Kebijakan Izin Kerja Ciptakan Ketegangan di Kalangan Imigran AS

Redaksi ZU
Penulis Redaksi ZU

Di New York, migran di tempat penampungan milik pemerintah kota mengomel karena saudara mereka, yang telah menetap sebelumnya, menolak untuk memberi tumpangan. Di Chicago, penyedia layanan kesehatan mental bagi mereka yang datang secara illegal, berkeliling ke migran baru yang tidur di kantor polisi di seberang jalan. Di Florida Selatan, sejumlah imigran mengeluh karena orang-orang yang datang belakangan, justru memperoleh izin kerja, sesuatu yang tidak bisa mereka peroleh.

Kondisi ini mengundang kepedulian banyak pihak, termasuk Senator negara bagian New York, Gustavo Rivera.

“Kami hadir di sini untuk menunjukkan bahwa kami menyambut para migran, bahwa kami tidak akan membela ketidakpedulian dan kebencian serta rasisme yang diperlihatkan di seberang jalan. Dan kita akan membela tetangga baru kita,” ujarnya.

Di seluruh Amerika, para wali kota, gubernur dan pejabat lain membantu para migran yang baru datang dalam mencari tempat penampungan serta izin kerja. Tindakan mereka dan aturan baru yang berlaku, telah menimbulkan ketegangan di kalangan imigran yang telah ada di negara ini selama bertahun-tahun atau beberapa decade namun tidak memiliki keistimewaan yang sama terutama soal izin kerja.

Sementara di sisi lain, sejumlah imigran yang baru datang merasa bahwa para imigran yang sudah “mapan” di Amerika, menyambut mereka dengan dingin.

Izin Kerja untuk Semua

Ribuan imigran berdemo bulan ini di Washington untuk menuntut presiden Joe Biden memperpanjang otorisasi kerja untuk migran yang sudah lama tinggal di Amerika. Sejumlah poster bertuliskan, “izin Kerja untuk Semua!” dan “Saya Telah Menunggu 34 Tahun untuk izin Kerja.”

Anggota DPR Jesus Chuy Garcia mengomentari fenomena ini.

“Gelombang kedatangan yang terus naik membuat advokasi imigrasi kita menjadi lebih menantang. Kedatangan mereka telah menimbulkan sejumlah ketegangan, sejumlah pertanyaan,” kata Garcia.

Jesus Garcia adalah anggota DPR dari Partai Demokrat Chicago yang sebagian besar warga Latin di distriknya mencakup populasi imigran dalam jumlah besar.

Para imigran telah menunggu beberapa dekade untuk kesempatan memperoleh green card sebagai bukti status penduduk tetap, baik untuk legalitas maupun jalur menuju kewarganegaraan.

Para migran Amerika Tenga antre menunggu di luar The Roosevelt Hotel yang digunakan kota sebagai tempat tinggal sementara di kota New York.

Pencari suaka harus meninggu enam bulan untuk otorisasi kerja. Prosesnya membutuhkan waktu tidak lebih dari 1,5 bulan untuk 80 persen pendaftar, menurut kantor Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi, Amerika serikat.

Bagi mereka yang masuk perbatasan dengan jalur baru yang dikeluarkan pemerintahan Biden, tidak membutuhkan periode tunggu sama sekali. Di bawah status resmi sementara yang dikenal sebagai parole, 270 ribu orang dari Kuba, Haiti, Nikaragua, dan Venezuela tiba sepanjang Oktober melalui pendaftaran secara daring dengan dukungan sponsor keuangan. Selain itu, 324 ribu orang menerima jadwal untuk masuk ke Amerika melalui perlintasan darat dengan Meksiko, dengan menggunakan aplikasi yang disebut CBP One.

Pemerintah menyatakan pada September bahwa pihaknya akan bekerja untuk menurunkan waktu tunggu bagi izin kerja menjadi 30 hari bagi mereka yang menggunakan jalur baru ini. Hingga akhir September, pemerintah telah mengirimkan 1,4 juta email dan pesan pendek, memberi tahu mereka yang memenuhi syarat untuk bekerja.

Jose Guerrero, yang bekerja dalam bidang konstruksi setelah tiba 27 tahun lalu dari Meksiko, mengakui bahwa banyak migran baru terdorong untuk meninggalkan negara mereka. Dia mengatakan, ingin menerima perlakuan yang sama.

