ZONAUTARA.com – Pemerintah China dikabarkan akan meningkatkan impor minyak mentah dari Amerika Serikat secara signifikan setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan ini membawa hasil kesepakatan strategis di sektor energi di tengah ketidakstabilan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.
China, sebagai importir minyak terbesar dunia, dipandang cocok berkolaborasi dengan AS yang saat ini merupakan produsen minyak terbesar. Kerja sama ini menyajikan solusi logistik yang saling menguntungkan bagi kedua negara raksasa ekonomi tersebut.
Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan pentingnya perdagangan energi antara kedua negara. “Ada perdagangan energi yang alami di sana,” ungkap Wright kepada Brian Sullivan dari CNBC di Port Arthur, Texas, pada Jumat (15/5/2026).
Selama ini, China sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah, namun blokade Iran di Selat Hormuz telah menghambat jalur ekspor yang vital. Cadangan strategis China membantu negara tersebut bertahan dari gangguan ini, namun kini AS berpotensi menjadi penyedia utama energi bagi Negeri Tirai Bambu.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa China setuju untuk mengamankan pasokan energi dari AS. “Mereka akan mulai mengirim kapal-kapal ke Texas, Louisiana, dan Alaska,” tutur Trump saat berbicara kepada Fox News seusai KTT di Beijing. Sementara itu, geopolitik di Selat Hormuz diprediksi akan mengubah peta logistik energi secara permanen.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

