bar-merah

Walsen Kahimpong, penyintas erupsi Gunung Ruang di Manado, ingin kepastian dari pemerintah

gunung ruang
Walsen Kahimpong (53), penyintas erupsi Gunung Ruang yang mengungsi ke Manado. (Foto: Zonautara.com/Gitta Waloni)

ZONAUTARA.COM – Walsen Kahimpong warga Tagulandang, sore itu sedang duduk di depan rumah di Jalan Barito, Singkil Dua, Kecamatan Singkil, Kota Manado, Jumat (17/5). Walsen bersama beberapa saudaranya yang lain. Ia merupakan salah satu dari ribuan penyintas erupsi Gunung Ruang yang mengungsi keluar dari Pulau Tagulandang.

Walsen sebagaimana banyak pengungsi dari Tagulandang lainnya, memilih tinggal sementara di Manado di rumah kerabat.

Pria berusia 53 tahun ini, menyambut hangat kedatangan Zonautara.com. Ia mau berbagi cerita apa yang dialami dirinya saat erupsi Gunung Ruang.

Walsen datang ke Manado bersama dengan keluarga, orang tua dan beberapa kerabat lainnya. Mereka menumpang KRI Kakap 811, yang dikerahkan TNI AL mengevakuasi pengungsi dari Tagulandang.

gunung ruang
Walsen Kahimpong (53), penyintas erupsi Gunung Ruang yang mengungsi ke Manado. (Foto: Zonautara.com/Gitta Waloni)

Mereka keluar dari Tagulandang pada 20 April 2024, tiga hari sesudah Gunung Ruang erupsi besar pada 17 April 2024. Satu bulan sudah mereka meninggalkan rumah yang ada di Tagulandang.

Walsen bercerita alasannya hingga memilih keluar dari Tagulandang kala itu. Ia dan keluarganya mendengar kabar akan terjadi tsunami. Kabar itu membuat mereka takut. Apalagi, saat itu kondisi rumah rusak, dan sulit mendapatkan bahan makanan.

“Rumah sudah rusak tidak bisa kami tinggali, dan makanan susah waktu itu. Apalagi ada kabar akan terjadi tsunami nanti. Kami sudah trauma. Kalau dengar suara yang keras kami takut. Jadi lebih baik mengungsi ke Manado saja dulu,” ungkap Walsen.

gunung ruang
Aktivitas Walsen di sore hari, berbagi cerita sesama pengungsi (Foto: ZONAUTARA.com/Gitta waloni)

Saat memilih berangkat ke Manado, Walsen mengakui bahwa ia tidak punya uang sama sekali di tangan.

“Tidak membawa uang sepeser pun, pokoknya dari Tagulandang tidak pikir ada uang atau tidak yang penting berangkat saja. Nanti kalau di kapal ada yang tanya tiket, saya jujur saja mengeluh sama petugas kalau saya tidak punya uang, walaupun dipaksa seperti apa,” ujar Walsen.

Waktu itu berat baginya melihat rumah yang rusak. Ia merasa sedih, sehingga saat berangkat mengungsi ia hanya membawa beberapa lembar baju saja.

Walsen dan saudaranya beserta 300 lebih pengungsi lainnya tercatat sebagai pengungsi bencana erupsi Gunung Ruang yang berada di Posko Bantuan GMIM Yarden Singkil. Mereka disebar dan tinggal di rumah-rumah anggota jemaat dan warga lainnya.

gunung ruang
Salah satu pengungsi keluarga Walsen Kahimpong sedang membersihkan rumah tempat tinggal mereka selama mengungsi (Foto: ZONAUTARA.com/Gitta waloni)

Walsen dan seluruh pengungsi mendapat bantuan sembako dan alat mandi dari posko yang didirikan oleh GMIM Yarden Singkil. Adapula bantuan pakaian, meski ia mengaku harus gesit memilih, karena lebih banyak pakaian wanita yang datang.

