Ringkasan
ZONAUTARA.com – Bagi ribuan petani di Pulau Siau, daging buah pala adalah sampah. Selama berabad-abad, siklus panen selalu berakhir sama: biji dan fuli (bunga pala) diambil untuk dijual ke Eropa, sementara berton-ton daging buahnya dibiarkan membusuk di tanah, menjadi limbah di bawah rimbun pohon, atau sekadar pakan ternak seadanya.
Namun, di Desa Beong, Kecamatan Siau Tengah, limbah itu berubah di dapur Hanris Barik. Pria berusia 63 tahun, pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) ini melihat apa yang dilewatkan orang lain. Bagi dia, tumpukan daging pala yang terbuang bukan sekadar limbah organik, melainkan “emas” yang belum diolah.
“Saya langsung jatuh hati pada buah pala. Saya menantang diri sendiri, pasti bisa diolah menjadi produk turunan bernilai. Dalam hati saya, ini akan menjadi kabar baik bagi petani,” ujar Hanris, saat ditemui di rumahnya yang juga sekaligus “laboratorium” tempatnya melakukan uji coba pada Rabu, 21 Januari 2026.
Keyakinan itulah yang melahirkan SF Barik (Sari Fruit), sebuah Industri Kecil Menengah (IKM) rumahan yang kini menjadi antitesis dari keputusasaan petani Siau menghadapi fluktuasi harga biji mentah.
Apa yang dilakukan Hanris merupakan sebuah inovasi di tengah keterbatasan. Pada saat pemerintah dan ekonom berbicara tentang “hilirisasi” dalam seminar-seminar mewah, dia mengambil tindakan nyata dengan panci dan kompor di dapurnya.

Jufri Fransicho Kasumbala 