ZONAUTARA.com – Maskapai penerbangan Ryanair mengungkapkan persiapan menghadapi ‘situasi kiamat’ terkait krisis bahan bakar pesawat terbang. Kepala Keuangan Ryanair, Neil Sorahan, menyatakan hal ini dalam wawancara dengan CNBC Internasional pada Senin (18/5/2026). Ia menyebut bahwa walau ada persiapan, dirinya tidak melihat kemungkinan itu menjadi kenyataan.
Neil Sorahan mengungkapkan, “Saya pikir kita akan melihat beberapa maskapai penerbangan yang lebih lemah yang sudah berjuang sebelum perang mungkin akan bangkrut di musim dingin.”
Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat konflik di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz, Ryanair telah melakukan lindung nilai sebesar 80% dari bahan bakar musim panasnya dengan harga US$668 per metrik ton. Namun, Sorahan menegaskan bahwa maskapai tersebut tidak merencanakan pembatalan penerbangan dan optimis terhadap kinerja perusahaan di pasar minyak yang fluktuatif.
Ditegaskan pula bahwa Ryanair kini memiliki sumber minyak alternatif dari negara-negara seperti AS, Venezuela, dan Brasil, sehingga tidak terlalu khawatir terhadap pasokan bahan bakar. “Meskipun demikian, saya pikir harga akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, yang menempatkan Ryanair pada posisi yang sangat kuat,” ujarnya.
Sebelumnya, CEO Ryanair Michael O’Leary memperkirakan banyak maskapai yang akan bangkrut jika harga bahan bakar jet tinggi. Sementara itu, Ryanair melaporkan peningkatan laba setelah pajak sebesar 40% mencapai hampir 2,3 miliar euro pada akhir Maret, dengan peningkatan lalu lintas penumpang sebanyak 4% menjadi 208,4 juta.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

