Pertamina Ecocamp PPS Tasikoki:  Mengenalkan Burung Sampiri pada Siswa SMA se-Manado

Neno Karlina Paputungan
Penulis Neno Karlina Paputungan
Ecocamp bertajuk “Pelestarian Burung Endemik Nuri Talaud” Program CSR Kehati PT. Pertamina Putra Niaga-Integrated Terminal Bitung, (Foto: Instagram PPS Tasikoki).

BITUNG, ZONAUTARA.COM – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulut, Sulawesi Utara (Sulut) menyelenggarakan kegiatan Ecocamp bertajuk “Pelestarian Burung Endemik Nuri Talaud” Program CSR Kehati PT. Pertamina Putra Niaga-Integrated Terminal Bitung, bertempat di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki, 9 sampai 10 Desember 2023.

Kegiatan yang dibuka oleh BKSDA Sulut dan Manager Integrated Termal Pertamina Bitung ini turut dihadiri berbagai pihak seperti perwakilan, Pusat Informasi Sampiri, KMPA Tunas Hijau, Pendidikan Konservasi Tangkoko, Zonautara.com, serta puluhan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas “ Green Ambassador” binaan UPT KLHK Sulut.

Marluhfie Ikhlasiaraya, salah satu peserta Ecocamp, (Foto: Neno Karlina/Zonautara.com).

“Saya dari simpul belajar GYM (Green Youth Movement), menurut saya Ecocamp ini seru dan asik. Di sini kami belajar banyak hal, terutama burung Sampiri. Pernah lihat Sampiri, tapi belum tahu kalau dia apa, dilindungi atau tidak,”  kata Marluhfie Ikhlasiaraya, siswi kelas XI SMK 1 Manado.

Burung Sampiri atau Nuri Talaud

Marluhfie yang bisa disapa Luhfie mengaku jika Ecocamp membantunya memahami lebih dalam tentang apa itu Burung Sampiri.

“Kan ada materi pengenalan yang diberikan,” kata Luhfie.

Nuri Talaud adalah spesies burung Nuri dalam famili Psittacidae. Burung ini endemik di Indonesia dan penyebarannya hanya terbatas di Kepulauan Nusa Utara. Di Kepulauan Nusa Utara sendiri lebih dikenal dengan nama sampiri.

Berbagai lukisan dari sampah karya Iin Sumiadji dipamerkan pada kegiatan Ecocamp, (Foto: Ronny Buol/Zonautara.com).

Burung ini oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dikategorikan endangered (terancam). Ia juga masuk Appendix I atau hanya boleh diperdagangkan untuk kepentingan riset. Sementara, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai salah satu jenis burung yang dilindungi Undang-Undang.

Michael Fitzgerald Wangko dari Pusat Informasi Sampiri mengatakan, Ada beberapa faktor yang menyebabkan keterancaman populasi sampiri, misalnya perburuan untuk diperdagangkan.

“Banyak sekali upaya penyelundupan burung ini keluar dari Talaud. Hampir setiap saat ada penyitaan, pun upaya penggagalan penyelundupan yang dilakukan oleh pihak berwenang seperti baru-baru ini,” kata pria yang  akrab disapa Mike.

Menurutnya, sejak tahun 1996 dirinya sudah mulai aktif memperhatikan kelestarian burung ini.

“Kalau ditanya kenapa? Jawabnya karena saya jatuh hati,” ucap pria yang sering disapa Mike saat memberikan materi pada peserta,” ujar Mike.

Peserta Ecocamp saat berdiskusi usai menonton film tentang satwa, (Foto: Neno Karlina/Zonautara.com).

Penguatan isu lingkungan dan konservasi

Selain pengenalan terhadap Nuri Talaud, para peserta juga mendapatkan berbagai materi tentang peran, edukasi, lingkungan dan konservasi.

“Peran seperti apa yang bisa teman-teman lakukan untuk upaya konservasi burung Sampiri ini? Bagaimana jika yang memelihara adalah keluarga sendiri, tindakan  seperti apa yang akan dilakukan,” tanya Nona Diko pemateri perwakilan Pendidikan Konservasi Tangkoko.

