ZONAUTARA.com – Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat China serta Rusia memainkan peran kunci dalam mendukung Iran bertahan terhadap tekanan Washington. Negosiasi yang terhambat oleh operasi militer Israel di Lebanon menunjukkan pentingnya peran China dan Rusia secara ekonomi, diplomatik, hingga pertahanan dalam menopang Teheran.
Kepala lembaga pemikir Institute for Revival of Politics di Teheran, Mehdi Kharratiyan, menyatakan kepada Newsweek bahwa Iran melihat langkah Presiden Donald Trump sebagai upaya untuk mengulur waktu. “Sebagai respons, Teheran secara logis akan memperkuat hubungan dengan Beijing dan Moskow untuk menghadapi tantangan ekonomi serta mempersiapkan diri jika konfrontasi militer kembali terjadi,” ujarnya.
Iran telah lama membangun hubungan erat dengan kedua negara tersebut. Walaupun tidak terikat dalam aliansi militer formal, China dan Rusia tetap menjadi mitra strategis bagi Teheran dalam menghadapi sanksi AS. Kharratiyan menilai Washington berharap dengan tekanan ekonomi dan blokade, Iran akan menerima syarat yang diajukan Trump. Namun, Iran bersikeras bahwa penghentian konflik harus menyeluruh, termasuk soal Lebanon, yang merupakan basis Hizbullah, sekutu Iran.
Para ahli menilai bahwa China dan Rusia berkepentingan memastikan Iran tidak mengalami pelemahan signifikan. Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa kedua negara diuntungkan ketika AS terganggu oleh konflik yang lain. Dukungan China dan Rusia kepada Iran diperkirakan memiliki batas, mengingat tidak ada klausul pertahanan bersama dalam kemitraan mereka.
Dalam perkembangan lebih lanjut, Wakil Presiden Center for European Policy Analysis (CEPA), Christopher Walker, menyebut bahwa China menjadi kunci ekonomi Iran dengan membeli minyaknya dan membangun jaringan penghindaran sanksi. Meski ketiga negara semakin erat, Teheran tetap menyadari China dan Rusia tidak akan berperang langsung demi Iran, mengingat nilai strategis hubungan mereka dengan negara-negara Teluk yang kaya minyak seperti Arab Saudi.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