“Kita semua memiliki hak untuk datang ke negara ini demi kemajuan. Satu-satunya masalah adalah bahwa imigran yang baru saja datang bisa menerima dokumen mereka dengan cepat dan orang seperti saya, yang telah berada disini bertahun-tahun, pemerintah tidak memberi kami apapun,” kata Jose.

Guerrero kini bekerja di Homestead, Florida, sekitar 63 kilometer di selatan Miami.

Penanganan Imigran Rumit

Gedung Putih telah meminta dana US$1,4 miliar kepada Kongres untuk makanan, tempat penampungan, dan layanan lain bagi migran yang baru datang. Wali kota New York, Denver, Los Angeles dan Houston menulis surat kepada presiden Joe Biden bulan lalu, meminta dana AS $5 miliar, dengan menyebut bahwa kedatangan migran telah menguras anggaran dan memotong layanan-layanan penting.

Para wali kota juga mendukung status sementara, dan izin kerja, untuk mereka yang sudah berada di AS dalam jangka lebih lama, tetapi tetap fokus pada imigran baru.

Masuknya migran telah menempatkan banyak kelompok layanan migran dalam persoalan keuangan.

Selama beberapa dekade, Pusat Layanan Latino telah menyediakan bantuan untuk menanggulangi penyalahgunaaan narkoba bagi banyak imigran yang tinggal di Chicago tanpa status resmi.

“Ini adalah situasi yang cukup unik, di mana kami tidak mempersiapkannya,” kata Adriana Trino, direktur eksekutif grup itu. “Ini telah menjadi ruang yang sama sekali berbeda, kebutuhannya sangat berbeda,” tambahnya.

Banyak organisasi menyangkal adanya perselisihan dan mereka mengatakan mereka telah mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Kami berupaya untuk menyeimbangkan dalam melayani keduanya, orang-orang yang telah berada di sini selama beberapa tahun dan mereka yang baru saja datang, dan sejauh ini kami telah mampu untuk melayani setiap orang,” kata Diego Torres dari Koalisi Amerika Latin, yang membantu para imigran di Charlotte, North Carolina.

Di Atlanta, Asosiasi Warga Amerika Latin mengatakan bahwa mereka telah membelanjakan US $50 ribu tahun ini untuk penampuangan sementara dan bantuan lain bagi migran yang baru datang. Santiago Marquez, kepala eksekutif di organisasi ini mengaku tidak merasakan adanya penolakan.

“Klien utama kami, kebanyakan dari mereka adalah imigran, mereka memahami kesulitan yang dihadapi,” kata dia. “Mereka telah melewati itu. Mereka memahaminya,” tambah dia.

Imigran Lama Rasakan Ketidakadilan

Mudah untuk menemukan imigran yang telah lama tinggal di Amerika Serikat, yang jengkel dengan perlakuan tidak adil ini.

Seorang perempuan Meksiko berusia 45 tahun yang datang ke Amerika Serikat 25 tahun lalu dan memiliki tigaanak yang lahir di Amerika mengatakan bahwa tidak adil ketika imigran baru memperoleh izin kerja lebih dulu dari dia. Dia memperoleh upah US $150 setiap minggu memanen ubi di Homestead.

“Untuk alasan kemanusiaan, mereka memberikan kesempatan kepada migran yang baru saja datang, lalu apa kemanusiaan itu bagi kami?” kata perempuan itu, yang meminta diidentifikasi hanya dengan nama belakangnya, Hernandez, karena dia takut dideportasi.

Demonstrasi di Washington menggambarkan upaya dari para pendukung untuk mendesak pemberian jin kerja bagi semua migran, tidak tergantung pada kapan mereka datang.

“Ini adalah sebuah sistem yang menimbulkan ketegangan di kota kita, dan pada saat ini menciptakan konflik di antara para tetangga,” kata Lawrence Benito, ketua Koalisi Illinois untuk Imigran dan Hak-Hak Pengungsi, di tengah demonstrasi di Chicago, bulan lalu. [ns/lt]

Source link



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat




Artikel ini terbit atas kerjasama afiliasi Zonautara.com dengan Voice of America (VOA) Indonesia
Share This Article
Leave a comment
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com