Bagikan....

BINCANG

INDRI SUWU:
"Segala yang baik harus dilakukan"

Peliput : Ronny Adolof Buol
Foto dan video: Suhandri Lariwu

Anak muda ini berani melangkah. “Kesempatan harus diambil, jangan pernah melewatkannya,” tutur dara lajang asal Desa Koha, Kecamatan Mandolang, Minahasa ini.

Dia memberi waktu bagi zonautara.com berbincang beberapa hal, di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua Panitia Kejuaraan Anggar Walikota Kota Moda, awal Desember 2018.

Indria Lighaya Suwu adalah atlit anggar yang cukup berprestasi beberapa tahun lalu. Dia pernah mengharumkan nama Sulawesi Utara dengan meraih medali Perak pada Pra PON 2003 serta medali perunggu pada PON 2008.

Kini perempuan cantik yang biasa disapa Indri ini menjadi calon legislatif untuk DPRD Minahasa daerah pemilihan Minahasa 4.

Berikut petikan wawancaranya.

Kenapa tiba-tiba terjun ke dunia politik?

Awalnya memang pesimis, tapi setelah dapat tawaran dan mencoba untuk melakukan pendekatan ke masyarakat ternyata bisa.

Tawaran itu datang darimana?

Teman-teman di kampung banyak mendorong, karena memang selama ini belum ada (anggota dewan) dari Koha. Lalu ada tawaran dari partai. Saya kaget juga, bisa tembus di daftar calon tetap. Ya harus sekarang harus bertarung.

Koha adalah salah satu desa di Kecamatan Mandolang, Minahasa. Desa ini terletak di daratan tinggi dan kini dikenal luas berkat salah satu destinasi wisata di sana, Tetempangan.

Apa yang anda ingin perjuangkan nanti?

Karena saya dari golongan muda, tentu akan mendorong generasi muda untuk lebih berbuat banyak. Mereka harus difasilitasi, misalnya lewat regulasi dan kebijakan. Itu kan bisa dikawal legislatif nanti.

Apa sih yang menjadi persoalan anak muda sekarang?

Banyak, tapi saya ingin mendorong anak muda harus bisa menciptakan peluang kerjanya sendiri. Apalagi zaman sekarang, semuanya bisa diakses dengan cepat. Anak muda tidak harus menunggu dan jangan hanya berpikir instan.  

Kalau di kampung itu, anak muda pada umumnya kurang percaya diri, padahal mereka punya potensi. Ini yang harus didorong, diciptakan iklimnya agar potensi ini bisa berkembang.  

Kalau di Koha apa yang sudah anda lakukan untuk anak muda disana?

Lahan perkebunan di sana cukup luas. Saya mendorong dan mengajak anak muda di sana untuk memanfaatkan potensi kampung ini. Tanam rica, pala, cengkeh. Jangan hanya berpikir kerja itu di kantor. Pertanian dan perkebunan juga sangat menjanjikan buat anak muda.

Tapi sekarang anak muda kan lebih tertarik dengan dunia digital?

Nah itu dia yang saya bilang, jangan hanya memanfaatkan internet itu untuk bermedia sosial saja. Jadikan internet dan dunia digital sebagai sarana menambah pengetahuan termasuk di bidang pertanian dan perkebunan. Memasarkan hasil perkebunan lewat internet adalah salah satu manfaat besar dunia digital.

Apalagi Koha sekarang menjadi salah satu destinasi wisata karena ada Tetempangan. Ya anak muda harus memanfaatkan ini lewat pemanfaatan internet. Belajar bahasa asing misalnya, supaya bisa melayani wisatawan luar negeri.

Jika anda nanti jadi anggota legislatif, apa yang anda mau perjuangkan lebih dulu?

Selain memfasilitasi anak muda tadi, infrastruktur di kampung-kampung itu penting. Apalagi di Dapil 4 Minahasa itu beberapa kampung masih minim infrastruktur. Ini mungkin yang akan saya perjuangkan di awal.

Dapil 4 Minahasa meliputi kecamatan Kecamatan Tombariri Timur, Tombariri, Mandolang, Pineleng dan Tombulu.

Anda sibuk di kejuaraan anggar?

Iya, saat ini saya dipercayakan jadi Ketua Panitia Kejuaraan Anggar Walikota Manado Cup 2018.

Memangnya hobby anggar?

Saya dulu atlit anggar.

Bagaimana ceritanya?

Dulu kan saya tinggal di Bahu (Manado – red). Di sana pembinaan olahraga cukup bagus. Ada sasana tinju, latihan bola kaki dan anggar. Ya karena saya perempuan, saya pilih anggar. Ini juga olahraga yang unik, menarik dan jarang. 

Sekarang masih aktif?

Sekarang sudah menjadi pengurus cabang IKASI (Ikatan Anggar Seluruh Indonesia) Manado. Anggar lumayan prospek di Sulut. Dulu cuma ada pengurus provinsi. Ini yang minat sudah banyak, dari Tondano dan Tomohon juga ada. Sekarang di Manado sudah ada 8 club.

Sekarang ini sementara berlangsung kejuaraan terbuka antar Club, jadi kami mengajak club dari mana saja. (Kejuaraan berlangsung pada tanggal 6 hingga 8 Desember lalu – red).

Anda aktif dimana lagi?

Dimana-mana sih, prinsip saya mana yang baik harus dilakukan. Jadi jika itu baik, mengapa tidak. Sekarang saya ingin jadi seorang entrepreneur. Dulu kan kerja kantoran, tapi jiwa saya bukan disitu barangkali.

Belajar politik dari siapa?

Karena saya masih baru, jadi saya selalu menyempatkan diri diskusi dengan politikus senior. Saya harus memetik banyak pelajaran dari mereka, tentu yang baik-baik ya.

Survey Setara Institute menempatkan Manado di urutan keempat kota paling toleran, tahun lalu Manado diurutan pertama. Tanggapan anda?

Saya kira sikap toleransi masyarakat Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya masih sangat tinggi. Di kampung-kampung sejauh ini saya lihat tidak ada persoalan dengan hal ini. Sesama kelompok masih saling menghormati, menghargai dan membantu.

Kalau ada berita-berita soal intoleransi, saya pikir itu hanya dinamika kecil saja, yang bisa kita atasi bersama.

Indri Lighaya Suwu, lahir di Tomohon pada 11 Juni 1987. Lulusan Sarjana Hukum ini pernah menjadi Sekretaris Deputy Bank Indonesia Sulut – KPwBI Sulut. Pada 2015 dia pernah meraih runner up Brand Ambassador Perbankan Sulut.

 

Kini Indri menjadi calon legislatif dari Partai Demokrat untuk DPRD Minahasa dari Daerah Pemilihan 4.