ZONAUTARA.com – Sebuah gerakan politik baru bernama Cockroach Janta Party (CJP) menjadi pusat perhatian di kalangan anak muda India sejak diluncurkan pada 16 Mei 2026. Gerakan ini, menjadikan kecoa sebagai maskotnya, telah mengumpulkan lebih dari 22 juta pengikut di Instagram, mencerminkan dukungan besar di media sosial.
Para pendukung CJP mengadopsi kecoa sebagai simbol perlawanan setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, dalam sebuah sidang menyebut sebagian anak muda pengangguran sebagai parasit dan kecoa. Gerakan ini diprakarsai oleh Abhjeet Dipke, seorang ahli strategi komunikasi politik dan mahasiswa Boston University. Meski demikian, ahli menilai bahwa dukungan nyata di lapangan untuk partai ini masih minim.
Reema Bhattacharya, Kepala Riset Asia di Verisk Maplecroft, menyoroti bahwa gerakan ini mencerminkan frustrasi generasi muda terhadap janji-janji politik yang belum terwujud. Bhattacharya menjelaskan bahwa kondisi perekonomian India, yang menghadapi tekanan akibat perang Iran dan melemahnya nilai tukar rupee, semakin memperburuk tantangan penciptaan lapangan kerja bagi populasi anak muda yang besar di negara itu.
“Ada frustrasi yang meningkat karena bonus demografi yang selama ini banyak dibicarakan tampaknya menghasilkan efek tidak merata setelah lebih dari satu dekade janji dan harapan politik,” ujar Bhattacharya, mengutip CNBC International.
CJP juga menuntut pertanggungjawaban pemerintah terkait dugaan kejanggalan dalam sejumlah ujian dan masuk perguruan tinggi yang mempengaruhi jutaan siswa. Kekhawatiran ini hadir di tengah peringatan dari perusahaan riset ekuitas global Bernstein mengenai krisis ketenagakerjaan yang kian dalam di India, yang diperparah oleh kehadiran AI generatif dan lambatnya pertumbuhan lapangan kerja manufaktur.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

