Tangis keluarga warnai prosesi adat Mobingkat Kong Bolad korban Tidar Drag Race Kotamobagu

Yusril Umbola
Penulis: Yusril Umbola
Editor: Redaktur
Suasana prosesi adat Mongondow Mobingkat kon Bolad digelar pada malam ketujuh setelah meninggalnya para korban tragedi Tidar Drag Race di Kotamobagu. (Foto: Zonautara/Yusril Umbola)

ZONAUTARA.com – Prosesi adat Mongondow Mobingkat kon Bolad digelar pada malam ketujuh setelah meninggalnya para korban tragedi Tidar Drag Race di Kotamobagu yang terjadi pada, Minggu (9/8/2026).

Dalam peristiwa tersebut, sembilan orang meninggal dunia. Delapan korban sebelumnya telah dimakamkan pada 10 Agustus 2026. Sementara korban lainnya, Muxin Dondo, meninggal dunia pada Minggu (16/8/2026) setelah sempat menjalani perawatan di RSUP Prof. Kandou Manado. Muxin kemudian dimakamkan pada hari yang sama.

Suasana duka masih terasa dalam prosesi adat Mobingkat kon Bolad yang berlangsung di rumah Lisma Mokoginta, salah satu korban meninggal dunia dalam insiden tersebut.

Tangisan keluarga terdengar sepanjang prosesi yang menjadi bagian dari penghormatan terakhir kepada korban.

Ketua panitia penyelenggara Tidar Drag Race, Lucky Sugeha, turut hadir dalam takziah tersebut.




Kehadirannya disebut sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab panitia kepada seluruh keluarga korban.

“Kehadiran kami sebagai bentuk tanggung jawab dan empati kepada keluarga korban. Jadi, panitia tidak lepas tangan atas musibah ini,” ujar Lucky.

Ia mengatakan, panitia akan menanggung sejumlah kebutuhan keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab, termasuk biaya konsumsi selama takziah hingga proses pembuatan makam.

“Bentuk tanggung jawab kami berupa menanggung semua biaya, termasuk catering untuk takziah hingga nanti pembuatan kubur. Kami turut merasakan duka yang mendalam atas musibah ini,” katanya.

Dalam prosesi tersebut, Pemerintah Kota Kotamobagu juga turut hadir. Asisten I Pemerintah Kota Kotamobagu, Sahaya Mokoginta, bersama sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) menghadiri takziah sebagai bentuk empati pemerintah kepada keluarga korban.

Sahaya mengatakan, kehadiran pemerintah bukan semata-mata menjalankan tugas, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas terhadap keluarga yang tengah berduka.

“Keberadaan kami Pemkot sampai pada malam hari ini tentu bagian dari empati, turut merasakan duka keluarga. Dan lebih daripada kehadiran itu, lebih daripada tugas, semua korban ini adalah keluarga,” kata dia.

Sahaya menegaskan, Pemerintah Kota Kotamobagu tidak ingin keluarga korban menghadapi situasi tersebut seorang diri.

“Sehingga pemerintah kota dan keluarga korban tidak dibiarkan sendiri. Kita sama-sama ikut merasakan apa yang mereka rasakan saat ini,” tegasnya.

Sementara itu, keluarga para korban hingga kini masih menunggu proses penyelidikan terkait musibah yang terjadi dalam kegiatan Tidar Drag Race tersebut. Proses hukum dan penyelidikan diharapkan dapat mengungkap secara jelas penyebab serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tragedi yang menewaskan sembilan orang tersebut.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com