Ringkasan
ZONAUTARA.com – Deru mesin tromol terdengar tanpa jeda di kawasan pertambangan rakyat Lingkubungon, Tanoyan Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow. Di antara lumpur pekat, tumpukan karung material, dan bau solar yang menyengat, Ikal Umboyo, 41 tahun, berdiri mengawasi proses pengolahan emas.
Sudah 26 tahun ia hidup di dunia tambang. Di tempat itu, merkuri tidak disebut sebagai racun. Para penambang mengenalnya sebagai “air perak”.
Ikal menjelaskan material tambang diputar selama beberapa jam bersama merkuri di dalam tromol. Setelah itu, amalgam emas diperas lalu dibakar untuk memisahkan emas dari material lain. Pada tahap terakhir itulah uap merkuri terlepas ke udara terbuka.
Tidak ada respirator atau alat pelindung khusus di area pengolahan itu. Para pekerja memegang material dengan tangan terbuka, sementara sebagian hanya menutup hidung menggunakan kapas saat proses pembakaran berlangsung.
Sesaat setelah tertawa kecil, Ikal bercerita pernah meminum satu sendok merkuri cair di depan aktivis lingkungan dan petugas yang datang memperingatkan bahaya bahan tersebut. “Saya ambil satu sendok merkuri lalu saya minum di depan mereka,” kata Ikal saat ditemui di Lingkubungon, Senin, 4 Mei 2026.
Tindakan itu tentu bukan pembuktian ilmiah bahwa merkuri aman. Namun cerita tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: bagaimana bahan berbahaya itu perlahan kehilangan makna ancamannya di tengah kehidupan tambang sehari-hari.

Neno Karlina Paputungan 