Dumoga harus dipertahankan sebagai lumbung pangan

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
👑 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Darata Dumoga selama puluhan tahun telah menjadi pusat produksi padi Sulawesi Utara. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pertanian menyumbang lebih dari 40 persen Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), dengan Dumoga sebagai kontributor utama produksi beras daerah.

Pertanian di wilayah tersebut berkembang dengan pesat hingga saat ini tak lepas dari kehadiran para transmigran dari Jawa dan Bali melalui program pemerintah pusat pada era tahun 1960an hingga tahun 1980an. Mereka membuka lahan pembagian dari pemerintah menjadi sawah yang menyuplai beras ke seluruh daerah di Sulawesi Utara.

Di tengah posisi strategis tersebut, pemerintahan baru Bolaang Mongondow memulai masa jabatan dengan mandat politik yang kuat sekaligus mewarisi persoalan struktural lama, yakni konflik agraria lahan eks transmigrasi yang diklaim oleh ribuan ahli waris dan menuntut pemerintah memberikan ganti rugi. Upaya hukum telah dilakukan hingga ke Mahkamah Agung selama belasan tahun. Sebagian telah dibayar oleh pemerintah, tetapi hampir 2.000 ahli waris belum mendapatkan pembayaran ganti rugi.

Bupati Bolaang Mongondow Yusra Alhabsyi menjawab pertanyaan seputar kebijakan pangan, dinamika sosial Dumoga, dan sikap pemerintah daerah terhadap persoalan lahan eks transmigrasi, dalam wawancara ekslusif dengan Zonautara.com yang berlangsung sekitar satu jam di Hotel Sutan Raja Kotamobagu pada 11 Desember 2025

Baca artikel lengkap Dumoga harus dipertahankan sebagai lumbung pangan di Teras.id

👑 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/perspektif/dumoga-harus-dipertahankan-sebagai-lumbung-pangan-2103566

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com