Raja Inggris Nyatakan Penyesalan atas Penindasan Brutal dalam Perjuangan Kemerdekaan Kenya

Redaksi ZU
Penulis Redaksi ZU



Raja Inggris Charles, Selasa (31/10) mengatakan “tidak ada alasan” bagi “tindak kekerasan yang menjijikkan dan tidak dapat dibenarkan” yang dilakukan terhadap warga Kenya selama perjuangan kemerdekaan negara di Afrika Timur itu dari pemerintah kolonial Inggris.

Raja Charles mengemukakan pernyataan itu dalam jamuan makan malam kenegaraan di Nairobi, pada awal kunjungan kenegaraan empat hari Charles dan Ratu Camilla. Lawatan itu berlangsung menjelang perayaan memperingati 60 tahun kemerdekaan Kenya pada 12 Desember mendatang.

Lebih dari 10 ribu orang Kenya tewas dan yang lainnya ditangkap, ditahan dan disiksa selama penumpasan brutal pemberontakan Mau Mau di tangan pihak berwenang Inggris antara 1952 dan 1960.

Charles mengatakan kepada hadiri bahwa “kesalahan masa lalu menjadi penyebab kesedihan terbesar dan penyesalan terdalam.” Ia mengatakan, dengan menyikapi masa lalu dengan “kejujuran dan keterbukaan,” kedua negara dapat “terus membangun hubungan yang bahkan lebih erat lagi pada tahun-tahun mendatang.”

Tetapi Charles tidak menyampaikan permohonan maaf penuh atas kekejaman itu sebagaimana yang dituntut banyak aktivis Kenya.

Raja Charles III dan Ratu Camilla menyalami veteran Samwel Nthigai Mburia di Nairobi, Kenya, 1 November 2023. (REUTERS/Victoria Jones)

Presiden Kenya William Ruto, yang menjadi tuan rumah jamuan makan itu, mengatakan, tanggapan terhadap gerakan kemerdekaan Afrika “sangat dahsyat dalam kekejamannya.” Ruto mengakui bahwa meskipun Inggris telah melakukan berbagai upaya “untuk menebus kematian, cedera dan penderitaan” yang ditimbulkan terhadap rakyat Kenya, “masih banyak yang harus dilakukan untuk mencapai kepulihan penuh.

Inggris menyepakati ganti rugi $24 juta pada tahun 2013 untuk lebih dari 5.000 orang Kenya yang mengalami penganiayaan selama revolusi kemerdekaan.

Lawatan Raja Charles ke Kenya ini adalah yang pertama kalinya ia lakukan ke negara anggota Persemakmuran sejak ia naik takhta setelah ibunya, Ratu Elizabeth, mangkat tahun lalu. Beranggotakan 56 negara, Persemakmuran terdiri dari bekas koloni Inggris. Masa kekuasaan Elizabeth selama 70 tahun yang bersejarah dimulai ketika ayahnya, Raja George VI, meninggal sewaktu Elizabeth sedang mengunjungi Kenya bersama suaminya, mendiang Pangeran Philip. [uh/ab]

Source link



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat




Artikel ini terbit atas kerjasama afiliasi Zonautara.com dengan Voice of America (VOA) Indonesia
Share This Article
Leave a comment
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com