ZONAUTARA.COM – Usai adzan subuh kami meninggalkan penginapan Ojo Lali Tompeng Sulawesi Tengah tanpa basa-basi. Penjaga sepertinya masih tidur. Hanya saja di dinding kamar memang sudah ditempel pemberitahuan; jangan membawa barang, jangan merusak kipas, kalau cek out tinggalkan kunci di pintu, tidak boleh membawanya. Jadi kami tinggal mengikuti saja.

Gigi saya saling bertemu. Gigil bukan main. Sekujur tubuh bisa merasakan dingin yang memaksa menembus jaket, walau perlahan matahari mulai membagi cahaya. Di jalananan anak-anak sekolah dasar terlihat gembira, beberapa terlihat mencolok dengan bedak di wajah. Kehidupan desa yang luar biasa, tidak sesak, tidak buru-buru, tidak seperti sedang pandemi, tidak ada masker.

Kami mulai memasuki Tomini, cahaya pagi yang dibagi matahari kembali dipantulkan laut dan tambak. Terlihat seperti cermin, membuat langit terang dan bersih. Aroma khas garam tercium kuat. Kami benar-benar menikmati. Tak puas, akhirnya kami memutuskan berhenti sejenak. Mata dan telinga merekam semua yang ada. Di Google Map, posisi kami terbaca sedang membelah lautan. Ini luar biasa.

Kami tidak boleh terbuai dan berlama-lama. Perjalanan masih panjang, laju motor kembali dipacu. Sepoi angin dan keindahan alam Sulawesi Tengah sayang dilewatkan begitu saja. Saya membuka mata lebar-lebar, tidak mau tidur.

Sudah berjam-jam di jalan. Sejak dari Tompeng mereka bertiga belum menyeruput kopi sama sekali. Bios mulai mengantuk. Novi mengambil alih HT. Kak Ronny langsung mencari lokasi yang cocok untuk berhenti. Akhirnya, di sebuah pondok tepi jalan di Palasa kami menepi.

Bios langsung mengeluarkan kompor, memasak air dan membuat kopi. Novi, seperti biasa meninggalkan jejak dengan menempel stiker. Saya sendiri mulai panik mencari tumpangan buang air. Sejak dari Tomini perut saya sudah mulas. Syukurlah, ada toilet umum di samping masjid. Saya senang, toiletnya bersih. Di sana saya menemukan kelegaan. Usai menyeruput kopi, kami lalu melanjutkan perjalanan, dengan target SPBU dan warung makan.

Mampir bikin kopi di Palasa. (Foto: Ronny Buol)

Siang hari, tepat di Kantor Camat Tinombo, kami singgah di rumah makan RR. Setelah sepakat, kami akhirnya memesan empat paket ayam bakar. Kami terkejut, saat makanan datang, paketnya sungguh lengkap. Ayam bakar dengan dua jenis sambal, sop dan sayur kangkung campur pakis tumis. Setiap orang dapat sebakul makanan. Kami tertawa terbahak-bahak sambil bercanda. Mungkin pemilik warung tahu kami sedang lapar-laparnya.

Keterkejutan kami tidak berhenti sampai di situ. Setelah mulai makan, ayamnya sangat enak dan empuk. Teknik bakarnya bagus, matang sempurna. Tidak kering dan tidak mentah. Harganya murah. Untuk makan semua itu di tambah kerupuk dan cemilan, kami hanya menghabiskan uang Rp125 ribu. Kami makan bukan karena harus, tetapi memang karena sangat nikmat. Dengan perut terisi saya yakin kami siap melewati jalur Santigi.

Tanjakan Santigi dan truck yang terguling

Saat awal melintas, sebuah tanda lalu lintas sudah terpasang jelas. Dalam hati saya sudah tahu bahwa yang dimaksud adalah tanjakan. Saya harus bersiap. Dengan setengah gugup, saya menyakinkan diri bahwa jalur ini mungkin mirip jalur Munte di Sulut, nyatanya saya hanya menghibur diri. Jalanan sangat curam berkelok-kelok memacu mulut saya terus berdoa.

Dari belakang Novi dan Bios yang awalnya juga terdengar ribut, sudah tidak bersuara. Setahu saya, Bios baru pertama melintasi jalur ini. Kami masih meraba-raba lintasan. Butuh fokus yang baik. Saya yakin dengan doa mama, dan ayam Tinombo yang nikmat Santigi bisa kami taklukan.

Belum juga di pertengahan, saat motor mulai masuk belokan selanjutnya, sebuah truck pengangkut barang terparkir dengan posisi sudah terbalik. Barang dan sopirnya sudah tidak ada. Tapi apa yang saya lihat jadi pembelajaran. Jalur ini bisa jadi jalur penuh risiko jika tidak hati-hati. Syukurlah setelah memakan waktu cukup lama kami bisa melewatinya.

Hujan dan tatapan sinis

Hati saya lega. Akhirnya jalanan kembali bagus. Kami menargetkan Tugu Khatulistiwa untuk titik pemberhentian selanjutnya. Tapi, tepat di Desa Malanggo Pesisir, hujan turun begitu lebat. Kami dan pengguna jalan lainnya akhirnya berteduh di samping sebuah rumah. Karena ada para-paranya saya memilih tidur sembari menunggu hujan reda. Yang lainnya berjaga. Seorang anak balita bersama kakaknya yang saya taksir berusia sekitar 14 tahun keluar dari dalam rumah. Mereka melempar senyum ramah. Sesekali mengajak bicara.

