ZONAUTARA.com—Beberapa bocah asik berlarian saat tim Zonautara.com menapaki puncak “bukit sampah” di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumompo, Manado, Jumat (26/9/2025).
Takdir mengirim bocah-bocah itu ke sana lewat perantara orang tua yang berprofesi sebagai pemulung. Mereka tinggal di gubuk-gubuk kecil tak jauh dari tempat kami berdiri.
Hamparan sampah yang dikelola dengan sistem open dumping itu merupakan halaman depan rumah. Wajar saja bila mereka girang bermain di sana.
Kunjungan kami hari itu dalam rangka meliput aksi penolakan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di dalam kawasan TPA Sumompo namun rasanya belum lengkap bila tak melihat dan mencermati pangkal masalah secara langsung.
Untuk sampai ke puncak bukit sampah, butuh waktu kurang lebih 15-20 menit berjalan kaki dari pintu masuk TPA Sumompo.

Di sisi kanan setelah lima menit perjalanan dari pintu masuk, ada sebuah kawasan yang dipagari seng berwarna merah. Di situlah lokasi rencana pembangunan IPLT.
Naik sedikit ke arah kanan, beberapa unit alat berat terparkir tak begitu rapi di tanah yang nampak bersih di antara gundukan sampah. Di sini, bau-bau tak sedap mulai memburu hidung. Kami segera meraih apapun yang bisa digunakan sebagai masker untuk menutup indera penciuman.
Setelah mengambil beberapa foto, tim Zonautara.com kembali ke arah semula hingga melewati deretan alat berat, kemudian mengambil jalur lurus. Yang artinya kami telah ke arah kiri bila dilihat dari arah pintu gerbang.
Tanah becek sisa hujan, gundukan sampah plastik basah yang nampaknya telah dipilah sesuai jenisnya, dan beberapa gubuk kecil kami lewati saat menapaki jalan setapak menuju daratan luas yang sedari tadi menyita perhatian.
Saat menyusuri jalan setapak, beberapa kali berpapasan dengan pekerja. Salam yang terucap seakan menyisakan pertanyaan di benak mereka: sedang apa anak-anak muda yang menggenggam kamera itu di sini?

Setelah meliuk-liuk melewati beberapa lubang dengan lebar kurang lebih 1×1 meter dan kedalaman kurang lebih 4-5 meter yang sengaja dibuat sebagai salah satu mekanisme pengelolaan sampah, kami telah betul-betul tiba di sebuah hamparan sampah terbuka.
Cuaca cerah sore itu memicu aroma sampah menguap ke mana-mana: hidung, tenggorakan, bahkan mata pun beberapa kali terasa perih.
Dari penuturan warga sekitar, berpuluh tahun lalu tanah itu tak berbukit sama sekali bahkan cenderung berbentuk cekungan. Baru setelah TPA Sumompo beroperasi, tanah itu perlahan naik hingga seperti yang terlihat saat ini.
Setidaknya ada dua pemandangan kontras yang berhasil kami tangkap hari itu: anak-anak yang riang bermain di atas tumpukan sampah dan keindahan alam yang terlihat dari bukit sampah.
Kamera yang sempat menganggur beberapa saat kini kembali ke posisi semula, siap memotret apapun di hamparan luas yang didominasi warna putih kecoklatan itu.
Bocah-bocah sedang sibuk memperhatikan layangan saat kami mulai bekerja. Bahkan saat jarak semakin dekat, bocah-bocah itu seakan tak peduli pada kehadiran kami. Mereka larut dalam dunianya.
Namun saat disapa dan diajak bercerita, mereka ramah. Tak ada raut gusar karena perhatiannya teralihkan.
Salah satu bocah mengaku saat ini duduk di bangku kelas 3 SD, dua lainnya belum sekolah, sedang yang satunya lagi sudah tak bersekolah. Masih belum jelas mengapa ia putus sekolah.
Harapan untuk masa depan yang cerah masih ada dan jelas terdengar dari perkataan salah satu anak yang putus sekolah. “Kalau bisa, saya ingin sekolah lagi,” ucapnya lirih.
Tak ada raut kesedihan meski kenyataannya takdir mengirim mereka ke tempat yang dihindari banyak orang.
Bocah-bocah di sana tak menggenggam gawai sebagaimana yang telah membudaya bagi bocah seumurannya di sisi lain perkotaan. Tak ada perdebatan TikToker siapa yang paling diminati atau gamer siapa yang paling banyak diikuti.
Mereka hanya memiliki bara senja yang saban hari menjelma hadiah terindah Sang Pencipta di tengah takdir yang tak tentu arah.

Bahkan saat mata kami betul-betul terbelalak oleh keindahan pemandangan alam yang terlihat dari sana, tak ada raut sumringah dari para bocah. Mereka seakan berkata, pemandangan demikian adalah hal biasa.
Di kejauhan nampak beberapa orang dewasa juga sedang menerbangkan layangan. Sepertinya bapak-bapak itu datang untuk melepas segala penat. Mereka bercengkrama dan sesekali mengajak kami bercanda meski sebenarnya tak jelas apa yang diucapkannya.
Kamera kami sore itu berhasil memotret salah satu sudut paling getir Kota Manado. Di sana waktu seakan berhenti. Di mata para bocah tak ada ambisi. Pun bapak-bapak itu masih ingin menyapa orang tak dikenalnya—sebuah kebiasaan yang telah lama hilang di antara gedung-gedung pongah kawasan urban.
Di kejauhan, matahari yang perlahan turun nampak telah menyentuh garis horizon. Sang Pencipta sedang mempersiapkan salah satu hadiah terindah.
Lembayung senja di cakrawala tercipta. Para bocah masih girang berlarian. Mereka menerima takdir dengan cara menarikan duka dan melagukan derita.
Sementara, di depan pintu masuk TPA Sumompo ratusan orang yang dipimpin para perempuan sedang memperjuangkan keadilan ekologis. Mereka menuntut agar pembangunan IPLT dihentikan dan pemindahan TPA segera dilaksanakan.
Hari itu, para bocah bisa saja belum mengerti apa yang dilakukan ratusan orang di depan TPA Sumompo, tapi kelak merekalah yang akan berdiri di garis depan jalan panjang perjuangan. Entah esok, entah lusa, atau bahkan saat mati telah mengintai di belakang telinga.


