bar-merah

Sambil menunggu proses relokasi warga Pulau Ruang, pemerintah siapkan dana tunggu hunian

Pasca letusan Gunungapi Ruang, sejumlah warga Desa Laingpatehi masih berupaya mengambil barang-barang yang tersisa dan dianggap masih bisa digunakan. (Foto:Zonautara.com/Marshal Datundugon)

SITARO, ZONAUTARA.com – Pemerintah berupaya merelokasi warga Desa Pumpente dan Laingpatehi di Pulau Ruang yang terdampak erupsi Gunungapi Ruang, ke lokasi lebih aman.

Desa Modisi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan menjadi target relokasi. Meski begitu, lokasi tersebut tidak akan selesai dalam sekejap. Butuh beberapa bulan sebelum bisa ditempati 301 Kepala Keluarga (KK) warga Pulau Ruang.

Proses relokasi ini kemudian menjadi pertanyaan sejumlah warga yang ditemui Zonautara.com di Pulau Ruang, Jumat, 24 Mei 2024.

Salah satu yang kami temui, Leski Yansar Pontoh (55), warga Desa Laingpatehi saat membawa sejumlah barang yang baru digali dari rumahnya.

Pasca letusan Gunungapi Ruang, sejumlah warga Desa Laingpatehi masih berupaya mengambil barang-barang yang tersisa dan dianggap masih bisa digunakan. (Foto:Zonautara.com/Marshal Datundugon)

Menurut Leski, kabar relokasi merupakan sesuatu yang sulit diterima cepat bersama beberapa warga lainnya. Pasalnya, dalam situasi bencana tiba-tiba warga ditodong pindah ke daerah yang belum diketahui.

“Tiba – tiba Desa Modisi itu seperti turun dari langit seketika muncul dan kami langsung harus menerimanya,” kata Leski, Jumat, 24 Mei 2024.

“Kami belum bisa bernafas dan langsung dibombardir dengan Kata Bolsel,” sambungnya.

Leski mengaku apa yang dilakukan pemerintah itu pasti untuk keamanan warganya, namun ia menyesalkan proses yang begitu cepat tanpa ada penjelasan maupun kajian, apalagi sekadar mendengarkan keinginan warga.

“Saya kira semua masyarakat pasti akan mau jika kita diberikan waktu dan ruang untuk menerima itu, karena paling tidak kita punya orang tua yang dikuburkan di Desa ini (Laingpatehi),” ucapnya.

Ditemui di lokasi tidak jauh dari Leski, Benriks Awumbas (41) mengaku belum menentukan pilihannya. Ia kini hanya fokus untuk menyelamatkan barang yang tertinggal di Pulau Ruang.

“Disini (Pulau Ruang) barang kami sudah banyak yang hilang, saya berangkat dari Kota Bitung dengan anggaran pribadi untuk menyelamatkan barang tersisa. Terkait relokasi saya belum memikirkannya,” kata Benriks.

Berbeda dengan Lasmini Ense (42) yang juga warga Laingpatehi. Dirinya justru mengaku sudah siap di relokasi. Ia menaruh banyak harapan di tempat yang baru nanti. Yakni berharap hidupnya akan lebih baik.

“Kami diajak melihat lewat tayangan di kantor di Manado. Sekilas saya melihat di sana bagus. Semoga di tempat itu saya bisa berkebun dan suami bisa melaut sesuai harapan yang disampaikan pemerintah,” ungkap Lasmini.

Sementara terkait dengan biaya sehari-hari Lasmini dan Benriks sepakat mencari kerja sementara untuk memenuhi kebutuhan. Karena menurut dia, tidak mungkin hanya berharap bantuan saja.

“Cari kerja. Banyak kebutuhan. Belum lagi biaya anak sekolah,” kata keduanya.

Penjabat Bupati Sitaro, Joi E.B. Oroh saat diwawancarai, Sabtu, 25 Mei 2024 mengaku ada respon baik dari masyarakat dua desa di Pulau Ruang melalui kepala desa, bahwa mereka sepakat untuk direlokasi.

“Respon sangat baik. Dan kepala desa masing-masing sudah diajak ke lokasi di Bolsel. Disana selain punya lahan luas untuk perkebunan, juga ada komunitas warga Siau dan Sangihe sehingga diharapkan bisa secepatnya menyesuaikan,” kata Oroh.

gunugapi ruang
Pj Bupati Sitaro Joi Oroh saat memimpin rapat evaluasi yang digelar di Posko terpadu penanganan bencana erupsi, Sabtu, 25 Mei 2024. (Foto: Zonautara.com/Yegar Sahaduta)

Kepala Pelakasana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kepulauan Sitaro, Joickson Sagune, menyampaikan ada perhatian pemerintah untuk warga Pulau Ruang sebelum nanti pindah ke lokasi relokasi.

Pemerintah, kata Sagune, berencana akan memindahkan warga ke Rusunawa di Kota Bitung, sehingga lokasinya lebih baik dan nyaman sembari menunggu hunian tetap selesai di Desa Modisi.

“Pemerintah akan mengalihkan warga dari lokasi pengungsian pindah ke Rusunawa di Bitung,” kata Sagune.

Sementara itu, Rusunawa tersebut memiliki biaya sewa. Untuk membantu warga, Pemerintah akan memberikan dana tunggu hunian perbulan sekaligus dipakai untuk biaya sewa nanti.

“Kami sudah rapat dengan BNPB untuk proses menunggu warga akan menerima dana tunggu hunian dan disiasati sebagai biaya sewa di Rusunawa, dana diusulkan ke BNPB selama tiga bulan, tiap KK akan menerima Rp. 600.000,” jelasnya.

Jika selama tiga bulan hunian belum juga selesai maka akan diusulkan dengan jangka waktu yang sama, sementara dana hunian tunggu berpotensi bertambah sesuai dengan pernyataan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey saat mengunjungi warga di Pulau Tagulandang.

“Ada informasi dari Pak Gubernur, pemerintah provinsi akan menambah dengan jumlah yang sama Rp.600.000, sehingga diharapkan bisa membantu warga,” harap Sagune.

Sementara terkait dengan perkembangan lokasi relokasi, saat ini pemerintah sedang melaksanakan pemetangan lahan.

Hingga saat ini Gunungapi Ruang terus menunjukan penurunan aktifitas. Saat ini status Gunungapi Ruang berada di level dua atau waspada. Meski PVMBG masih melarang warga beraktifitas di radius berbahaya, dua kilometer dari kawah utama.



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com