Melukis dengan sampah, sebuah jalan Iin Samiadji kampanyekan lingkungan

Neno Karlina Paputungan
Penulis Neno Karlina Paputungan
Iin Samiadji saat melakukan pertunjukan musik di Pertamina Ecocamp PPS Tasikoki, (Foto: Instagram PPS Tasikoki).

MINUT, ZONAUTARA.COM – Di tengah tantangan global terkait masalah lingkungan dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah, muncul tren baru yang menarik dan inovatif, yaitu mengubah sampah menjadi karya seni.

Iin Samiadji, seniman sekaligus pegiat lingkungan di Sulawesi Utara (Sulut), mulai melihat potensi kreatif dalam barang-barang yang biasanya dianggap limbah. Kepeduliannya terhadap lingkungan tidak hanya tergambar dalam lirik-lirik lagu, akan tetapi juga lukisannya dari teknik daur ulang kolase.

Berbagai lukisan Iin Samiadji dari teknik kolase, (Foto: Ronny Buol/Zonautara.com).

Teknik kolase adalah menggabungkan potongan-potongan sampah ke dalam lukisan sehingga menciptakan karya seni yang penuh dengan lapisan dan tekstur. Dengan teknik kolase, seniman seperti Iin, dapat mengeksplorasi hubungan antara elemen-elemen yang berbeda untuk menciptakan narasi visual yang kuat.

Lahir dari keprihatinan

Apa yang dilakukan Iin atau yang beken dengan nama panggung Cindy Samiadji ini, bukan hanya bentuk ekspresi artistik, tetapi juga sebuah pernyataan bahwa keindahan dapat muncul dari sesuatu yang dianggap tidak berguna.

“Mungkin sebagian orang memandang sebelah mata, jika ini adalah aktivitas yang tidak berguna, padahal sebenarnya ada cerita yang penting, yang ingin saya sampaikan kenapa kok bisa sampah-sampah ini menjadi lukisan, lukisan penyu, misalnya,” kata Iin saat memamerkan lukisannya di kegiatan Pertamina Eco-Camp PPS Tasikoki, Minggu, 10 Desember 2023.

Menurut Iin, penyu, sebagai salah satu jenis reptil laut yang telah ada selama jutaan tahun, memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Meskipun seringkali dihadapkan pada ancaman yang menyebabkan penurunan populasi, pemahaman akan fungsi penting penyu dapat membantu menggerakkan upaya konservasi untuk melindungi mereka.

“Nah, sekarang kita harus tahu apa fungsi penyu di laut atau di kehidupan ini, apalagi ada survey yang bilang bahwa tahun 2050, jumlah sampah di laut akan lebih banyak dari ikan, bayangkan saja, kita tidak makan sampah, tapi tidak bisa menghindari makan mikroplastik dalam ikan yang tidak kita sadari,” kata Iin.

Penyu dan berbagai lukisan lain Iin Samiadji dari sampah dengan teknik kolase, (Foto: Neno Karlina/Zonautara.com).

Sebagai seniman Iin tidak langsung membuat karya seni bertema lingkungan, semuanya berangkat  karena keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang carut-marut. Sebelumnya, pria yang mengaku lahir bulan November ini melukis apa saja.

Tumbuh seperti tunas yang hijau

Sebenarnya kecintaan Iin terhadap seni mulai terlihat sejak sekolah dasar. Bakat seninya turun dari sang ayah. Iin lahir dan besar di Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, (Minut), Sulut.

“Ya saya pikir pada dasarnya semua orang dari kecil sudah menggambar, walau masih beraneka ragam. Saya pun demikian, melukis sejak SD, kalau ditanya bakat dari keluarga, saya tidak tahu pasti, tapi barangkali dari ayah, sebab ayah orang (suku) Jawa. Banyak yang bilang jika orang Jawa biasanya memiliki jiwa seni yang tinggi, mungkin mengalir dari sana meski saya sendiri belum pernah melihat ayah menggambar,” ujar Iin.

Peserta Eco-camp saat mengamati lukisan dari sampah karya Iin Samiadji, (Zonautara.com/Ronny Buol).

Anak kedua dari tiga bersaudara ini terus bertumbuh seperti tunas yang hijau. Seiring dengan proses berjalannya waktu, bertambahnya usia dan pengalaman, Iin mulai mengeksplorasi kemampuannya melukis. 

Buku bacaan dan lingkungan tempatnya tumbuh kerap mempengaruhi cara pandang terhadap lingkungan. Terutama saat dirinya terlibat membentuk dan bergabung dengan komunitas Kaum Muda Pecinta Alam (KMPA) Tunas Hijau Airmadidi pada tahun 2000.

“Kebetulan karena saya tinggal di kaki gunung Klabat, jadi sering bersinggungan dengan alam, mendaki dan akhirnya tahun 2000 saya dan teman-teman membentuk organisasi pecinta alam, KMPA Tunas Hijau Airmadidi. Nah, dari organisasi itu, pelan-pelan merubah cara pandang tentang alam. Kalau selama ini kami melihat pencinta alam hanya memunguti sampah atau menanam pohon, maka kami coba melakukan hal yang berbeda,” jelas Iin.

Siswa-siswi peserta eco-camp saat belajar melukis menggunakan sampah dengan teknik kolase, (Foto: Ronny Buol/Zonautara.com).

Bersama rekan-rekannya di KMPA Tunas Hijau, Iin mulai berkampanye dengan menggandeng banyak komunitas non pecinta alam, aksi-aksi jalanan pun dilakukan lewat ekspresi seni, baik dari lukisan atau lagu.

