pengepul. Uang hasil jualan itu yang kami putar kembali untuk membeli sampah dan membayar gaji pekerja.

 

Berarti dari sisi bisnis menguntungkan ya?
Jika dikelola dengan baik, iya ini usaha menguntungkan. Tapi kalau saya pribadi kan tidak persoalan itu, karena saya memberi diri untuk mengurus sampah. Itu tadi menebus dosa. Memang kami saat ini masih agak kesulitan dalam membayar upah pekerja. Mereka cuma digaji Rp 300 ribu per bulan. Tapi mereka senang mengurus sampah.

 

Harga jual ke pengepul berapa?
Cukup bagus sebenarnya, cuma harga jual kami belum bisa tinggi, karena proses akhirnya. Jika kami punya peralatan yang memadai, pencacah plastik misalnya, atau peralatan pencair plastik dan mesin pres, tentu harga jual bisa lebih tinggi dan kami bisa mengupah pekerja lebih layak juga. Dan efeknya akan semakin banyak orang tertarik menabung sampah di sini karena pasti harga beli ke rumah tangga akan naik juga.

 

Ada berapa bank sampah di Minahasa Utara?
Sebenarnya Dinas Lingkungan Hidup Minahasa Utara itu sudah membangun 11 bank sampah. Tapi tidak ada yang jalan sama sekali. Cuma Bank Sampah Simponi ini yang jalan. Mereka gagal mengurus bank sampah, yang ada malah mengklaim bank sampah kami sebagai binaan mereka. Mereka sih minta kami membina 11 bank sampah yang mati itu. Masih dipikir-pikir dulu.

 

Apa yang salah dengan 11 bank sampah itu sebenarnya?
Pemerintah itu kan begitu, membangun saja, lalu melupakan edukasi. Masyarakat itu perlu diedukasi, dan bukan hanya sekali. Harus terus-menerus, berulang-ulang. Dan jangan hanya berhenti di edukasi, pemerintah juga harus berbuat, memberi contoh. Masyarakat akan ikut, jika pemerintah sadar dan memberi teladan bagaimana mengurusi sampah yang sebenarnya. Nasabah kami yang 230 orang itu, bisa paham dan sadar karena kami tak henti memberi edukasi.

Inovasi kreatif Jemmy dari sampah.

Bumi semakin panas, bagaimana anda melihat ini?
Pemanasan global. Kita semua juga yang memberi kontribusi itu. Makanya kita harus sadar, berhenti dan mari mencintai lingkungan. Plastik dan sampah tidak salah. Itu produk peradaban, akan terus ada selama manusia hidup. Yang salah itu kelakukan kita terhadap sampah. Buang sembarangan dan tidak peduli.

 

(Jemmy merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan sampah-sampah kecil yang dia pungut)

 

Saya melakukan hal-hal kecil, misalnya dengan memunguti sampah-sampah kertas yang saya temui ini. Saya isi di kantong celana dan nanti saya akan buang ke tempatnya. Saya perokok, tapi tidak mau buang puntung sembarangan. Selesai merokok puntungnya saya kantongi. Sampah kita, ya kita yang harus tanggungjawab. Jangan jadikan itu beban bagi bumi dan jadi beban orang lain.

Reporter: Ronny Buol
Foto: Hermondo Kasiadi

Bagikan !
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com