Connect with us

Sorotan

Penyidik Temukan Kejanggalan Di LPj ADD Dandes Minahasa

Published

on

MINAHASA, ZONAUTARA.com – Pengusutan terhadap dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) atas pengelolaan alokasi dana desa (ADD) dan dana desa (Dandes) 2016 makin mengerucut.

Penyidik Tipikor Kepolisian Resor (Polres) Minahasa menemukan adanya kejanggalan dalam Laporan Pertanggungjawaban (Lpj).

Kanit Tipikor Polres Minahasa Bripka Zulfikri Darwis mengatakan, kejanggalan dimaksud adalah dalam laporan rencana penggunaan anggaran. Dana yang diajukan sangat berbeda dengan realisasinya. Seperti halnya yang diajukan dalam proposal sebesar Rp 300 juta, namun laporan realisasi penggunaan anggaran Rp 500 juta.

Bahkan diduga ada pekerjaan fisik yang disinyalir fiktif. Karena tak sesuai dengan proposal rencana kegiatan serta realisasinya. Baik untuk dalam penggunaan dana tahap satu maupun tahap dua.

Belum lagi dengan pembayaran tunjangan aparat desa yang dianggap penyidik sangat janggal. Karena di beberapa desa jumlahnya berbeda, padahal sudah diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup).

“Bayangkan saja dalam satu kabupaten, kok tunjangan bagi hukum tua dan aparat desa berbeda, padahal sama-sama mengacu pada Perbup. Bahkan ada yang dianggarkan, tapi ada yang tidak,” ungkap Zulfikri, Rabu (27/9/2017).

Bahkan penyidik pun menduga jika dalam pembuatan Lpj dilakukan secara bersama. Karena semuanya hampir sama, baik ketika ditemukan kesalahan oleh penyidik.

“Apa yang kami dapati adalah sesuai dengan fakta dalam proses penyelidikan. Ini tidak ada urusan dengan persoalan politik jelang Pilkada Minahasa,” tambahnya.

Bukan itu saja, kata dia, pihaknya siap mengkonfrontir bukti yang didapat dengan siapa saja yang menggapap hal ini hanya mencari kesalahan dan menyalahi.

“Kalau memang merasa kami penyidik salah, mari kita berkonfrontir dengan bukti yang ada,” jelasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Minahasa AKP Edy Kusniadi tak menampik soal pengusutan yang sementara dilakukan oleh pihaknya.

Menurutnya, penyidik akan terus mendalami setiap data yang diperoleh terkait pengelolaan ADD Dandes tahun 2016. Itu nantinya untuk kepentingan proses penyidikan, jika memang telah makin pasti dugaannya.(K03)

 

Editor: Eva Aruperes

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sorotan

Jangan mengaku “orang Manado” kalau masih buang sampah sembarangan

Kami mendatangi kaum millenial untuk mendengar apa kata mereka soal sampah.

Published

on

Ilustrasi (Foto: Pixabay.com/Natasya Gepp)

MANADO, ZONAUTARA.com – Bumi semakin menua semakin banyak yang membebaninya. Sampah, sejak lama sudah menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Tak usah jauh, di kota kita tercinta, Kota Manado yang masih memiliki alam yang asri dan lautan yang cantik, kini harus juga berurusan dengan sampah. Termasuk di laut. Entah apa salah laut kita.

Hasil laut di utara pulau Sulawesi saban hari kita nikmati. Laut yang kaya dengan ikan yang segar dan lezat untuk disantap, serta berbagai biota laut lainnya. Karena kecantikan laut kita juga, daerah kita bisa dikenal di mana-mana sampai ke negara luar. Namun laut yang sama harus menanggung ketidakpedulian kita.

Secara global lautan di dunia harus menanggung 12,7 juta ton sampah plastik per tahun. Indonesia berada di urutan kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ke laut. Dan Kota Manado masuk sebagai salah satu dari 10 kota terkotor pada penilaian Adipura 2018.

Baca juga: Mereka lego sampah ke laut, kami merekamnya

Memiliki pesisir pantai, pemandangan ke arah laut Manado kini sudah tidak seindah dulu. Banyak sampah bertebaran di tepi pantai, dan bahkan dalam rute perjalanan ke Pulau Bunaken, sudah sangat sering dijumpai sampah yang mengapung di atas permukaan laut.

Banyak penyebab sampah-sampah itu menemui jalannya ke laut. Selain yang dibuang langsung dari kapal/perahu yang berlayar, muara sungai-sungai di Manado yang bermuara langsung ke Teluk Manado juga menjadi penyuplainya.

Adalh Willbert Karundeng, anak millenial, 19 tahun, warga Kanaan Ranotana Weru, Kecamatan Wanea, mengingatkan jika pemerintah kota harus bekerja lebih keras lagi dengan kondisi itu.

Baca juga: Lautan sampah di pantai Manado

Namun Willbert juga berharap sebagai kota dengan ribuan jiwa warganya, masyarakat harus pula bertanggung jawab dengan kondisi ini.

“Zaman semakin modern, seharusnya tingkah laku kita juga harus ikut beradab, jangan menanggap sepele soal sampah. Jangan membuangnya sembarangan. Bayangkan, jika kita semua tidak peduli dengan sampah, dan membuangnya sembarangan,” kata Wilbbert, saat ditemui Zonautara.com, Rabu (12/6/2019).

Wakil Dua Putra Bitung ini juga mengatakan, bahwa orang Manado itu dikenal dengan paras yang cantik dan ganteng. Maka seharusnya, kita juga merasa malu kalau lingkungan kita tak secantik paras kita.

“Jangan mengaku orang Manado jika masih membuang sampah sembarangan,” kata Willbert.

Willbert Karundeng. (Foto: Zonautara.com/Tessa Senduk)

Willbert yang saat ini juga aktif dalam Pelayanan Siswa Kristen Berprestasi Sulawesi Utara, merasakan dampak sampah yang dibiarkan begitu saja. Tempat tinggalnya yang berada di dekat pasar, memberi dia pengalaman berurusan dengan sampah.

Sampah yang tidak segera diangkut dan dibiarkan begitu saja membuat udara tercemari dengan bau busuk. Bahkan jika tidak segera diangkut, tumpukan sampah dapat menggangu pengunjung pasar yang lalu lalang.

Pemerintah harus lebih serius lagi mengurus pengelolaan sampah. Dari pengalamannya, petugas kebersihan yang mengangkut sampah dari rumahnya langsung mencampur sampah begitu saja, padahal sampah plastik sudah dipisahkan dari yang lainnya.

Willbert sendiri mengapresiasi program Bank Sampah Pemerintah Kota Manado. Bank Sampah mendidik masyarakat memperlakukan sampah plastik dengan baik. Tidak langsung dibuang namun bisa dikumpulkan dan menghasilkan uang.

Willbert mengajak seluruh anak milenial Kota Manado untuk mendukung Less Plastic City demi kota tercinta menjadi lebih baik.

“Anak gaul itu bawa tumbler dan sedotan stainless,” pungkas Willbert.

Editor: Ronny Adolof Buol

Artikel ini bagian dari Liputan Khusus soal Sampah Di Kota Manado

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com