Nona juga turut memotivasi peserta untuk bisa terus memberikan perhatian terhadap lingkungan dan konservasi, hingga kelak ketika menjadi pemimpin.

“Suatu saat ketika teman-teman yang berdiri menjadi narasumber, dan mungkin sudah menjadi pemimpin, semoga tetap bersama kami. Siapa kami? Lingkungan dan konservasi,” Ucap Nona.

Untuk menggaungkan isu lingkungan dan konservasi banyak yang bisa dilakukan. Hal tersebut turut dibenarkan oleh Iin  Samiadji, seniman yang memberi perhatian terhadap lingkungan lewat karya-karyanya. Berbagai lukisan Iin yang didominasi satwa diciptakan dari sampah bekas.

“Berdasarkan survei, tahun 2050 jumlah sampah di laut akan lebih banyak dari ikan. Kita tidak mau makan sampah, tapi kalau dalam bentuk mikroplastik mau tidak mau bisa kita makan. Dan akan mengacaukan kehidupan kita semua termasuk manusia. Sehingga saya membuat gambar dari sampah,” jelas Iin.

Peserta Ecocamp saat membuat karya seni dari sampah, (Foto: Ronny Buol/Zonautara.com).

Menurutnya, alasan banyak lukisannya dari sampah adalah satwa, sebab satwa jarang dijumpai padahal satwa adalah satu mata rantai di kehidupan alam.

“Misal Yaki yang menyebar benih biji di hutan, pun burung, dan penyu. Kenapa dan apa fungsinya di laut. Oleh karena ini saya ingin keterwakilan mereka sebagai satwa lewat lukisan-lukisan seni,” kata Iin.

Strategi kampanye

Tak hanya lewat ekspresi seni, pemateri lain, Ronny Buol, Jurnalis sekaligus penyuka fotografi, berbagi tips melakukan kampanye penyadartahuan terhadap masyarakat.

Peserta diajarkan bagaimana memproduksi foto dan video yang baik dalam melakukan sosialisasi dan kampanye secara konsisten di media sosial, tentang  lingkungan dan konservasi terutama tentang burung Sampiri.

“Orang yang pelihara burungbangga memamerkan di media sosial. Sehingga adek-adek harus tahu bagaimana menangkalnya. Harus bisa mengerti mana burung atau satwa yang dilindungi. Pahami trend global. Bagaimana membuat konten video yang baik,” ucap Ronny.

Ronny menyebut penting saat ini melakukan kolaborasi dan mengelola media sosial yang bisa jadi ruang untuk kampanye.

”Jika kampanye dilakukan terus menerus, dan secara bersama-sama, bukan tidak mungkin apa yang kita cita-citakan bersama bisa terwujud,” kata Ronny.

Peserta antusias menyaksikan penampilan musik Lamp of Bottle, (Foto: Neno Karlina/Zonautara.com).

Mengenal lebih dekat

Tak hanya melakukan kegiatan di ruangan,  melakukan aktifitas di luar ruangan seperti tour tur mengunjungi berbagai satwa yang direhabilitasi di PPS Tasikoki. Peserta juga membuat  food enrichment untuk satwa rehabilitasi.

“Senang sekali, satwa yang hanya biasa saya lihat di televisi, atau di internet, saat ini bisa saya kenal lebih dekat,” ucap Luhfie.

Apalagi, menurut Luhfie, pada kegiatan ini dirinya juga diajarkan membuat karya seni lewat sampah, menyaksikan film tentang satwa dan penampilan musik dari band Lamp of Bottle yang juga bercerita tentang lingkungan.

“Saya berharap,  dengan apa yang saya dapatkan di Ecocamp bisa  memperkuat pengetahuan saya untuk terus mengkampanyekan keberadaan Burung Sampiri dan hal-hal terkait lingkungan. Saya juga berterima kasih sebab telah melibatkan saya dalam kegiatan ini,” ucap Luhfie.



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
Leave a comment
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com