ZONAUTARA.com -Tisu toilet telah banyak digunakan dan dikonsumsi. Bahkan saat pandemic Corona, orang-orang berbondong-bondong membeli tisu toilet dalam jumlah besar. Padahal, angka menunjukkan bahwa tisu toilet merupakan produk yang sangat boros untuk diproduksi.

Konsumsi tisu toilet tidak berkelanjutan dan membutuhkan banyak sumber daya untuk diproduksi. Orang Amerika menggunakan tisu toilet paling banyak di dunia.

Angka tentang konsumsi tisu toilet sangat mengejutkan. Di seluruh dunia, setara dengan 270.000 pohon dibuang ke toilet atau dibuang ke tempat pembuangan sampah setiap hari.

Dan sekitar 10 persennya, atau setara dengan 27.000 pohon berasal dari tisu toilet. Angka tersebut berjumlah sekitar 15 juta per tahun. Untuk menebusnya, tiap orang perlu menanam sekitar 384 pohon seumur hidup.

Orang Amerika sebagai konsumen tisu terbesar di dunia menggunakan sekitar 34 juta gulungan per hari. Jumlah ini sama dengan 36,5 miliar gulungan per tahun. Fakta penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebanyak 70% dari dunia tidak menggunakan tisu toilet. Sehingga jelas terdapat alternatif lain.

The Scientific American melaporkan bahwa dibutuhkan sekitar 473.587.500.000 galon air untuk memproduksi semua tisu toilet untuk orang Amerika. Dan 253.000 ton klorin untuk memutihkannya. Dari segi listrik, pembuatannya membutuhkan sekitar 17,3 terawatt listrik per tahun.

Untuk menguraikannya lebih lanjut, dibutuhkan hingga 37 galon air untuk membuat satu gulungan tisu toilet. Satu gulungan TP yang sama juga membutuhkan 1,3 kilowatt/jam (KWh) listrik dan 1,5 pon kayu untuk membuatnya.

Dalam hal konsumsi per negara, Jerman, Inggris, dan Jepang juga menggunakan banyak tisu toilet setiap tahunnya.

Alternatif lain selain tisu toilet

Di Indonesia sendiri, bidet merupakan perangkat yang sangat populer dan dapat di temukan di mana-mana. Inovasi lain juga datang dengan menciptakan tisu toilet dari bambu dan tidak menggunakan pembungkus plastik.

Bambu dapat diperbarui dengan cepat dan dibandingkan dengan pohon biasa, menyerap sekitar 30% lebih sedikit karbon dioksida.

Meski bidet juga menimbulkan biaya lingkungan dari penggunaan air, secara keseluruhan, bidet jauh lebih sedikit dalam penggunaan sumber daya dan menghasilkan limbah lebih sedikit daripada proses pembuatan tisu toilet.