Penolakan Masyarakat Fujisawa Terhadap Masjid Baru Menyulut Kekhawatiran

Rencana masjid baru di Fujisawa, Jepang, memicu penolakan dan kekhawatiran sosial akibat perubahan imigrasi.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: CNBC Indonesia – News

ZONAUTARA.com – Rencana pembangunan masjid pertama di Kota Fujisawa, Jepang, menuai penolakan dari sebagian warga setempat. Masjid yang berlokasi di kawasan pesisir yang berjarak sekitar satu jam dari Tokyo tersebut, menghadapi perdebatan terkait perubahan sosial, imigrasi, dan identitas masyarakat Jepang.

Penolakan ini menggambarkan kekhawatiran warga di tengah peningkatan jumlah pekerja asing yang didatangkan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja akibat penurunan dan penuaan populasi. “Hal ini membuat saya khawatir tentang bagaimana komunitas kami mungkin berubah. Sejujurnya, mungkin saya hanya takut pada hal yang belum saya ketahui,” kata Noriko Izumizawa, seorang warga Fujisawa, dikutip dari BBC.

Penolakan terhadap pembangunan masjid sempat memicu protes di sekitar stasiun kereta lokal pada awal tahun ini. Sebagian warga berpendapat bahwa ukuran masjid dinilai lebih besar dibanding kuil Shinto terdekat, sehingga dianggap kurang menghormati tradisi lokal.

Di sisi lain, muncul berbagai seruan kebencian dan disinformasi di media sosial. Beberapa masjid menerima ancaman melalui telepon dan surel, sehingga kelompok anti-diskriminasi menggelar aksi tandingan menyerukan penghentian ujaran kebencian terhadap komunitas Muslim.

Sementara itu, Hiroki Suzuka, pemilik kedai kopi dekat lokasi pembangunan masjid, mengajak masyarakat untuk membuka dialog guna memahami Islam lebih baik. Hal ini diamini Mohamed Mohideen, pengusaha asal Sri Lanka di Jepang, yang menilai dialog intensif diperlukan agar saling pengertian terjalin antara warga dan komunitas Muslim.




Guru Besar Emeritus Universitas Waseda, Hirofumi Tanada, mencatat peningkatan populasi Muslim di Jepang, yang jumlahnya mencapai 420.000 jiwa pada akhir 2024. Ini merupakan bagian dari tren peningkatan imigran di Jepang, di mana jumlah warga asing melebihi empat juta jiwa pada 2025.

Perdana Menteri Sanae Takaichi menolak imigrasi skala besar dan justru menaikkan biaya visa untuk warga asing hingga lima kali lipat pada Juni 2026. Kebijakan tersebut menggarisbawahi dilema antara kebutuhan tenaga kerja asing dan kekhawatiran akan perubahan sosial di Jepang.

Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com