Saya terbangun karena hembusan angin kencang dari arah bukit. Memang di depan rumah tempat kami berteduh ada pepohonan sawit yang sepertinya hanya ditanam untuk percobaan, soalnya tidak terurus. Di belakang sawit ada bukit.

Hujan mulai reda. Beberapa pengendara memilih melanjutkan perjalanan. Kami sudah bersiap, saat motor mulai dihidupkan, hujan tiba-tiba kembali deras. Dari arah pintu rumah saya melihat tatapan sinis. Tatapan yang menyiratkan ketidaksukaan. Saya berusaha tenang dan tidak memberitahu yang lain. Dengan rasa yang mengganjal saya diam saja dan membiarkan teman-teman berteduh. Kedua anak yang sejak awal sangat ramah kembali keluar. Novi mengajak bicara, ternyata setelah ditanya mereka berasal dari Sulut, dari Langowan. Saya coba positif. Mungkin tatapan sinis yang saya dapatkan karena memang penampilan kami pantas dicurigai. Tak kenal maka tak sayang. Sebagai sesama warga Sulut harusnya kami kawanua.

Badai saat menuju Toboli

Hujan belum benar-benar reda, tapi kami nekat melanjutkan perjalanan. Waktu kami banyak tersita sementara kami harus taat jadwal. Hujan bersama angin menyambut kami menyatu menjadi badai yang mesra. Jalanan sangat licin membuat kami mengurangi kecepatan. Dinginnya jangan ditanya. Lintasan kami kawasan pesisir dengan bukit di sebelahnya. Meski tidak kuyup, tapi kami kehujanan. Mungkin karena pakaian kami memang didesain untuk outdoor jadi cepat kering. Saya sendiri agak kuatir, fisik kami akan bermasalah. Selain sudah langganan angin, kami sering kehujanan. Makanya saat waktu makan, saya makan sebanyak mungkin. Tidak ada diet, tidak ada ritual pilih-pilih makanan. Dan seperti itulah saya diajarkan. Sebagai pebolang, saya tidak mau menjadi beban perjalanan kerena sakit.

Tiupan angin yang kencang saat berada di Teluk Tomini (Foto: Neno Karlina)

Di tengah semua kekuatiran-kekuatiran itu, tanpa saya sadari kami sudah melewati Tugu Khatulistiwa. Kami langsung memutar motor dan berhenti. Proses dokumentasi dilakukan. Saya bersyukur bisa berada di sini. Terutama dengan cara yang tidak biasa.

Seharusnya kami tiba di sini jam duabelas siang, agar kami bisa merasakan sensasi kehilangan bayangan. Sayang, kami tiba sudah pukul empatbelas. Cuaca membuat kami belum bisa mewujudkannya, tapi kami sangat bersyukur, karena sudah melewati perjalanan sejauh ini dengan baik.

Bertemu dengan lintasan angin

Saat memulai perjalanan kami sudah disambut oleh angin. Di sini angin semakin kencang. Kami harus mengurangi kecepatan. Saya mulai agak panik ketika beberapa kali motor kami tergeser ditiup angin. Kami harus berhenti. Beberapa kendaraan di jalan juga berhenti. Langit terlihat tidak biasa. Kumpulan-kumpulan awan seperti saling mengitari. Pohon-pohon menari, beberapa tumbang. Kami terpaksa harus menurunkan kecepatan, bahkan berkali-kali berhenti. Saya sendiri langsung ingat ibu, ingat bumi. Meski begitu, saya bersyukur kami bisa tiba di Toboli, dan merasakan lalampa yang digadang-gadang sangat enak. Di depan lalampa, saya tetap makan mie instant.

Istirahat di Toboli. (Foto: Ronny Buol)

Di Toboli, kami istirahat dan benar-benar mempelajari medan. Kali ini, untuk bisa tiba di Palu kami harus melewati Kebun Kopi. Ketika dilihat di peta, lintasan ini terlihat seperti ular. Sudah saya menduga-duga, ini akan sama menegangkan atau barangkali lebih dari tanjakan Santigi. Apalagi hari sudah mulai gelap.

Sejak awal kami sudah diingatkan, Kak Ronny sudah sering melewati jalur ini. Dia sudah bilang, jalur kali ini akan membuat kepala sedikit pusing. Dan memang benar. Saat mulai melintasinya saya sudah merasakan sensasi mabok. Ingin muntah tapi saya coba menahannya.

Kami menemui kawanan monyet. Matanya agak berbeda dari monyet yang pernah saya lihat. Belajar dari teman-teman Tasikoki, saya memalingkan wajah. Saya ingat, kata dokter Anissa, monyet tidak suka ditatap matanya. Jalanan licin, ada empat titik longsor yang kami lalui. Syukur dengan ber hati-hati, kami bisa melewatinya dengan selamat. Setelah sekian lama, kami mulai masuk jembatan, dari jauh terlihat Kota Palu bermandi kilau. Itu cahaya lampu.

Palu sungguh menakjubkan. Setelah bencana tsunami dan gempa bumi 2018 lalu, kini kota Palu seakan pulih. Jalanan ramai, bangunan baru, tinggi, dan menjulang berjejer. Lewat jasa Google amap kami akhirnya sampai di Grand Duta, hotel di tepi teluk Palu. Meski agak takut, karena bekas bangunan kena terjangan tsunami di kiri kanan masih ada. Saya memberikan diri masuk. Beberapa kamar terlihat rusak. Saya curiga bangunan ini baru direnovasi setelah luluh lantak karena bencana. Saya menarik napas. Kak Ronny bilang, tsunami tidak terjadi setiap hari. Mari istirahat dan jangan membebani hati. Kami pun mantap menutup hari, berharap mimpi buruk tidak akan datang.