bar-merah

Mencari barang di antara puing-puing bekas erupsi, Alfrida: bukan soal harga, namun kenangan

Bersama barang yang berhasil ditemukannya, Alfrida duduk menatap rumah yang iabangun bersama almarhum suaminya, (Foto: ZONAUTARA.com/Neno Karlina).
Bersama barang yang berhasil ditemukannya, Alfrida duduk menatap rumah yang iabangun bersama almarhum suaminya, (Foto: ZONAUTARA.com/Neno Karlina).

SITARO, ZONAUATARA.com – Seorang diri, Alfrida Sagaring (45) memberanikan diri untuk kembali ke rumahnya di Desa Laingpatehi, yang telah luluh lantak akibat erupsi Gunungapi Ruang pada 16 dan 30 April.

Ia berharap bisa menemukan sesuatu yang tersisa dari bencana itu. Langkah-langkahnya berat, namun tekadnya lebih kuat.

Siang itu, Jumat, 24 Mei 2024, di tengah puing-puing, ia menggali, berharap menemukan secercah kenangan yang bisa dibawa pulang.

Alfrida Sagaring, penyintas erupsi Gunungapi Ruang dari Desa Laingpatehi, (Foto: Tangkapan layar vedio pendek Neno Karlina).

Keberuntungan berpihak padanya. Di antara timbunan material erupsi, Alfrida menemukan beberapa gelas yang masih utuh dan kerangka dipan miliknya.

Bersama barang yang berhasil ditemukannya, Alfrida duduk menatap rumah yang iabangun bersama almarhum suaminya, (Foto: ZONAUTARA.com/Neno Karlina).
Bersama barang yang berhasil ditemukannya, Alfrida duduk menatap rumah yang iabangun bersama almarhum suaminya, (Foto: ZONAUTARA.com/Neno Karlina).

“Bukan soal harga, tapi soal kenangan. Jadi ini sangat berharga,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Barang-barang tersebut mengingatkannya pada masa-masa indah bersama almarhum suaminya, saat mereka membangun rumah itu perlahan-lahan hingga menjadi tempat tinggal yang kokoh dan nyaman.

“Kalau saya ingat-ingat, ada sekitar Rp50 juta mungkin biaya yang kami keluarkan untuk membangun rumah ini,” ujarnya sambil mengenang perjuangan mereka.

Kondisi rumah Alfrida usai dihantam erupsi Gunungapi Ruang, (Foto: ZONAUTARA.com/Neno Karlina).

Rumah itu adalah simbol cinta dan kerja keras mereka, sebuah tempat yang penuh dengan kenangan manis dan pahit.

Setelah memastikan tidak ada lagi yang bisa diselamatkan, Alfrida berencana kembali ke tempat pengungsiannya di Bitung.

Saat ini, ia menumpang di rumah kerabat di Tagulandang. Ia tahu betul bahwa rumahnya di Laingpatehi tidak lagi bisa dihuni.

“Di sini tidak ada penghidupan lagi, apalagi katanya warga desa akan dipindahkan ke Bolsel. Semoga di sana akan jauh lebih baik,” katanya dengan harapan.

Meski begitu, hatinya tetap terpaut pada Pulau Ruang. Terlebih, makam suaminya ada di sini. Kenangan mereka tertanam kuat di setiap sudut desa yang kini hancur.

Dengan berat Alfrida melangkah menuju ke rumahnya, (Foto: ZONAUTARA.com/Yegar Sahaduta).

“Katanya di Bolsel nanti akan dibangun Puskesmas, sekolah, dan fasilitas lainnya, semoga memang demikian,” ucapnya.

Alfrida berharap kehidupan yang lebih baik menanti di Bolsel, meski kenangan di Pulau Ruang tak akan pernah tergantikan.

Keberanian dan ketabahannya adalah cerminan dari semangat warga Laingpatehi, yang terus bertahan dan berharap di tengah cobaan yang begitu berat. Dengan dukungan dan fasilitas yang dijanjikan, mereka siap memulai lembaran baru di tempat yang baru.



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com