Bambe’an, mata air yang bertahan di tengah ancaman krisis iklim

Ironisnya, kelimpahan air itu belum sepenuhnya dapat dinikmati warga. Sejak pompa air mengalami kerusakan pada 2023, distribusi air bersih ke rumah-rumah penduduk terhenti. Masyarakat kembali mengandalkan cara lama dengan datang langsung ke mata air untuk mengambil air menggunakan jeriken maupun wadah lainnya.

Yusril Umbola
Penulis: Yusril Umbola
Editor: Neno Karlina Paputungan
Mata air Bambe'an, (Foto: Zonoautara.com/ Yusril Mahendra Umbola).

ZONAUTARA.com – Matahari mulai condong ke barat ketika suara gemericik air masih terdengar deras dari Mata Air Bambe’an di Desa Sia’, Kecamatan Kotamobagu Utara, Sabtu (18/7/2026). Di saat banyak daerah mulai menghadapi ancaman kekeringan akibat musim kemarau yang semakin panjang, mata air yang berada di kaki pegunungan itu justru tetap mengalir seperti puluhan tahun lalu.

Harsono Balansa (66), warga Desa Sia’, mengatakan mata air tersebut bukan sekadar tempat mengambil air. Di sepanjang hidupnya, ia telah menjadi saksi bagaimana sumber air itu menjadi harapan dan sumber hidup warga sebab tidak pernah mengalami penurunan debit. Bahkan, ketika musim kemarau berlangsung berbulan-bulan.

“Sejak pertama saya melihat dunia saya kenal betul mata air ini. Kondisinya sama seperti sekarang,” kata Harsono.

Air yang keluar dari kaki pegunungan itu, menurutnya, begitu jernih hingga dapat langsung diminum tanpa dimasak. Setiap pergi ke kebun, ia bahkan tidak pernah membawa bekal air dari rumah.

“Saya sendiri tidak pernah sakit perut setelah minum air ini,” ujarnya.




Di sekitar kawasan tersebut sebenarnya terdapat beberapa mata air lain. Namun sebagian memiliki debit yang lebih kecil, bahkan mengering ketika musim kemarau tiba. Kondisi itulah yang menjadikan mata air Bambe’an sebagai sumber air utama bagi masyarakat Desa Sia’.

Bambe'an, mata air yang bertahan di tengah ancaman krisis iklim
Harsono Balansa, (Foto: Yogi arlin Mokoagow).

Ironisnya, kelimpahan air itu belum sepenuhnya dapat dinikmati warga. Sejak pompa air mengalami kerusakan pada 2023, distribusi air bersih ke rumah-rumah penduduk terhenti. Masyarakat kembali mengandalkan cara lama dengan datang langsung ke mata air untuk mengambil air menggunakan jeriken maupun wadah lainnya.

“Saya berharap pemerintah dapat memperbaiki pompa air yang rusak agar air bisa kembali mengalir sampai ke rumah-rumah warga,” harap Harsono.

Bak penampungan yang digunakan saat ini dibangun melalui Dana Desa sekitar enam tahun lalu. Sebelumnya, masyarakat memanfaatkan empat pancuran alami yang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan sebagai tempat mengambil air.

Keberadaan mata air Bambe’an menjadi semakin penting ketika perubahan iklim mulai memengaruhi ketersediaan air di berbagai wilayah dunia. United Nations World Water Development Report 2025 yang diterbitkan UNESCO menyebutkan bahwa perubahan iklim membuat siklus hidrologi semakin tidak menentu. Kekeringan terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama, sementara jutaan orang menghadapi ancaman berkurangnya akses terhadap air bersih. Laporan tersebut juga menegaskan bahwa perlindungan daerah resapan dan mata air alami merupakan salah satu strategi paling efektif untuk menjaga ketahanan air di tengah krisis iklim.

Di Indonesia, upaya tersebut telah menjadi bagian dari kebijakan nasional. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air menegaskan kewajiban negara untuk melindungi, melestarikan, dan mengelola sumber daya air demi memenuhi kebutuhan masyarakat serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Ketentuan itu diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang menempatkan kawasan hulu dan daerah resapan sebagai wilayah yang harus dipertahankan fungsi ekologisnya agar tata air tetap terjaga.

Urgensi menjaga sumber air semakin terlihat dari kondisi iklim terkini. Berdasarkan Pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026 yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 19 Juni 2026, sebanyak 47,45 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau dengan durasi 10 hingga 21 dasarian atau sekitar tiga sampai tujuh bulan. BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada periode Juli hingga September 2026.

Bambe'an, mata air yang bertahan di tengah ancaman krisis iklim
Harsono (pertama dari kiri) saat menceritakan kondisi mata air Bambe’an, (Foto: Yogi Mokoagow).

Dalam pembaruan informasi iklim yang dipublikasikan BMKG pada Juli 2026, musim kemarau terus meluas. Sebanyak 48,9 persen wilayah Indonesia atau 342 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026, termasuk sebagian wilayah Sulawesi. Kondisi tersebut menyebabkan ketersediaan air permukaan di sejumlah daerah berpotensi menurun.

Di tengah situasi itu, mata air Bambe’an menghadirkan kontras yang menarik. Ketika musim kemarau meluas dan ancaman kekeringan meningkat, mata air ini tetap mempertahankan debitnya sebagaimana yang diingat Harsono sejak masa kecil. Bagi masyarakat Desa Sia’, kondisi tersebut bukan sekadar keberuntungan, melainkan bukti bahwa kawasan hulu yang masih terjaga mampu menjaga keberlanjutan sumber air.

Selain menjadi sumber kehidupan, mata air Bambe’an juga menyimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Harsono mengatakan nama “Bambe’an” berasal dari nama gunung di kawasan tersebut. Para tetua kampung dahulu berkisah tentang seseorang yang hilang lalu ditemukan di sekitar mata air dalam posisi mengayunkan kaki atau bambe’an dalam bahasa Mongondow.

Cerita lain yang berkembang di masyarakat menyebutkan seorang pelajar meninggal dunia setelah mengalami kesurupan ketika berkemah di sekitar lokasi. Ada pula kisah tentang tujuh penunggu yang dipercaya menjaga kawasan itu, serta pengakuan beberapa warga yang pernah melihat sosok bertubuh pendek dan besar di sekitar mata air.

Terlepas dari berbagai cerita yang hidup di tengah masyarakat, Harsono meyakini nilai terpenting mata air Bambe’an terletak pada manfaatnya bagi kehidupan. Baginya, mata air tersebut merupakan warisan alam yang telah memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Sia’ selama puluhan tahun dan harus terus dijaga agar tetap lestari.

Di tengah ancaman krisis iklim yang diperkirakan akan semakin meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah, mata air Bambe’an menjadi pengingat bahwa sumber air yang tetap lestari bukanlah sesuatu yang dapat dianggap biasa. Keberadaannya hanya akan bertahan apabila kawasan hulu tetap terjaga, distribusi air kepada masyarakat kembali dipulihkan, dan upaya perlindungan terhadap mata air dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, Bambe’an bukan hanya mewariskan air bagi generasi hari ini, tetapi juga harapan bagi generasi yang akan datang.

Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com