Mengenal pangan lokal BMR sebagai langkah menghadapi krisis dampak El Nino

Neno Karlina Paputungan
Penulis Neno Karlina Paputungan
Dinangoi merupakan pangan lokal BMR yang berbahan dasar sagu, (Foto: Ikbal).



ZONAUTARA.COM, BMR – Musim kemarau melanda banyak wilayah di Indonesia, tak terkecuali dengan Bolaang Mongondow Raya (BMR). Kekeringan dampak El Nino membuat para petani gagal panen. Hal tersebut membuat krisis pangan. Harga beras melonjak tinggi termasuk di wilayah yang disebut-sebut sebagai lumbung pangan Sulawesi Utara.

BMR merupakan wilayah yang terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Sulawesi Utara. Sebelum dimekarkan, wilayah BMR merupakan satu kabupaten yang dikenal dengan nama Kabupaten Bolaang Mongondow.

Wilayah ini dikenal dengan keanekaragaman sumber daya alam, keindahan alam termasuk kekayaan ragam pangan lokal. Suku Mongondow adalah suku yang paling banyak mendiami wilayah ini.

Nasi jagung merupakan pangan lokal yang biasa ditemukan di wilayah BMR, (Foto: Wikipedia).

Bencana kekeringan akibat El-Nino ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Oktober 2023. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah akan mengalami curah hujan dengan kategori rendah yaitu kurang dari 50 mm/dasarian bulan ini.

Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatera bagian tengah hingga selatan, Jawa hingga NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi dan Maluku, dan sebagian besar Papua. Kondisi curah hujan rendah kurang dari 100mm/bulan ini diprediksikan akan berlangsung hingga Maret 20241.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan pangan nasional, terutama di masa El-Nino yang terjadi di selatan khatulistiwa, seperti Jawa dan Bali saat ini. Dr. Angga Dwiartama, Dosen dan Peneliti Pangan di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan dampak El-Nino terhadap sentra produksi pangan yang saat ini berpusat di Pulau Jawa, Sumatera, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Angga Dwiartama, Dosen dan Peneliti Pangan di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB) (baris pertama kanan atas), (Foto: tangkapan layar ID COMM).

“Kurangnya lahan produksi serta minimnya akses masyarakat terhadap lahan menjadi salah satu faktor yang memperburuk dampak El Nino terhadap turunnya produksi pangan. Karena akses terhadap lahan terbatas, akhirnya kelompok masyarakat cenderung menerapkan sistem pertanian intensif monokultur, seperti menanam padi yang memiliki nilai ekonomi. Masalahnya, pertanian padi sangat bergantung dengan ketersediaan air. Sehingga, di masa kekeringan akibat El Nino dengan tingkat risiko gagal panen yang tinggi menyebabkan tingkat kerentanan petani juga semakin meningkat ,” ungkap Angga.

Kendati demikan, pangan lokal bisa diandalkan sebagai solusi dari kekeringan dan gagal panen. Dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, hutan, pesisir pantai, tanah yang subur telah membentuk masyarakat BMR menjadi kelompok-kelompok bahari dan agragis, yang pandai berburu, meramu dan bercocok tanam.
Selain itu, akulturasi budaya yang terjadi membuat wilayah ini juga memiliki warisan kuliner yang tak kalah menarik. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi ragam pangan lokal yang dapat ditemukan.

Ikan dan olahannya
Selain ikan bakar rica-rica, woko Belanga yang terpengaruh dari pangan orang Sulut pada umumnya, Sinorang dan Ilosingan merupakan kuliner berbahan dasar ikan yang bisa dijumpai di wilayah ini. Berbeda dengan ikan bakar rica-rica yang berbahan dasar ikan pelagis atau ikan laut dalam, umumnya, ikan yang digunakan pada kuliner ini adalah ikan kerang, atau ikan air tawar seperti gabus, nila, dan sogili.

Sayuran lokal
Wilayah BMR terkenal dengan keanekaragaman sayur, terutama wilayah Bolaang Mongondow Timur, sebab di sana ada perkebunan khusus sayur, atau instalasi sayuran bening. Sayur kol, timun, wortel, daun pepaya, kangkung dan pakis serta terong-terongan bisa ditemui. Membuat olahan mirip bubur Manado, tanpa labu Sinabedak sering dijumpai. Namun yang jadi primadona di wilayah ini adalah hidangan sayur Yondog, atau olahan sayur gedi yang disantan. Menu ini biasa dihidangkan bersama sambal mentah yang dibakar, khas Suku Mongondow.

Yondog adalah pangan lokal khas Mongondow yang berbahan dasar sayur gedi, (Foto: Ik

Sagu
Berada di lembah dan pegunungan, sagu menjadi pangan lokal di wilayah ini. Olahan sagu bisa ditemukan di hampir di semua tempat, Bail, Dinangoi, Inambal, dan Inamolo menjadi ragam olahan yang berbahan dasar sagu.

Inambal, olahan dari sagu yang menjadi pangan mudah ditemukan di BMR, (Foto: Neno K).

Bete
Bete adalah sejenis talas yang tumbuh di wilayah BMR, umbi bete biasa disantan dan dijadikan kudapan untuk mengganjal lapar. Tak hanya bete, suku Mongondow juga bisa memakan nasi jagung. Nasi jagung biasa disajikan dengan sinorang dari daging ayam atau ikan nila.

Dengan menghidupkan kembali pangan lokal diharap mampu menjadi solusi bagi masyarakat di tengah krisis pangan nasional dan bahkan global. Ketahanan pangan memiliki pengertian sebagai upaya penyediaan pangan tanpa memperhatikan asal bahan pangan apakah dari dalam negeri atau impor dari negara lain.

Sedangkan kedaulatan pangan berarti upaya penyediaan pangan dengan mengusahakan kemampuan maksimal produksi pertanian dalam negeri untuk meminimalkan impor dari negeri lain.



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
Leave a comment
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com