Connect with us

Sorotan

Menristekdikti Tegaskan Dosen Terlibat HTI Ditindak Tegas

Namun karena masalah HTI merupakan hal yang baru, perlu dilakukan pendekatan persuasif agar dosen, mahasiswa atau PNS yang terlibat segera kembali ke NKRI, Pancasila dan UUD 1945 dan tidak lagi melakukan aktivitas yang menjurus pada penyelewangan Pancasila dan UUD.

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com — Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan, jika ada keterlibatan civitas kampus dengan organisasi masyarakat terlarang seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) akan ditindak tegas.

Dia meminta rektor untuk menyerahkan data, jika ditemukan ada mahasiswa, dosen dan pegawai yang terlibat dengan HTI.

Usai peletakan batu pertama pembangunan tiga gedung di Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado, dia menyampaikan, Kemenristekdikti secara tegas akan memberikan sanksi tegas bagi siapapun yang terlibat.

(Baca: Unsrat Ketambahan Gedung Baru, Menristekdikti Lakukan Peletakkan Batu Pertama)

“Karena kita semua harus patuh pada undang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku. Kita harus setia terhadap Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” ujar Nasir, Kamis (27/7/2017).

Menurutnya, karena HTI sudah merupakan organisasi terlarang dan sudah dibubarkan Kementerian Hukum dan HAM, sehingga semua aktivitas yang dilakukan dilihat oleh masing-masing perguruan tinggi.

“Sanksinya sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010,” kata Mohamad.

PP No 53 Tahun 2010 itu sanksinya berupa sanksi administrasi. “Ada pemeriksaan administrasi. Kemudian peringatan pertama, kedua dan ketiga hingga pemecatan,” ujarnya.

Namun karena masalah HTI merupakan hal yang baru, perlu dilakukan pendekatan persuasif agar dosen, mahasiswa atau PNS yang terlibat segera kembali ke NKRI, Pancasila dan UUD 1945 dan tidak lagi melakukan aktivitas yang menjurus pada penyelewangan Pancasila dan UUD.

“Jumlah pengikut HTI di kampus seluruh Indonesia memang cuma sedikit. Hanya suaranya nyaring. Tapi tidak ada apa-apa. Semua bisa diantisipasi rektor-rektor,” pungkasnya.

Sebelumnya Rektor Unsrat, Prof Dr Ir Ellen Joan Kumaat MSc, DEA mengaku akan menyerahkan nama-nama dosen, mahasiswa dan PNS ke Polda Sulut jika terlibat dengan HTI.

“Kalau ada nama-namanya kami akan serahkan ke polisi,” ujarnya.

Editor: Ronny A. Buol

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sorotan

Jangan mengaku “orang Manado” kalau masih buang sampah sembarangan

Kami mendatangi kaum millenial untuk mendengar apa kata mereka soal sampah.

Published

on

Ilustrasi (Foto: Pixabay.com/Natasya Gepp)

MANADO, ZONAUTARA.com – Bumi semakin menua semakin banyak yang membebaninya. Sampah, sejak lama sudah menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Tak usah jauh, di kota kita tercinta, Kota Manado yang masih memiliki alam yang asri dan lautan yang cantik, kini harus juga berurusan dengan sampah. Termasuk di laut. Entah apa salah laut kita.

Hasil laut di utara pulau Sulawesi saban hari kita nikmati. Laut yang kaya dengan ikan yang segar dan lezat untuk disantap, serta berbagai biota laut lainnya. Karena kecantikan laut kita juga, daerah kita bisa dikenal di mana-mana sampai ke negara luar. Namun laut yang sama harus menanggung ketidakpedulian kita.

Secara global lautan di dunia harus menanggung 12,7 juta ton sampah plastik per tahun. Indonesia berada di urutan kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ke laut. Dan Kota Manado masuk sebagai salah satu dari 10 kota terkotor pada penilaian Adipura 2018.

Baca juga: Mereka lego sampah ke laut, kami merekamnya

Memiliki pesisir pantai, pemandangan ke arah laut Manado kini sudah tidak seindah dulu. Banyak sampah bertebaran di tepi pantai, dan bahkan dalam rute perjalanan ke Pulau Bunaken, sudah sangat sering dijumpai sampah yang mengapung di atas permukaan laut.

Banyak penyebab sampah-sampah itu menemui jalannya ke laut. Selain yang dibuang langsung dari kapal/perahu yang berlayar, muara sungai-sungai di Manado yang bermuara langsung ke Teluk Manado juga menjadi penyuplainya.

Adalh Willbert Karundeng, anak millenial, 19 tahun, warga Kanaan Ranotana Weru, Kecamatan Wanea, mengingatkan jika pemerintah kota harus bekerja lebih keras lagi dengan kondisi itu.

Baca juga: Lautan sampah di pantai Manado

Namun Willbert juga berharap sebagai kota dengan ribuan jiwa warganya, masyarakat harus pula bertanggung jawab dengan kondisi ini.

“Zaman semakin modern, seharusnya tingkah laku kita juga harus ikut beradab, jangan menanggap sepele soal sampah. Jangan membuangnya sembarangan. Bayangkan, jika kita semua tidak peduli dengan sampah, dan membuangnya sembarangan,” kata Wilbbert, saat ditemui Zonautara.com, Rabu (12/6/2019).

Wakil Dua Putra Bitung ini juga mengatakan, bahwa orang Manado itu dikenal dengan paras yang cantik dan ganteng. Maka seharusnya, kita juga merasa malu kalau lingkungan kita tak secantik paras kita.

“Jangan mengaku orang Manado jika masih membuang sampah sembarangan,” kata Willbert.

Willbert Karundeng. (Foto: Zonautara.com/Tessa Senduk)

Willbert yang saat ini juga aktif dalam Pelayanan Siswa Kristen Berprestasi Sulawesi Utara, merasakan dampak sampah yang dibiarkan begitu saja. Tempat tinggalnya yang berada di dekat pasar, memberi dia pengalaman berurusan dengan sampah.

Sampah yang tidak segera diangkut dan dibiarkan begitu saja membuat udara tercemari dengan bau busuk. Bahkan jika tidak segera diangkut, tumpukan sampah dapat menggangu pengunjung pasar yang lalu lalang.

Pemerintah harus lebih serius lagi mengurus pengelolaan sampah. Dari pengalamannya, petugas kebersihan yang mengangkut sampah dari rumahnya langsung mencampur sampah begitu saja, padahal sampah plastik sudah dipisahkan dari yang lainnya.

Willbert sendiri mengapresiasi program Bank Sampah Pemerintah Kota Manado. Bank Sampah mendidik masyarakat memperlakukan sampah plastik dengan baik. Tidak langsung dibuang namun bisa dikumpulkan dan menghasilkan uang.

Willbert mengajak seluruh anak milenial Kota Manado untuk mendukung Less Plastic City demi kota tercinta menjadi lebih baik.

“Anak gaul itu bawa tumbler dan sedotan stainless,” pungkas Willbert.

Editor: Ronny Adolof Buol

Artikel ini bagian dari Liputan Khusus soal Sampah Di Kota Manado

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com