ZONAUTARA.com – Konflik internal antara Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dan Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) berdampak signifikan pada pengawasan konflik Iran. CIA dilaporkan telah menghentikan kontribusinya terhadap sejumlah penilaian intelijen yang disusun ODNI, memicu kekhawatiran mengenai kualitas analisis keamanan nasional di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.
Perseteruan internal ini telah berlangsung lebih dari setahun dan sekarang mengganggu koordinasi yang menjadi dasar penyusunan laporan intelijen bagi Presiden AS, Donald Trump, dan para pembuat kebijakan di negeri itu.
“ODNI seharusnya menjadi minyak dalam sistem yang menjaga aliran arteri komunitas intelijen dan menghilangkan hambatan. Ketika itu tidak terjadi, lembaga-lembaga bisa kembali bekerja sendiri-sendiri dan meningkatkan risiko kegagalan intelijen,” kata Beth Sanner, mantan Wakil Direktur Intelijen Nasional, kepada Reuters.
Iran menjadi salah satu isu paling terdampak dengan CIA tidak lagi berkontribusi secara penuh pada berbagai penilaian intelijen yang disusun Dewan Intelijen Nasional (NIC), badan analisis utama di bawah ODNI.
Masalah ini berawal dari pembentukan Director’s Initiatives Group oleh Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, pada April 2025. Gugus tugas ini dibentuk untuk menyelidiki dugaan politisasi intelijen dan menangani isu sensitif lain. Sumber menyebutkan, CIA menilai kelompok tersebut kerap mengabaikan prosedur standar dalam distribusi informasi.
Baik ODNI maupun CIA memiliki pandangan berbeda terkait situasi ini. Olivia Coleman, juru bicara ODNI, menegaskan bahwa arus informasi intelijen kepada Presiden Trump tetap berjalan dengan baik. Selain itu, Direktur Urusan Publik CIA, Liz Lyons, menyatakan bahwa CIA terus fokus menghadapi ancaman terhadap kepentingan nasional AS.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

