ZONAUTARA.com – Fenomena embun beku, dikenal sebagai embun upas, kembali melanda kawasan Dataran Tinggi Dieng yang berada di perbatasan Wonosono dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Fenomena ini terjadi selama empat hari berturut-turut, dimulai sejak Minggu (7/6) hingga Rabu (10/6).
Lapisan es tipis dapat dilihat menyelimuti rumput dan tanaman di beberapa titik Dieng, terutama pada pagi hari. Vegetasi yang memutih menyerupai salju ini menarik perhatian warga dan wisatawan yang datang ke daerah tersebut untuk berfoto dan membagikan dokumentasi melalui media sosial.
Sabar Alfarisi, Sekretaris Desa Dieng Kulon, menyebutkan bahwa embun es telah muncul selama empat hari berturut-turut. “Embun es keluar selama empat hari berturut-turut, termasuk tadi pagi,” ujar Sabar. Menurutnya, embun upas biasa terjadi saat musim kemarau ketika suhu malam hingga pagi sangat dingin.
Berdasarkan data Cuaca Dieng, suhu udara pada Minggu (7/6) berkisar di antara 3 hingga 0 derajat Celsius. Pada puncak musim kemarau, suhu dapat merosot hingga di bawah nol derajat Celsius. Aryadi Darwanto, seorang pegiat wisata Dieng, menjelaskan bahwa embun beku pertama kali terlihat di Dukuh Karangsari pada 7 Juni, kemudian meluas ke Kompleks Candi Arjuna.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kondisi atmosfer yang sangat kering dan suhu mendekati titik beku memicu kemunculan embun beku. Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, menambahkan bahwa curah hujan di Dieng nol milimeter dari 6 hingga 9 Juni 2026, membuat atmosfer sangat kering.
Proses pelepasan panas dari permukaan bumi yang maksimal saat langit cerah mempercepat pendinginan dan menurunkan suhu udara secara signifikan pada malam hingga pagi hari. Suhu minimum di Dieng pada 9 Juni 2026 mencapai 1,05 derajat Celsius, sedangkan suhu permukaan rumput lebih rendah, yakni 0,60 derajat Celsius.
Geografis Dieng yang berbentuk cekungan dan dikelilingi pegunungan juga memperkuat fenomena ini, membuat suhu lebih rendah karena udara dingin terkumpul di dasar lembah. Kemunculan embun upas diperkirakan masih mungkin terjadi selama musim kemarau dengan kondisi cuaca cerah dan suhu yang terus menurun.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