“Banyak kerusakan lingkungan dikarenakan kebijakan pemerintah, atau ada regulasi yang sebenarnya sangat bagus tapi tidak pernah dijalankan, akhirnya lewat aksi jalanan, atau kegiatan seni musik, saya pikir adalah juga jalan lain, untuk membuat orang yang belum sadar menjadi sadar,” kata Iin.

Kesadaran ini dianggap penting oleh Iin untuk membangun semangat pelestarian alam dan membentuk sikap berkelanjutan agar bumi dapat diteruskan dengan baik kepada generasi mendatang.

Mimpi yang diingat

Tergabung juga dalam grup band Lamp of Bottle, Iin menyebut jika bernyanyi dan melukis bukanlah pekerjaan utamanya. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, termasuk operasional komunitas, Iin juga membuka jasa gunting rambut. Semua dilakukannya dengan riang gembira.

“Bagian dari save economy  agar organisasi tidak dibebankan biaya air, listrik, dan agar organisasi tetap hidup salah satu caranya kita harus menciptakan lapangan kerja. Walaupun ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan,” aku Iin.

Iin mengatakan semua aksi kampanyenya tidak dilakukan sendirian, akan tetapi juga oleh komunitas KMPA Tunas Hijau yang konsisten mendukung dan bersama-sama berjuang untuk lingkungan.

Sejumlah lukisan dari sampah dengan tekni kolase karya Iin Samiadji yang dipamerkan pada kegiatan eco-camp di PPS Tasikoki 9 sampai 10 Desebember 2023, (Foto: Zonautara.com/Ronny Buol).

Iin menyadari jika dari begitu banyak aksi yang dilakukan bersama rekan-rekannya, dirinya tidak bisa berharap orang langsung berubah, walau Iin tetap optimis, dengan aksi-aksi yang konsisten dirinya bisa menciptakan mimpi-mimpi yang mungkin bisa diingat banyak orang.

“Kita tidak bisa membuat orang langsung berpikir bahwa sampah adalah ancaman, tapi setidaknya bisa sedikit membuka pandangan orang lain bahwa ini bisa berdampak buruk terhadap generasi selanjutnya, ada mimpi yang mungkin bisa diingat banyak orang lewat aksi saya, lewat lagu atau lukisan ini,” kata Iin.

Kendati dalam mewujudkan aksinya, tidaklah selalu mudah, tapi Iin tetap optimis. Untuk mengumpulkan bahan baku sampah untuk melukis, Iin tidak hanya menggunakan sampah miliknya sendiri, ia mengaku seringkali memulung. Beruntung, Iin dibantu oleh teman-temannya.

“Sedotan saya dapat dari teman di café, saya minta sedotan bekas jangan dibuang tapi dikumpul dan saya ambil. Saya juga tidak merokok, puntung rokok saya kumpul dari teman-teman yang merokok, ya memulunglah. Tutup botol, ke mana saja saya jalan, ketemu tutup botol saya kumpul, makanya proses pengumpulan untuk lukisan dengan bahan baku sampah tertentu sangat lama,” ucap Iin sambil tertawa.

Yang istimewa

Karya seni memiliki keistimewaan yang unik dan mendalam, keunikan ini berasal dari berbagai aspek yang mencerminkan ekspresi kreatif dan pemahaman mendalam seniman. Iin sendiri mengatakan jika semua karyanya istimewa, sebab masing-masing memiliki cerita yang berbeda, dan proses pengerjaannya butuh waktu berhari-hari.

“Kisaran harganya, dari terkecil sampai yang besar itu sekitar Rp 250 ribu sampai dengan Rp 1,5 juta. Tapi biasanya, untuk menumbuhkan kesadaran, saya memasang harga yang sangat mahal saat pameran, tujuannya agar publik bisa melihat bahwa ternyata sampah bisa bernilai jual yang tinggi jika diolah dengan baik,” jelas Iin.

Iin Samiadji saat mengajarkan siswa-siswi peserta eco-camp melukis dengan teknik kolase, (Foto: Ronny Buol/Zonautara.com).

Iin berharap dengan aksinya ia dapat berkontribusi dalam mengatasi salah satu persoalan lingkungan yang dekat sekali dengan manusia, yaitu sampah. 

“Kan ini setiap hari bertemu dengan manusia. Jadi saya pikir kalau semua orang memiliki kepedulian yang sama, walau cara penangannya berbeda, bisa daur ulang, bisa dibuat minyak dan sebagainya, tetapi membutuhkan bahan baku dari sampah,” kata Iin.

Tak hanya itu, karya seninya yang didominasi satwa bertujuan untuk mengatakan pada orang lain bahwa satwa tidak bisa bicara sendiri tentang persoalan mereka, sehingga lewat karya seni, Iin bisa menjadi penyambung lidah.

“Semoga lewat karya saya ini, bisa mewakili satwa, bahwa mereka juga perlu perlindungan, perlu dilestarikan, hidup berdampingan dengan manusia di satu planet, di satu rumah yang bernama bumi. Apalagi, banyak dari yang saya lukis ada yang endemik, yang hanya ada di tempat tertentu,” ujar Iin.

Aksi Iin melukis dengan teknik kolase yang menggunakan sampah bukan hanya tentang menciptakan karya seni yang indah, tetapi juga tentang memberikan sumbangsih positif terhadap lingkungan. 

Dengan mengadopsi pendekatan ini, seniman seperti Iin dapat menjadi agen perubahan yang menginspirasi orang lain untuk memandang sampah sebagai sumber daya yang berharga dan mempromosikan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan bumi.



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
Leave a comment
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com