ZONAUTARA.com – Seiring dengan pelonggaran yang diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia, serta mobilitas masyarakat yang terus meningkat, Epidemolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo menyampaikan bahwa gelombang ketiga Covid-19 berpotensi terjadi.

Meski kini telah ada aplikasi PeduliLindungi dan menjadi syarat akses sejumlah fasilitas publik, namun menurut Windhu, hal tersebut masih harus diimbangi dengan testing dan tracking yang baik.

Tak hanya itu, menurut Windhu, PeduliLindungi bisa jadi hanya seperti macan kertas, jika tidak diimbangi dengan pengawasan lain melalui testing dan tracing.

Pasalnya, aplikasi itu hanya bisa mendeteksi orang-orang yang sudah melakukan tes deteksi Covid-19.

Karena testing dan tracing yang tidak baik, aplikasi PeduliLindungi menjadi tidak akurat. Sebab, seseorang yang positif Covid-19 bisa saja berkeliaran di tempat publik dan tidak terjaring aplikasi tersebut.

“Kalau strategi testing tracing itu lemah, PeduliLindungi cuma macan kertas saja,” ujar Windhu.

“Enggak ada dong datanya di PeduliLindungi, jadi orang yang positif karena nggak terdeteksi dia ya tetep lolos masuk mal, masuk tempat rekreasi,” tambahnya.

Selain itu, kata Windhu, pengawasan penggunaan aplikasi PeduliLindungi juga harus ketat. Windhu mengaku beberapa waktu lalu berkunjung ke salah satu swalayan. Di pintu masuk, petugas sudah berjaga dan menyediakan barcode QR code PeduliLindungi.

Namun, ia menyaksikan pengunjung yang tidak membawa handphone tetap diizinkan masuk oleh petugas.

“Apa gunanya (PeduliLindungi) kalau gitu?” ujar Windhu.

Sementara itu, kata Windhu, saat ini tingkat mobilitas masyarakat sudah sangat tinggi. Pantauan Google Mobility pada hari ini pergerakan masyarakat di tempat rekreasi sudah mencapai 0 persen.

“Bayangkan, kembali lagi seperti baseline seperti sebelum PPKM. Artinya sekarang orang sudah kemana-mana nggak karuan. Jadi mobilitas sudah naik banget,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut Windhu testing dan tracing yang dilakukan pemerintah masih buruk. Ia mengingatkan bahwa testing dan tracing tidak bisa digantikan dengan strategi apapun, termasuk kesibukan vaksinasi.

Jika keseluruhan hal tersebut dilakukan dengan baik, menurut Windhu bisa saja Indonesia terbebas dari serangan gelombang ketiga.

“Apalagi kalau kita menapis orang yang masuk ke dalam negeri melalui pintu-pintu masuk kita,” jelas Windhu.