Sudah boleh pulang

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro telah mengeluarkan pemberitahuan bahwa warga Tagulandang yang mengungsi keluar dari Tagulandang sudah boleh pulang. Hal ini menyusul penurunan status Gunung Ruang yang kini sudah Level II.

“Kalau disuruh pulang, tapi di sana (Tagulandang) hanya ditempatkan di Posko Pengungsian, ya percuma saja,” ujar Walsen menanggapi anjuran Pemkab Sitaro tersebut.

Menurutnya mereka keluar dari Tagulandang ke Manado untuk mencari tempat aman. Jadi jangan sampai kembali ke Tagulandang tapi harus ke tinggal di Posko lagi.

Walsen berharap anjuran bagi warga Tagulandang untuk pulang, disertai kepastian bantuan perbaikan rumah, dan jaminan situasi yang benar-benar sudah aman.

“Mau balik ke sana jika memang sudah benar-benar aman, dan bisa dapat bantuan perbaikan rumah,” harap Walsen.

gunugn ruang
Walsen Kahimpong (53)

Pemerintah memang telah merencanakan memberikan bantuan bagi rumah warga yang rusak terdampak erupsi. Bantuan itu sesuai dengan kategori kerusakan. Bantuan sebesar Rp 60 juta akan diberikan untuk rumah yang rusak berat, lalu Rp 30 juta untuk rusak sedang, dan Rp 15 juta untuk warga yang rumahnya rusak ringan. BNPB juga menyiapkan 10.000 helai seng dan 10.000 lembar terpal untuk menutupi rumah warga selagi menunggu pencairan dana untuk perbaikan.

Baca pula : Penyintas bencana erupsi Gunung Ruang sudah boleh pulang

“Kalau pemerintah langsung beri bantuan seng atau bagiamana, baru kami mau pulang. Sebab kalau tidak, kami akan tidur di mana?. Kami ini kan seperti memulai hidup baru lagi. Tidak punya apa-apa. Jadi pemerintah harus beri kepastian soal bantuan itu,” ujarnya.

Selama menjadi pengungsi, Walsen mengakui ia belum pernah mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah. Ia bersama beberapa pengungsi pernah mendatangi Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Namun dari informasi petugas yang menemui mereka, bahwa bantuan langsung ternyata sudah habis.

“Ke sana mau ambil bantuan, tapi kata petugas sudah habis atau kosong. Tapi kami lihat yang lain yang datang sejak pagi, sempat dapat,” ungkap Walsen.

Baca pula: Penanganan bencana pemerinta diuji saat erupsi Gunung Ruang

Ia mempertanyakan keberadaan Pemerintah Sitaro, karena selama sebulan mengungsi di Manado, mereka belum mendapat bantuan dari Pemkab Sitaro. Ia bingung apakah Pemkab Sitaro tidak tahu keberadaan mereka sama sekali.


Aktivitas Walsen di sore hari, berbagi cerita dengan sanak-saudara dan sesama pengungsi (Foto: ZONAUTARA.com/Gitta waloni)

“Informasi serba tidak jelas. Sering datang informasi kami disuruh ambil bantuan di tempat yang jauh dari tempat kami mengungsi, sementara kami tidak punya uang untuk ongkos pergi ambil. Itupun kalau infonya benar, kalau tidak kami buang-buang uang saja,” jelas Walsen.

Menurutnya pemerintah seharusnya datang ke posko untuk menyalurkan bantuan.

Walsen saat ini tinggal di rumah saudara iparnya. Ukuran rumah yang tidak luas itu ditempati 11 orang. Untuk bisa tidur, sebagian dari mereka terpaksa membuat menggelar tikar apa adanya di lantai.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), dari 9.083 pengungsi bencana erupsi Gunung Ruang, sebanyak 6.058 mengungsi ke luar Pulau Tagulandang. Selain ke Kota Manado, para pengungsi ini juga mendatangi Kota Bitung, Minahasa Utara dan ke Pulau Siau.



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com